
Malam ini aku tidak bisa sedikitpun memejamkan mata. ku lirik jam di dinding kamar ku sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Ucapan Kevin tadi seolah mengusik di telinga, bagaimana aku harus memberikan jawaban yang tepat nantinya.
Jujur, aku selama ini belum pernah hidup atau menjalani hari-hari ku jauh dari ayah dan ibu. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja untuk tinggal diluar negeri bersama Kevin.
Detik per menit per jam semakin berlalu hingga tanpa sadar pagi telah tiba. Sejenak ku buka mata setelah mendengar kicauan burung, tapi ah. . . rasanya aku masih ingin tidur mumpung hari libur sekolah.
Hingga tidurku di kejutkan oleh suara ketukan pintu dari luar kamar ku.
Ya ampun, aku ketiduran lagi. Jam berapa ini???
Ku lirik jam di ponsel yang tergeletak di dekat bantal menunjukkan pukul 9 pagi. Sementara ketukan pintu terus saja terdengar dari luar.
Dengan cepat aku beranjak dari tidur dan membuka pintu.
" Sayang, apa kau sakit??? Ibu sudah membangunkan mu berkali-kali semulai tadi ". Tanya bunda ku dengan ekspresi panik.
" ah? eh. . . maaf bunda tadi Fanny ketiduran lagi "
" Apa semalam kau tidak bisa tidur lagi??? "
" Ehm, bunda. . . Fanny, pengen ngobrol sebentar. ada waktu gak??? " tanya ku dengan serius sembari menarik tangan beliau memasuki kamar ku.
" ada apa nak??? serius banget kayaknya " Tanya ibu ku heran sembari duduk di sofa mini ku.
Sementara aku masih kikuk salah tingkah lebih dulu, aku bingung harus berbicara darimana duluan. karena ini sangat, sangat mendebarkan jantungku sendiri.
" Fanny. . . "
" Ehm. . . bunda, Kevin. . . melamar Fanny, dia mengajak Fanny segera menikah dalam waktu dekat ini, dan entah ini sudah yang ke berapa lamaran dia pada Fanny. Fanny selalu menolak sebelumnya " ucap ku dengan sedikit menahan panas dingin melanda.
" Sungguh??? oooooh bunda bahagia sekali Nak. saaaangat bahagia, doa ibu terkabul. kau dan Kevin akan menikah. " Ucap ibu ku sembari memeluk ku penuh kehangatan. Aku tersenyum melihatnya sebahagia itu.
__ADS_1
" Tapi bun. . . " ucapan ku terhenti sejenak sembari melepas pelukannya.
" Tapi apa Nak??? "
" Kevin memberikan Fanny pertanyaan yang sampai detik ini Fanny sangat. . . Fanny, gak tau haru bagaimana bunda. Dan itu yang membuat Fanny tidak bisa memejamkan mata semalaman "
Ibu tampak mengerutkan kedua alisnya dan perlahan bertanya kembali pada ku.
" Apakah. . . Dia memberikan syarat tertentu nak??? "
" Ah tidak bun, terlebih pada sebuah komitmen. Dia bertanya apakah setelah menikah Fanny mau ikut tinggal bersamanya di luar negeri atau. . . "
Sungguh aku tidak menyangka jika hanya dengan bertanya hal sepele seperti ini, membuat ibu ku terdiam dan perlahan menitikkan air mata nya. Aku jadi merasa bersalah dalam hal ini. . .
" Bunda, kenapa bunda menangis ? maafkan Fanny bunda, jika Fanny salah bicara dan membuat bunda sedih "
" Tidak nak, kau tidak salah. Tapi jujur, bunda. . . belum siap untuk jauh dari anak si mata wayang bunda ini, bunda belum terpikirkan akan hal seperti itu. Bagaimana ayah dan bunda saat jauh dari mu nanti "
" Bunda. . . jangan berbicara seperti itu, Fanny. . . Fanny gak akan jauh dari kalian, sampai kapanpun Fanny akan tetap disisi kalian tidak peduli keadaan apapun itu. Fanny akan coba menyelesaikan ini semua dari Kevin, Fanny percaya Kevin akan lebih memahami hati Fanny. Dan dia juga pasti akan menerima keputusan Fanny." Jawab ku sembari memeluk ibu ku kembali.
" Kevin??? " Tanya ku berdiri gelagapan.
" Bunda, kenapa kau menangis sayang??? " Tanya ayah kemudian menyeka air mata ibu ku.
" Sayang, kau tau. . . Kevin melamar puteri kita semalam. Dan dia mengajak Fanny menikah dalam waktu dekat ini. "
" Selamat Nak, akhirnya puteri si mata wayang ayah akan menikah juga. Jujur ayah sangat menyukai nak Kevin dari dulu dan berharap kalian akan berjodoh, sekali lagi selamat ya Nak ". Ayah memeluk ku dengan mata berkaca-kaca.
" Jadi bunda mu menangis karena bahagia??? " tanya ayah kemudian dengan senyuman.
" Tidak sayang, aku. . . aku hanya. . . sedikit sedih, Kevin meminta puteri kita ikut bersamanya tinggal diluar negeri setelah menikah ".
__ADS_1
" Apakah itu benar Fanny??? " Tanya ayah lagi dengan ekspresi terkejut. Kemudian aku mengangguk pelan tak berani menatap wajah ayah.
" ayah tidak setuju !!! " Jawab nya dengan tegas.
Sudah ku duga, ini jawaban yang akan aku dapatkan dari ayah. . .
Hah, padahal aku belum saja menikah. Tapi mereka sudah begini di hadapan ku. Oh tuhan. . . !!!
" Bagaimana nasib bunda mu ketika kapan saja ayah pergi dari sisi kalian??? hah??? " Jawaban ayah membuatku seketika menengadah menoleh padanya.
" Ayah !!! Kenapa berbicara seperti itu. Ayah mau pergi kemana sih??? " Tanya ku kesal.
" Sayang, kenapa kau berbicara seperti itu??? " Tanya ibu ku menambahkan.
" Eh maksud ayah. . . kita sudah menapaki usia yang tidak lagi muda sayang, kapan saja entah itu dimana dan bagaimana kita tidak akan tahu Tuhan akan memanggil kita nanti nya "
" Jangan berbicara demikian ayah. . . Fanny gak mau ayah pergi ninggalin Fanny, Fanny gak mau kehilangan ayah, fanny gak mau jauh dari ayah. . . gak mau ".
Aku mulai terisak menangis dalam pelukan ayah, seakan ucapannya ini seperti menandakan sesuatu. Atau mungkin Ayah berbicara demikian karena takut aku jauh darinya kan??? ayah takut aku pergi meninggalkan ayah kan. . . ???
" Sudah sudah. . . ayah hanya salah bicara saja, jangan menangis lagi anak ku. . . ayo kita temui nak Kevin dulu di bawah. Kasihan dia menunggu lama, dan. . . mari kita bicarakan baik-baik pada nya sekarang juga "
" Iya nak, kamu mandi dulu ya. biar kami yang menemuinya dahulu. Kami akan mencoba menanyakan dan membahas soal ini pada nya ". Ucap ibu ku sembari mengusap lembut rambut ku.
" Tidak bund, jangan. Jangan sekarang. Biarkan Fanny saja yang berbicara pada Kevin, Fanny tak ingin membuatnya terbebani dan memikirkan ini sendirian. Kasihan dia. . . "
Aku masih mencoba meredakan pikiran mereka yang mulai terserang rasa khawatir mendalam. Aku tau ini sudah pasti akan terjadi. Tapi jujur aku tidak menyangka dan belum pernah membayangkan semua ini akan begitu menjadi hal yang serius di hati mereka.
Ayah dan ibu masih terdiam menatap ku dengan kesedihan yang nampak sekali terlihat di mata mereka. terutama ayah. . .
Memang benar kata mutiara yang pernah ku dengar sebelumnya.
__ADS_1
Seorang ayah memang tidak akan pernah bisa mengekspresika kesedihannya seperti seorang ibu. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia menangis tersedu ketika anak perempuan nya akan menikahi pria pilihan hati nya.
Kini aku bisa membuktikannya di depan mata dan kepala ku sendiri.