BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Tujuh puluh tujuh


__ADS_3

Tanpa menunggu aba-aba dariku. . . kak Rendy meraih ponsel yang ku genggam semulai tadi, dan mengutak atiknya sebentar.


Kemudian menelpon seseorang yang ntah itu siapa. . .


Halo. . .


Terdengar suara Ammar dari kejauhan ketika volume ponsel dalam mode speaker.


Aku terkejut mendengarnya suaranya, Ah. . . Kak Rendy mulai lagi. . . disini masih ada Kevin, bersama ku. . .


Ammar, ni gue Rendy. Gue baru pulang dari luar negeri karena denger kabar kalo Fanny mengalami kecelakaan jatuh di tangga, saat ini gue di rumah sakit.


Ucap kak Rendy dengan suara panik dan tergesa-gesa. . .


Aku yang mendengar nya hanya meremas-remas tangan ku sendiri serta menggigiti kuku-kuku jariku.


Kevin menepuk bahu ku, aku menoleh nya dengan wajah panik. Kevin melempar senyuman yang ku yakini itu palsu.


**Apa??? benarkah kak??? sejak kapan, tadi malam kami masih telponan, sekarang bagaimana kondisi Fanny??? Apa aku harus kesana malam ini juga??? Tapi. . .


Eeeh elu gak percaya ma gue kakak nya??? dan elu sebagai tunangan kudu di sampingnya kan, apaan lu sebagai calon suaminya mengabaikan begitu**.


Jawab kak Rendy pura-pura marah.


Aaah ini sangat konyol, aku gak suka cara ini. . . ini tidak akan berhasil.


Baik lah kak, baik aku akan segera kesana.


Jawab Ammar tergesa-gesa yang sepertinya sangat panik. Dan aku. . . mendengar ucapan Ammar yang begitu mudah percaya dan terdengar panik hendak menuju kemari, ke kota B tempat ku tinggal yang cukup memakan waktu beberapa jam perjalanan.


Ah. . . begitu bodohnya dia atau. . . dia memang sangat mengkhawatirkan ku. Iya kan??? Ada rasa bahagia menyelimuti, tapi juga . . . sedikit tidak tega.


" Hahaha berhasil kan, wah kau harus membayar mahal akting kakak Fanny " Ucap kak Rendy dengan tawa keras.


Aku tersenyum ragu. . . menanggapinya, ku lirik wajah Kevin yang hanya menunduk terdiam.


" Yuk kak Shishi bantu kamu nyiapin semuanya. Gimana??? "


" Mmh. . . tapi kak, kakak kan harus shopping beberapa barang untuk di bawa pulang ke luar negeri besok??? " Tanya ku heran.


" Ah gapapa, kakak bantuin kamu dulu deh. . . dan setelah itu, kalian bebas rayakan berdua "


" Eh mana bisa begitu. Kita juga harus berkumpul dong ikut merayakan ulang tahun Ammar, kebetulan kakak kan belum mengucapkan selamat atas pertunangan kalian " Ucap kak Rendy yang membuatku semakin kikuk mengingat keberadaan Kevin di sampingku.

__ADS_1


" Mmh. . . tapi kak. . . Fanny. . . "


" Kita hanya akan duduk sebentar, gak akan lama-lama untuk mengganggu waktu berduaan kalian hihihi iya kan Beb. . . " Tanya kak Rendy pada Shishi


" Iya. . . boleh deh, ide bagus. Aku juga penasaran ingin bertemu langsung dengan tunangan Fanny. . . elu gimana kak??? setuju kan??? " Ucap kak Shishi semangat seraya bertanya pada Kevin kakaknya.


Kevin lama terdiam, aku sudah sangat gelisah menanti jawabannya. . . Pliss kamu tolak aja ajakan ini Kevin, jangan mau. Aku gak mau kau ikut bersama kami. . .


" Ok, aku setuju !!! "


Jleb !!! Jawaban mematikan. Aku menoleh nya, dengan mengangkat kedua alisku menatap wajahnya. Dia tersenyum pada ku dengan wajah sendu.


Tak lama kemudian kami bergegas menuju mobil. Dan di dalam mobil aku masih gelisah, sementara Kevin. . . terpisah dari ku. Dengan membawa mobil pribadi. . . mengikuti kami dari belakang.


" Mmh. . . selanjutnya kita harus apa dong kak??? " tanya ku dengan penuh ke khawatiran. Ini sungguh sangat membuatku menggila.


" Beb, ini masih petang. Bagaimana jika kita booking sebuah tempat untuk party kecil menyambut kedatangan tunangan Fanny??? " Tanya Shishi pada kak Rendy.


" Good idea beb. . . Tapi bagaimana dengan mu Fanny??? "


" Fanny. . . aaah Fanny gugup duluan tau, gak bisa mikiiir " Jawab ku. Hah sumpah demi apa, ini hanya pesta kecil untuk ulang tahun Ammar tunangan ku. Tapi seakan aku sudah akan mengadakan resepsi pernikahan saja. Panik iya, penuh ke khawatiran iya, bingung iya, sedikit tergesa-gesa iya. . . aaaaakh. . .


" Hahahaa astaga, Fanny. Kau sangat lucu. . . " Ucap Shishi tertawa.


" Yaudah kita booking tempat saja dulu beb, setelah itu ke toko kue. Gimana??? " Tanya Shishi lagi.


Kak Rendy melajukan mobilnya dengan cepat menuju sebuah Kafe yang di buka selama 24 jam di kota kami tinggal. Kebetulan ini Kafe milik Om dari Kak Rendy yang baru di buka 2 minggu yang lalu.


Tiba di tempat, kak Rendy bergegas membukakan pintu mobil untuk Shishi. Aku menyusul keluar, ku lihat Kevin pun sedang memarkir mobilnya.


Lalu kami berjalan menuju ke dalam Kafe. Kak Rendy langsung menyapa Om nya yang sedang berdiri memantau kondisi dalam ruangan, tak begitu banyak pengunjung yang nangkring disini. Secara, ini Kafe baru di buka. . .


Tak lama mereka berbincang yang entah apa di bicarakannya, aku menoleh kebelakang. Ku lihat Kevin menghampiriku dengan langkah kaki berat.


Tiba di sampingku, dia berdiri melihat sekeliling sementara kak Rendy dan Shishi masih berbincang dengan serius.


" Vin. . . aku. . . bisakah kau. . . jangan ikut serta dalam party kecil ini??? aku tidak ingin melukaimu, menahan sakit melihatku dengan Ammar secara langsung "


" Menurutmu sampai kapan aku akan terus menghindari ini semua Fanny??? " Jawab nya dengan wajah serius kali ini.


Mendengar ucapan nya dengan wajah begitu, aku menghela nafas panjang. . . aku sungguh semakin merasa berdosa.


" Baiklah, jika itu memang yang kau mau " kata ku dengan mengalihkan pandangan ku dari wajahnya.

__ADS_1


Ponselku kembali berdering. Ammar memanggil. . .


Aku mulai panik lagi, ku panggil kak Rendy untuk memberitahunya.


Kak Rendy menghampiriku dengan Shishi.


" Kak, Ammar menelpon daritadi. . . " Ucapku sembari menyodorkan ponsel ku padanya.


**Halo Ammar, ya kenapa???


Oh ya ya, nanti gue kirim alamatnya elu langsung datang aja ke alamat yang gue kirim ok**.


Hah. . . aku tidak tau apa yang bicarakan sebelumnya, yang ku dengar kak Rendy hanya menyuruhnya untuk langsung datang ke alamat yang akan dia kirim.


Bagaimana selanjutnya, akankah ini berjalan lancar??? akankah ini akan sesuai harapan???


Jantungku semakin berdetak kencang dan sangat berisik !!!


" Yuk, kita ke toko kue dulu " Ajak kak Shishi.


Aku mencegah ajakannya terlebih dahulu.


" Kak, kalian. . . pasti akan lelah nantinya. Biar Fanny saja yang pergi ke toko Kue sendiri. Kalian, disini saja menungguku " Ucap ku.


" Biar aku saja yang mengantar Fanny. . . " Ucap Kevin kemudian yang membuat kak Rendy dan Shishi saling memandang sejenak terdiam.


" Tapi Fanny. . . " Ucap ku tertahan, melihat kak Rendy mengangguk pelan padaku begitu juga shishi.


Kenapa. . . kenapa mereka terdiam begitu. . . mungkinkah mereka. . . sudah mencurigai hubungan kami??? oh tuhan. . . tidaaak. . .


Kevin menarik tangan ku di hadapan kak Rendy juga Shishi. Untuk melangkah pergi menuju pintu keluar. . .


Di dalam mobil, Kevin jadi pendiam. Yang biasanya dia selalu meledekku menggodaku tersenyum hangat padaku. . . kali ini tidak. Seolah dia terburu-buru melajukan mobilnya dengan cepat.


Hingga tak berapa lama kemudian, Kami tiba di sebuah toko kue. Kevin hendak keluar lebih dulu, aku menahannya dengan meraih tangannya untuk tetap berada di dalam mobil dulu.


" Vin, apa kau marah padaku??? " Tanya ku dengan lirih. . .


" Apa yang kau pikirkan sayang??? " Jawabnya dengan tersenyum. Senyuman paksa yang menakutkan bagiku. . . bagaimana jika dia marah beneran dan melakukan hal mengerikan di hadapan Ammar nantinya. . .


" Jika kau tidak sanggup berada di hadapan ku dan Ammar nantinya, lebih baik jangan lakukan dengan terpaksa Kevin. Aku tidak akan dan tidak akan pernah sekalipun memaksamu untuk hadir di acara party ini " Ucap ku lantang.


" Kau tenanglah. . . aku bisa menahannya demi kau Fanny " Jawab Kevin lagi. Aaaaakh aku semakin gila dibuatnya.

__ADS_1


Ku kecup mesra bibirnya itu, dia terlalu banyak mengeluarkan kata-kata yang menjerumuskanku.


Kevin tersenyum puas menerima kecupan ku di bibirnya.


__ADS_2