
Seiring waktu berjalan, hubungan ku dengan Tristan sudah berjalan 5 bulan lamanya. Ini terasa sangat cepat waktu berlalu. . . hubungan kami selalu berjalan mulus tanpa suatu pertengkaran karena pada awalnya kami memulai hubungan dengan pertemanan yang cukup lama bukan. Rasanya kami sudah benar-benar merasa cukup saling mengenal satu sama lain.
Terkadang kami menjalani hubungan kami seperti layaknya sahabat, kadang pula sebagai kekasih bahkan. . . layaknya suami istri. Sudah tak terhitung berapa kali kami melakukan hubungan intim itu, hari-hari yang kami lalui bersama tidak ada sekalipun tanpa kami bumbui dengan hubungan gila tersebut.
Entah kenapa pula, selalu aku yang memintanya lebih dulu. Dan Tristan selalu memuaskan ku dengan senang hati tanpa lelah meski berkali-kali kami melakukannya dalam sehari. Aku memang sudah gila. . . gila dan gila. Hingga aku kembali mengkonsumsi obat anti hamil, tanpa Tristan memintanya. Dan aku merasa gagal merubah diri untuk menjauhi hubungan yang tidak sehat seperti ini.
Dan aku. . . jujur, semenjak kami berhubungan dan melakukan banyak hal diluar batas suatu hubungan pacaran, aku mulai jatuh hati pada Tristan. aku sungguh sangat mencintainya. . . terlebih lagi, aku berpikir bagaimana jika aku pindah keyakinan saja dengan nya. Atau. . . ku bujuk dia untuk pindah keyakinan dengan ku. Ini memang tidak mudah, tapi. . . kita belum mencobanya, tapi kami sudah terikat janji. Walau apapun yang akan menjadi penghalangnya kami akan tetap bersama dan saling menguatkan.
Hingga malam ini, Tristan mengajakku untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Aku mulai gugup dan takut duluan, bagaimana ini. . . bagaimana jika kedua orang tuanya menentang hubungan kami hanya karena dengan alasan yang sama seperti orang tua ku. Setelah selama ini aku cukup berhasil membohongi mereka yang melarang kami berpacaran, tapi secara diam-diam aku tetap menerima Tristan sebagai pacar. Tristan tahu akan hal itu, tapi dia memilih mengikuti permintaan ku untuk menjalani hubungan ini secara diam-diam dulu. Kita pikirkan dahulu gimana kedepannya nanti. . .
Tiba dirumah Tristan, jantungku sudsh mulai berdetak tidak karuan melihat ekspresi wajah kedua orang tua nya yang menyambutku dengan tatapan sengit.
Dengan langkah ragu-ragu aku mengikuti Tristan dari belakang. . .
" Ma, pa. . . ini. . . Fanny, pa. . .car Tristan yang Tristan ceritakan waktu itu " Ucap Tristan memperkenalkan ku pada kedua orang tuanya.
" Ha. . .halo tante, om. . . saya. . . Fanny " sapa ku dengan bibir gemetar.
" Hmm. . . silahkan duduk " Sapa ibu Tristan mempersilahkan ku duduk. Sementara ayah Tristan menatapku dengan tajam. . . aku jadi kikuk gak karuan.
" Sejak kapan kalian menjalin hubungan??? " tanya ayah Tristan.
Aku menoleh pada Tristan dengan wajah panik. . .
" Pa, sebenarnya kita sudah lama saling mengenal. Hanya saja. . . kami baru memutuskan pacaran baru berjalan 5 bulan "
" Fanny, apakah kau sungguh mencintai anak tante??? apa kau sudah tau jika Tristan adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarga kami " Ucap ibu Tristan yang membuat hatiku terhentak.
Lama ku terdiam, lalu dengan tegas ku coba beranikan diri menjawabnya.
__ADS_1
" Aku. . . aku juga mencintai Tristan sama seperti Tristan yang juga mencintaiku Tante. . . "
" Jika begitu berarti kau sudah bersedia menganut keyakinan kami sekeluarga Fanny??? " Tanya ayah Ammar kemudian.
Oh tidak !!! ini terlalu mendadak. Bahkan ini baru pertama kali aku bertemu dan berkenalan dengan mereka.
" Pa. . . kenapa langsung mendette nya begitu??? bahkan kami baru saja memulai suatu hubungan pacaran " Jawab Tristan dengan nada kesal.
" Tristan, apa kau lupa dengan aturan di keluarga kita turun temurun??? Kau terlahir sebagai lelaki di keluarga kami, jadi kau tidak bisa keluar dari keyakinan yang kami anut begitu saja. Jika Fanny mencintaimu, dia harus mau menganut keyakinan yang sama dengan mu. Jika tidak, kalian harus putus. Lebih baik sakit di awal sebelum kalian pada akhirnya akan semakin saling menyakiti " jawab ibu Tristan dengan tegas.
" Walau bagaimanapun kami akan tetap menentang hubungan kalian, ini tidak baik jika di lanjutkan kedepannya " ucap ayah Tristan menambahkan.
Jleb !!!
Aku yang menyaksikan dan mendengar ini semua, benar-benar merasa buruk, hingga rasanya aku ingin pergi saja dari semua kondisi ini.
" Tristan, aku mau pulang " ucap ku di tengah ketegangan ini.
" Pikirkan lah dulu baik-baik, tante dan om tau jika kalian saling mencintai. Tante juga tau sudah lama Tristan menyukaimu Fanny, tapi. . . sungguh bukan maksud kami untuk menolak mu sebagai kekasih Tristan. Tapi kami juga tidak ingin melihat Tristan tersakiti pada akhirnya nanti, kalian berpacaran pasti memiliki impian untuk bisa bersama dan bersatu selamanya bukan. Tapi. . . jika pada akhirnya salah satu dari kalian memang tidak bisa mengalah, lebih baik akhiri sekarang sebelum semuanya terlambat "
Aaaakh, aku semakin sesak mendengar ini semua. Bagaimana mungkin, setelah aku kembali merasakan manisnya suatu hubungan bercinta, bahkan aku baru saja kembali menata ulang hatiku memulainya untuk mencintai Tristan sepenuh hati karena ketulusannya selama ini. Dia begitu sabar menungguku untuk benar-benar mencintainya.
Dan. . . sejak kapan hah? berbeda keyakinan selalu jadi penghalang utama kita mencintai seseorang??? salah kah aku???
" Tante, om, terimakasih sudah mau menyambutku dirumah ini. Fanny pamit pulang dulu, permisi " Ucap ku berdiri kemudian melangkah pergi dengan tergesa-gesa tanpa menoleh kebelakang lagi. Ku dengar suara langkah kaki Tristan yang berlari mengejarku hingga tiba di halaman luar. . .
Aku menangis dengan deraian air mata yang meluap hingga rasanya sampai di ubun-ubun ku.
Kemudian Tristan memeluk tubuhku dengan erat. . . sangat erat.
__ADS_1
" Kenapa Tristan??? Kenapa disaat aku mulai kembali merasakan indahnya jatuh cinta serta mencintai, kenapa aku harus kembali tersakiti??? kenapa aku harus kembali mengalah dalam hal ini??? " Tangisku semakin pecah dalam pelukan Tristan.
" Hey hey, ssst. . . siapa yang memintamu untuk mengalah dalam perasaan ini hah??? kita sudah berjanji akan tetap mempertahankan sampai mendapat restu dari salah satu keluarga kita. Plisss. . . jangan pernah berpikir setelah ini kau akan berubah pikiran kemudian meninggalkan ku "
Aku terdiam menunduk dengan tangisan ku mendengar ucapan Tristan yang terus meronta memaksa hatiku untuk tetap bertahan dengan cinta nya yang selama ini susah payah dia bersabar menantikan cintaku luluh padanya.
" Tristan. . . aku. . . aku. . . "
" Ayo, kita pergi dari sini dulu sayang. Agar pikiran mu tenang "
Ajak Tristan yang kemudian ku tanggapi anggukan tanda setuju.
Pada akhirnya Tristan membawaku kembali ke apartemen tempatnya tinggal.
Sementara aku masih dalam isakan tangis, Tristan mengajakku masuk ke ruang tamu di apartemennya.
Dia berusaha menenangkan ku dengan memelukku lembut. . .
" Fanny, berjanjilah sayang. Kau akan bertahan dengan hubungan kita ini. . . walau siapapun menentangnya. Jangan pernah goyah. . . aku sungguh mencintaimu Fanny, aku tidak ingin penantian ku selama ini sia-sia Fanny " Ucap Tristan sembari mengelus lembut bahu ku dalam pelukannya.
Aku mengangguk pelan, kemudian Tristan mengecup keningku dengan lembut dan hangat.
Entah kenapa, aku kembali mengingat dan terbayang akan semua perlakuan orang tua Ammar. yang pada saat itu om haris sangat tidak menyukaiku hingga pada akhirnya aku memutuskan pertunangan ku dengan Ammar. Beliau tetap saja demikian, ntah bagaimana kabar mereka pasca putusnya pertunangan ku dengan Ammar hingga saat ini sudah berlalu begitu lama.
Perasaan campur aduk ini membuatku ingin marah saja, terbersit pikiran kotor kembali menyerang otak ku.
" Tristan, aku ingin. . . "
Ucap ku seketika, membuat Tristan tersenyum menyeringai menatap wajah ku.
__ADS_1
Dan. . . tanpa menunggu lama lagi, Kami kembali melakukannya. Disini, diruang tamu. . . ah, rasanya sudah benar-benar gila. Kami bercumbu, kami bercinta tidak mengenal tempat. Seakan kami sama-sama ingin melampiaskan semua ketegangan yang kami lalui malam ini. Kami melakukannya membabi buta hampir sepanjang malam, sampai akhirnya aku benar-benar lelah dan meminta Tristan mengantarku pulang di jam yang cukup larut malam.
Aku sudah tidak peduli jika nantinya ibu atau ayah akan memarahiku karena aku pulang larut malam ini, karena setelah di jalan pulang yang hendak memasuki rumah ku, kami mengulangnya lagi di mobil. Karena tempat ini cukup sepi saat malam hari. seakan kami takut setelah ini kami akan benar-benar terpisahkan. . . kami melakukannya berulang kali, sampai kepuasan benar-benar ada di hati kami.