
Aku masih terdiam dengan ponsel menempel di telinga, tertegun berpikir sangat lama, yang entah apa dan kemana perginya pikiranku kali ini.
Ammar.. Kau kali ini benar-benar marah hanya untuk Abel dan meminta ku untuk menyadari kesalahan ku, kemudian minta maaf. Lalu dimana letak kesalahan ku sehingga kau menyuruhku demikian..
Kau memang brengsek Ammar. Kau anggap aku ini apa? Aku pacar mu, kau bilang mencintaiku? Hah, ini kah cinta mu Ammar? Bahkan kau tidak memahami perasaan ku, lagi lagi dan lagi.. Demi Abel, kau tega begini pada ku. Kau memintaku berpikir dan menyadari kesalahan ku kan? Baik lah, sepertinya tanpa berpikir lama dan menyadarinya aku sudah mengetahuinya Ammar. Di hati mu hanya Abel yang special, sedangkan aku? Hanya pelampiasan ego mu saja. Mari kita lihat siapa yang akan menyadari nya dan lebih dulu meminta maaf. Aku lelah Ammar, aku capek dengan semua permainan mu pada hati ku.
Ku hempaskan tubuh ku diatas kasur, kembali air mata ini mengalir membasahi pipi.
Entah kapan aku sudah mulai terlelap dalam tidur ku, hingga waktu kini sudah mulai pagi. Suara kicauan burung yang selalu hinggap di teras depan kamarku membangunkan tidur ku.
Aku menggeliat meregangkan tubuh ku yang terasa kaku, sebab posisi tidur semalam entah seperti apa.
Pagi ini terasa lebih malas dari biasanya. Tak ingin beranjak dari tempat tidur ku, aku hanya membenahi posisi ku saat ini. Ku lirik jam di dinding menunjukkan pukul 06.00 pagi, ku tarik kembali selimut dan ku peluk guling untuk kembali melanjutkan tidur ku pagi ini.
Mode ponsel sengaja ku silent agar tidak ada satupun yang menggangguku termasuk Ammar. Meski ku tau kali ini dia pasti akan menghukumku dengan mengabaikan ku tanpa kabar apapun, oke lah kali ini aku tidak akan peduli lagi. Aku lelah, harusnya aku yang menghukumnya lebih dulu. Aku memejamkan mata kembali dengan lelap.
3 jam kemudian. . .
Tok tok tok...
Aku di bangunkan oleh suara ketukan pintu yang cukup keras berulang kali. Aku benar-benar terkejut buka main.
" Fanny, Fanny, sayang.. Apa kau masih tidur? Buka pintu, apa kau sakit lagi sayang? " Terdengar suara teriakan ibu dari luar kamar di sertai ketukan pintu yang terus menerus berulang tanpa henti.
Aku bergegas bangun beranjak setengah loncat kemudian berlari menuju pintu untuk membukanya. . .
" Aduh bunda, pelan dikit dong ketuk pintunya. Nanti jebol tau. " Ku buka pintu dengan ekspresi garuk-garuk kepala dan menguap kemudian ngomel dengan mata menyipit melihat ibu yang tengah berdiri di depan pintu kamar.
" Astaga tuhan.. Anak gadis bunda ternyata daritadi beneran tidur? Bunda khawatir Nak, bunda pikir Fanny sakit lagi. Habisnya udah berapa kali bunda mengetuk pintu dan memanggilmu, kau belum juga bersuara. Jadi sengaja bunda ketuk pintu sekeras mungkin, aduh maaf ya sayang jika mengejutkan dan membangunkan mu. Lagian anak gadis yang belum menikah jika selalu bangun kesiangan itu pamali loh." Ucap ibu sembari mengomeliku.
" Aduh iya iya bunda maaf, habisnya ngantuuuk. Semalam kak Rendy jam 12 baru pulang dari sini. Terus terima telpon dari Ammar jadi Fanny masih ngantuk."
" Ya sudah cepat mandi gih, kamu belum sarapan tadi. Bunda udah siapin makan di bawah. "
__ADS_1
" Aah Fanny masih kenyang, ntar aja sekalian makan siang diluar bareng kak Rendy Bund. Hari ini Fanny ada janji mau menemani kak Rendy seharian jalan-jalan, boleh ya Bund." Ucap ku kemudian.
" Iya iya.. Temani dulu kakak mu Rendy ,kasihan dia pasti sudah sangat merindukan kota kelahirannya ini. Emang jam berapa mau di jemput sayang?" Tanya bunda.
"Jam 10 pagi bund, jadi Fanny mau lanjutin tidur aja lagi mumpung masih pagi." Jawab ku tanpa sadar bahwa ini sudah jam berapa.
" Kau bilang ini masih pagi sayang? Hey, ini sudah jam 9 loh. "
" What? ya ampun.. Fanny cuma punya waktu 1 jam dong dari sekarang buat siap-siap? " Mata ku terbelalak terkejut kelimpungan gak karuan seketika berlari menuju kamar mandi tanpa mendengar ucapan ibu lagi.
" Awas pelan-pelan Fanny, nanti kamu terjatuh. Duuuh ini anak ya. " Ku dengar ibu masih mengomeli ku dari luar.
***************♡-♡***************
Pukul 09.50 WITA aku sudah siap dengan segalanya. Ku kenakan baju sabrina lengan pendek berwarna cerah dengan setelan celana levis panjang sangat ngepas di tubuh ku ini, dan ku kenakan sepatu kets warna putih favorit ku, ku sanggul setengah urai rambut ikal ku ala-ala korea, style yang selalu aku suka, dengan tas mini berwarna cream aku gandeng di bahu untuk ku simpan segala perlengkapan wanita.
Tak lupa juga parfum dengan aroma Paris yang selalu setia menemani ku kemana-mana. Sengaja ku poles wajah ku dengan sedikit make up dan liptint warna red velvet. Hu huy, pas banget kan.. Jadi kelihatan sedikit fress deh. Hmm. . . Kak Rendy sudah menantang ku, jadi aku bakalan bikin puas kali ini. Pikir ku dalam hati.
Halo gadis periang, sudah siapkah hari ini menemani kami jalan-jalan seharian?
Aku masih tertegun mendengar suaranya yang rada serak ini. Siapa? salah sambung kali ya, pikir ku.
Loh kok diam, ini kak Kevin Fanny. Hahaha
Eh kak Kevin, aku pikir siapa. Ih darimana dapat nomor Fanny? Pasti kak Rendy yang memberinya kan?
Jawab ku sedikit ngomel,Kevin sudah berhasil mendapatkan nomor ku pada akhirnya. Meski aku sengaja menolak memberinya secara langsung semalam.
Mmh.. Lebih tepatnya nyolong sih, haha.. Habisnya kakak mu Rendy matre sih, masa ingin tau nomor mu saja dia minta imbalan sih.. Wah parah.
Hahaha aku tertawa mendengar pengaduannya itu tentang kakak ku Rendy, soal dia matre? Hahahha emang iya, banget malah.
Tapi tidak untuk ku, dia selalu memanjakanku dan melakukan apa saja demi aku yang hanya sebatas sepupu, bukan kandung. Ini di karenakan dia ingin sekali memiliki adik perempuan tapi sayang, semua saudara kandungnya terlahir laki-laki. Beruntung di aku nya kan. Hehe,
__ADS_1
Kemudian aku kembali menjawab panggilan telpon Kevin.
Haha emang dasar jahil kakak ini, ya sudah sini jemput cepetan. Fanny udah siap daritadi.
Ok deh siap meluncur menjemput tuan putri Fanny.
Aku tersenyum mendengar ucapan Kevin, dan kemudian mengakhiri panggilannya. Lalu bergegas menuju teras bawah depan rumah untuk menanti jemputan mereka.
15 menit kemudian ku lihat mobil kak Rendy memasuki halaman rumah, dia bunyikan suara klaksonnya. Ibu keluar menyambutnya, berdiri di teras menemaniku. Kemudian kak Rendy dengan Kevin turun dari mobil.
" Tante, Rendy bawa Fanny jalan-jalan dulu seharian temenin aku ya. Hari ini aja deh, " Ucap kak Rendy.
" Iya. Titip adik mu ini ya, kalau nakal jewer aja telinganya. Ajak dia makan yang banyak, hari ini dia belum sarapan loh. " Jawab ibu dengan cetus melirikku tajam.
" Siap tante, tenang aja.. Kalau sudah sama Rendy dia akan banyak makan nantinya. Hahaha."
" Eh tante mau dibawakan apa nanti? " Sapa Kevin menyela.
" Aduh gak usah repot-repot nak Kevin, kalian nikmati saja jalan-jalan hari ini ya. jangan mikirin oleh-oleh buat tante. Sudah.. Kalian berangkat saja biar puas seharian ini, ok. Jangan telat makan kalian ya. " Ucap ibu.
" Siap laksakan kapten. " Jawab kami yang tiba-tiba serempak tanpa kode dan janjian terlebih dahulu. kemudian kami tertawa sembari masuk menuju mobil dan melaju pergi menuju suatu tempat yang masih bingung entah dimulai darimana dulu.
Selama di mobil aku mulai cerewet minta ini minta itu mau kesini mau kesitu, mau begini mau begitu, pokoknya berisik banget di kursi belakang.
Sedangkan kak Rendy dan Kevin duduk di depan menertawaiku tiada henti.
" Dasar cereweeeeetttttt !!! " Ucap kak Rendy meledek ku dengan tawa. Yang di susul kemudian oleh tawa Kevin.
" Iya nih cerewet banget, tapi aku suka loh. Hahaha " ujar Kevin.
Upz... Aku terdiam seketika, Kevin menoleh ke belakang melihat ku dengan tersenyum.
Aku tersipu malu. . .
__ADS_1