BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#143


__ADS_3

POV AMMAR


Tiba di apartemen nya, ammar tidak menyangka jika Eliez sudah menunggunya disana dan membuatnya gelagapan harus menjelaskan apa tentang dirinya yang sedang kacau saat ini.


" Sayang, ada apa??? kenapa dengan wajah mu ini hah??? astaga ". Eliez sangat kebingungan dan panik melihat Ammar yang demikian berantakan.


" Aku. . . aku tidak apa Eliez, aku. . . aku hanya ada kesalah pahaman kecil di luar saat aku ingin bertemu dengan clien "


Eliez terdiam sesaat kemudian pergi mencari-cari kotak obat. Setelah itu ia langsung menyentuh tangan Ammar perlahan dengan terus menatap mata Ammar yang seperti tak biasanya. Kali ini dia selalu menghindari tatapan mata Eliez. . .


" Ammar, apa ini sungguh hanya kesalah pahaman kecil??? "


" Heem. . . aku lagipula aku tidak apa Eliez. Sini biar aku saja yang mengobatinya ". Jawab Ammar dengan tak acuh.


Eliez menahan tangan Ammar yang hendak meraih kotak obat di pangkuan Eliez.


" Bisakah kita mempercepat peises pernikahan kita Ammar??? "


Ammar terdiam. Kemudian terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu menundukkan wajahnya di hadapan Eliez.


" Bisakah kau memberiku waktu untuk berpikir lebih matang lagi Eliez??? aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tua mu dalam pengetahuan ku yang minim soal bisnis. Sedangkan aku sarjana pendidikan, bukan di bisnis "


" Setelah kita menikah aku bisa meminta kakek untuk memfasilitasi mu kuliah S2 Ammar " Jawab Eliez dengan tegas.


" tidak Eliez, aku bukan seseorang yang mudah memanfaatkan sesuatu demi keuntungan ku "


" Sayang, kenapa kau berpikiran seperti itu. Kau sudah dianggap anak sendiri dalam keluarga ku. Apakah kau tidak ingin kita hidup bersama satu atap bahagia lalu memiliki anak yang banyak "


" Satu atap??? bukan kah kita sudah hidup satu atap meski tanpa ikatan menikah. Dan kau bilang anak??? Aku belum siap secepat itu memiliki anak ". Jawab Ammar kembali dengan tak acuh serta masih selalu menghindar dari tatapan mata Eliez.


" Ada apa dengan mu hari ini Ammar??? Tak biasanya kau berbicara yang cukup menyakitiku hari ini ".


Kini Eliez mulai terdiam tanpa kata di samping Ammar. Perlahan Ammar menoleh nya, mengecup pipi Eliez dengan lembut, di genggam nya erat tangan nya dalam dekapan Ammar.


" Maafkan aku sayang ". Ucapnya dengan lirih.

__ADS_1


" Apa kau. . . masih mencintai mantan tunangan mu itu Ammar??? "


Seketika Ammar melepas tangan Eliez perlahan dari genggaman nya. kembali ia memalingkan wajah nya dari Eliez dan menghela nafas panjang seolah sedang menahan amarah yang memuncak.


" Aku sudah melupakan nya jauh dari sebelum kau hadir kembali. Ku minta kau jangan lagi membahasnya di depan ku ".


" Baik lah, baik lah. Maafkan aku sayang, ehm. . . jika kau butuh waktu sendiri aku akan pergi dulu. istrahat lah, tidur yang nyenyak " Jawab Eliez dengan nada sedikit kesal dan berdiri hendak meraih tas di sofa.


" Tunggu Eliez ". Ammar menghentikan nya.


" Hem ??? ada apa ??? "


" Apa kau sungguh akan pergi begitu saja??? ". Ammar beranjak berdiri mendekati Eliez dan mengecup bibir Eliez dengan singkat.


" Ammar, kau sedang kacau. Apa kau masih ingin melakukannya ??? ini masih sore. Lebih baik kau mandi saja dulu lalu istrahat hemm "


" Apa kau menolakku sekarang Eliez??? "


" Ayo lah sayang, aku bukan menolak mu. Tapi. . . "


Namun dalam hati eliez bertanya. . .


aku tidak tau apa yang terjadi dengan mu hari ini Ammar, tapi kau melakukan ini dengan ku bukan atas dasar ingin mu. melainkan kau sedang meluapkan emosimu bercumbu dengan ku. Ini sedikit menyakitiku Ammar. Tapi aku tak ingin lebih menyakitimu jika aku menolak untuk melakukannya bersama mu. Lalu bagaimana aku akan berpamitan dengan mu, aku harus kembali ke luar negeri sementara waktu. . . aku takut Ammar. Aku takut kau akan berubah setelah ini.


Puas melakukan nya dengan Eliez membuat Ammar terkulai lemas diatas tempat tidur sementara semua pakainnya berserakan begitu saja di atas lantai. Kemudian perlahan Eliez bangkit untuk membersihkan diri saat diketahuinya Ammar terlelap tidur. Dan menyempatkan diri memasak sesuatu untuk makan malam Ammar. Lalu Eliez pergi keluar membiarkan Ammar tertidur pulas di atas ranjang.


Tiba waktu malam hari Ammar terbangun dan dilihatnya sekeliling tampak sepi. Ia meringis seketika saat menundukkan kepala nya, merasakan bekas pukulan Kevin baru terasa nyeri bagi nya.


" Fanny, kau sungguh congkak. Kau sungguh membuatku sakit hati melihatmu demikian padaku, apa kau tau. . . melihat semua perubahan dalam dirimu saat ini, aku ingin. . . ingin kembali merasakan semua yang dulu pernah kita lakukan Fanny. Aku merindukan mu sayang. . . "


***********♥♥♥***********


Selama perjalanan aku hanya terdiam di dalam mobil tanpa sepatah katapun yang mampu ku keluarkan sekedar untuk membahas apa yang sudah terjadi hari ini.


Kemudin Kevin memutar setir mobilnya untuk berhenti sejenak di pinggir jalan. Aku sedikit terkejut namun sudah siap dengan segala apa yang akan dia luapkan pada ku tentang hal itu.

__ADS_1


" Sayang, apa kau. . . masih marah??? " tanya nya dengan lembut sembari menyentuh tangan ku.


Aku menoleh dan menatap matanya yang kini berada cukup dekat dengan ku.


Dan aku hanya menggelengkan kepala ku menanggapinya.


" Jangan kau pikirkan lagi kejadian ini ya, aku akan selalu berada di sampingmu dan mencintaimu "


Kemudian Kevin mengecup pelan kening ku, aku tersenyum paksa padanya.


" Senyum yang manis dong, nanti makan mu jadi tidak mood. Sebentar lagi kita akan makan yang enak sebanyak mungkin, aku akan membawa mu menjelajahi kuliner yang ada di setiap sudut kota ini ". Jawab Kevin menggodaku.


Kemudian aku memeluknya, ku kalungkan kedua tangan ku di lehernya. Kevin membalas dan mengusap usap punggung belakang ku.


" Tak apa. . . kau cukup lega bukan hari ini karena sudah kau luapkan segala uneg uneg mu pada Ammar tadi??? "


" Yah. . . sedikit. meski hati ini masih sesak terasa, aku. . . aku tidak menyangkanya sams sekali dia akan menggila seperti itu Kevin. Dan. . . terimakasih kau selalu membela ku "


Dengan seketika Kevin melepas pelukan ku, di raihnya pipi ku dengan tangan nya yang lembut. . .


" Untuk apa kau berterimakasih begitu sayang??? sampai kapan pun aku akan selalu membelamu di hadapan Ammar. Dan siapapun itu yang sudah merendahkan mu ".


" Vin, aku. . . aku berharap kau akan selamanya begitu hingga aku benar-benar siap untuk menjadi istrimu kelak. Kau harus tetap bersikap demikian "


" Aku mencintaimu Fanny, sangat mencintaimu "


" Aku. . . juga mencintaimu Kevin "


Dan satu ciuman hangat mendarat di bibir ku, yang kemudian aku memberikan balasan untuk nya.


Walau bagaimana pun, aku akan selalu berusaha untuk lebih mencintaimu dan menyiapkan mental agar aku sungguh siap untuk menjadi istrimu Kevin.


Tidak sekarang, tapi nanti. Aku. . . masih. . . trauma. Dan banyak pertimbangan yang harus ku pikirkan secara matang sebagi anak tunggal di keluarga ku, karena bagi seorang anak perempuan menikah adalah seperti rumah bagi nya. Sedangkan suami, ibarat orang tua asuh nya yang akan membawanya menuju syurga nantinya. Menjadi ibu yang baik untuk para malaikat kecilnya. . .


❤ Hai readers setia ku, ayo dong di like dan vote yang banyak ya ya ya ya yaaah. Mmmuach, salam semangat selalu ❤

__ADS_1


__ADS_2