
Aku sudah berdiri di teras mondar mandir menunggu jemputan Dini. Dengan gaya baju ku yang selalu tidak bisa lepas dari baju kemeja polos longgar di padukan celana levis panjang dengan sepatu kets putih favorit ku, rambut setengah sanggul di atas. Ala-ala cepol korea gitu, hehe. . .
Tin tin. . . !!!
Dini tiba dengan menampakkan senyuman nyengir kuda dari dalam mobil. Aku bergegas melangkah kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.
" Cih. . . sok cute lu ya " Ucap Dini pada ku.
" Apaan sih, emang gue cute kan. . . " jawab ku meledek balik pada Dini.
" awas ya, ntar Tristan makin suka ma elu Fan "
" biarin aja, yang penting aku bakal tetep setia sama satu lelaki saja. Lagian juga banyak juga kok yang suka ma aku gak cuma satu aja Hahahaa " Jawab ku dengan percaya diri.
" Hahahaa ya ya ya, percaya " ucap Dini kemudian.
Hingga tiba di halaman parkiran, Dini langsung bergegas turun dari mobil tanpa menunggu ku terlebih dahulu. Aku hanya menggelengkan kepala melihatnya demikian dengan tawa kecil.
Bilangnya bakal mundur, tapi masih semangat gitu masuk ke dalam ruangan. Dasar Dini. . . hmm. . .
Ucapku dalam hati.
Tiba di dalam, aku sudah melihat Dini sedang ngobrol dengan terus memandang wajah Tristan, seketika pandangan Tristan tertuju padaku. Aku mengabaikannya dan terus melangkah menuju ke beberapa buku-buku syair. Lagi dan lagi, entah kenapa aku ingin sekali menjadikannya salah satu koleksi untuk ku baca.
" Hai bu guru, lama tidak jumpa " Sapa Tristan menghampiriku.
" Hmm. . . iya " Jawab ku cuek sembari memilih-milih beberapa buku di depan ku.
" Ada yang bisa ku bantu??? "
" Enggak perlu, aku bisa sendiri kok. Dini mana??? " Jawab ku melihat sekeliling.
" Dini di sebelah, sebentar lagi kesini kok. Tunggu aja dulu disini, aku akan menemaimu " Ucap Tristan masih dengan tatapannya padaku. Ku lirik sejenak wajah nya seperti menyimpan banyak tanya.
__ADS_1
" Ada apa hah??? " tanya ku cetus. Seolah dia sungguh terkejut karena sikap ku yang cetus, sehingga membuatnya berdiri kaku dengan bibir tertutup rapat.
Oh tuhan, apakah aku keterlaluan kali ini??? kenapa aku begitu galak padanya. . .
" Ehm. . . maaf, maksud ku. . . kau, ada apa me mandangku dengan ekspresi begitu??? "
" Aku. . . aku lihat, kau begitu kurusan. . . eh maaf bukan maksudku jadi sok peduli begini. Hanya saja, kau terlihat banyak beban dalam hidup mu " Ucap nya dengan kikuk.
" Apa kau sedang mencoba profesi sebagai paranormal??? " Tanya ku lagi, masih dengan sikap cuek.
" Ehm. . . maaf Fanny, aku hanya. . . aku. . . maaf jika kau tidak suka aku terlalu ikut campur dengan urusan pribadimu " Ucap Tristan kemudian dengan wajah menunduk lesu.
" Maaf. Bukan maksud ku begitu, aku hanya ingin menjaga sikap ku saja "
" Menjaga sikap??? sikap seperti apa??? apa kau terganggu dengan kehadiran ku yang selalu menghampirimu? " Ucap Tristan dengan tegas.
" Tristan, aku sudah punya tunangan. Apa kau tahu??? " tanya ku dengan tegas.
" Apa kita tidak boleh sekedar berteman saja??? " terdengar suara Tristan kembali, sepertinya ia mulai memaksa.
Ku terhenti sejenak dan menolehnya,
Melihat wajahnya begitu lugu dan penuh harapan.
" Baiklah, kita teman mulai saat ini " jawab ku kemudian dan kembali menyibukkan diri memilih berbagai macam buku di hadapan ku.
" Sungguh??? apa saat ini kita sungguh sudah berteman??? " Ucap Tristan kemudian dengan nada bahagia.
" Hmm. . . " Ucap ku dengan wajah membelakangi nya.
" Terimakasih Fanny, sudah berteman dengan ku. Ya sudah, aku kembali kerja dulu " Ucap nya dengan riang gembira.
Bathin ku. . .
__ADS_1
Gila gak sih, Tristan ini. Apa segitu inginnya berteman dengan ku??? apa aku sebegitu menawannya hah??? Aku juga bukan orang baik-baik, aku sudah hancur. Sebenarnya aku takut untuk berteman dengan lelaki lain selain Ammar, tunangan ku. Tapi. . . jujur, Tristan ini. . . sikapnya mengingatkan ku pada sosok Kevin saja. Hah. . . tak apa lah sekedar teman sapa biasa kan???
" Woey, sudah dapat berapa buku??? Yuk kita pulang " Ucap Dini mengejutkan ku dari arah belakang.
" Mmh. . . aku baru dapat satu buku saja, ukh kau ini " Jawab ku cemberut.
" OMG, apa yang kau lakukan daritadi Fanny??? heeey, apa kau kemari hanya untuk bertemu dengan. . . ehhem, tuh " Ucap Dini sembari melirik jauh pada sosok Tristan yang sibuk di depan komputer, terlihat senyum-senyum sendiri.
" Hahaha. . . gila, apaan sih Din. Ya enggak lah, tapi. . . Sedaritadi dia memang menghampiriku disini. Dan bertingkah konyol, sedikit mengganggu ku "
" Oh ya? wah wah wah. . . awas ya, entar suka beneran loh. Sebenarnya Tristan ini baik, dewasa, lembut, ramah dan pintar juga. Hanya saja, sangat di sayangkan dia beda keyakinan dengan kita. . . kau ingat itu kan Fan??? "
" Lalu kenapa jika dia beda keyakinan dengan kita??? bukan kah dia juga makhluk tuhan??? Hahahaha " tanya ku dengan tawa meledeknya.
" Yeeeee kau ini, kenapa jadi mendadak ceria begitu hah??? Jangan-jangan elu mulai tertarik ya dengan Tristan??? " Dini mulai mengintrogasiku dengan tatapan tajam.
" Apaan sih Din, jangan mulai deh. Aku hanya membenarkan fakta yang kau bicarakan tentang nya, meski dia berbeda keyakinan. Tapi dia tetap manusia kan, itu semua tergantung dari hati kita bagaimana menanggapinya nanti "
" Tapi gue ngeri duluan ah Fan, masa gue kudu pacaran dengan cowok beda agama dan keyakinan ma gue??? terus misal gue cinta mati ma dia, tapi keluarganya gak mau nerima gue dengan alasan keyakinan gimana dong??? "
" Hahahaa kau belum mencobanya Dini, jika hati dan cinta mu sudah mantap pada nya kau hanya perlu menjalaninya bak air mengalir. Perkara jodoh, semua sudah di atur oleh Tuhan bukan??? " Ucap ku dengan serius. Ku lihat Dini memandang ku sesaat dengan tatapan kosong. . .
" Fan, elu sungguh dewasa cara berpikirnya. Jadi iri gue, mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak lelaki yang mengejarmu. Termasuk. . . Tristan, tuh liat dia terus menerus mencuri pandang ke arah mu " Ucap Dini dengan menengadahkan wajahnya menunjuk pada Tristan.
" Sory Din, aku gak minat ah. Cinta ku sudah mentok dengan Ammar seorang. Apapun cobaan dan godaan nya aku tidak akan bergeming "
" Wah. . . ini baru namanya cinta sejati. Gue doain hubungan lu ma Ammar akan berakhir di pelaminan Fan "
" Makasih Din, dan berjuanglah ngejar cinta mu pada Tristan. Hahahaha " Ucap ku meledeknya lagi.
" Oh tidak, kalau saingan gue seberat elu mah gue mundur 100% Fan hahaha "
Aku kembali tertawa mendengar ucapan Dini pada ku, andai kau tau Din. Aku. . . aku sudah hancur. aku sudah tidak suci lagi, mana mungkin akan ada laki-laki lain lagi yang mau menerimaku kecuali Ammar seorang. Maka dari itu, aku akan mempertahankannya mati-matian. Karena dia telah merenggut semuanya dari ku.
__ADS_1