BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Empat puluh dua


__ADS_3

3 bulan berlalu. . .


Semenjak keputusan yang ku ambil itu, sedikit banyak merubah hidup ku.


Kak Rendy sudah balik ke luar negeri untuk melanjutkan study nya, yang disusul juga oleh Kevin.


Bahkan di hari sebelum Kevin kembali ke luar negeri, kak Rendy memintaku untuk menemuinya sekali lagi untuk memberikannya suatu kenangan atau sekedar kata semangat.


Di hari keberangkatannya pun, aku tetap menolak untuk menemuinya yang terakhir kalinya di bandara.


Bahkan aku sampai rela juga untuk tidak menemui kakak ku Rendy meski ia sangat memohon padaku agar aku mengantarnya sampai di bandara, namun aku menolaknya.


Aku tidak ingin kembali merusak pertahanan hatiku yang mulai ku tata kembali ketika kembali bertemu dengan Kevin. Tak sanggup rasanya hati ini. . .


Namun sesekali aku diam-diam meminta kak Rendy mengirimkan foto kak Kevin dengan segala aktivitasnya di luar negeri.


Kau tau, dia makin semakin tampan dan menawan. Rasanya. . . sesekali aku merasa rindu.


Dan Ammar. . . ntah bagaimana kabarnya saat ini aku sudah tidak peduli bahkan aku kembali mengganti nomor ponsel ku yang hanya kak Rendy saja mengetahuinya. Dan aku membatalkan niat ku untuk kuliah di universitas yang sama dengan nya, yang pada akhirnya aku kembali menerima bea siswa dari sekolah SMA ku dulu untuk kuliah di universitas terbaik di kota ku, meski aku harus mendaftar ulang pada gelombang ke dua.


Terlalu banyak yang terjadi begitu saja tanpa terencana dan di rencanakan. seolah semua memang sudah terkonsep rapi oleh skenario tuhan.


Aku mulai menikmati hari-hari ku di kampus, dengan suasana baru teman baru, dan ku rasa juga kehidupan yang baru. Meski tidak ada yang berubah dengan hati ku, tetap kosong. tak ingin membuka hati dulu pada siapapun.


Mengejutkannya lagi, aku mendapatkan tawaran untuk mengajar di sebuah sekolah taman kanak-kanak tempat keponakan ku sekolah. Ini sebuah tantangan bagi ku, bagaimana tidak. . . aku yang terlahir sebagai anak tunggal tidak mengenal kasih sayang bagaimana memiliki seorang adik, harus bermain dan melalui hari-hari ku dengan puluhan atau bahkan ratusan anak kecil. Hahaha. . . bahkan aku mentertawakan diriku sendiri.


Hari pertama mengajar sebagai guru taman kanak-kanak aku mendapat sambutan yang hangat dari semua guru di sekolah ini. Dan siapa sangka. . . semua murid disini sangat menyukaiku. Ah beruntungnya aku. . . dengan sekali berkenalan mereka antusias berebutan untuk memelukku.


Timbul perasaan bahagia, tenang, damai, dan nyaman melihat pola tingkah dan canda riang mereka.


Ah. . . Andai aku bisa kembali menjadi anak kecil lagi dan bermain bersama mereka. . . hihi.

__ADS_1


" Bu Fanny, terimakasih sekali karena bu Fanny sudah mau menerima tawaran kami untuk mengajar di sekolah ini, meski gaji yang kami tawarkan tidak seberapa. . . " Ucap kepala sekolah di ruang kantor.


" Ah tidak perlu berterimakasih Bu, sejujurnya saya juga punyai cita-cita untuk menjadi seorang guru. Hanya saja. . . masih merasa minder bu " Jawab ku malu-malu.


" kenapa minder bu??? Bu Fanny sangat pintar dan cukup jenius cara menangani anak-anak didik kami disini. meski usia bu Fanny jauh lebih muda dari kami, kami merasa perlu belajar lagi dari bu Fanny ".


Jawab salah satu seorang guru di kantor.


" Haduh jangan begitu ah bu. . . saya kan jadi malu kalau kalian para guru senior memuji saya terus " Jawab ku sembari tersipu malu.


*********************♡-♡***********************


Hari ke hari, minggu ke minggu aku mulai terbiasa menjalani hari-hari ku yang terbilang sibuk ini.


Pagi ku mengajar, siang sampai sore kadang malah hingga petang aku sibuk di kampus. Aku berusaha mengikuti segala kegiatan di kampus agar hari-hari ku benar-benar melupakan apa yang sudah pernah terjadi seiring waktu berjalan.


Rasanya ini badan juga sudah semakin kurus saja karena terlalu menahan rasa lelah dan ngantuk.


" Hmm. . . sebenarnya dari awal gue hanya merasa tertantang aja sih Din, tapi lama kelamaan gue jadi menikmatinya jadi suatu kesenangan, asyik tau setiap hari bermain dengan anak-anak kecil yang sama sekali mereka belum paham apa arti kehidupan yang sesungguhnya " Jawab ku kemudian,


Kami bisa dibilang sudah cukup dekat, sebuat saja namanya Dini.


Orangnya sangat luwes, humble, super tomboy dan dia sedikit ceplas ceplos apa adanya. hihi. . . Pertama kalinya aku memiliki teman dekat cewek, berasa memiliki saudara perempuan.


" Hmm. . . ya deh ya deh. . . duuuwh yang udah di panggil bu guru, bahasanya udah beda. . . Hahahaha " Ucapnya lagi sembari menertawaiku.


" Apa lu tau, kampus kita akan ikut seminar. . . dan kegiatan ini untuk pertama kalinya mengundang para mahasiswa yang sudah ahli dari universitas luar kota. Aaaah aku sudah tidak sabar, pasti para senior tampan dan jenius akan ikut hadir di acara ini. hahahaa " Ucap Dini dengan ekspresi wajah membayangkan sesuatu yang indah baginya.


" Hmm. . . mulai deh. . . hahaha dasar jomblo akut " aku meledeknya.


" Yeeee. . . belum tau kan, kalo nanti bakalan ada beberapa senior dari universitas X di kota A yang akan ikut hadir. Ini kampus cukup terkenal dengan adanya cogan dan pintar tau. . . uuuuft. . . ". Dini terus saja berkhayal tiada henti,

__ADS_1


Dan mendengar nama universitas X dari kota A di sebut oleh Dini, seketika hatiku bergetar.


Ah. . . tidak mungkin Ammar yang akan diundang ke kampus ku. Jika benar demikian. . . oh tuhan tidak. Semoga bukan, aku belum ingin dan belum siap untuk bertemu lagi dengan nya setelah hampir 4 bulan lamanya.


" Fanny, elu kenapa tiba-tiba keringetan gitu???" Tanya Dini membuyarkan lamunan ku.


" eh. . . oh. . . tidak, gue cuma sedikit kepanasan "


" Hmm. . . muli halu lu ya, pasti lagi bayangin cogan dari kampus itu juga hahahhahaa "


" sialan, hahaha ya enggak lah. apaan coba sampe halu segala. . . iiiih pikiran eluu tu ya. . . " Aku mencubit lengan Dini.


Seketika dalam ruangan menjadi hening, seorang dosen masuk dan langsung membahas tentang seminar yang akan diadakan di kampus ku.


Dan benar saja, aku dan Dini di tunjuk sebagai perwakilan dari jurusan kami untuk jadi panitia penyambutan untuk para tamu undangan dari kampus lainnya.


Setiap jurusan mengeluarkan 3-5 orang yang di tunjuk untuk menjadi panitia.


Dan di kelas jurusan ku ini, salah satunya aku dan Dini yang di tunjuk.


Aku semakin resah. . . rasanya ingin ku tolak, tapi tidak mungkin.


Ah sudah lah semoga acara nanti tidak seperti yang ku takutkan.


Aku benar-benar takut dan mulai gelisah membayangkan jika nantinya akan benar bertemu Ammar kembali.


Oh tidak Tuhan. . . tidaaak. . .


❤ **Hai hai, Ada yang bisa menebak. . . Apakah nanti Ammar akan kembali bertemu dengan Fanny???


jangan lupa tekan like nya ya ❤**

__ADS_1


__ADS_2