BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh tujuh


__ADS_3

Tiba dirumah, ayah dan ibu sudah menunggu ku di ruang tamu. Ku lihat ekspresi mereka penuh dengan kekhawatiran.


" Sayang, bagaimana.. Apa kata dokter??? " Tanya ibu sembari menghampiriku yang melangkah pelan di papah oleh Ammar, yang kemudian di susul oleh ayah.


" Gapapa tante, Fanny hanya butuh istrahat lebih banyak lagi kata dokter. Dan makan yang banyak " Jawab Ammar mendahuluiku. Aku hanya terdiam menunduk.


" Tuh kan. . . akhir-akhir ini kau susah makan sayang, Kegiatan mu dobel tiap harinya. . . bagaimana kau mengabaikan kesehatan mu ini, Ya sudah apa kau ingin makan apa sayang? bunda masakin ya "


Aku menggelengkan kepala ku dengan pelan.


" Enggak perlu bund, tadi kami sudah makan di luar. Ammar yang memaksaku makan diluar " Jawab ku berbohong.


Oh tuhan. . . maafkan aku untuk yang kesekian kali nya. Bathin ku. . .


" Ya udah tante. . . biar Ammar antar Fanny ke kamar aja ya, dia harus istrahat banyak setelah minum obat "


" Baik lah nak Ammar, kau antar saja Fanny ke kamarnya ya " Ucap ibu ku masih dengan ekspresi khawatir.


" Ah. . . Nak Ammar, kau menginap saja disini. Biar tante dan om siapkan kamar tamu untuk mu ya, ini sudah hampir petang. Kau baru tiba jika langsung pulang ke kota A, om takut kau yang akan kelelahan kemudian jatuh sakit " Susul ayah menambahkan.


Ammar terdiam sesaat melirik ku, aku tak bergeming tanpa kata.


" Baik lah om. aku akan menginap malam ini saja, terimakasih banyak sudah sangat merepotkan "


" Hey, kau calon menantu disini. Sekaligus akan menjadi anak laki-laki bagi kami dirumah ini, tak perlu berterimakasih. Jangan sungkan " Ucap Ayah ku sembari menepuk lembut bahu Ammar.


Kemudian Ammar melangkah bersama ku menuju kamar di atas.


Setiba nya di kamar, aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi tanpa menunggu aba-aba dari Ammar lagi.

__ADS_1


Aku sempat kebingungan bagaimana menggunakan alat tes kehamilan ini, bersyukur aku mudah memahami sesuai petunjuk pemakaian yang di jelaskan di baliknya.


Lama. . . terasa sangat lama ku nantikan hasilnya, meski ini tak selama seperti pikiran ku yang kacau balau gak karuan hari ini. Mondar mandir ku nantikn hasilnya dengan keringat dingin yang sudah membasahi sekujur tubuh ku.


Sekitar dua menit berlalu. . . aku memberanikan diri untuk melihat hasilnya meski dengan mata terpejam dahulu. Ku tarik nafas dalam-dalam berusaha untuk tetap tenang dan berharap hasil yang tidak mengecewakan.


Tok tok tok. . .


" Fanny, bagaimana? kenapa kau lama sekali di dalam, jangan membuatku takut sayang " Suara Ammar terdengar mengejutkan ku dari lamunan.


Aku mengabaikan nya, ku buka mata perlahan dan melihat hasil nya.


Dan. . . kau tau. . . betapa aku sangat ingin segera loncat ke angkasa untuk berteriak sekeras mungkin.


Aaaaaaaaarrrrght. . . terimakasih tuhaaaaan. . . terimakasih kau masih menjaga harga diri ini meski sudah hancur bersama Ammar.


Seketika aku membuka pintu dengan cepat dan memeluk Ammar yang sudah berdiri di depan pintu dengan penuh kepanikan.


Seketika tubuh Ammar sedikit melemah dari posisinya yang berdiri tegak menerima pelukan ku.


Aku terkejut mendapatinya demikian dan melepas pelukan ku seketika. . .


" Ammar. . . hey. . . kau. . . apa kau baik-baik saja? " tanya ku panik.


" Hah. . . aku sangat lega sayang, aku sungguh takut daritadi. sampai rasanya mual merasakan ketakutan yang hebat ini. . . aku sungguh panik daritadi pagi, pikiran ku kacau " Ucap nya sembari memegangi kepalanya tersungkur di dinding tembok kamar ku.


Aku jadi sedih melihatnya demikian, wajahnya kembali memerah tak sepucat tadi. Apakah aku sudah membuatnya begitu takut???


" Maafkan aku sayang, aku telah membuatmu takut begini " ucap ku dengan menyentuh kedua pipinya.

__ADS_1


" Tidak Fanny, ini salah ku. Tapi. . . meski hasilnya memuaskan, kau harus segera minum kapsul yang ku berikan tadi " Ucap Ammar kemudian. Aku mengangguk pelan. . .


Kemudian Ammar berdiri dari posisinya tadi memapah ku menuju ranjang. Kami duduk di tepi ranjang bersama, kemudian Ammar membantuku untuk meminum kapsul yang di beliny tadi. Hanya sekali teguk meminum air putih aku sudah bisa menelannya langsung di tenggorokan ku. . .


" Sayang, setelah ini. . . mungkin kau akan merasakan efeknya. Sakit sedikit lebih hebat, kau bisa menahannya sebentar bukan??? Jika kau tidak kuat menahannya, kau peluk tubuh ku yang erat. Bahkan kau boleh menyakiti tubuh ku jika kau ingin, Aku akan disini. . . di sisi mu. Aku akan ikut merasakannya bersamamu. . . " ucap Ammar dengan membelai lembut rambut ku.


" Ammar, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku. . . jangan menyakiti dan mengecewakan ku lagi seperti dulu " Jawab ku dengan menggenggam erat tangan nya.


Kemudian Ammar memelukku dengan erat. . .


" Tenang lah sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak lagi. Kau harus sehat dan puluh setelah ini, tubuhmu sudah mulai kurus lagi. . . aku tidak suka itu " Jawab nya dengan lembut dalam pelukan ku. Aku hanya mengangguk pelan menanggapinya.


Hingga 15 menit kemudian, aku dan Ammar sedang asyik menonton TV di kamar ku. Dan aku mulai merasakan nyeri sedikit demi sedikit di bagian perut ku, semakin lama semakin hebat ku rasakan hingga aku mulai mengeluarkan keringat dingin di kening ku.


Ku genggam erat tangan Ammar, ketika sakitnya sudah semakin jadi.


Ammar terkejut dan menoleh ku yang duduk di sampingnya,


" Sayang, apakah sakitnya sudah mulai terasa pada mu??? " Tanya Ammar dengan panik. Aku mengangguk pelan dengan wajah meringis menahan sakit yang hebat ini.


" Ammar. . . perut ku sakit sekali. . . aku tidak tahan. . . " Ucap ku yang mulai menangis memegangi perut ku dengan cengkraman kuat dari kedua tangan ku.


" Sayang, sayang. . . tahan lah sebentar, atau aku. . . aku segera kebawah dulu untuk mengambilkan mu segelas air hangat. kau tunggu lah sebentar disini, tahan dulu ya " Ucap Ammar sembari berlalu meninggalkan ku.


Ah sungguh ini sangat sakit ku rasa, belum pernah ku dapati sesakit ini di bagian perut bahkan dalam keadaan tamu bulanan ku sekalipun. Aaaaaarght obat apa yang sedang Ammar berikan padaku tadi. . . kenapa begini sakit efeknya.


Tak lama kemudian Ammar sudah tiba dengan segelas air hangat, aku langsung meminumnya tanpa menunggu aba-aba. Tangisan ku masih tak terhenti, aku berusaha menahan mulutku untuk tidak berteriak.


Melihat ku demikian, Ammar langsung memeluk tubuh ku. Menenggelamkan ku dalam kehangatan tubuh nya,

__ADS_1


" Sayang, maafkan aku. . . aku selalu memberimu posisi dan kondisi tersulit, tahan lah sebentar sakitmu akan hilang sebentar lagi " Ucap Ammar dengan memelukku erat.


Dan benar saja, sakit nya hanya berlangsung sekitar beberapa menit saja. tapi walau begitu aku tidak ingin merasakannya lagi, ini sungguh menyiksaku. . . sangat menyakitiku. . . hingga rasanya seluruh isi perut ku rontok di dalam sama.


__ADS_2