
Selesai sarapan yang susah payah ku habiskan nasi goreng seafood buatan tante Mery, aku langsung membantunya membereskan semua piring kotor di meja makan tadi.
" Sayang, sudah biarkan tante yang mencucinya. . . tante tidak mau. . . tangan halus mu ini, akan kasar nantinya. . . duuuh gak kebayang dong saat Ammar menggenggam mu malah tangan nya merasa ilfil ketika merasakan tangan mu jadi kasar. . . duh jangan sampai deh ah " Ucap tante Mery dengan gaya tubuhnya yang sedikit alay. Hehe
" Ih apaan sih tante. . . hahaha masa cuci piring sekali udah bikin tangan ku kasar. . . " ucap ku dengan tertawa geli.
" Sudah sudah. . . sana gih temani pacarmu saja, bukannya kau bilang ada penting dengan kakak mu Rendy??? "
Astaga, aku hampir lupa.
" Eh. . . iya deh tante, Fanny temui kak Rendy dulu "
Aku bergegas membersihkan tanganku yang sudah di penuhi dengan busa sabun. Kemudian tante mengangguk dengan senyuman hangat.
Aku berjalan menuju ruang tamu tapi tak satupun aku melihat salah satu dari mereka. Kemana mereka???
Ya tuhaaaan semoga semuanya baik-baik saja, tidak ada kericuhan lagi seperti semalam.
Aku terus berkeliling ruangan rumah kak Rendy yang sangat luas ini. Hingga akhirnya aku mendengar suara yang tak asing lagi bagiku.
Dihalaman belakang. . . aku yakin itu. Aku bergegas menuju ke halaman itu, dan benar saja. . . aku melihat mereka sudah duduk bertiga dengan wajah tegang semua.
Dengan pelan aku melangkah untuk lebih dekat dengan mereka agar bisa mendengar dan menyaksikan langsung apakah Ammar akan benar-benar minta maaf pada Kevin. . . Aku sembunyi di balik jendela yang kebetulan menghadap ke halaman belakang rumah kak Rendy, tempat mereka duduk pun cukup sangat terjangkau untuk aku bisa menguping mendengar obrolan mereka.
Kenapa begitu tegang semua. . . tanya ku dalam hati.
" Jadi. . . apa elu serius minta gue nerima maaf elu Ammar??? Setelah elu bikin bibir gue memar kayak gini??? " Jawab Kevin dengan cetus kali ini.
Howah. . . kevin juga bisa berekspresi demikian??? Jadi takut. . . pikir ku dalam hati.
" Semalam, aku benar-benar tidak bisa mengontrol lagi amarah ku Vin. Jujur, aku cemburu kau menggandeng mesra tangan pacar ku. . . Fanny ".
" Yaelah bro. . . kalau elu gak pengen liat Fanny di samber cowok lain, ya elu jaga baik-baik dong adik gue. . . Selama ini elu gak tau kan gimana usaha sahabat gue Kevin untuk bisa ngebikin adik gue tersenyum setiap harinya??? Meski usaha kami ini tetap sia-sia. . . " Ucap kak Rendy yang sepertinya, disini dia lah yang paling sangat ingin memaki-maki keberadaan Ammar. Namun berusah ia tahan amarahnya itu demi aku, adik yang mencintai sosok lelaki di depannya.
" Aku tau semua salahku Rend, aku yang membuatnya demikian rupa, aku yang selalu membuatnya menangis dan sakit hati karena sikapku. . . tapi percaya padaku. Aku benar-benar mencintai adik mu Rend. . . aku. . . aku tidak ingin kehilangan fanny, aku pun tidak akan pernah melepasnya untuk siapapun "
__ADS_1
Ucap Ammar dengan tegas sembari menatap wajah Kevin.
" Lalu bagaimana jika gue tetap memaksa ingin merebutnya dari elu Ammar??? seperti yang gue katakan semalam, saingan elu saat ini adalah gue "
Ucap Kevin dengan senyuman menyeringai,
" Vin, elu serius??? Ayo lah bro bukan waktunya becanda ini " Tanya kak Rendy terkejut.
" Sory Rend, gue. . . belum cerita ini ke elu. . . gue. . . gue jatuh cinta sejak lama dengan adik elu, jauh sebelum elu ngajakin gue liburan disini. Dan semalam gue juga udah nyatain perasaab gue ke adik lu, Fanny " Ucap Kevin dengan tampang serius.
" Yak ampoun brooo. . . elu. . . apa-apaan bro???" Kak rendy menepuk jidatnya dengan keras karena apa yang diucapkan oleh Kevin benar-benar membuatnya terkejut.
Ku lihat dia mulai bimbang dan gelisah, berada di antara dua lelaki yang sama-sama mencintaiku. Adik yang paling dia sayangi. . . di satu sisi sahabat baiknya, di sisi lain orang yang paling dicintai oleh adiknya.
Oh tuhaaan, banyak orang lebih memilih. . . lebih baik dicintai daripada mencintai. Karena dengan dicintai, kita akan merasa lebih berharga dari apapun. Tapi jika di cintai oleh dua orang sekaligus begini, orang yang sama-sama membuat ku mulai goyah. . . apakah ini benar-benar patut ku berbangga karena merasa paling cantik di dunia???
TIDAK !!!
Sama sekali tidak, aku justru semakin takut menyaksikan ini.
" Tapi Vin, aku. . . benar-benar minta maaf atas sikapku malam tadi padamu, sekali lagi aku memohon sebagai sesama lelaki. . . lepasin Fanny, jangan lagi mengejarnya. . . aku mohon dengan sangat demi kebaikan kita kedepannya ".
Sedangkan Kevin. . . memandang Ammar dengan tajam, dengan ekspresi wajah serius.
" Ammar, bagaimana jika gue kasih elu pertanyaan yang sama??? bisakah elu ngelepasin Fanny buat gue??? " Tanya Kevin kemudian.
" Apa kau pikir itu gampang bagi ku Vin??? Heeei sadar diri bro. Kamu hanya lah lelaki yang baru di kenalnya berapa bulan, sedangkan aku??? Aku dan Fanny sudah menjalin hubungan satu tahun lamanya, dan kau tau. . . pagi ini aku sudah melamarnya, untuk bertunangan dengan ku " Ucap Ammar yang kini mulai marah. . .
Kak Rendy yang menyaksikan ini tampak mulai kebingungan dan entah harus bagaimana untuk memberikan jalan keluarnya.
" Apa??? kau sudah melamarnya pagi ini??? Hahaha. . . Ammaaaar. . . Ammar, jika aku belum memiliki tempat di hati Fanny. . . kau tidak akan kemari untuk meminta maaf padaku, dan memintaku untuk melepasnya untuk mu, tapi nyatanya. . . cih "
" Brengsek kau Vin " Ammar mulai berdiri hendak meninju wajah Kevin kembali. Jawaban Kevin kali ini membuatnya tidak tahan lagi menahan emosinya yang sudah berapi-api.
" Wei wei santai bro, Mar. . . elu bisa gak tenang dikit. elu berada dirumah gue saat ini. . . jangan buat keributan. Meski elu pacar adik gue, tapi elu tamu disini. Dan Kevin sahabat gue, dia tuan rumah disini "
__ADS_1
Jawab Kak kevin sembari menahan tangan Ammar yang hendak meninju kembali wajah Kevin.
Kevin ikut berdiri tepat di hadapan Ammar dan kak Rendy. . .
Tetap dengan wajah tenang nya dia tersenyum kecut pada Ammar.
" Elu mau mukul wajah gue lagi??? Ayo sini. . . nih pukul, ayo. . . nih gue ijinin secara dekat " Sembari Kevin menyodorkan wajahnya pada Ammar, kak Rendy menghalangi.
" Vin, ayo lah. . . jangan memancing emosinya. Ini bukan elu yang gue kenal. . . santai dikit lah "
" Maafin gue Rend, tapi gue sepertinya juga gak bisa ngelepasin adik lu gitu aja untuk orang kasar dan maunya menang sendiri seperti dia. . . apa elu tega adik lu terus-terusan sakit hati gara-gara sikap kasar dia ini hah??? "
" Ya gak mau lah gue, tapi saat ini Fanny sangat mencintainya Vin. Apa lu lupa??? Bagaimana terpuruknya ia selama ini??? Jika Fanny bersikeras tetap mencintainya dan bahagia bersamanya, gue sebagai kakak bisa apa bro??? "
Jawab kak Rendy dengan tegas. . .
" Sebelum Fanny, adik lu menerima lamaran Ammar. . . gue gak akan nyerah gitu aja Rend. Gue akan tetap menanti jawaban kepastian dari cinta gue buat adik elu, Fanny " Ucap Kevin dengan lantang,
Oh tuhan. . . aku semakin ingin menghilang dari dunia ini rasanya. Aku tidak ingin mereka terus berdebat demikian, aku tidak ingin menyakiti diantara mereka berdua Tuhan. . . bagaimana ini. . .
Dengan sekuat tenaga aku menahan getaran di sekujur tubuhku ini, terasa lemas seperti tersengat aliran listri saja. Tolong. . . jangan sampai aku terjatuh, hai tubuhku. . . tetaplah berdiri tegak.
Apa yang harus aku lakukan???
Ku lihat Ammar mulai mengepalkan tangannya lagi. . . dan Kevin menyadari nya.
" Gak usah lu pura-pura menahan diri begitu Ammar, gue yakin di hati elu, elu udah maki-maki gue sampai rasanya ingin ngebunuh gue kan??? Atau elu sengaja menahan diri takut ketahuan oleh Fanny??? "
What??? apa maksud Kevin itu???
Aku terkejut dia tiba-tiba menyebut namaku begitu saja.
" Fanny, jangan bersembunyi lagi untuk menyaksikan kami diam-diam begitu. . . Kemarilah " Kevin memanggilku untuk keluar menyaksikan secara langsung perdebatan mereka itu.
Serasa ingin copot ini jantung. . .
__ADS_1
Entah sejak kapan Kevin mengetahui bahwa sedaritadi aku sengaja bersembunyi di balik jendela. . . menguping pembicaraan mereka.
Astaga. . . apa yang harus ku lakukan sekarang???