
Aku mulai terhanyut dalam pelukan Ammar yang ku rasa begitu hangat menembus sejuknya AC yang begitu terasa di dalam mobil ini, ugh. . . Amarah ku yang sedang berapi-api semulai tadi jadi hilang begitu saja.
Hah, mungkin ini yang dinamakan cinta yang sesungguhnya. Atau. . . hanya rasa rindu akan sentuhannya, yang jujur selama berbulan-bulan ku menahan diri. Tanpa sadar, aku mulai membalas pelukan Ammar.
" Sayang, mari setelah ini kita fokus pada mada depan kita. Bagaimana jika. . . kita. . . mempercepat rencana awal kita " Ucap nya sembari perlahan melepas pelukan ku.
Aku memandang wajah nya dengan mengerutkan kedua alis ku, rencana apa yang dia maksud. . .
" Mau kah kau menikah dengan ku ??? " ucap bya dengan tegas menatap mata ku.
Degh Degh Degh !!!
Jantung ku berdegub kencang seketika, mendengar ucapan itu mencuat dari bibir nya dengan tegas.
Apa ini??? apakah dia. . . kini, melamarku??? melamarku sebagai istrinya???
Aaaaaaaarght. . . tidak tidak, kenapa di saat yang tidak tepat begini hah??? Penampilan ku saat ini, pakaian ku, wajah ku, aaaaaaarght. . . terlihat tidak pantas dalam moment ini.
" Fanny, kenapa kau diam begitu??? " Tanya nya lagi.
Hah. . . Entah bagaimana aku mengekspresikan ini semua, bibir ku serasa bergetar. dan wajah ku. . . wajah ku bagai keluar asap, sangat panas ku rasa.
" Am. . . Ammar, ke. . . kenapa tiba-tiba sih??? Aku kan. . . aku kan jadi gugup " jawab ku dengan kepala menunduk.
Perlahan tangan Ammar menyentuh dagu ku dan di tengadahkan pada nya, lalu ia tersenyum manis pada ku. Membuat ku tersipu malu. . .
" Apa kau menolakku??? " Tanya nya dengan lembut.
" Tidak tidak, aku. . . aku tidak mungkin. . . me. . .nolaknya, sedangkan aku sudah kama menantikan hal ini keluar dari mulut mu Ammar " Jawab ku dengan spontan, yang membuat mata ku kembali memanas. Aku ingin menangis, menangis bahagia tentunya. . .
Ammar tersenyum kembali kemudian tangannya menyusup ke dalam rambut ku yang terurai begitu saja, lalu Ammar menarik leherku untuk di dekatkan pada wajahnya itu.
__ADS_1
" Aku sangat merindukan mu sayang " Ucap nya dengan lirih yang kemudian meciumi ku. Mengecup mesra bibir ku. . . Aku membalasnya. Aku tidak ingin munafik, jujur aku memang sangat merindukan sentuhan Ammar ini. Yang terasa masih sangat hangat menyusuri sekujur tubuh ku, caranya masih sangat lihai dengan satu per satu menanggalkan pakaian ku.
Dan. . . tanpa berpikir panjang lagi, kami kembali melakukan hal intim. Melepas rindu satu sama lain, khususnya tubuhku yang tak terkontrol lebih agresif dari nya. Rindu akan sentuhan ini sudah sekian lama membelenggu ku tahan dalam benakku. . . ah, kali ini. . . akhirnya, aku bisa melepas rindu ku dengan Ammar sampai puas. Tak peduli ini dimana, kami melakukannya dengan enjoy dan berulang kali di tempat yang sama hanya dengan jeda waktu yang singkat untuk menghilangkan lelah yang membaut jadi satu dengan keringat lalu kami akan mengulangnya kembali.
Hingga kami sungguh sudah sangat lelah dan puas, Ammar melihat jam tangan yang di pakainya. Wajahnya tampak setengah terkejut yang kemudian menatapku lembut.
" Sayang, pulang yuk. Ini sudah waktunya makan siang, aku sangat lapar. Kau. . . kau begitu agresif sehingga membuatku kelaparan saat ini " Jawab nya meledekku dengan tawa kecil.
" Ammar. . . kau. . . iiih jangan membuatku malu begitu " Jawab ku dengan menutupi wajah ku dengan kedua tangan ku.
" Hahaha. . . aku hanya bercanda sayang, tapi aku sangat menyukai dan menikmatinya. Mari kita pulang, aku sudah lama tidak mencicipi masakan mama mertua ku. Aku rindu "
" Ma. . .ma Mer. . .tua??? "
Kyaaaaaaaaargh. . . mendengar hal itu darinya, sungguh membuatku semakin bahagia tersipu malu. Ya ampun, apakah aku sebentar lagi. . . sungguh akan menikah??? dan bergelar sebagai seorang istri??? Aaaaaah aku tidak sabaaar menantikan hal itu.
" Kau ini, membuatku semakin gemas saja dengan sikapmu itu Fanny. Masih saja terlihat sangat lugu dsn polos di hadapan ku " Jawab Ammar. Entah ini pujian atau ledekannya. Melihat ku yang sembari dengan tergesa-gesa ku kenakan kembali pakaianku dengan rapi.
Sepanjang jalan Ammar terus menggenggam dan menciumi tangan ku dengan senyuman nya yang lembut dan penuh kebahagiaan.
Hingga tiba dirumah, memasuki ruangan ku lihat ibu dan ayah tersenyum bahagia menyambut kami yang tanpa ku sadari tangan Ammar masih menggenggam erat tangan ku.
" Wah. . . sepertinya, sudah ada kabar baik nih " ucap ibu dengan senyum-senyum begitu juga dengan sikap Ayah.
Syukur lah, mereka sudah tidak lagi bersikap dingin pada ku. Senyum bahagia yang mereka simpulkan di bibirnya, terlihat sangat jelas betapa mereka sangat ingin aku dan Ammar terus bersatu hingga kami menikah nantinya.
" Aaah bunda, jangan meledek kami dulu. Ammar bilang dia sudah sangat lapar, dia rindu masakan bunda " jawab ku dengan merengek manja.
" Kalian darimana sampai Ammar kelaparan begitu hah??? Fanny, kau ajak Ammar kemana sampai kelaparan begitu Nak? " Tanya ayah yang membuat ku jadi glagapan.
" Ehm, kami hanya mengelilingi mall saja kok om. Tante, Fanny sangat manja hari ini sampai melarangku untuk makan atau sekedar minum saja. Hehe " Jawab Ammar menutupi sikap ku yang glagapan ini.
__ADS_1
Haha, kau memang jago dalam hal beginian Ammar.
Kemudin Ibu dan ayah mengajak kami segera menyantap makam siang. Betapa bahagianya aku. . . makan siang kali ini begitu hangat dan kembali normal setelah 3 hari kemarin, ayah dan ibu bersikap dingin bahkan di meja makan aku terasa asing di tengah nya.
Selesai makan siang, ku ajak Ammar berbincang dan bersantai di halaman belakang seperti biasa.
Sembari tiduran di pangkuan ku dengan manja, ku belai rambut Ammar yang lurus selalu rapi dan wangi. Ammar memandangi wajahku yang sesekali dia kedipkan matanya padaku.
" Dasar genit " ucap ku meledeknya.
" Kau yang membuatku demikian " jawab nya membalas.
" Ammar, apa kau akan pulang sore ini??? "
" Mmh. . . boleh kah aku menginap saja dulu sayang??? atau. . . aku tidak kembali lagi ke kota ku, dan menetap disini selalu bersamamu. . . " Jawab nya dengan wajah serius.
Ku cubit bahu nya sekeras mungkin, dia merintih setengah teriak menahan sakit.
" Kenapa kau mencubit ku sayang? "
" Kau menggodaku terus daritadi, aku serius. . . nanya " ucap ku kesal.
" Aku pun lebih serius sayang, aku akan menginap dulu malam ini saja. Besok aku akan kembali ke kota ku " Jawab nya menjelaskan.
Aaaaah, aku bahagia mendengarnya. Ku tatap wajah nya sejenak dengan lekat, kali ini aku yang mengecup keningnya dengan lembut.
" Aku sangat mencintaimu Ammar "
" Aku juga sayang, aku mencintaimu dan. . . aku. . . masih ingin " Jawab nya kemudian setengah berbisik.
Uuuukh. . . wajah ku pasti kembali memerah menahan malu, mendengar Ammar yang terus menggodaku. begini. tapi aku bahagia. . . bahagia banget. . .
__ADS_1