BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#123


__ADS_3

Pernikahan kak Rendy sudah tinggal menghitung hari saja. Aku sudah membelikan kado special untuk nya, sepasang jam tangan branded yang cukup menguras tabungan ku. Huh. . . awas aja jika nanti ku menikah, aku gak dapat kado lebih istimewah nantinya. Hihi. . .


Tapi. . . sampai detik ini Ammar belum juga ada kabar. Entah kemana dia, aku selalu merasa takut untuk mengirimnya pesan singkat lebih dulu. Aku juga ragu untuk menelpon nya lebih dulu, kesannya. . . aku jadi sedikit mengejarnya. Pastinya dia akan berpikir aku masih mengharapkannya kembali pada ku, meski. . . nyatanya, sedikit rasa itu timbul di hati.


Ini malam minggu, Tommy mengajakku kembali nongkrong di kafe seperti biasa. Meski dengan rasa malas, aku menurutinya.


Hingga sampai di sebuah kafe biasa tempat kami biasa nongkrong, ku hempaskan begitu saja tubuhku di atas kursi dengan wajah di tekuk karena aku benar-benar malas malam ini. Jujur aku terus memikirkan Ammar, bagaimana kabar dia? kemana dia pergi? kenapa menghilang begitu saja???


" Napa sih lu??? di tekuk gitu wajah nya. .. " tanya Tommy sambil milirik ku yang tengah duduk di sampingnya.


" Sebenarnya aku sangat malas malam ini untuk keluar rumah, tapi. . . berada di kamar saja aku juga suntuk sekali, aku terus saja. . . ehm. . . "


" Kepikiran Ammar lagi??? hmm. . . sudah ku bilang kan , jangan telalu menanggapinya. Jadi kebawa perasaan kan sekarang " Ucap Tommy dengan senyuman kecut.


" Aku. . . aku tidak biss mengendalikan hatiku Tommy, aku sudah mengabaikannya. Terserah dia akan bagaimana di kejauhan sana, tapi. . . hati ku. . . seolah terus menyebutkan namanya "


" Karena kau sudah kembali jatuh hati padanya. Ah sudah lah aku jadi tidak tau harus berkata apa lagi pada mu Fanny, aku hanya tak ingin kau terluka lagi. . . "


" ya ya aku tau. . . lalu aku harus bagaimana dong??? "


" Kenapa tidak menelponnya saja malam ini??? "


" Sudah ku beranikan diri mencobanya berkali-kali tapi gak pernah diterima nya, pesan singkat ku pun dia abaikan meski sudah membacanya. apa aku sudah membuatnya marah??? "


" emm. . . apa kau mau mencobanya sekali lagi malam ini??? "


" Aku tidak yakin "


" Aaaarght sini aku saja yang menelponnya " Ucap Tommy dengan menarik ponsel dari genggaman ku, yang semulai tadi aku sudah mengutak-atiknya.


" Hey jangan, nanti dia salah paham jika mendengar suara mu. Biar aku saja yang mencobanya lagi sekarang "


Bibir Tommy mencibir meledekku dengan mengangkat kedua bahunya.


Dengan ragu aku kembali memencet tombol menelpon Ammar, meski dengan tangan yang sedikit gemetar aku berpura-pura sok cool di hadapan Tommy.


Tuuuuuut. . . tuuuuuttt. . .


baru saja tersambung dalam hitungan detik sudah di terimanya panggilan telepon ku. Jantungku semakin berdegub kencang. . .


** Halo. . .


Degh !!!


Terdengar suara wanita dari kejauhan sana, tapi. . . siapa dia???


Aku. . . aku tidak berani menjawab nya, bibir ku gemetaran. Sementara Tommy menatapku heran.

__ADS_1


Halo. . . siapa ini???


Aku masih diam, kemudian terdengar suara Ammar.


**Siapa yank???


Gak tau nih diam aja**.


Bip bip bip. . .


kemudian panggilan ku berakhir begitu saja.


Aku tidak tahan lagi, ku tundukkan wajah ku di atas meja kemudian aku menangis. Menangis dengan suara teriakan yang ku tahan, aku tidak ingin mempermalukan Tommy di kafe ini.


Di tengah tangisan ku yang tertahan, tampak terdengar hembusan nafas Tommy yang begitu dalam. Aku tidak berani menatap wajahnya dengan tangisan ku yang seperti ini. Aku takut dia benar-benar membenciku karena kembali melihatku berada dalam tangisan pilu.


" Ayo pergi dari sini " ucap Tommy dengan lembut.


Aku mengangguk pelan sembari berdiri dan menyeka air mataku dengan cepat.


Selama di dalam mobil Tommy tak sedikitpun menoleh ku, dia hanya terdiam dengan terus melajukan mobilnya lebih cepat.


" Tommy, maafkan aku " Ucap ku lebih dulu.


" Jangan bicara lagi, setelah ini kau tenangkan diri mu. tidurlah yang nyenyak " ucap nya dengan lirih tanpa melirik pada ku, dia fokus menatap arah depan sembari menyetir.


Sesampainya dirumah, aku langsung memasuki kamar ku. Aku berniat meluapkan segala tangis dan kecewa ku, tapi. . . untuk apa? untuk Ammar??? karena sedang bersama wanita tadi??? Hahaha. . . apakah aku masih berhak untuk itu semua???


Aaaaarght. . . rasanya aku ingin teriak sekeras mungkin, aku tak mau merugi. Tapi hati ini. . . hati ini sungguh sakit.


*****************************


POV AMMAR


Heh, kau munafik Fanny. Kau selalu menolak ku untuk bertemu sekedar melepas rindu meski kita sebagai teman saat ini, tapi aku tau. . . jauh di dalam lubuk hati mu, kau juga masih menyimpan rindu mu yang menggebu.


Dan kau. . . kau sengaja bukan, selalu membuatku cemburu dengan semua candaan mereka para teman-teman lelaki mu di kampus. . . hahaha, kau mulai cerdik Fanny. Kau berhasil membuatmu cemburu, tapi. . . apakah kekasihmu itu sudah berhasil membuatmu puas di ranjang? sehingga kau begitu membanggakannya ketika menceritakannya pada ku.


Tok tok tok. . .


Terdengar suara ketukan pintu dari luar apartemen ku. Aku beranjak dari lamunan ku tentang Fanny yang ku rasa dia sungguh mungkin telah benar-benar melupakan ku. Aku benci itu. . . dia begitu mudahnya melupakan semua kenangan kami selama ini.


" Surprice !!! "


Betapa terkejutnya aku melihat kedatangan Eliez tanpa sepengetahuan ku sebelumnya. Aku sedikit kikuk, karena baru saja tadi pagi aku menggoda Fanny dan merayu nya untuk mau bertemu dengan ku pagi hari ini di suatu tempat secara diam-diam saja.


" Sayaaaang, kenapa kaget begitu??? apa kau tidak suka aku datang lebih cepat??? " ucap Eliez dengan manja sembari mengalungkan kedua tangan nya di leher ku.

__ADS_1


Aku tersenyum menatap wajah nya dan ku kecup bibirnya dengan mesra.


" Kau nakal sayang, kau sengaja tak memberiku kabar dahulu. Aku nisa menjemput mu di bandara kan. . . " ucap ku sembari ku adukan keningnya dengan kening ku.


" aku sengaja ingin membuat kejutan pada mu, dan ternyata berhasil bukan. . . ??? tapi kenapa kau terlihat sedikit gelagapan begitu tadi, hayooo. . . di dalam kau sedang apa??? apa ada wanita lain di dalam hah??? "


" Hey hey. . . ssst. . . apa yang kau pikirkan sayang??? aku tadi hanya sungguh terkejut kau lebih cepat datang dari yang kau perkirakan " ucap ku mengalihkan sembari mengajaknya untuk melangkah masuk ke kamar ku.


" Aku sengaja bekerja lebih keras agar segera bisa pindah kembali ke indonesia, aku tidak bisa jauh darimu lagi Ammar "


" Apa kau sudah sangat merindukan ku sayang??? " tanya ku sembari kembali memeluknya yang tengah berdiri memeluk ku manja dengan tatapan matanya yang selalu tajam.


" Aku. . . sangat rindu. rindu semua nya Ammar " Jawab nya berbisik di telinga. Membuatku seketika merasakan gairah yang melunjak.


Dan, tanpa menunggu lama lagi. . . aku mengajaknya bercumbu mesra seperti biasa yang kami lakukan ketika sedang berdua di apartemen ini, di kamar ku ini.


" Ugh, sayang. . . kau terlalu bersemangat. Apakah ada sesuatu yang ingin kau selesaikan setelah ini??? " Tanya Eliez kemudian di tengah kemesraan kami.


" Aku sudah sangat merindukan ini darimu sayang " Jawab ku singkat.


Walau sejujurnya. . . pikiran ku sedikit tidak fokus karena memikirkan Fanny. Aku takut jika dia sewaktu-waktu menghubungi ku duluan sementara Eliez sudah tiba kembali disini, yang sudah bisa di pastikan dia akan selalu berada di sampingku.


Aaaarght sial !!!


Aku menggerutu dalam hati.


Aku yakin setelah ini. . . Fanny akan semakin melupakan ku dan menganggapku laki-laki ******** karena selalu menarik ulur hatinya.


Puas bercumbu mesra dengan Eliez, kembali aku di kejutkan oleh ucapan Eliez di tengah lelahnya kami bercinta.


" Ammar, aku sudah akan menetap di indonesia setelah ini. Bagaimana jika. . . kita. . . bertunangan saja minggu depan? "


" Tu. . .tunangan??? " Jawab ku gelagapan.


" Iyya, kenapa??? apa kau tidak mau??? aku tidak ingin kembali terpisah darimu walau sedetik, aku ingin kau jadi milikku seutuhnya Ammar "


" Eliez, aku. . . belum siap mendadak begini. Lagipula. . . kerjaan ku masih banyak sekali, keuangan ku belum stabil Eliez "


" Ammar, kau tidak perlu risaukan hal itu. mama dan papa ku serta kakek ku sudah menyetujui ini semua. Dan mereka yang akan menanggung semua nya. . . okeh "


" Tapi Eliez. . . "


" Ayo lah sayang, aku mencintai mu. . . "


Aku tidak tau lagi harus menjawab apa, kecuali mengiyakan begitu saja demi melihatnya bahagia dan percaya sepenuhnya pada ku, meski ini sangat mendadak. Bahkan aku belum sempat bertemu dengan Fanny lagi. . . ah Fanny. . . maafkan aku, tapi aku janji. . . aku akan tetap menunggu dimana hari akan kembali memberiku kesempatan bertemu dengan mu. Dan kau. . . kau tidak boleh melupakan ku begitu saja.


" Ammar. . . " ucap Eliez dengan merengek menatapku.

__ADS_1


" Baik lah. . . mari kita. . . resmikan hubungan kita ke jenjang pernikahan "


__ADS_2