
Setibanya di meja makan, aku sudah duduk manis berdampingan dengan Abel.
So, benar saja. . . ibu membuat sarapan nasi goreng udang kesukaan ku.
" Bunda, apa kita ada stok roti dan selai kacang??? Abel tidak bisa makan seafood. Nasi goreng ini tidak bisa di makan oleh nya " Ucapku pada ibu yang sedang sibuk menata piring di meja.
" Oh ya, astaga kenapa tidak memberitahu bunda sebelumnya sayang. Hmm. . . apa cukup roti saja??? yang lain mungkin ada yang di inginkan nak Abel??? "
" Nggak usah tante, cukup roti dan susu saja. Tapi sepertinya nasi goreng buatan tante enak sekali, aku jadi ingin mencicipinya "
Aku mulai geram, melihat dia memuji ibu begitu dengan kelembutannya sebagai wanita. Haih. . . ibu ku memang selalu welcome terhadap semua yang mengaku teman ku, tapi entah kenapa aku tidak suka jika ibu bersikap ramah dan hangat pada Abel.
" Jangan coba memakannya, aku tidak mau jika nanti Andi menyalahkan ku jika kau jatuh sakit atau terjadi sesuatu yang tak di inginkan hanya karena kau memaksa untuk sarapan yang tidak di bolehkan bagi tubuhmu " Jawab ku kesal.
" Ah sangat wangi dan lezat, aku sungguh ingin mencicipinya sedikit saja. Lagian Andi belum tau jika aku alergi seafood kok, hehe. Lagian itu hanya penyakitku sewaktu masa kecil dulu, aku akan mencobanya barangkali sudah sembuh alergi ku itu " Jawabnya memaksa. . . aku sudah mulai menggertakkan gigi tanda semakin jengkel melihatnya keras kepala begini.
" Tapi apa benar tidak apa nak Abel???" Tanya ibu ku lagi.
Abel hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Kemudian meraih piring yang sudah terisi nasi goreng udang lalu menyantapnya pelan.
Heh. . . ku biarkan saja deh, lagipula dia cukup keras kepala memaksa untuk memakannya. Aku bisa apa dong??? yang akan merasakan sakitnya kan dia sendiri kena batunya nanti.
Uuugh mood sarapan ku jadi terganggu lagi kan. . .
Selesai sarapan, aku diam-diam memperhatikannya. Setelah dia menghabiskan banyak sarapan dengan nasi goreng udang buatan ibu, apa yang akan terjadi dengannya???
Jelang beberapa menit kemudian terdengar ucapan salam suara Andi dari luar. Yang sontak saja membuat Abel berlari lebih dulu menyambut Andi ke teras depan. Aku hanya menatapnya perlahan mengikuti langkahnya.
Dan betapa aku sangat risih dibuat oleh mereka yang saling berpelukan dan mengecup mesra bibir masing-masing layaknya sepasang kekasih yang tidak pernah berjumpa puluhan tahun.
" Eh, kak Fanny. Hehe maaf kak, kami selalu lepas kontrol di hadapan kakak " sapa andi pada ku.
" hmm. . . gapapa, kakak ngerti kok " Jawab ku cetus.
Kemudian Andi berpamit untuk mengajak Abel keluar yang entah kemana aku tidak tau. Aku sudah sangat senang melihat mereka segera enyah begitu saja dari pandangan ku pagi ini.
Aku kembali lagi ke kamar ku, berniat kembali melanjutkan tidur ku saja setelah semalam suntuk aku tidak bisa menikmati tidur ku dengan pulas.
__ADS_1
setiba di kamar ku, ponsel ku sudah kembali bergetar belum sempat aku meraihnya getarannya sudah terhenti. Ku lihat ada 10 panggilan tak terjawab dari Ammar, kemudian kembali ponsel ku bergetar.
ku lihat pesan singkat dari Ammar. . .
Sayang, apa kau marah padaku? kenapa mengabaikan panggilan telepon ku??? Ayo lah jangan begitu. . .
Cih. . . aku bukan hanya marah saja Ammar, tapi kecewa. . . mengingat Abel yang begitu centil membicarakanmu hampir semalaman.
Ah biarkan saja, aku sedang malas berdebat. aku hanya ingin tidur, tidur dan tiduuur pagi ini.
Entah sudah seberapa lama aku terlelap begitu saja, dan aku. . . aku masih bingung. Antara ini mimpi atau nyata, tapi aku yakin. . . ini hanya mimpi. . . ya ini hanyalah mimpi manis ku.
Aku merasa ada di suatu tempat yang di penuhi dengan bermacam bunga-bunga indah mengelilingiku. Di tempat ini begitu sangat damai, sangat tenang, sehingga aku tidak ingin beranjak sedikitpun dari tempat ini. Tapi dimana ini???
Aku berkeliling mencari-cari sesuatu tanpa tau siapa yang aku cari. seperti seolah aku menanti seseorang datang, tapi tidak tau siapa orang itu.
Disaat aku terus berjalan menyelusuri taman bunga yang indah ini, seseorang dari belakang memeluk ku dengan erat. Aku terkejut mendapatinya. . .
" Kevin. . .??? kau. . . disini??? " Aku tidak percaya jika seseorang yang memelukku dari belakang adalah Kevin. Seseorang yang dulu sudah ku abaikan dan ku tolak cinta tulusnya. Oh tidak. . . ini pasti hanya mimpi. bagaimana mungkin Kevin disini, bukankah dia di luar negeri???
" Kevin, kau kapan datang dari luar negeri??? Dan kau. . . jangan memeluk ku begini, nanti Ammar melihatnya. . . aku tidak ingin dia kembali memukulimu " Aku masih tertegun melihat Kevin yang kini berdiri di hadapan ku. Dia hanya tersenyum menanggapi semua ucapan ku. Aku. . . aku bingung. . . Tapi di sisi lain, aku bahagia melihatnya berdiri di hadapan ku ini. . . oh tuhan. . . benarkah??? aku rindu. . .
" Fanny, jangan menahannya lagi jika hatimu sudah tidak bisa menerima rasa sakit lagi. Jika kau mengingkanku hadir untuk menyembuhkan luka mu, tunggu lah aku. . . aku akan segera datang pada mu "
Aku. . . aaah tangisku meluap dalam pelukan Kevin. Aku sangat rindu kata-kata ini darinya. . . Tuhaaan, andai ini memang mimpi aku tak apa bisa memeluknya begini saja, dan biarkan lah aku terus terlelap dalam mimpi ini. aku tidak ingin bangun dari mimpi ku ini. . .
Kalaupun ini nyata, aku tidak peduli jika setelah ini apa yang akan Ammar lakukan pada hubungan kami.
Ku pejamkan mata ini dalam pelukan Kevin, aku merasakan kehangatan tubuhnya yang begitu terasa menenangkan.
Kevin. . . jangan lepaskan aku dalam pelukan hangat ini. Aku membutuhkan mu. . . aku butuh ketenangan darimu.
Drrrrtttt. . . Drrrt. . . Drrrt. . . Drrrrttttttt. . .
Ku dengar suara getar ponsel yang terus bergetar terdengar di telinga ku begitu keras mengganggu ku, aku merogoh-rogoh di saku celana ku.
Hingga aku membuka mata beranjak dari tidur ku melihat sekeliling kamar. . .
__ADS_1
Aaah. . . ternyata hanya mimpi??? kenapa begitu terasa nyata. . . Kevin. . . ada apa dengan nya??? ini kali pertama Kevin hadir dalam mimpiku.
Sungguh aku jadi semakin rindu. . .
Ku pijit-pijit batang hidung ku mencoba menyadarkan diri sejenak, mengingat ulang mimpi tadi. Masih sangat terasa pelukannya hangat di tubuh ku.
Kembali aku dikejutkan oleh suar getar ponsel yang begitu keras diatas bantal, aku meraihnya.
Dan. . . tetap Ammar yang memanggil. . .
Halo. . . sory Ammar, sehabis sarapan tadi aku langsung tidur lagi. Aku sangat mengantuk, semalaman teman mu Abel itu sangat berisik bercerita tentang banyak hal yang tidak aku sukai sama sekali mendengarnya.
Aku mencoba menjelaskan lebih dulu pada Ammar.
Oh jadi karena itu sehingga kau sampai sengaja memberikan sarapan yang membuat Abel harus masuk rumah sakit hari ini Fanny. Kau sungguh keterlaluan. . . berapa kali aku sudah memperingatimu agar tidak memberikannya makanan seafood. Abel sangat alergi dengan makanan yang demikian, beruntung Andi dan keluarganya sangat sigap segera membawanya ke rumah sakit, sehingga nyawanya masih tertolong. Dan kau malah enak tidur??? Dimana hati nurani mu sebagai sesama perempuan yang selalu kau tuturkan pada ku itu dengan bangga nya hah???
Deg deg deg !!! Seolah jantung ku perlahan berhenti berdetak. Sekujur tubuhku gemetar mendengar Ammar yang terdengar begitu marah dari kejauhan menjelaskan apa yang terjadi pada Abel, yang jelas-jelas. . . bukan semata salah ku kan??? Mengingat sarapan pagi tadi, bukan kah dia begitu lahap dan memaksanya untuk menyantap habis nasi goreng udang buatan ibu ku???
Ammar, dengarkan penjelasan ku dulu. Aku. . . aku tidak punya niat sama sekali atau bahkan kesengajaan memberinya makanan begitu. Aku sudah melarangnya untuk tidak ikut menyantap sarapan nasi goreng udang buatan ibu, tapi dia memaksa nya. . . lalu aku bisa apa??? jika dia begitu lahap memakannya.
Dengan sesak dan mulut bergetar kepala ku rasa pening menjelaskan ini semua ingin rasanya aku terbang ke hadapan Ammar saat ini juga.
Bukan kah kau punya mulut dan tangan untuk mencegahnya hah??? Kenapa kau begitu membencinya Fanny, sehingga kau diam saja melihatnya demikian. . . aku masih tidak percaya kau begitu tega padanya Fanny.
Sekarang, kau harus menemuinya dan meminta maaf dengan apa yang sudah kau lakukan padanya tadi pagi. Jika tidak ingin aku benar-benar marah dan kecewa padamu kali ini.
Oh tidak !!! Sungguh aku tidak percaya Ammar berkat demikin pada ku.
Apa??? kau menyuruhku meminta maaf??? pada Abel di depan keluarga Andi pula??? Apa kau bodoh Ammar??? Hey, kau menjebak ku atau mendorongku dalma masalah besar hah??? aku tidak salah dalam hal ini, jangan menuduhmu sekeji itu.
Air mata ku mulai merembes keluar tak tertahankan lagi. . .
Benar kan??? ku yakin kau pasti akan menolaknya. Baiklah jika demikian, teruslah kau bertahan dengan kesalahan yang kau sembunyikan itu. Aku yang akan menggantikan mu menemui Abel dan keluarga Andi hari ini, aku akan menjemput Abel. Aku merasa bersalah telah membiarkannya menginap dirumah mu, ku pikir kau akan benar-benar tulus menemaninya Fanny. Aku akan segera berangkat untuk menjemput Abel kembali ke kota ku, tapi maaf aku tidak bisa menemuimu terlebih dahulu.
Bip bip bip. . .
Ammar mematikan panggilannya begitu saja tanpa mendengar penjelasan ku lagi.
__ADS_1
Dan aku. . . aku masih terdiam kaku, terduduk lesu di atas ranjang ku. . . bagaimana ini, bagaimana mungkin Ammar menuduhku demikian. . .???