
Aku masih belum bisa menerima keputusan Tristan untuk mengakhiri hubungan ini begitu saja, setelah dia berhasil membuatku jatuh cinta lagi, merasakan indahnya bercinta lagi, aku tidak bisa terima ini.
setiap hari aku masih mengirim pesan romantis dan mesra padanya, layaknya kita masib berpacaran sebelumnya. Dan. . . Tristan benar-benar mengabaikan kecuali aku menelponnya dia baru mau berbicara itupun hanya sebentar dan dengan kata-kata datar.
Aku benci semua sikapnya yang berubah begitu cepat. . . sedang aku, aku masih saja di kawal kemana-mana oleh sopir suruhan ayah ku.
Pagi ini, ku hampiri bunda yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
" Bunda, boleh gak hari ini Fanny pergi mengajar dan kuliah gak lagi di temani sopir??? "
Ibu terdiam kemudian menoleh ke arah ku dengan tatapan serius.
" Fanny. . . sudah putus dengan Tristan " ucap ku lagi.
Ku lihat ibu tampak tersenyum dengan lega dan ceria pada ku. Ini. . . ini menyakitkan untuk ku melihat ibu bahagia mendengarnya.
" Apa kau sungguh tidak nyaman diantar sopir kemanapun itu Nak??? ini juga demi kebaikan mu, kau jadi bisa hemat dengan uang jajan dari ayah mu " ucap ibu ku.
" Tapi. . . Fanny gak bisa bebas dan gak nyaman seperti biasanya bunda "
" Baik lah Nak. . . baik lah jika kau merasa tertekan, maafkan bunda. . . bunda melakukan ini semua semata-mata demi kebaikan mu " ucap nya dengan serius.
" Fanny faham bunda, maafkan Fanny " jawab ku singkat. Sekuat tenaga ku tahan sakit di hati ini mendengarnya. . . demi kebaikan ku??? hah. . .
Terpaksa mengalah dan putus dari orang yang tak di restui apakah itu kebaikan???
" Ayo sarapan dulu sayang "
" Fanny langsung pergi aja deh bunda, gak sarapan dulu. Fanny masih kenyang " Ucap ku kemudian berlalu pergi begitu saja.
Dengan begini aku bisa segera bertemu dengan Tristan, selama pak sopir tidak lagi mengawalku kesana sini. Aku masih ingin selalu melihat wajah Tristan dan berada di sampingnya. . .
Aku menghentikan sebuah taxi yang sudah ku pesan sebelumnya kemudian menaikinya, dengan niat awal aku ingin menemui Tristan langsung pagi ini di gramedia. Sebelum dia menghindar lagi, aku ingin menunggunya langsung di pintu gerbang pagi ini.
Ini memang gila, tapi sampai kapan pun aku tak akan bisa dengan mudah melepasmu Tristan. . . aku mencintaimu, dan kau yang membuatku begini. Harusnya dari awal kau tidak membuatku jatuh cinta serta memaksa ku untuk menjalani hubungan sebagai kekasih dengan mu.
Drrrrrtt . . . drrrttt. . . drrt .. .
Ponsel ku bergetar, ku raih dalam tas ku secepat mungkin. Berharap jika itu adalah Tristan, tapi. . . siapa??? ku lihat di layar ponsel sebuah nomor baru memanggil. . .
** ****Halo. . .
__ADS_1
Hai, selamat pagi bu guru. Wah. . . senangnya bisa diterima langsung panggilan telepon ku.
Maaf, siapa ya???
Aku Ega****. . .
So what??? darimana dia mendapatkan nomor ku??? Hingga pagi begini dia sudah menelpon ku.
****Siapa yang mengijinkan mu menelpon ku hah???
Wah galak bener bu guru, nanti manisnya hilang loh. . .
Kalo tidak ada yang penting aku matikan sekarang****.
Jawab ku cetus.
Tristan, Tristan yang sudah memberikan ku nomor mu. Karena aku yang meminta nya. . .
Tristan??? hah. . . begini caramu membuatku untuk menyerah??? apa kau pikir aku bodoh??? kau licik Tristan. Apa kau juga yang ada di balik kehadiran Ega yang tiba-tiba mendekatiku???
**Apa hari ini kau pergi mengajar Fanny??? boleh ku jemput???
Klik !!! ku matikan telepon begitu saja. Aku. . . aku tidak ingin Ega mendengar tangisan ku pagi ini. . . dengan derai air mata, ku urungkan niatku untuk menemui Tristan pagi ini dan meminta sopir taxi mengantarku ke sekolah tempat ku mengajar.
Sembari berlalu pergi aku masih menangis dengan sedu sedan, apakah Tristan selicik ini??? sehingga tega memakai cara ini untuk membuatku menyerah dalam hubungan ini. Baik lah Tristan. . . jangan pernah menyesal nantinya jika pada akhirnya aku akan membalas mu dengan lebih sakit dari ini karena telah mencampakkan ku.
****************************
Tiba waktu siang hari, tepat di jam yang sudah ku janjikan pada Ega untuk menjemputku. Ini cukup menarik, dia sudah berada di pintu gerbang sekolah menunggu ku.
Dia lemparkan senyuman hangat di bibirnya untuk ku dari kejauhan. Aku membalasnya dengan kecut. . .
" Selamat siang bu guru "
" Hmm. . . " aku menanggapinya cetus.
" Wah dicuekin aku nih "
" Ega, jujur saja. Apa Tristan berbicara sesuatu tentang hubungan kami??? " tanya ku langsung mendettenya dengan tatapan serius.
" Mmh. . . tak banyak, aku hanya sempat menemuinya dan memberitahu jika aku menyukai mu "
__ADS_1
" Apa kau gila Ega??? "
" ya aku memang gila. . . tapi Tristan mendukung ku untuk mendekati dan menjaga mu sepenuh hati, aku sempat terkejut akan jawabannya itu "
Kau brengsek Tristan. Ku pikir kau akan melarang Ega untuk mendekatiku meski kini aku bukan kekasihmu lagi. . .
Aku masih terdiam dengan hati yang terus menggerutu dan memaki-maki Tristan tanpa henti. . .
" Fan, Fanny. . . "
" Eh ya, sory. . . kenapa??? jawab ku terkejut ketika Ega terus memanggil ku.
" Kau terus melamun, apa kau. . . memikirkan Tristan??? Jadi beneran kalian udah bubar??? wah. . . apa kali ini sungguh Tuhan yang memberikan ku kesempatan??? "
" Maksud mu??? "
" Mari kita berpacaran Fanny. . . aku akan berusaha lebih baik dari Tristan dalam mencintaimu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu "
" Heh, apa kau tak malu berpacaran dengan bekas mantan sahabat mu Ga??? "
" Why Not??? jika kamu saja masih mau menerima ku??? "
" Kau terlalu percaya diri Ga " jawab ku singkat.
Aku jijik mendengarnya, selama ini aku masih belum pernah membiarkan diriku berpacaran dengan sahabat mantan ku. Ini sangat buruk dan memalukan. . . tapi mengingat akan perlakuan Tristan padaku, sedang aku masih mencintainya. . . apakah ini tidak keterlaluan dia merendahkan ku, menjadikan ku piala bergilir.
Ini sangat sakit ku rasa Tristan, kau berhasil mengobrak abrik hati ku disaat aku masih sangat mencintaimu. . . Tapi baiklah, aku akan mengikuti permainan mu. Mari kita lihat siapa yang akan sakit hati setelah ini.
" Apa kau sungguh ingin menjadi kekasih ku Ega??? " Tanya ku kemudian.
" Bukan hanya ingin Fanny, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat kita bertemu dan berkenalan di taman waktu itu "
" Hmm. . . baik lah, mulai saat ini kita jadian. Ku terima dirimu sebagai pacar ku "
" Su. . sung. . .guh??? kenapa. . . kenapa menjawab nya begitu cepat Fanny??? apakah. . . ini berarti kau juga menyukaiku??? "
" Entah lah, tapi siapa tau di kemudian hari bisa jadi aku juga mencintaimu perlahan seiring waktu berjalan "
" Yesss. makasih Fanny, aku sangat bahagia "
Yah. . . mari kita lihat apakah mau berhasil membantu ku membuat Tristan menyadari kesalahannya kali ini, atau tidak. . . namun sebelum itu, maafkan aku Ega, jika kau harus menanggungnya. Jika kau harus ku jadikan pelarian atas perasaan ku pada Tristan, sahabat mu. Karena aku. . . aku masih sangat mencintainya.
__ADS_1