BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh satu


__ADS_3

Tiba waktu pagi, aku bergegas terbangun ketika jam weker berdering. Aku jadi semangat bangun pagi ini, bukan untuk pergi ke sekolah untuk mengajar. Melainkan untuk menantikan kedatangan Ammar, ah bahagia ku rasa. . .


Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, bernyanyi-nyanyi riang penuh suka cita. . . ketika melihat bekas kecupan Ammar di balik busa sabun yang memenuhi tubuh ku, aku tersenyum geli.


Mulai saat ini, aku akan memulai semua dari awal. Hubungan ku dengan Ammar memang hanya sebatas tunangan saja saat ini, melainkan layaknya suami istri. . . karena kami sudah melakukan nya, melakukan yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri yang sah.


Selesai mandi, aku berbenah diri dengan memilah milih baju yang pas untuk menyambut kedatangan sosok lelaki yang ku cintai sampai detik ini.


Setelah itu aku memoles wajah ku dengan sedikit make up ringan. agar lebih fres dan cantik tentunya. . .


Aku sudah melangkah turun dan mencari ibu di dapur pagi ini. . .


" Pagi Bunda ku sayang. . . ada yang perlu Fanny bantu gak??? "


" Pagi juga sayang, eh. . . kok??? kenapa pakai baju begitu??? Gak pergi mengajar hari ini??? " Tanya ibu dengan heran menatap ku.


" Mmm. . . ijin dulu hari ini bunda, soalnya. . . hehe. . . " Jawab ku dengan tersipu malu.


" Hmm. . . bunda tau, dari bau baunya nih. . . sepertinya sang pujaan hati akan datang hari ini "


" Hehe. . . iya bunda, sebenarnya sudah semalam Ammar tiba disini, dan menginap di hotel. Semalam kak Rendy yang mengerjainya untuk segera datang kesini karena hari ini. . . Ammar ulang tahun "


" Sungguh??? Aduh gimana ini??? kenapa baru memberitahu bunda sayang??? bunda belum menyiapkan apa-apa untuk memberinya ucapan " Ibu ku tampak kebingungan.


" Bunda. . . bunda. . . tenang lah sedikit. Semalam kita sudah mengadakan party kecil untuk merayakannya, dan bersyukur semua berjalan lancar berkat kak Rendy " ucap ku. Kemudian. . . aku tersentak sesaat, mengingat nama kak Rendy pagi ini.


" Ya ampun, bunda. . . kak Rendy jadi balik ke luar negeri hari ini kan??? Aduh Fanny lupa, Fanny udah janji akan mengantarnya ke bandara jam 8 pagi " Ucap ku lagi dengan mondar mandir kebingungan.


Kemudian aku berlari menuju kamar ku di atas untuk meraih ponsel, oh tuhan. . . semoga belum terlambat. sudah jam berapa ini??? Kenapa aku melupakan hal sepenting ini.


Tiba di kamar, ku lihat jam baru menunjukkan pukul 07.00 pagi, hah. . . aku lega sedikit. Ku raih ponsel untuk menelpon kak Rendy, tapi niatku terhenti sejenak ketika ku lihat banyak logo pesan di atas layar ponsel ku.


Ku lihat begitu banyak pesan dan panggilan yang dikirimkan oleh Kevin.


Kevin. . .


Seketika air mataku menetes mengalir di pipi. Hatiku sakit menyebut namanya. . . Ingin rasanya aku berteriak memaki diri ku ini.


Kevin, aku. . . aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi, maafkan aku. . . aku. . . aku sudah mengingkari janji ku pada mu untuk menjaga kehormatan ku. Maafkan aku. . . aku tidak bisa. . . aku tidak bisa. . . semua sudah terjadi, aku tidak baik lagi untuk mu Kevin. . .


Aku menangis tersedu-sedu, di dalam kamar terkenang semua ucapan janji dan sikap hangat serta kesabaran Kevin selama ini untuk ku, penantiannya yang tidak pernah lelah akan cintaku yang menjadikannya sampai saat ini, hanya sebagai selingkuhanku.

__ADS_1


Dengan perlahan ku aku berniat menelpon Kevin lebih dulu, ku tarik nafas dalam-dalam.


Tuuuut. . . tuuuut. . . tuut. . .


Halo Fanny, Kau. . . akhirnya kau menelpon ku juga.


Terdengar suara Kevin yang begitu semangat, seolah dia sedang menantikan panggilan telepon dariku.


**Kevin. . . aku. . . maafkan aku, aku baru melihat pesan darimu. Maafkan aku. . . maafkan aku. . .


Fanny, Fanny. . . kenapa kau terus meminta maaf. . .? hey. . . gapapa, aku mengerti. Jangan terus meminta maaf begitu. . .


Aku tidak akan berhenti meminta maaf padamu, aku. . . aku sudah menyakitimu, aku sudah melukaimu. . . aku**. . .


Huwwaaaa. . . tangisku semakin jadi, ku tahan agarbtak terdengar suara isakan tangisku walau hati sangat sesak hampir meledak rasanya. Ku bungkam mulutku saat tangis ini menyiksa hatiku. . .


Fanny. . . aku mengerti, oke oke aku memaafkan mu. Sudah jangan lagi meminta maaf, apakah hari ini kau sungguh akan mengantarku ke bandara pagi ini???


Akh. . . aku semakin tidak tega mendengar ucapannya itu, ketika kau mengetahui bahwa aku sudah tidak suci lagi apa kau masih mau menerima ku Kevin??? apakah kau akan tetap baik begitu??? Apakah kau akan tetap mencintaiku dengan tulus???


Halo Fanny, halo. . .


Kevin, Ammar masih disini. Apa. . . tidak apa-apa jika dia ikut bersamaku ke bandara??? Apa kau keberatan??? jika keberatan, aku. . . aku akan mencegahnya untuk tidak ikut serta.


Lama. . . lama terdiam tanpa suara terdengar di balik telepon. Kemudian suara nya terdengar kembali, terdengar seyup dan lirih. . . aku tau, dia pasti lebih terluka kali ini.


Baiklah Fanny. . . Tak apa, aku hanya cukup melihat wajahmu saja sudah lebih bagiku. Melihatmu datang menemaniku di bandara saja sudah sangat bahagia hatiku Fanny.


Kau bodoh Kevin. . . !!!


Baik lah. Aku tutup telponnya, aku akan bersiap-siap.


Ku hapus air mata ku yang semulai tadi mengalir dengan deras. Dan bergegas untuk turun ke bawah, Tapi Ammar. . . bagaimana dengan Ammar??? Bagaimana aku akan menjelaskan dan mengajaknya ke bandara.


Tiba di bawah, Ammar sudah tiba di rumah sedang berbincang ria dengan hangat bersama ayah dan ibu.


Aku semakin gelagapan, Ammar menyambutku dengan senyuman hangat.


" Sayang, ayo sarapan dulu Ammar sudah tiba " Sapa ibu ku.


" Bunda, Fanny harus segera ke bandara. Kak Rendy akan berangkat jam 8 pagi ini, aku sudah berjanji mengantarnya " Ucap ku seketika reflek keluar begitu saja dari mulutku.

__ADS_1


" Tapi bagaimana dengan Ammar Nak, dia baru tiba disini " Ucap ayah ku.


" Gapapa om, tante. . . Ammar akan mengantar Fanny ke bandara. Biar nanti sarapan di jalan saja " Ucap Ammar menambahkan.


Ada rasa lega Ammar menyetujuinya tanpa rasa curiga melihat mataku sembab oleh tangisan tadi.


Kemudian kami bergegas pergi menuju bandara terlebih dahulu dengan melaju cepat Ammar terdiam tanpa kata.


Tiba di bandara, ku lihat sekeliling masih belum terlihat batang hidung kak Rendy beserta lainnya. Aku melangkah tergesa-gesa hendak menunggu di ruang tunggu dan merogoh ponsel untuk menelpon kak Rendy dahulu.


" Sayang, tunggu sebentar " Ammar menarik tangan ku dengan cepat ketika aku melewatinya, mengabaikan nya semulai tadi.


Aku menengadah ke wajahnya yang terlihat lebih cerah pagi ini. . .


" Kau terlihat gelisah, santai lah sedikit. Apa yang kau pikirkan??? Dan. . . mata ini. . . " Ammar menyentuh mata ku dengan lembut.


" Ammar, maafkan aku. Aku hanya. . . aku hanya sedih kak Rendy akan kembali jauh dari ku " Ucap ku memalingkan wajah.


" Benarkah hanya itu? bukan karena. . . Kevin??? "


Degh !!! Apakah Ammar sudah mencurigaiku???


Bibir ku gemetar, menatap sorotan mata nya.


" Tak apa, aku mengerti " Ucap Ammar lagi sembari memeluk tubuhku.


Aku kebingungan, apa maksud ucapan Ammar ini. . .


" Ammar. . . aku. . . aku hanya. . . " Ucapan ku terhenti di dalam pelukannya, rasanya aku gak sanggup untuk melanjutkan ucapan ku ini.


Lalu Ammar melepaskan pelukannya perlahan. . .


" Aku sudah tau semua nya, hubungan mu dengan Kevin selama jauh dariku. dan aku sudah membaca semua pesan-pesan singkat antara kau dan Kevin. . . Entah kau lupa menghapusnya atau kau berniat untuk jujur padaku sebelum aku mengetahuinya lebih dulu, tapi. . . mungkin, aku yang salah disini telah memberimu kesempatan dekat dengan lelaki lain " Ucap Ammar pelan dengan menggenggam tangan ku.


Tangis ku pecah. . . aku tidak peduli lagi ini dimana, aku hanya ingin menangis saja. aku tidak bisa berkata satu kata pun. . . sungguh, aku merasa seperti sedang tercyduk parah oleh pasanganku.


" Ammar. . . maafkan aku, aku telah mengkhianati cinta kita " Ucap ku dengan tangisan yang semakin terisak.


" Aku akan memaafkan jika kau mau berjanji satu hal pada ku Fanny, aku akan berusaha melupakan semua nya. . . mari kita mulai lagi dari awal saling membenahi kesalahan kita kemarin. Tapi. . . bisakah kau memutuskan hubungan mu dengan Kevin saat ini juga??? " Ucapnya tegas yang membuatku terperangah dengan mata melotot.


Bagaimana mungkin aku akan setega itu memutuskan hubungan perselingkuhanku dengan Kevin, sementara. . . Kevin saat ini, sudah pasti sedang terluka. Terluka oleh segalanya. . . oh tuhan. . . aku. . . aku tidak biiisaaa. . .

__ADS_1


__ADS_2