BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Tiga puluh enam


__ADS_3

" Malam tante. . . Kevin kembalikan Fanny dengan tepat waktu, hehe. makasih sudah mengijinkan kami pergi tadi " Sapa Kevin pada ibu yang sudah menatap ku dengan wajah panik menanggapi sapaan Kevin hanya dengan senyuman penuh rasa takut.


Ammar masih menatap rengas wajah Kevin yang kini tengah berdiri bersama ku di hadapannya dengan posisi masih menggenggam tangan ku dengan erat.


Dan kau tau. . . betapa kerennya sosok Kevin ini, dia tetap tersenyum tenang menyambut Ammar, Sementara aku. . . aku masih tidak mampu mengeluarkan suara.


" Oh iya tante ini. . . tadi Kevin belikan kue. semoga sesuai selera om dan tante " Ucapnya lagi sembari menyodorkan sebuah kotak kue yang di belinya tadi di Kafe.


" O. . oh. . i. . .iya. . . makasih . . . terimakasih banyak ya nak Kevin " Jawab ibu dengan kikuk menerima kotak kue yang di berikan Kevin.


" Ya. . . ya sudah tante masuk dulu ke dalam ya. .. mmm. . . kalian. . . kalian ngobrol aja dulu baik-baik. tante gak mau ikut campur urusan anak muda. . . " Dengan perlahan ibu melangkah mundur menuju pintu masuk, kemudian memberikan ku isyarat untuk tetap tenang dan semangat dengan tawa kecil ibu berlalu pergi menghilang.


Apa-apaan ibu ku ini, malah membiarkan ku sendiri menghadapi mereka. Bagaimana mungkin bisa tenang dan semangat menghadapi mereka ini??? Astaga. . .


Ini bagai mimpi burukku Tuhan. . . berada di posisi terjepit seperti ini, di sisi lain tengah berdiri seseorang yang sangat baik, yang selama berapa bulan kehadirannya berusaha menghiburku lalu melupakan sakit hati yang dilakukan oleh Ammar.


Sementara. . . di satu sisi lagi. . . tengah berdiri sosok lelaki yang ku cintai selama ini, namun dia juga lah yang menyebabkan keadaan jadi begini.


Oh tuhan. . . bisa kau kirimkan saja malaikat untuk membawaku terbang jauh dari mereka malam ini. . .


Ini sangat menakutkan.


" Hai bro, apa kabar ??? " Sapa Kevin dengan ramah.


" Apa kabarku penting bagi mu saat ini ???, cih. . . " Ammar menjawab dengan ekspresi menyeringai.


" Dan kau. . . Fanny, bagaimana rasanya dinner dengan cowok lain yang bukan pacarmu??? Lalu berpegangan tangan seperti ini. . .??? " Tanya nya dengan cetus menatap tajam padaku.


Oh tidak !!! tanpa ku sadari tangan ku masih di genggam oleh Kevin. Seketika aku melepasnya dengan paksa, Kevin hanya tersenyum menanggapi sikapku.


" Am. . .mar. . . kau. . . sejak kapan sudah disini??? " Tanya ku dengan gagap.


" Jawab aku !!! " ammar menaikkan nada suaranya kali ini. Aku terkejut dengan memejamkan mataku. . .


" Weish. . . santai bro, jangan main bentak begitu dong ma cewek lu ".


" Oowh jadi kamu sadar kalo dia masih status pacar ku sampai saat ini??? "


" Ya. . . gue sadar, sadar betul malah. Tapi apa masih bisa dibilang pacar jika selama dua bulan terakhir ini. . . elu gak pernah ngabarin dia, bahkan elu membuatnya selalu menangis hampir setiap hari. . . " Jawab Kevin menantang.

__ADS_1


" Brengsek !!! Apa hak lu berkata demikian hah??? " Kini Ammar sudah menarik baju Kevin di bagian leher.


Seketika aku berusaha menghalangi Ammar yang sudah mulai menggertakkan giginya menatap tajam wajah Kevin.


" Ammar, lepasin !!! Elu apaan sih. . . lepasin gak, jangan kasar sama kak Kevin !!! " Aku menarik-narik lengan Ammar dengan susah payah. Sementara Kevin masih saja dengan tenang menanggapi sikap Ammar yang kasar.


Ammar melepaskan baju Kevin dari cengkramannya begitu saja mendengar ucapan ku,


" Oh. . . jadi sekarang kau mulai membelanya di depan ku Fanny??? Atau kau mulai menyukainya juga. . . Atau kau sudah jadian dengannya??? Atau. . . hooow selama dua bulan kau tidak mengabariku sama sekali itu karena kalian sudah. . . cih. . . apa kau sudah melakukan banyak hal dengannya Fanny, sama seperti yang selalu kita lakukan ketika berdua. . . Hah. . . jawab !!! ".


PLAKKK !!!


Aku menampar pipi Ammar dengan keras. aku benar-benar terhina dengan ucapannya kali ini bahkan kali ini di depan Kevin, laki-laki yang baru saja menyatakan perasaannya padaku. Dan. . . ini yang kedua kalinya aku menampar Ammar lagi.


" Fanny, Kau. . . " Ammar semakin sangar menatapku.


" Itu jawaban yang tepat untuk semua pertanyaanmu itu Ammar ".


Sementara Kevin tertegun melihat kejadian ini. . . dia mulai panik.


" Kak Kevin, sebaiknya kakak pulang aja dulu. Sampaikan salamku untuk kak Rendy dan keluarganya, besok aku akan menemui kalian " Ucap ku kemudian pada Kevin.


" Kak. . . Pliss, turuti apa kata Fanny. Percayalah Fanny akan baik-baik saja " Jawab ku lagi memotong pembicaraan Kevin seketika.


Kevin menatapku penuh ke khawatiran, aku mengangguk pelan.


" Ya udah Kak Kevin pulang dulu ya, inget jangan begadang lagi nanti. . . " Kevin menuruti ucapan ku untuk pamit pulang dengan mengelus bahu ku.


Sambil terus melangkah menuju mobil di halaman depan, seketika Ammar mengejarnya ke halaman dan. . .


Bugh !!!


Ammar memberinya sebuah pukulan tepat mengenai bibir Kevin.


Aku berteriak menghampiri mereka.


" Ammar, apa yang kau lakukan??? Kak Kevin. . . kau. . . kau tidak apa-apa??? " Aku menatap Ammar dengan tajam terdahulu kemudian menyentuh bibir kak Kevin bekas pukulan Ammar yang kemudian sedikit mengeluarkan darah.


" Kakak tidak apa-apa Fanny, kakak baik-baik aja " Ucap Kevin dengan lembut menyentuh tanganku.

__ADS_1


Ammar menarik paksa tangan ku,


" Kau masih berani menyentuhnya lagi di hadapan ku, Fanny. . . kau. . . aku ini pacarmu. . . " ucap Ammar dengan lantang.


" Cukup Ammar. Apa tamparan tadi masih belum menyadarkan mu hah??? Kau selalu menyebutku masih pacar mu, lalu selama dua bulan ini kau menghilang kemana tanpa kabar hah??? Apa kau tau bagaimana aku melewati hari-hari selama itu tanpa kabar yang pasti darimu, dan sekarang kau??? kau menyebutku masih pacar mu??? "


Mataku mulai memanas, sepertinya aku akan kembali menangis karena mu Ammar. . . Tangan ku terus gemetaran,


" Fanny, apakah lelaki yang seperti ini yang kau pertahankan selama ini dengan cinta tulus mu??? Lihat. . . meski dia sudah hadir di hadapan mu detik ini, dia masih tetap saja membuatmu menangis. . . " Ucap Kevin menyela.


" Kau bajingan tengik, berhenti kau meracuni pikiran nya. . . kau. . . " Kembali Ammar mengepalkan tangannya hendak meninju Kevin kembali.


Aku berusaha menghalanginya sekuat tenaga ku tarik tangannya yang sudah hampir mengenai wajah Kevin lagi. . .


" AMMAR !!! Jaga attitude mu sebagai guru saat ini. apa kau lupa sedang berada dimana saat ini??? ini rumah ku Ammar. Bagaimana jika orang tua ku mendengar keributan ini dan menyaksikan sikap kasar mu ini hah??? " Ucap ku dengan nada sangat marah kali ini.


Kemudian Ammar terhenti dengan menunduk lemas. . .


Oh tuhan, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat kali ini. . . Bathin ku.


" Kak, plisss cepat pulang lah. . . minta kak Rendy untuk mengobati lukamu itu. Biarkan Fanny menyelesaikan masalah ini berdua dengan Ammar " ucapku dengan linangan air mata.


Sungguh kali ini, aku lebih tidak tega melihat wajah lembut Kevin. . . bagaimana dia begitu gentle dan tetap tenang menghadapi amarah Ammar yang memuncak.


Kevin mengangguk pelan dan tetap melempar senyum hangatnya padaku. . .


" Gue akan ingat pukulan ini Ammar, dan asal elu tau. . . semulai tadi gue nahan diri untuk ngeliat seberapa besar usaha elu untuk mempertahankan Fanny. Tapi ternyata hanya segini doang??? Gue tegesin, mulai detik ini saingan berat elu adalah Gue. Kevin !!! " Ucap Kevin dengan serius dan penuh rasa percaya diri.


Aku terperanjat mendengar ucapannya ini. . . tertegun kaku, bahkan sekedar menelan ludah saja susah ku rasa di tenggorokanku.


Ammar mulai bergejolak amarah lagi mendengar ucapan Kevin.


" Cih. . . kau menantang ku??? Kita lihat saja bagaimana usaha lu nantinya. Fanny akan tetap kembali kepelukan ku, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskannya untuk siapapun apa lagi itu Kau brengsek !!! " Ucap Ammar dengan kasar.


Kevin hanya tersenyum kecut sembari mengangkat kedua bahu nya dengan bibir mencibir pada Ammar. . . kemudian berlalu pergi memasuki mobil dan menghilang jauh dari pandangan ku.


Aku memejamkam mataku dengan helaan nafas panjang, menahan sesak menyaksikan Kevin berlalu pergi dengan bekas pukulan Ammar tadi.


Tuhan. . . ini semua salahku kan??? Aku yang telah menyebabkan ini semua jadi semakin rumit begini. . . Andai saja ku tolak ajakan Kevin untuk makan malam diluar tadi, pasti ini tidak akan terjadi. . . dan andai pula aku mengetahui Ammar akan datang kerumah ku malam ini. . .

__ADS_1


Kevin. . . maafkan aku. . . ini salah ku. . .


__ADS_2