
Ammar masih duduk bersimpuh di hadapanku, dengan wajah menunduk lesu menunggu jawaban dariku. . .
" Ammar. . . tidak bisakah kau menjaga harga dirimu sebagai lelaki??? Jangan begini hanya karena ku. Cepat berdiri Ammaaaaaaar !!! " Aku tidak tau lagi harus menjawab apa, aku tidak ingin membuatnya menunggu terus dengan cara seperti ini. Tapi aku pun juga tidak mungkin jujur. . . aku tidak ingin kembali memberinya harapan, pikirku dalam kepanikan.
" Aku bahkan sudah tidak mementingkan harga diriku lagi Fanny. . . aku sudah berhasil membuatku gila sejak awal hingga kini, cukup kau menghukumku dengan memutuskan hubungan kita 5 bulan lalu hingga kau benar-benar menghilang tapi ku mohon jangan menambah hukuman mu lagi, dengan cara terus menghindariku ketika kita bertemu " Amma masih dengan wajah lesu dan suaranya semakin lirih.
" Ammar. . . aku. . . " Ah tidak. Huhft. . . hampir saja aku keceplosan dan luluh dengan sikapnya ini.
Ammar menengadahkan wajahnya melihatku. . .
" ada apa Fanny??? Kenapa kau menghentikan ucapan mu? Paling tidak. . . biarkan aku tetap bisa melihatmu dari kejauhan. aku tidak akan mengganggu mu. . . tapi tolong jangan menghindariku lagi, memalingkan wajahmy dariku. Itu menyakitiku Fanny. . . "
" Apa hak mu mengaturku begitu??? Aaah sudah lah Ammar terserah kau maunya apa, jika kau tidak juga mau berdiri. Terus saja begitu ".
Lantas aku pergi meninggalkan nya yang masih bersimpuh itu. Tidak peduli dia mau tetap begitu kek, sampe pingsan malahan bodo amat.
Dengan nada kesal aku keluar dari aula begitu saja.
Dengan terus berjalan tergesa-geda aku menggerutu sendirian, hingga akhirnya Dini menghentikan langkahku berdiri di depan ku.
" Heeei cik gu, kenapa menggerutu sendiri begitu. . . ada apa??? cepet tua loh ntar " Ucap nya.
" Aku memang sudah akan menua dengan cepat jika terus begini Din " Jawab ku cetus.
" Hahahaha ih apaan sih, ingat. . . kita ini wanitaaaa. Harusnya berusaha agar tetap awet muda tauuuk " Jawabnya meledekku.
" Kau tau, Ammar menarikku hingga ke aula. Dan disitu dia bersimpuh di depan ku, gila kan. . . " Jawab ku dengan nada kesal.
" Lalu sekarang Ammar dimana??? "
" aku meninggalkannya di aula "
" Kau. . . kau meninggalkan Ammar dalam posisi masih bersimpuh??? " Tanya Dini dengan wajah panik.
Aku mengangguk pelan. . .
" Ya ampun Fanny, kau keterlaluan sekali kali ini. Kenapa kau jadi wanita jahat Fanny. . . kau. . . apa kau tidak kasihan padanya. . .??? "
" Dini. . . kau, kau lupa dengan apa yang sudah ku ceritakan semua padamu semalam??? Dia yang membuatku begini. Dan lagian. . . sikapnya tadi mungkin hanya trik dia saja untuk merayuku lagi "
__ADS_1
" Fan, kau yakin pernah mencintainya??? Jika kau pernah mencintainya, ku yakin kau biss membaca dari sorotan matanya dia serius atau tidak kali ini "
Aku tertegun mendengar ucapan Dini. Terbayang kembali wajah Ammar yang tertunduk lesu bersimpuh di depan ku. Aku tau, ini bukan trik nya. Tapi memang benar spontan tergerak dari hatinya. . . Oh tuhan, aku. . . aku. . .
" Fanny, ayo lah. . . jangan keterlaluan pada Ammar. Aku yakin kali ini dia benar-benar serius masih mengharapkan mu. Atau. . . kau beneran yakin nih mau mengabaikan Ammar begitu saja??? jika begitu. . . bagaimana jika aku mencoba mendekatinya. . . hmm. . . aku juga ingin dapat cowok yang super begitu " Ucap Dini kemudian.
" Kau berani mendekatinya, kita jangan lagi berteman " Ucapku reflek seketika.
" Tuh kan. . . Hahahaha kau pun sebenarnya sama dengan Ammar. Hanya saja, kau lebih pengecut dengan keegoisan mu Fanny ".
Aku kembali terdiam kaku mendengar ucapan Dini. Andai saja, aku mampu memutar balik tubuhku ini untuk berlari kembali menuju ruang aula, dan memeluk tubuh Ammar disitu. Tapi. . . ini tidak mungkin. Sangat tidak lah mungkin. . .
" Ayo lah Fanny, ini hari terakhir dia berada di kampus kita ,di hadapan mu secara dekaaat. . . berikan dia kesempatan sedikit untuk berbicara banyak hal dengan mu Fanny, sebelum akhirnya dia pergi dari sini. . . melihatmu tetap demikian dan pada akhirnya dia benar-benar akan berusaha melupakan mu seutuhnya. Apa kau Mau??? Jika nanti ada seorang wanita yang mampu membunuh semua kenangan tentang mu di hatinya dengan mudah??? lalu kau. . . kau akan tetap dengan sakit hatimu yang dibuat oleh mu sendiri kan??? " ucap dini lagi
Ucapan Dini ini, menyadarkan ku sejenak. Semua rasa sakit yang ku alami selama ini bukankah memang aku yang membuatnya, aku yang rela memilihnya yang ku pikir ini demi kebaikan semuanya, hukuman yang ku pikir akan membuat Ammar merasakan sakit yang pernah ia torehkan, sepertinya aku berhasil melakukannya. Iya kan???
***************♡-♡***************
POV AMMAR
Seminggu berlalu setelah diputuskan oleh Fanny secara sepihak, dengan alasan tidak ingin menyakiti salah satu dari Ammar dan Kevin. . .
Setiap kali masuk ke kamar nya, dia mulai berteriak dan mengamuk tanpa henti. Dia benci suasana di kamarnya itu, karena baginya semua yang ada di kamarnya saat itu semakin mengingatkannya akan sosok Fanny. Wanita yang dicintainya, karena di kamar ini lah awal mereka pertama kali bercumbu mesra.
Ammar sangat terpukul dengan keputusan Fanny secara sepihak saja. Tanpa berpikir ulang hubungan yang telah setahun mereka bina dan di pertahankan.
Tok tok tok. . .
" Ammar. . . buka pintu nya " Suara mama Ammar menghentikan amarah Ammar yang meluap-luap.
Lalu berjalan membuka pintu perlahan, dilihatnya mama Ammar sudah menatapnya dengan penuh tanya di depan pintu.
" Apa yang kau lakukan. . . kenapa kau mengamuk saja setiap masuk kemar mu??? " Tanya mama Ammar sembari melangkah masuk ke dalam kamar Ammar yang sudah berantakan itu.
Ammar hanya terdiam kaku, tanpa kata.
" Ada apa dengan mu Nak??? Apa masalah mu hingga kau jadi mudah emosi begini??? Terakhir kau begini. . . hanya karena Eliez. Apa kali ini karena nya lagi??? " Tanya mama nya lagi. Yang membuat Ammar semakin emosi.
" ma, jangan sebut nama Eliez lagi di hadapan Ammar. Ammar muak mendengarnya !!! "
__ADS_1
" lalu apa yang membuat mu berubah begini??? "
Ammar melangkah mendekati mama nya yang berdiri menatap Ammar penuh heran.
" Ma. . . apa aku tidak pantas untuk dicintai??? sehingga semua orang-orang yang ku cintai dengan tulus pergi begitu saja Ma. . . " Ammar mulai sesunggukan dengan tangisnya.
Mamanya memeluk tubuh ammar yang terkulai lemah itu. Memeluknya dengan erat. . . Ammar sesunggukan menahan tangis dan sesak di dadanya dalam pelukan mama nya.
" Tidak anak ku, kau. . . kau sangat pantas dicintai oleh orang yang berhak mencintaimu. Mereka hanya tidak mengenalmu secara dalam saja. . . Tapi, bolehkah mama bertanya. . .??? " Ucap ibu nya dengan kemudian melepas pelukannya, memegangi kedua pipi anaknya menatap mata Ammar yang sudah basah oleh air mata.
" Apa. . . kau putus dengan Fanny sayang??? "
Ammar mengangguk pelan.
" Dia memutuskan ku secara sepihak begitu saja Ma, tepat di hari satu tahun hubungan kita berdua. Dia memutuskan ku dengan alasan yang tidak bisa ku ceritakan pada mama saat ini. . . " Jawabnya dengan sesunggukan.
" Namun apa kau masih mencintainya sampai detik ini Ammar??? "
" Sangat Ma, sangat. . . sampai rasanya sesak di dadaku, semua pikiran dan hati ku di penuhi oleh Fanny "
" Lalu kenapa kau menyerah begitu saja sayang??? Mama tau. . . Fanny adalah gadis yang baik, pikirannya memang masih seperti anak kecil dia manja, dia bawel, tapi mama tau. . . Dia juga sangat mencintaimu dengan tulus. Pertahankan dia Nak !!! ".
Ammar semakin sesunggukan menahan tangis dan sesak di dadanya. Kemudian Papa Ammar tiba-tiba masuk begitu saja ke kamar menghampiri mereka.
" Tidak perlu rendah diri begitu hanya untuk gadis biasa seperti Fanny. Benar kan, jika dia tidak benar-benar mencintaimu Ammar, atau mungkin sekarang dia sudah menyadari bahwa dia tidak pantas bersanding dengan lelaki sepertimu. Ini kabar baik, papa akan mempercepat saja perjodohan ini dengan keluarga Eliez " Ucap papa Ammar dengan tegas.
" pa. . . apa-apaan kau ini, lihat anak kita sedang terluka. kenapa kau begitu keras terus menekannya tentang Eliez ???" Ucap mama Ammar dengan marah.
Ammar hanya mengepalkan tangannya dengan gemetar mendengarkan ucapan papa nya itu.
" Baik lah pa, terserah lakukan saja apa yang papa mau. Tapi aku tidak akan pernah mau menerima perjodohan ini apalagi bertunangan dengan wanita pilihan papa itu. Lebih baik aku pergi saja dari rumah ini, dan lakukan saja apa yang menurut papa baik untuk diri papa sendiri "
Gubrak !!! Ammar pergi begitu saja menutup pintu kamar dengan membantingnya, yang di dalamnya masih berdiri terpaku papa dan mama nya.
" Lihat pa. . . lihat. . . apa yang kau lakukan ini sungguh membuatnya berpikiran untuk pergi dari rumah ini. Keterlaluan kau pa. . . " Ucap mama Ammar marah, sedang suaminya itu hanya terdiam menunduk dengan bibir bergetar.
❤ **Hayo. . . ada yang merasa nyessek gak liat kondisi Ammar setelah di putuskan oleh Fanny. . . ? Author aja ikutan nyessek nih. . . Karena sebenarnya Ammar tulus mencintai Fanny, tapi. . . .
Hmm. . . jangan lupa terus tekan like nya ya, di tunggu next episode nya ❤**
__ADS_1