BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Enam puluh satu


__ADS_3

Tangis ku pecah di atas bantal yang sengaja ku tenggelamkan wajah ku di dalamnya.


Kenapa Ammar, kenapa kau lagi-lagi memulainya??? kenapa kau berubah lagi seperti dulu, yang begitu sangat peduli diluar batas sebagai teman saja. Aku tidak salah Ammar, aku tidak salah. . . kenapa kau tidak mempercayaiku??? kenapa???


Aku terus memukul-mukul bantal dan menjambak rambut ku meremas keras kepala ku. . . aku ingin menghajar habis saja diriku ini.


Lalu bagaimana hubungan ku selanjutnya??? akan kah kembali berakhir begitu saja???


Aku masih terus terisak dalam tangis. . . sementara suara ketukan pintu kamar ku terdengar di ketuk oleh seseorang.


" Sayang, Apa kau sedang sibuk??? "


Terdengar suara ibu dari luar pintu kamar, aku menghapus air mata ku terlebih dahulu. Berusaha menormalkan suara ku agar tidak terdengar sengau, jika tidak ibu akan mengetahuinya jika aku sedang menangis hari ini. . .


Ehhem. . . hem. . .


" Tidak bund, Fanny hanya tiduran saja. Ada apa??? " Aku hanya berteriak dari dalam kamar menjawab pertanyaan ibu tanpa menyuruhnya masuk.


" Jika begitu keluarlah, ada teman mu yang datang. Turun lah dan temui di bawah ya "


Ah??? teman??? siapa??? apa abel??? tapi bukan kah ibu sudah tau namanya, kenapa hanya menyebut teman ku saja. Siapa lagi???


" Baik bunda, Sebentar. . . Fanny cuci muka dulu "


Suara ibu sudah tak terdengar lagi. Aku bergegas turun dari atas ranjang, kemudian mencuci bersih wajahku terlebih dahulu. Agar Ibu tidak mengetahuinya aku habis nangis-nangisan.


Ku pandangi wajah ku di cermin, mataku masih sembab. Ah. . . haruskah ku poles dengan make up sedikit??? eye liner dan maskara mungkin sedikit akan membantu.


Sembari merapikan baju dan memoles wajah ku dengan sedikit make up aku berpikir, siapa sih tamu ku hari ini??? kenapa ibu tidak menyebutkan namanya.


Aku bergegas keluar kamar dan menuruni tangga dengan setengah berlari.


Tiba di ruang tamu aku kembali tidak bisa menahan air mata ku untuk kembali jatuh setelah sosok lelaki yang berdiri di hadapan ku ini. . . tersenyum dengan sapaan ledekannya.


Aku berlari memeluknya dengan amukan dan omelan -omelan ku tanpa henti.


" Kak rendyyyyyyyyyy. . . aaaaaaah kak rendy jahaaaat kak rendy tegaaaa kenapa baru datang hari ini, kenapa tidak datang di hari pertunangan Fanny malam itu. . . huwwaaaa. . . Kak Rendyyyyy Fanny rinduuuuuu. . . "


Bugh bugh bugh !!!

__ADS_1


Aku memukuli tubuh kekar kak Rendy. Dia terus menertawaiku tanpa henti. . .


" Hey hey hey. . . Sayang, masa begitu menyambut kedatangan kakak mu Rendy??? " Ucap ibu ku sembari membawakan segelas minuman.


" Bunda jahat, tadi bilang teman ku. . . bunda ngerjain fanny ih. . . " Aku kembali memeluk kak Rendy dengan manja.


" Apa kau sehat??? Hmm. . . adik kakak ini sudah semakin dewasa terlihat, kakak dengar dari tante kau juga sudah mengabdi jadi guru Taman kanak-kanak, iya kah??? Waaaah kakak suka sekali mendengarnya "


" Iya dong, siapa dulu punya adik??? hehe " Aku tersenyum nyengir memandang wajah kakak ku Rendy, aku sangat senang aku bahagia sekali melihatnya kini secara nyata berdiri di hadapan ku.


Sementara kak Rendy terus menatap ku kemudian mengerutkan kedua alisnya, senyum lebarnya berkurang.


" Eh tante, Rendy ajak Fanny jalan dulu ya keluar " Ucap kak Rendy pada ibu yang semula tadi tersenyum bahagia melihat kami.


" Eh mau kemana??? tante baru aja sediakan minuman tuh. . . gimana dong??? " Jawab ibu dengan merengek.


" Iya iya, Rendy akan meminumnya sekarang, tapi setelah itu Rendy boleh kan ajak Fanny jalan tante??? hehe " Ucapnya lagi.


" Boleeeh boleh sekaliii, jika tante tidak ijinkan waaaah kalian akan bikin dunia ini kiamat seketika " Ibu menjawabnya dengan ledekan yang kemudian di susul tawaan riang dari kami.


Selesai meneguk habis minuman yang di suguhkan oleh ibu, kak Rendy memintaku untuk mengganti pakaian dan kembali memoles wajah ku untuk terlihat lebih fres. Aku menatapnya heran. . .


" Kakak, mau bawa fanny kemana sih??? kenapa harus dandan segala??? udah deh gini aja kan Fanny tetap cantik??? " Ucap ku dengan manja.


Aku cemberut menanggapinya, dengan berat melangkah aku berjalan menuju kamar ku.


" Cepat dikit dong, nanti kakak tinggal loh " Gertak nya.


Dengan secepat kilat aku berlari menuju kamar ku, ku raih baju kemeja polos warna mint. Dan celana levis panjang ketat warna navi,dengan sepatu kets warna putih. Hanya ku benahi sedikit polesan make up ku di wajah agar terlihat lebih fres, ku pakai liptint warna merah maroon sedikit. Kemudian ku semprotkan parfum mengelilingi tubuh ku.


Hmm. . . Baju kemeja ini sengaja ku pilih dengan size besar ketika membelinya waktu itu agar terlihat santai ku memakainya.


Lalu aku kembali bergegas menuju ruang bawah menghampiri kak Rendy yang sudah berdiri disana menunggu ku turun.


" Hmm. . . wangi nyaaaa kalau begini kan enak dilihat, jadi kakak akan semakin merasa tampan di temani adik yang cute begini, hahaha. Yuk kita jalan sekarang " Ajak kak Rendy tanpa menunggu aba-aba ku lagi.


Ibu yang mengetahuiny hanya mengangguk dengan senyuman ceria tanda setuju. . .


" Hati-hatilah kalian, jangan terlalu buru-buru. ingat makan siang jangan telat " Jawab ibu setengah teriak sembari kami berlaku dan menoleh kebelakang kembali menanggapi ucapan ibu.

__ADS_1


" Siap bos " Secara bersamaan aku berucap dengan kak Rendy.


Di tengah jalan aku menanyakan kembali pada kak Rendy. . .


" Kakak, kenapa dadakan tiba-tiba muncul ini hari??? kakak kapan datang ??? ih jahat ya gak ngabarin Fanny dulu "


" emang kamu mau jemput kedatangan kakak di bandara kalo kakak memberitahumu??? Waktu mau berangkat aja kamu ngilang gitu aja gak anterin kakak balik ke luar negeri kan??? "


Sesaat aku terdiam. Bukan aku tidak mau mengantarnya, tapi. . . ini masalah Kevin. yah, Kevin. . . aku tidak ingin melihat nya bersedih dan aku pun takut tidak mampu menahan diri melihat Kevin yang pasti akan sangat bersedih melihatku.


" Maafin Fanny kak, kakak pasti sudah tau kan alasan Fanny apa waktu itu " Jawab ku dengan wajah lesu.


" hai, kakak hanya bercanda. hahaha, kenapa jadi sensitif gitu sih. Bagaimana kabar mu dengan Ammar??? ciyeee yang udah tunangan, sekali lagi kakak ucapin selamat ya semogaaaa. . . "


" Kak, hari ini kita mau kemana sih??? kenapa aku harus dandan cantik segala??? "


Kak rendy terdiam melirikku sejenak, dengan tatapan heran.


" Bau baunya nih, sepertinya lagi marahan sama si tunangan. . . hmm. . . iya kan??? kenapa lagi Fanny??? "


" Ah enggak kok kak, Fanny hanya. . . tidak ingin bahas Ammar di saat lagi bahagia ketemu kakak begini "


" Ya ya ya, harusnya memang begitu. Tapi ingat, nanti saat kita sudah tiba di kafe XXX dan bertemu dengan seseorang yang sudah menunggu kita datang, kakak harap kamu jangan menampakkan wajah sedih mu itu, jaga sikap untuk tetap ceria ya "


Aku mulai penasaran dengan orang yang kak Rendy maksudkan itu. . . siapa??? Gak mungkin Kevin kan. . . kalaupun iya, ku yakin dia akan langsung ikut kerumah ku bersama kak Rendy. Tapi. . . siapa dong???


" oh ya??? jadi sekarang ini kita akan menemui seseorang di Kafe itu??? siapa??? kenapa Fanny harus jaga sikap di depan itu??? kenapa gak boleh keliatan sedih hah??? "


" Dasar cereweeeettt. . . ih, ikuti saja ucapan kakak. nanti kau juga akan mengetahuinya, hehe " Ucap kak rendy dengn senyum nyengir yang tetap enggan memberitahuku siapa sosok itu.


" Ya ya ya. . . asal aja jangan pacar baru kakak, wah. . . kalo beneran Fanny ya gak bisa dong jaga sikap. Kalo Fanny udah terlanjur senang, hahaha. . . eh kak. . . mmh. . . kakak pulang sendiri aja??? Tanya ku dengan bahasa canggung.


Kak Rendy tersenyum kecut meledekku, sepertinya dia sudah paham kemana arah pertanyaan ku yang sesungguhnya.


" Iya lah, kakak hanya pulang seorang diri saja. emang sama siapa lagi??? Dan. . . Kevin baik-baik aja kok, dia titip salam untuk mu "


" Sungguh??? Aaah salam apa kak??? " Ntah ini senyuman reflek darimana sehingga aku antusias mendengarnya, aku bahagia banget.


" eeeh udah punya tunangan biasa aja ya, jangan lebay gitu Hahahah " Jawab kak Rendy meledek ku.

__ADS_1


" yeee. . . biasa aja tuh, kakak aja yang lebay menanggapinya " ucap ku dengan wajah cemberut. Padahal dalam hati ku sudah loncat-loncat. Aku bahagia mendengarnya dan menerima salam dari Kevin.


Ah. . . Kevin. . . sungguh aku mulai rindu lagi !!!


__ADS_2