
Pagi ini, adalah pagi yang memberikan suasana berbunga-bunga di hati ku ketika sebuah pesan singkat mendarat di layar ponsel ku.
Selamat pagi pacar ku, semangat mengajar hari ini. Muach ( emo tanda cinta )
Seakan suara kicauan burung yang begitu merdu menambah kegembiraan hatiku menyambut pagi hari ini. . . aku senyum-senyum sendiri menutup wajahku dengan selimut. . . aku jadi tersipu malu tanpa ada yang menggodaku secara langsung pagi ini.
Tapi jujur, panggilan pacar dari pesan singkat yang dikirim oleh Tristan membuat jantung ku berdegub kencang.
Ah. . . hari ini, akan menjadi hari pertama kami menjalani hubungan dengan status pacaran.
Uuugh, aku jadi gugup duluan saat bertemu dengan Tristan nanti bagaimana aku harus memulai sapaan hah??? setelah selama ini aku sudah terbiasa bersikap apa adanya, tapi kali ini. . . aaaah aku jadi semakin dag dig dug.
Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 05.45 pagi, sebaiknya aku mandi kemudian bersiap-siap pergi mengajar.
Selesai berbenah diri aku segera turun menuju meja makan untuk sarapan sejenak seperti biasa.
Ku lihat ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan, dan terperangah melihatku sejenak.
" Hmm. . . ada gerangan apakah pagi ini tuan puteri??? sehingga wajah mu terlihat sumringah senyumnya " sapa ibu ku dengan ledekan.
" Aduh, bunda. . . apaan sih? gak ada apa-apa kok. . . harusnya seneng dong liat puteri kesayangan Bunda happy terus " Jawab ku mengalihkan.
" Apa semua ini karena Tristan??? " Tanya ibu ku lagi.
Degh !!!
Mendengar nama Tristan saja sudah membuatku salah tingkah. Duuuh mudahan ini tidak akan membuat ibu curiga.
" Benar kan. . . ? " tanya ibu lagi.
" Hahaha bunda, apaan sih. . . Tristan kan emang selalu bikin happy semua orang yang berada di dekatnya, bukan hanya Fanny saja " Jawab ku mengalihkan sembari menikmati sepotong roti.
" Bunda sangat berterimakasih pada Tristan, karena berkat usahanya juga kau bisa kembali bangkit hingga kini sayang. Tapi, satu hal yang harus selalu kau ingat. . . walau bagaimanapun, bunda harap hubungan kalian tidak lebih dari sekedar pertemanan saja "
Glek !!!
Seketika gigitan roti yang ku kunyah tertelan begitu saja. Membuat ku sedikit tersedak, hah. . . kenapa mendadak tubuh ku memanas ku rasa pagi ini. . .???
Entah sudah berapa kali ibu mengulangi ucapannya itu padaku tentang Tristan. Tapi. . . aku. . . aku mengabaikannya. Aku sudah terlanjut jadian dengan Tristan. . . oh tuhan, bagaimana ini???
" Fanny, apa kau. . . "
" Bunda, Fanny pergi mengajar dulu. Nanti kesiangan karena pagi ini Fanny akan mengajar di jam pertama " ucapku kemudian mencari alasan untuk menghindari perbincangan ini, lalu ku kecup kedua pipi ibu dan bergegas keluar dengan cepat tanpa menunggu sepatah katapun lagi dari ibu.
Sepanjang perjalanan aku mulai gelisah mengingat ucapan ibu tadi, bagaimana jika suatu hari hubungan ku dengan Tristan di ketahui oleh ibu. . . atau juga ayah, ini pasti akan sangat berat hanya karena alasan konyol bagi ku. Diantara kami berbeda keyakinan yang kuat. . .
Sampai tiba di sekolah pun, aku masih tidak bisa konsentrasi dengan baik. Oh tuhan. . . ini baru saja akan di mulai, bahkan ini baru hari pertama hubungan ku dengan Tristan sebagai pacar bukan???
__ADS_1
Hingga aku sudah selesai mengisi jam pelajaran yang ku bawakan, aku kembali terhanyut dalam lamunan mengingat ucapan ibu tadi yang terus saja terngiang-ngiang di telingaku.
Aku terduduk dengan wajah lesu di ruangan ku, kemudian suara dering ponsel yang begitu pelan tapi cukup mengejutkan ku.
Ku lihat di layar nama Tristan memanggil. . . seketika membuatku tersenyum.
** **Halo. . .
Sibuk gak??? maaf jika aku mengganggumu Fanny.
Tidak, aku baru saja masuk ruangan ku. Jam pelajaran ku sudah usai, jadi santai saja. Ada apa???
Entah kenapa aku jadi rindu**.
Aku tersipu malu dengan sikap salah tingkah mendengar ucapan rindu dari nya.
Kau mulai genit.
Ucap ku menanggapinya.
**Genit sama pacar sendiri kan poin plus. . . hehe
Ya ya baik lah, apa kau mau menjemputku hari ini???
Eh tapi kan belum jam pulang???
Jawab ku setengah berbisik. Entah kenapa aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengannya juga. . . hihi.
**Kau ini. . . aku jadi merasa mengganggumu jika begitu.
Ya baik lah jika kau tidak mau, ku anggap rindu mu hari ini palsu.
Eh ya ya ya ku jemput kau sekarang juga Fanny, astaga. . . kau selalu membuatku takut dengan ancaman mu yang mematikan itu.
Hahaha baiklah, aku akan menunggumu di gerbang pintu depan sekolah. Seperti biasa**. . .
Klik !!!
Ku akhiri panggilan telepon dari Tristan dengan senyuman puas.
Kemudian, aku meminta ijin untuk lebih dulu pulang dari jam sekolah. Dengan alasan yang sudah ku tentukan dari ide konyol yang begitu saja mencuat dari otak ku. Setelah aku di perkenankan untuk pulang lebih dulu, aku tertawa puas riang gembira di hati.
Dengan langkah yang seakan aku ingin menari-nari untuk bertemu dengan Tristan, ku lihat di pintu gerbang masih belum tampak batang hidung Tristan.
Lalu ku tunggu dengan rasa yang sedikit tidak sabar. . . sehingga beberapa menit kemudian mobil Tristan sudah mendarat tepat di hadapan ku, lalu aku melangkah memasukinya.
Kemudian Tristan melajukan mobilnya lagi, hingga di tengah perjalanan aku sungguh merasa sedikit canggung. Begitu pula dengan Tristan, dia tidak banyak bicara seperti biasanya.
__ADS_1
" Cih, perasaan apa ini??? kenapa jadi saling canggung begini sih " Ucap ku mengeluarkan suara lebih dulu.
Sontak membuat Tristan tertawa dengan Keras, aku terkejut melihatnya. Lalu Tristan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. . .
" Hahaha, astaga. . . aku hanya sengaja untuk melihat dahulu bagaimana reaksimu hari ini setelah. . . status kita bukan lagi teman atau sahabat, melainkan. . . sebagai pacar " Ucap Tristan sembari menatapku dengan tawa nya yang terus meledek ku.
" Gak lucu tau, ih apaan sih. Ketawa aja terus. . . " jawab ku dengan memalingkan wajah ku dari tatapan nya.
Kemudian perlahan ku rasakan tangan Tristan menyentuh dagu ku dan di hadapkannya pada wajahnya kembali, yang kini sudah berada lebih dekat di hadapan ku.
" Fanny, apakah sejak awal. . . kau sudah memiliki rasa yang sama sepertiku??? " Tanya nya tiba-tiba membuat jantung hatiku berdetak tidak karuan.
Kemudian ku dorong tubuhnya untuk berada lebih jauh dari wajah ku.
" Wajah mu terlalu dekat. Membuat ku takut saja " ucap ku dengan cetus.
" Hahaha astaga, apa kau pikir wajah ku seperti setan sampai membuatmu takut begitu Fanny??? Hahahaha " Ucapnya lagi dengan kembali menertawaiku. Ini membuatku kesal saja. . .
" Iiih kau ini, terus saja meledek ku " Ku cubit bagian perutnya dan tanpa sengaja aku yang mendekatkan wajah ku kini padanya.
Dan. . . Cup !!!
Tristan mengecup dengan lembut kening ku.
Aaaaaaaarght. . . aku teriak dalam hati, seketika ku rasakan ada aliran listrik yang menyentrum sekujur tubuh ku hingga aku gemetar dibuatnya.
Oh my God. Tristan mengecup keningku tiba-tiba. . .
Aku. . . aku tidak tau harus bersikap dan berkata apa mendapatinya, ini terlalu mendadak setelah sekian lama aku tidak mendapatkan sentuhan dari bibir seorang lelaki.
" Aku sangat bahagia dengan hubungan ini Fanny, bolehkah mulai saat ini aku memeluk dan menyentuh tubuhmu layaknya seorang kekasih??? " Ucap Tristan dengan lembut menyentuh pipi kanan kiri ku.
" Tristan. . . aku. . . " Ucapan ku terhenti karena bibir ini begitu gemetar memandangi wajah Tristan yang begitu dekat dengan ku.
" Aku tidak akan pernah menuntut lebih dari ini, jika kau menolak untuk ku perlakukan layaknya sepasang kekasih aku pun tidak akan memaksa " Ucap nya lagi.
Mendengar ucapan nya itu, membuatku terbuai. Dan dengan beraninya aku mengecup pipi kanan Tristan.
Aku sudah Gila !!! Umpat ku dalam hati ketika menyadari hal ini.
Benar saja, sikap ku ini membuat Tristan kikuk dan salah tingkah dengan wajah berwarna merah jambu. Haahahaha aku jadi menertawainya dalam hati ku.
" Aku juga bahagia Tristan, terimakasih sudah selalu setia di sampingku bahkan di saat aku mengalami hal paling memalukan sekalipun. Kau masih mau menyemangatiku dengan tulus dan ikhlas " Jawab ku dengan memandangi wajah nya yang baru ku sadari. . . dia. . . dia begitu tampan ternyata, wajah mulusnya yang berkulit putih bersih membuatku iri sebagai wanita.
" Fanny, sampai kapanpun aku akan tetap begitu. Walau mungkin Tuhan tidak akan menjodohkan ku dengan mu, tapi kita akan tetap menjadi teman baik bukan??? "
Aku mengangguk pelan mendengar ucapannya itu, dia sangat dewasa. . . selain baik dan ramah, aku tau dia begitu menyayangiku.
__ADS_1