
Seakan tak percaya dengan sosok yang tengah berdiri kini di depan ku, menyentuh pipi dan mengusap air mata ku dengan lembut.
Dia menatapku dengan wajah penuh kesedihan. . .
Tersadar dengan apa yang ku lihat ini, aku memalingkah wajah ku kemudian berdiri melangkah sedikit jauh dari sosok lelaki di hadapan ku ini.
" Fanny. . . apa kau masih merindukanku???" Tanya Ammar dengan wajah pilu menatapku.
" Apa yang kau bicarakan Ammar, aku tidak mengerti " Jawab ku dengan cetus.
" Lalu kenapa kau menangis dan berlari menjauhiku hingga kemari. . . kau tau ruangan ini cukup jauh dari aula seminar tadi, dan kau pun tau ini tempat yang cukup aman untuk bersembunyi. . . apa kau. . . sengaja untuk menghindariku Fanny??? "
" Sebaiknya kau kembali saja ke ruangan aula seminar Ammar, aku tidak ingin memancing gosip kalau sampai ada yang melihat kita disini nantinya " Jawab ku masih dengan memalingkan wajah darinya.
" Tidak bisakah kau cukup menjawab pertanyaan ku saja Fanny??? " Tanya Ammar sekali lagi.
" Ya sudah aku saja yang duluan pergi ke ruang aula seminar " Jawab ku cetus tanpa menjawab lagi pertanyaan Ammar.
" Fanny, apa kau tau??? aku sudah tidak lagi tinggal dirumah bersama papa dan mama ku " Ucapnya tiba-tiba,
Jleb !!! Ucapannya itu menghentikan langkahku. Jika dia sudah tidak tinggal serumah dengan keluarganya, lalu??? dimana dia tinggal???
" Aku menyewa apartemen pribadi dan tinggal sendirian. Cukup jauh dari rumah ku Fanny. . . " Ucapnya lagi.
" Lalu urusannya dengan ku apa Ammar??? siapa yang peduli kau tinggal bersama siapa saat ini. Itu sudah bukan urusanku lagi ". Kemudian aku kembali melangkah hendak keluar ruang perpustakaan. . .
Ammar kembali menarik tangan ku dari belakang.
" Fanny pliss, tetaplah disini sebentar. Biarkan aku melihatmu lagi, sebentaaaar saja. Ku mohon lihat aku Fanny. . . tatap wajah ku ".
Aku kembali menepis tangan Ammar yang menyentuh ku.
Dengan sekuat tenaga aku beranikan diri menengadah menatap wajahnya.
Oh tuhan. . . dia memang kurusan sekarang, ku lihat begitu banyak ekpresi di wajahnya itu. Salah satunya. . . perasaan pilu yang teramat dalam hingga matanya sudah berkaca-kaca memandang ku.
Hatiku sakit melihat nya. . .
Kembali aku memalingkan wajah ku dari hadapannya.
" Kenapa Fanny, kenapa kau kembali memalingkan wajah mu dari ku. . . apa kau benar-benar sudah membenciku??? " Tanya nya lagi, dengan suara lirih. . .
Aku semakin tidak tahan mendengarnya.
" Ammar, bisakah kau berhenti membahas hal yang sudah berlalu itu??? Aku tidak ingin mendengarnya lagi, aku muak mendengarnya " Jawab ku dengan nada kesal.
Lama Ammar terdiam tanpa kata, aku menatapnya lagi.
__ADS_1
" Baiklah. . . aku tidak akan membahasnya lagi. Maafkan aku. . . sepertinya kau sudah berhasil melupakan ku dengan mudah Fanny ".
Kemudian ia melangkah melewatiku keluar lebih dulu dari ruangan perpustakaan.
Apaa ini??? heh. . . dia yang meninggalkanku lebih dulu diruangan ini??? Hah. . .
Aku tersandar pada sebuah meja di ruangan ini. Menghempaskan segala nafasku yang sedikit tertahan tadi.
Bathin ku. . .
Ammar, apa kau tau??? Bukan ku tak mau lagi menatap wajahmu, tapi aku tak ingin mengukang lagi perasaan yang telah berlalu. Susah payah aku menguatkan hati untuk bangkit kembali, meski sejujurnya getaran ini masih tetap ada hingga detik ini, setiap kali mengingat namamu. Melihat mu berubah demikian, hatiku semakin sakit ku rasa. Ku harap ini yang terakhir kita saling berhadapan dan bertatap muka.
***************♡-♡***************
Aku memasuki ruang aula seminar kembali, tanpa melihat sekeliling aku langsung menuju kursi kosong tempat ku semula, yang sudah ada Dini duduk manis disampingnya.
" Fanny, kemana saja kau. Daritadi aku mencarimu. . . huh dasar " Tanya Dini dengan wajah manyun.
" Hehe sory, tadi ada urusan sebentar " Jawab ku seadanya.
" Kau tau, cogan yang mengucapkan terimakasih pada mu tadi itu ternyata dia salah satu mahasiswa terbaik di kampusnya. Dan semua cewek di kampus kita mengincarnya hahaha aku jadi penasarab ih. . . tapi sayang. . . " Ucap Dini terhenti.
" Ta. . . tapi ke. . .kenapa??? " Tanya ku dengan gagap.
" Dia sangat songong, cuek, jutek, sinis, jarang senyum, malah selalu menolak jika para cewek mengajaknya berkenalan. Dia dingin sekali, humm. . . aku jadi semakin tertantang ingin menggodanya saja " Ucap Dini dengan tatapan tajam ke depan.
Aku melihat ke arah tatapan nya di depan,
" Hahaha kau bilang dia songong??? Yang benar saja. Dia tidak begitu. Justru. . . dia sangat playboy " jawabku setengah berbisik.
" Sungguh??? Darimana kau tau Fanny??? Wah. . . jangan-jangan kau beneran mengenalnya ya??? Kyaaaaaaaaargh. . . kenalkan aku padanya. . . plisss " Dini setengah berteriak gembira, semangat dan kemudian merengek manja pada ku.
" Ah tidak tidak, aku tidak mengenalnyaaaa. . . sudah lah jangan begitu Dini. Ih apaan sih, kenalan aja sendiri gih. Aku tidak mengenalnya, percuma saja ".
Jawab ku dengan ekspresi panik.
" lalu kenapa kau bilang dia itu playboy hah??? Dasar. Ku pikir kau mengenalnya. . . uuuft dia sangat menarik dilihat dari kejauhan. Hahahaha "
Seakan bagai tersengat sinar matahari secara dekat. Mendengar Dini berantusias ingin mengenal dan mendekati Ammar, sekujur tubuku memanas, hingga ku rasa mulai berkeringat.
Hahaaha. . . apa apaan ini??? tanya ku dalam hati.
Acara seminar hari pertama berakhir dengan lancar, semua bubar dan bergegas menuju ruang istrahat. Kebetulan kampus ku adalah universitas yang elit dan terbesar di kota B, kami menyediakan kamar hotel yang cukup sederhana saja untuk memberikan kenyamanan bagi lara tamu undangan untuk beristirahat melepas lelah.
Kemudian aku dan Dini berjalan berdampingan hendak keluar dari ruang aula.
Dini menghentikan langkahnya, melihat Ammar berdiri di dekat pintu sedang mengobrol dengan ketua panitia acara ini.
__ADS_1
" Fanny, beri aku ide. Aku harus menyapanya lebih dulu dengan cara apa. . . uuugh aku gemetar duluan " Dini sudah menggeliat merengek menarik-narik tangan ku melihat Ammar dari jarak lumayan dekat.
" Aduuuh apaan sih Dini, sudah ku bilang kenalan saja langsung. Jangan bawa-bawa aku. . . aku tidak mengenalnya. Udah ah aku duluan saja kalau begitu " jawab ku dengan kesal. Ntah kenapa ku jadi kesal melihat Dini sedikit ganjen begitu.
" Eh ya gak bisa gitu dong, kita kan satu kamar. Ya bareng lah keluarnya. . . ih kenapa jadi kesal begitu " Tanya Dini merengek lagi.
Aku terus berjalan menuju pintu yang dimana Ammar tengah berdiri disana dengan ketua panitia kami, disusul oleh Dini aku berpura-pura tidak melihat Ammar.
" Fanny. . . kau masih disini??? " Tanya ketua panitia menyapa ku.
" Eh iya kak, hehe ada apa??? " Dengan kikuk aku menjawab pertanyaan nya.
" Apa kau sudah berkenalan dengan Ammar??? Dia salah satu Mahasiswa unggulan di kampusnya, kau sebagai salah satu mahasiswi yang cukup tangkas disini belajarlah lebih banyak, sebagai sesama satu jurusan agar bisa lebih memajukan kampus kita nantinya ".
Glek !!! Aku menelan ludah dengan mengatupkan kedua bibir ku rapat-rapat yang sedaritadi sudah gemetar. Aku terdiam sesaat, Kemudian Dini mencubit lengan ku.
Aw. . . aku setengah berteriak merasakan cubitan pedas dari Dini.
" Kak, say boleh ikut belajar juga gak. hehe " Tanya Dini kemudian.
" Oh boleh dong, boleh jika Dini bersedia. itu malah semakin bagus " Ucap senior kami itu.
" Yeay. . . kalo gitu. . . halo. . . aku Dini. Mahasiswi jurusan pendidikan di kampus ini, dan ini Fanny. Teman satu jurusan ku, hehe " Ucap Dini dengan senyuman genit sok ramah mengenalkan diri pada Ammar.
" Saya sudah mengenal Fanny kok " Jawab Ammar tiba-tiba, yang membuat senior dan Dini terkejut saling memandang dengan bibir berbentuk O.
Astaga Ammar, kau. . . gila !!!
Sahut ku dalam hati.
" Fanny, kau mengerjaiku ya tadi. . . bilangnya gak kenal dia. . . tapi dia bilang kalian sudah saling kenal " Dini mulai mengoceh dengan banyak pertanyaan yang tidak bisa ku sebut satu persatu.
" Wah bagus dong jika sudah saling mengenal. Ya sudah kalian lanjutkan untuk mengobrol dulu sejenak. Saya masih ada kesibukan " Pamit senior pada kami.
Aku menatap tajam wajah Ammar. Dia hanya terdiam menatapku datar.
" Ka. . . kalian. . . bagaimana bisa saling kenal, kapan kalian kenalan??? dimana??? waaah jahat lu Fan. . . aku di salip kiri, Hahaha " Tanya Dini lagi yang kemudian meledekku.
Tanpa basa basi dan ekspresi ramah, Ammar mendahului ucapan ku yang sudah hendak aku keluarkan dari mulut ku ini.
" Fanny mantan ku " Jawab Ammar dengan nada dingin.
" So what??? Mantan??? Astaga. . . benarkah itu Fanny. . . aaaaaaaah aku tidak tau hal itu, sungguh kau keterlaluan Fanny, kenapa mengaku tidak mengenalnya??? Wah. . . parah lu Fan, aku kan jadi malu " Jawab Dini terus mengoceh tanpa henti.
" Dini, stop. Berhenti terus ngoceh disini. Ayo kita ke hotel saja " Aku menarik tangan Dini untuk segera pergi dari hadapan Ammar. Aku mengabaikan Ammar yang sedaritadi masih berdiri di tengah kami.
" eh. . . Ammar, besok kita ketemu lagi. . . daaaa. . . bye. . . " Dini masih berusaha menyapa Ammar dengan ramah sementara aku terus menariknya dengan paksa tanpa menoleh lagi pada wajah Ammar.
__ADS_1
Kau memulainya lagi Ammar. Kau gila, kau konyol, kau. . . aaaaaaaarght. . .
Aku terus bergumam dalam hati sembari terus melangkah pergi menjauh dari pandangan Ammar.