BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#149


__ADS_3

Aku sudah tiba 10 menit di Bandara untuk menjemput kedatangan Kevin. Bahagianya hatiku ini tak terlukiskan.


Aku clingak clinguk sendiri melihat sekeliling Kevin belum juga tiba, namun 5 menit kemudian sebuah kecupan mendarat di pipi kanan ku.


Aku terkejut bukan main dan menoleh kebelakang, senyuman manis yang ku rindukan di lemparnya pada ku.


" Keviiin. . . kau ". Seketika aku memeluk tubuh nya yang kekar itu.


Ah aku sungguh sudah sangat merindukannya, rasanya sudah bettahun-tahun lamanya aku tidak merasakan kehangatan dalam pelukannya ini.


" Apa kau sudah lama menungguku Sayang???? "


" Lumayan ". Jawab ku singkat.


" Ayo kita pulang dulu, supaya lebih leluasa melepas rindu ". jawab nya menggoda ku. Aku mencubit perutnya dia meringis dengan tertawa geli.


Tak banyak yang kami bicarakan selama di perjalanan pulang, hingga kami sudah tiba di apartemen Kevin.


" Apa kau langsung mau tidur??? " tanya ku kemudian sembari meletakkan tas mini ku di atas ranjang.


" Aku memang sedikit lelah sayang ". Jawab nya singkat.


" Baik lah, kau istrahat saja. Aku tidak akan mengganggumu, biar aku yang membereskan semua barang bawaan mu ini ".


Kemudian perlahan Kevin menarik tangan ku.


" Kemarilah. . . duduk sebentar disini bersama ku ".


Aku menurutinya dengan duduk di sisi ranjang bersamanya.


" Apa kau tidak merindukan ku Fanny??? ". Tanya nya kemudian dengan menyentuh dagu ku.


" Kenapa kau bertanya lagi, tentu aku sangat merindukan mu sayang ". Jawab ku dengan menatap lekat matanya. Dan sebuah ciuman mendarat di bibir ku dengan hangat. . .


Kami berciuman cukup lama untuk melepas rindu selama beberapa hari kami terpisah jarak dan waktu. Ku akui, rasanya tak ingin melepas ciuman lembut Kevin yang selalu membuatku ketagihan. Hihi


" Kevin, tidur lah. Kau bilang sangat lelah tadi ".


" Fanny. . . "

__ADS_1


" Hmm. . . ada apa lagi??? "


Aku bergumam dalam hati, jangan bilang jika kau ingin melakukannya lagi dengan ku hari ini juga Kevin. Gila, kau baru saja dari perjalanan yang cukup memakan waktu bukan???


Tanpa sadar, sebuah cincin mendarat di jari manis ku. Cincin yang indah dengan permata berwarna biru, aku terkejut mendapatinya.


" i. . .ini. . . apa ini Kevin??? "


" Oleh-oleh yang sengaja aku membelinya di luar negeri sana ". Jawab nya dengan senyuman lembut.


" Tapi. . . "


" Ssssttttt. . . " jari telunjuk Kevin menyentuh bibir ku seolah memberikan isyarat untuk tidak lagi berbicara banyak.


" sebuah simbol bahwa kau sudah menerima ku sebagai calon suami mu. Aku mohon jangan menolak untuk memakainya ".


Aku. . . aku tidak tau lagi bagaimana harus mengekspresikannya, bahagia bercampur haru, kaget tapi ku suka cara nya ini. Dalam hati aku sedang menari-nari saat ini. Akan tetapi. . . ada yang berbeda dengan tatapan mata nya kali ini. Apa itu??? aku sedikit tertegun menatapnya. Ada sesuatu yang membebaninya. . .


" Fanny, bisakah kita menikah lebih cepat??? "


Degh !!!


Perkataan itu lagi yang muncul. Ini malah membuatku teringat ucapan Mama nya malam itu, dia tidak ingin Kevin cepat-cepat menikah.


" Tidak. aku hanya. . . ingin kau segera ku miliki dan tak seorang pun bisa merebut atau memisahkan kita ".


Bagaimana ini??? Haruskah aku bilang iya??? agar aku mengetahui sesuatu di balik ini semua.


" Vin. . . mama mu. . . "


" Mama ku pasti akan setuju dengan semua yang ku anggap baik untuk ku ". Kevin menyela ucapan ku, tanpa memberiku kesempatan untuk melanjutkannya.


" Tapi Vin. . . mama mu masih ingin kau sukses. Jangan memaksa yang pada akhirnya kau mengecewakan beliau nanti nya ".


Tepatnya lagi jika kau buru-buru memilihku sebagai istri mu.


" Apa kau ragu pada ku Fanny??? apa kau takut aku tidak bisa menghidupimu dengan baik nantinya??? "


" Tidak. Tidak sama sekali, aku tau kau seorang lelaki yang pekerja keras dan pintar. Tapi. . . "

__ADS_1


" Plis. . . Hemm??? " ucap nya dengan wajah pilu.


" Beri aku kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan keluarga mu Kevin. Aku tidak ingin kembali terulang seperti aku dengan Ammar di masa lalu ".


" Satu bulan. Apa cukup??? "


" Aku. . . aku akan usahakan ". Jawab ku ragu.


Kemudian dia memeluk ku, memeluk tubuh ku dengan sangat erat. Aku tidak tau apa yang saat ini sedang mengganggu pikiran dan membuatnya terlihat takut. Apakah yang terjadi sebelumnya diluar negeri sana???


" Baik lah, kau tidur saja dulu ya. Aku akan merapikan dan membereskan semua nya ".


" Berikan aku satu ciuman lagi sebagai pengantar tidur ku ".


" Cih, kau sungguh manja ". Jawab ku sembari mengecup mesra bibir nya.


Kemudian aku bergegas membuka sebuah koper dan sebuah tas yang begitu banyak berisi dokument-dokument dan kertas berserakan. Sepertinya ini cukup penting, sebanyak ini begitu berat bagaimana dia menggandengnya selama di perjalanan. Pikir ku dalam hati.


Ku lihat Kevin sudah tertidur pulas dengan sangat cepat. Aku menghampirinya lagi dengan perlahan ku kecup keningnya.


Ah, dia pun sangat tampan saat posisi tidur begitu. Andai saja, Tuhan tidak lagi memberikan ujian kecil yang harus ku lalui yaitu sikap mama mu terhadap ku. Mungkin aku langsung mengiyakan untuk segera menerima ajakan mu untuk menikah dengan ku secepat mungkin. Ah tidak, mungkin bisa hari ini juga Sayang.


Andai saja, aku tidak memiliki kenangan buruk di masa lalu yang masih menyisakan trauma berat di hati ku, aku. . . aku sudah pasti menerima lamaran mu tanpa berpikir panjang lagi.


Jujur, aku takut dengan semua masa lalu ku saat itu akan menjadi tameng atau senjata yang akan melukaimu nantinya. Meski kau selalu bilang dan meyakiniku bahwa kau sudah mau menerima ku apa ada nya, menerima kekurangan ku yang sudah tidak miliki kehormatan, tapi tasa ragu itu masih menyelimutiku Kevin.


Bukan kah setiap hati manusia bisa berubah kapan saja??? iya kan???


Aku kembali bergumam dalam hati dan tanpa sadar air mata ku menetes tepat di kening nya. Dengan cepat aku menghapus nya takut ini akan membangun kan nya, dan kembali aku bergegas untuk merapikan semua barang bawaan dan dokument kerja Kevin yang sudah ku biarkan berserakan di atas meja.


Dan kau tau, tanpa sengaja aku menjatuhkan sebuah amplop besar berwarna cokelat. Entah kenapa aku begitu penasaran ingin melihat apa isi dari amplop itu. Ini memang sedikit tidak sopan, tapi tangan ku seperti terdorong begitu saja oleh rasa penasaran ku.


Setelah ku buka dan melihat sebuah foto di dalam nya. . . haha, ini sedikit membuatku tertawa geli. Tapi sebuah tawa yang membuat ku sesak di dada. Aku ingin marah, aku ingin mengumpat. Tapi ku tahan sekuat mungkin dan berusaha untuk tetap tenang.


Sebuah formulir pekerjaan dan foto yang sepertinya dari ekspresinya saja membuatku muak dan meyakini. Kali ini dia sungguh menantang ku kembali. Tapi. . . bagaimana mungkin??? bukan kah dia sudah bekerja di sebuah butik pakaian khusus wanita??? Kenapa kali ini mengajukan diri pada bidang yang sedang Kevin jalani???


Nayla. . .


Kau lagi dan lagi. Kali ini aku bersumpah, sungguh aku tidak akan membiarkan mu berhasil menggoda atau berusaha merebut posisi ku di hati Kevin jika saja itu benar niatmu.

__ADS_1


Sedetikpun aku tidak akan pernah mengijinkannya. . .


❤ Hai readers kesayangan aku yang selalu setia. . . Maafkan Author jika up nya sedikit lama dan hanya satu-dua episode saja dalam sehari. Karena masih ada kesibukan mendesak lainnya, dan itu sangat melelahkan. Tapi ku harap kalian tetap setia memberikan like dan vote nya untuk karya ku ini. Terimakasiiih. . . salam semangat 💪❤


__ADS_2