
Tak banyak kata lagi, sepertinya Ammar mulai tertidur pulas di pangkuan ku. Dia tampak kelelahan, hingga nafasnya terdengar sedikit mendengkur. Aku jadi tidak tega untuk membangunkannya agar pindah saja ke kamar tamu, bahkan untuk sekedar bergerak saja aku tidak bisa. Aku takut dia terbangun. . .
Tiba-tiba ponselnya berdering sangat pelan, namun tetap bisa ku dengar dengan jelas di balik kantong celananya itu.
Siapa yang menelponnya??? Tanya ku dalam hati.
Ah, bagaimana aku meraih nya. Tapi jika di biarkan Ammar akan terbangun nantinya. . .
Berulang kali ponselnya terus berdering tanpa henti, tapi aneh nya Ammar sama sekali tidak terbangun atau terganggu oleh suara deringnya. . . dia pasti begitu kelelahan setelah bercumbu mesra berjam-jam dengan ku tadi.
Dengan susah payah ku raih perlahan ponselnya itu, akhirnya berhasil ku genggam.
Ku lihat di layarnya begitu banyak panggilan tak terjawab, sejak kapan? kenapa aku baru mendengar deringnya sekarang hah???
Ku lihat siapa yang memanggilnya berulang kali, barangkali ini panggilan penting. Ternyata sebuah nomor baru tanpa nama. . .
Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat mendarat di layar ponsel nya dari nomot yang sama. Dan tanpa sengaja aku membukanya karena tersentuh oleh jariku begitu saja. . .
Baik lah Tama, jika kau tetap memilih berpisah dengan ku dan enggan menemuiku kembali. Aku tak apa, aku yang akan menanggungnya dan menjelaskan pada kedua orang tua ku. Bahwa kita memang tidak cocok untuk melangkah lebih serius pada pernikahan yang sudah kita rencanakan. Tapi, aku akan tetap menunggu dan mencintaimu sayang. Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari kisahku, mengubah hidupku menjadi lebih baik lagi. Karena berkat dirimu, aku jadi lebih di hargai oleh banyak teman dan orang-orang sekitarku.
Degh !!!
Seketika tangan ku gemetar merasakan detak jantungku yang mulai sesak terasa di dada.
Tama. . .??? orang ini apakah wanita??? siapa Tama yang dia maksud???
Apakah. . . nama terakhir Ammar???
A M M A R B I L Y A N T A M A. Iya kan??? Oh tuhan. . . Apa yang harus ku lakukan detik ini???
Lama ku berpikir memutar dengan keras otak ku, memaksakan diri untuk tidak gegabah kali ini. Sekuat tenaga aku tarik nafas dalam-dalam, ku pejamkan mata dengan posisi tangan masih menggenggam erat ponsel Ammar.
Kemudian entah bagaimana jemariku memencet tombol dan memanggil nomor baru tersebut, hingga sayup-sayup ku dengar suaranya begitu nyaring dari kejauhan.
** Halo, Halo Tama. . . bicaralah. . .
Dug dug dug dug dug.
Kau tau, sekujur tubuh ku semakin terasa gemetar mendengar suara itu yang ternyata. . . memang wanita. Tapi siapa dia???
Sekuat tenaga ku coba beranikan diri untuk menjawab nya.
Halo. Saya bicara sengan siapa ya???
Lama terdiam setelah ku menjawab nya.
__ADS_1
Ha. . . halo, maaf. Ku. . . ku pikir Tama.
Suaranya tampak lesu terdengar.
**Apa kau perlu bicara dengan Am. . maksud ku Tama?
Siapa kau**???
Tanya nya dengan tegas seketika.
Aku. . . Aku adiknya.
Hah, entah darimana ide ini begitu saja keluar dari mulutku yang semulai tadi sudah gemetaran.
Adik??? Bukan kah adik Tama seorang lelaki? kau. . . siapa kau sebenarnya hah? kenapa kau yang menerima panggilan telepon ku hah???
Suaranya terdengar mulai marah. . . ini membuatku jadi terpancing emosi.
**Hai, kenapa kau jadi marah? hanya karena aku menerima panggilan mu, apa hubungan mu dengan Tama hah???
Harusnya aku yang bertanya. Siapa kau???
Sudah ku bilang, aku adik nya. Aku. . . adik sepupunya. apa kau pacarnya**???
Aku. . . Tama sudah memutuskan ku secara sepihak.
Jleb !!!
Wanita ini, memang kekasih Ammar. Ah tidak, tepatnya lagi Selingkuhannya kan???
Oh benarkah??? pantas saja dia sangat sedih hari ini, lalu kenapa dia memutuskan mu???
Suara ku mulai tak terkontrol karena emosi kecewa dan marah yang bertubi-tubi. Sehingga Ammar mulai terganggu mendengar suara ku ini.
Aku. . . aku tidak tau apa alasan nya, dia terus menghindariku dan mengabaikan panggilan telepon dan pesan yang ku kirim kan padanya.
Meski ku mulai marah, aku juga sedikit tersenyum menyeringai karena pada akhirnya dia terabaikan. Itu memang sepantasnya kau dapat. . .
Apa kau masih mencintai Tama???
Tanya ku lagi.
Apa kau tau??? Tama sudah ku perkenalkan dengan orang tua ku. Orang tua ku sangat menyukainya, dan memintanya segera melamarku jadi istrinya.
Oh tuhan, ini terasa lebih menyakitkan ingin ku akhiri saja panggilan ini. Tapi aku harus menahan diri agar tahu semuanya.
__ADS_1
Ku lihat Ammar mulai beranjak dari pangkuan ku penuh keheranan dengan terus menatap ku.
**Sejauh apa hubungan kalian? Jika kau sungguh mencintainya aku selaku saudara Tama akan membantumu.
Sungguh??? Aku sangat senang akhirnya ada keluarganya yang mendukung ku.
Tapi kau jujur padaku, sejauh apa kau berhubungan dengan Tama dan sejak kapan**???
Ammar seolah sudah menyadari segalanya kemudian berusaha menarik ponsel nya dari genggaman ku, ku arah tengadahkan telapak tangan ku dan menjauh darinya. Ku berikan isyarat untuk diam dan jangan mendekatiku. . . dengan wajah pucat penuh ketakutan Ammar terdiam kaku.
Halo. . . jawab lah dengan jujur.
Ucap ku kembali.
**Aku. . . ehm, hubungan kami baru berjalan selama dua bulan dan. . . jujur, aku tidak bisa berhenti mengejarnya untuk tetap disisiku. Karena kami. . kami. . .
kami apa hah**???
Aku mulai emosi mendengarnya menunda-nunda omongan. Sedangkan Ammar terlihat begitu kacau ekspresinya. . .
Kami sudah melakukannya lebih dari sekali setiap kali bertemu, tidak peduli kami berada di kegiatan KKN saat itu.
Kau tau??? bagaimana perasaan ku detik ini??? aku tetap melempar senyum pada Ammar. Senyuman termanis ku ketika aku mendengar jawaban dari semua tanya ku selama dua bulan terakhir ini, bahkan tanpa ku memaksa ammar yang menjelaskannya lebih dulu.
Wah. . . kalian hebat ya, masih bisa melakukannya di sela kegiatan kampus. Jadi iri dengan hubungan kalian. . .
ucap ku dengan menyeringai pada Ammar, yang kemudian Ammar sudah terlihat kebingungan dan meraih ponselnya seketika dan mematikannya langsung.
" Kenapa Ammar??? " Tanya ku dengan kembali menyeringai padanya.
" Fanny, apa yang kau lakukan??? darimana kau mendapatkan nomor wanita gila itu hah??? "
" Wanita gila kau bilang??? "
" Fanny, sayang dengarkan aku. Biarkan aku menjelaskannya padamu ".
" Mari kita jalan-jalan lagi, aku ingin kau menemaniku bercumbu mesra kembali " Jawab ku dengan tatapan kosong, ku palingkan wajah ku dari nya.
" Fanny, kenapa kau tidak menanyakannya lagi padaku ??? Tanya aku, maki aku jika perlu " Jawab Ammar dengan wajah panik.
Hah. . . tuhan, aku heran. Kenapa detik ini, di saat aku ingin marah aku tidak mampu. Terasa lemah sekujur tubuh ku, aku ingin memakinya. . . tapi mukutku terkunci, aku. . . aku ingin menangis, tapi entah kenapa. . . air mata ini terasa kering. pikiran ku kosong. . . buntu, tak tau arah lagi harus bagaimana.
Ini kah yang dinamakan puncak dari rasa kekecewaan???
Ah. . . kenapa begitu datar dan kosong hati ini. Sehingga rasanya aku tidak lagi merasakan apapun. . .
__ADS_1