
Enam bulan berlalu. . .
Sejak kepergian Ammar, sejak putusnya pertunangan yang selama ini ku pertahankan, namun semua berakhir sia-sia setelah semua ku lakukan dan ku berikan. Aku tidak tau apa yang ku rasakan selama enam bulan terakhir ini, pikiran ku selalu kosong. Begitu pun hati ku. . . aku benar-benar terpuruk, bahkan sekedar untuk mandi dan makan aku tidak memikirkannya.
Aku pun sengaja menjauhkan diri dari ponsel, enggan ku menyentuh dan membukanya, aku takut mengingat semua yang telah terjadi. Aku cuti begitu saja dari kampus ku. Dan profesi ku sebagai guru. . . tak lagi ku jalani. Aku lebih memilih mengurung diri di rumah, tepat nya lagi di kamar. Hanya sesekali saja aku bersantai di halaman belakang, itupun karena ibu yang memaksaku.
Semua kenangan yang pernah ku lalui di setiap sudut rumah ini membuatku menggila setiap detiknya, aku ingin pergi jauh. Sejauh mungkin hingga tak satupun kenangan bersama Ammar mengusik ku lagi. . .
Kau tau, bahkan aku pernah berniat menelan sebotol obat tidur yang sengaja ku beli di apotek ialah semata untuk membantuku agar bisa perlahan mengakhiri hidupku ini. . . Tapi ibu selalu berhasil menemukan ku dan mencegahnya, entah sudah berapa kali ibu menamparku untuk menyadarkan ku untuk tidak lagi terpuruk begini, tapi aku hancur. terkadang aku terisak dalam tangis ku sendirian, terkadang pula aku masih bisa tersenyum apabila kembali mengenang masa indah bersama Ammar.
Berapa kali Dini, sahabat ku satu-satunya yang kini sudah berstatus sebagai istri konglomerat datang menjenguk ku untuk menghibur ku menyemangatiku dan mengajakku untuk segera keluar dari lingkaran pahit ini, mendorongku untuk segera bangkit. Meski aku merasa bersalah padanya, di hari pernikahannya aku tidak ikut serta hadir, tapi dia tetap setia menemaniku. Dia bilang masih banyak diluar sana yang bersedia menjadi pacar ku.
Hah. . . ini konyol, bahkan mendengar kata pacaran saja membuatku muak. Usahanya yang demikian sia-sia. . .
Begitupun Tristan, berapa kali ibu meminta ku keluar untuk menemui Tristan yang sudah berkali-kali dari pagi hingga sore memohon pada ibu ku agar aku mau menemuinya, tapi aku menolak keras.
Jujur, aku malu. Aku tidak lagi punyai kepercayaan diri untuk tampil sombong yang biasa ku bersikap di depannya. . .
Dan sore ini, aku kembali termenung dengan segala bayangan kenangan masa lalu ku bersama Ammar. Tanpa sadar air mata kembali mengalir deras di pipi, aku tersedu sedan dalam kesendirian ku di kamar.
Tok tok tok. . .
Ku dengar suara ketukan pintu dari luar kamar ku, hah. . . ini sudah yang keberapa kali. Entah apa lagi yanh akan ibu lontarkan pada ku kali ini. . .
Dengan langkah malas aku beranjak dari posisiku semulai tadi, dan membuka pintu kemudian.
" Dini??? " Ku terkejut sejenak melihatnya datang lagi, ini yang kedua kali. Padahal tadi pagi hingga siang dia sudah menemani dan menghibur ku. kemudian berpamit untuk pulang karena statusnya saat ini sudah sebagai seorang istri. Aku tidak bisa menahannya untuk tetap seharian bersamaku kan? tapi sore ini. . . dia kembali, untuk apa???
__ADS_1
" Fan. . . gue. . . " ucapannya terhenti ketika ku lihat seorang lelaki muncul di balik punggungnya.
Betapa terkejutnya aku, ketika yang ku lihat sosok itu ialah Tristan.
Aku mundur selangkah. . .
" Fan Fan. . . sebentar, pliss jangan menghindariku terus begini " Ucap Tristan seketika menyambut tangan ku.
Aku menepisnya dengan sikap kasar, meski aku tidak bermaksud.
" Ehm, Fan. . . maafin gue, tapi mau sampai kapan elu terus-terusan kayak gini hah??? Lihat diri elu sekarang??? " ucap Dini kemudian dengan nada lantang.
" Din, biarin gue ngobrol berdua bareng Fanny. Elu bisa pulang duluan, makasih banyak udah bantuin gue sore ini ya " Ucap Tristan kemudian pada Dini. Yang di tanggapi anggukan oleh nya, tanda mengerti.
" Din. . . " ucap ku tegas menarik lengan Dini.
Kini hanya tinggal aku dan Tristan disini, aku mulai canggung dan takut. Hingga tidak mampu hanya sekedar untuk say hello saja setelah berbulan-bulan lamanya aku tidak menemuinya.
" Fan, kita jalan-jalan yuk. kita nongkrong di tempat biasa dan makan sepuasnya, atau kita ke gramedia dan kau bebas membaca semua buku kesukaan mu" Ucap Tristan dengan lembut penuh semangat.
" Tristan, to the point saja jika kau ada yang ingin di sampaikan padaku " Jawab ku cetus.
Tristan terdiam sejenak dan memandangku dengan tatapan pilu. . .
apakah aku terlihat patut di kasihani, sehingga dia memandangku begitu sedih???
" Fan, ini bukan kamu yang aku kenal. Kamu wanita yang kuat dan selalu ceria, bahkan sesakit apapun masalah yang kamu hadapi. Selama kita menjalin pertemanan, banyak hal yang aku pelajari darimu Fanny. Tapi apa ini??? apa hanya karena kau putus dengan tunangan mu dunia mu akan berakhir hah??? apa kau pikir setelah itu tidak ada lagi lelaki lain yang inginkan cinta darimu??? Tidak Fanny. . . kau tetap wanita. . . bagaimanapun, kau akan tetap jadi pilihan lelaki nantinya. Jangan menghukum dirimu sendiri begitu Fanny. . . kau. . . kau membuatku kecewa. . . " ucapnya dengan suara lirih kemudian.
__ADS_1
ini membuatku. . . membuatku lagi-lagi ingin menangis.
Hah. . . ku sudah hancur, aku sudah tidak suci lagi, aku hina, aku. . . bejat, aku tidak pantas di cintai lagi dan terpilih oleh lelaki siapa saja nantinya, bahkan impian yang selalu ku nantikan ketika bersama Ammar sudah pupus. Impian ingin menjadi istri dan seorang ibu yang baik, bahagia selamanya. . . menikmati bahtera rumah tangga yang harmonis. Tapi sekarang??? siapa??? siapa yang akan bisa menerima ku begini hancurnya hah???
Aku terus menunduk di hadapan Tristan tanpa berani menatapnya sementara air mata terus mengalir deras.
" Fanny. . . lihat aku, aku disini akan selalu bersama mu " Ucap Tristan lagi, dengan perlahan tangannya menyentuh pipi ku dan menghapus air mata ini.
Oh Tuhan, dia tetap begitu lembut dan baik padaku. . . bahkan disaat aku sudah hancur berantakan begini. Tristan. . . kau memang baik. Tapi. . .
Aku menggelengkan kepala ku, dan perlahan ku tatap wajah nya. . .
Matanya berkaca-kaca, dan dia. . . dia masih tetap tampan seperti biasanya, sedangkan aku. . . kini. . . ah, entah bagaimana penampilan dan wajah ku saat ini. Aku sudah lama tidak pernah menghiasinya dengan make up seperti biasa.
" Tristan, apa kau tidak malu tetap berteman dan berjalan dengan wanita sampah sepertiku??? " tanya ku kemudian.
" Sssst. . . jangan pernah berpikir aku akan meninggalkan mu bahkan di saat kau terpuruk begini, tapi. . . jika kau bersungguh-sungguh menganggapku ada, ayo lah. . . jangan begini lagi. Kau bukan hanya menghukum dirimu sendiri, tapi kau justru lebih menghukum diriku Fanny. . . apa kau sadar selama berbulan-bulan kau tiba-tiba menghilang dan terus menghindariku "
Sejenak, aku ingin menertawainya melihat sikapnya itu. Tapi, seakan semua jadi semu. Sulit ku gerakkan bibir ku untuk tersenyum, sementara air mata ku semakin mengalir deras.
" Tristan. . . aku. . . "
" Jangan di teruskan lagi, aku sudah mendengar semuanya dari Dini " Jawab nya menyeka ucapan ku.
Degh !!!
Dini. . . apa yang dia ceritakan pada Tristan??? apakah Dini juga menceritakan tentang hal intim ku bersama Ammar???
__ADS_1
Oh tidak, ini akan membuatku semakin dinilai rendah oleh lelaki lain.