BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh


__ADS_3

Aku masih menangis terisak di kamar mandi, meski Ammar sudah menenangkan ku meminta maaf atas apa yang ia lakukan padaku tadi. Tapi ku tau, ini bukan salah nya saja. Ini pun salah ku. . . aku yang bodoh telah tergoda oleh kegilaannya.


Yang ku takutkan kali ini cuma satu, bagaimana jika setelah ini. . . aku hamil??? atau. . . tuhan tidak menjodohkan ku dengan Ammar nantinya???


" Sayang, sudah jangan menangis terus. . . matamu sudah semakin bengkak. Paling tidak bicaralah, jangan mendiamiku begini. . . apa kau menyesal telah memberikan kesucian mu untuk ku??? "


Mendengar ucapannya itu, aku semakin terisak dalam tangis.


" Ammar, bagaimana jika aku hamil setelah ini??? " Tanya ku dengan tegas.


" Aku akan bertanggung jawab dan menikahimu, Tapi jika kau khawatir kau bisa meminum obat untuk mencegahnya " Usulnya.


" Kau brengsek Ammar. Kau mengusulkan ku untuk minum obat pencegah kehamilan, apa mau mu??? apa kau mencampakkan ku??? "


" Tidak. . . tapi. . . aku. . . aku hanya tidak ingin kita menikah terburu-buru karena suatu kecelakaan begitu " Jawab nya ragu.


" Lalu kenapa kau memaksaku melakukannya tadi hah??? " Aku semakin kesal dibuatnya.


" Kau hanya milikku seorang Fanny, aku tidak akan melepaskan mu lagi. Aku mencintaimu. . . aku berjanji, aku tidak akan meninggalkan mu "


" Apa kau sungguh-sungguh kali ini Ammar??? Jangan tinggalkan aku setelah semua yang kau lakukan tadi. . . aku takut kau. . . kau akan mencampakkan ku setelah ini "


" Tidak sayang, tidak akan. Ayo sudahi mandi mu, aku sudah pesankan baju pengganti " Ucapnya sembari membantuku keluar dari bathtub.


Aku mengangguk menuruti kata Ammar, menyudahi mandiku kemudian melangkah keluar dari kamar mandi. . . langkahku lunglai. Terasa pegal dan masih sakit di bagian selangkanganku. . .


Ammar sudah menyiapkan baju pengganti untuk ku, dengan terburu-buru aku memakainya. Ku lirik jam di ponsel ku, sudah menunjukkan pukul 23.11 Wita.


Oh tuhan. . . ini hampir larut malam. Entah bagaimana aku menjelaskan pada ayah dan ibu nanti, sementara mataku masih bengkak dan sembab begini.


Aku sudah siap untuk pulang, Ammar menahan ku.


" Sayang, malam ini aku antar kau pulang dan langsung kembali ke hotel lagi. Besok aku akan menjemputmu lagi dirumah, temani aku seharian ya. . . aku masih sangat rindu " Sembari memelukku dari belakang.


" Baiklah. . . sekarang antarkan aku pulang, ini sudah hampir larut. Ayah dan ibu pasti sudah menunggu ku dengan panik " ucapku.

__ADS_1


Langkahku masih berjalan dengan pelan, ku tahan rasa perih dan tidak nyaman. Tapi aku harus bergegas untuk segera pulang . . .


Selam di dalam mobil, aku hanya duduk diam tanpa kata. Ammar terus menggenggam tangan ku dengan lembut sesekali mengecupnya.


Pikiranku seakan kosong entah kemana dan dimana, rasa takut terus menghantuiku mengingat kejadian di hotel tadi. Ku lirik Ammar begitu tenang. . . apakah dia tidak takut sama sekali jika nantinya aku hamil??? Hah. . . brengsek. ini pengalaman pertamaku, aku tidak pernah tau apa-apa mengenai hal ini. Selama ini aku berpacaran hanya sebatas pegang tangan dan ciuman, tidak lebih. Tanpa obrolan yang vulgar sekalipun. . .


Ammar menghentikan mobilnya di sebuah Apotek kecil di pinggir jalan. Aku terheran, untuk apa???


Ammar pun langsung keluar dari mobil tanpa berkata ataupun mengajak ku untuk ikut keluar.


Aku masih kebingungan, tak lama berapa saat dia sudah menaiki mobil lagi. Dengan membawa sebotol air mineral dan satu tablet obat yang aku belum tau itu obat apa. . .


" Sayang, minum lah obat ini dulu " Ucap nya dengan lembut.


" Obat apa ini Ammar??? " tanya ku heran.


" Ini obat anti hamil, setelah ini kau tak perlu khawatir dan takut lagi " Ucapnya berbisik.


" Kenapa begitu banyak kau membelinya??? Apa kau berniat menyuruhku mengkonsumsinya setelah ini??? sampai kapan??? aku tidak suka obat-obatan Ammar. . . " Jawab ku kesal.


Aku mengangguk pelan, dan menurutinya untuk meminum pil tersebut. Kemudian Ammar kembali melajukan mobilnya dengan cepat karena malam sudah semakin larut.


Tiba dirumah, ammar bergegas turun dari mobil membukakan pintu mobil untuk ku. Kemudian mengantarnya sampai di teras rumah ku. Aku menatap wajahnya sekali lagi. . .


" Ammar, kau pergilah lebih dulu ke hotel. ini sudah larut, langit malam masih mendung. Nanti keburu hujan. . . " Ucap ku dengan suara lemas.


" Baik lah sayang, tiba di hotel aku akan menelpon mu " Ucapnya sambil mengecup kening ku.


Aku mengangguk pelan dengan helaan nafas panjang. Rasanya aku tidak ingin dia pergi begitu saja setelah apa yang kami lakukan tadi, aku ingin dia tetap disampingku menemaniku mengubur rasa takut ku.


Kemudian Ammar berbalik melangkah menuju mobil nya, aku menarik tangannya lagi yang masih menggenggam tangan ku. Ammar menoleh ku dengan heran. . .


" Aku mencintaimu Ammar "


Dia tersenyum dengan lembut mendengar ucapan ku. . .

__ADS_1


" Aku juga mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. Ya udah besok aku akan menjemputmu lagi dan menemanimu seharian "


Lalu Ammar berlalu pergi menghilang di balik pintu mobil dan melaju pergi.


Perlahan aku melangkah masuk ke dalam rumah, ku lihat sekeliling ruangan ayah dan ibu sudah tidak ada. Sepertinya mereka sudah tidur lebih dulu.


Sampai di kamar aku langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur. Aku kembali meneteskan air mata. . .


Tuhan, apa yang telah ku lakukan??? maaf kan aku. . . aku wanita yang hina, tidak bisa menjaga kesucianku meski aku melakukannya bersama tunanganku, calon suami ku. . . ku mohon. . . jangan pisahkan kami lagi setelah ini Tuhan.


Aku hendak mengganti pakaian ku, ku tatap wajah dan seluruh tubuhku berdiri di hadapan cermin. Ada banyak bekas kecupan Ammar disana, sontak membuat darah ku berdesir kembali.


Ku dengar ponsel ku bergetar, mengagetkan ku. Ku pakai baju dengan tergesa-gesa, Ku raih untuk melihat nya, Ammar menelpon ku.


**Halo Ammar, apa kau sudah sampai di hotel???


Iya sayang, apa kau sudah ngantuk???


Belum, aku hanya sedikit lemas dan lelah**.


ucap ku dengan suara lirih, aku meregangkan tubuhku di atas kasur yang tanpa sadar aku mendesah kelelahan.


Sayang, kau. . . kenapa kau mendesah begitu??? apa kau menggodaku???


Aku terkejut mendengar nya berkata begitu.


**Ammar kau. . . apa kau meledekku sekarang??? jangan membahasnya lagi. . . kau sungguh membuatku malu.


Hahaha baik lah, aku hanya bercanda. Jangan marah lagi, tidurlah setelah ini. Agar cepat tiba waktu pagi, aku sudah merindukan mu lagi Fanny.


Ih kau gombal Ammar, dasar kau. . . ya sudah kau juga tidur, aku juga tidak sabar menunggu pagi tiba. Aku juga merindukanmu**. . .


Klik !!!


Panggilan telepon berakhir.

__ADS_1


Aku menatap langit-langit kamar, dengan menghela nafas panjang. Semoga ini awal dari hubungan baru ku dengan Ammar. Aku akan berusaha melupakan dan memendam, mengubur dalam semua kesalahan Ammar dahulu dan memulainya lebih awal.


__ADS_2