BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Dua puluh enam


__ADS_3

Hingga pukul 5 sore ku tunggu kabar dari Ammar, belum juga ada. Seharusnya sekitar jam 4 tadi dia sudah tiba dirumah. Atau tadi dia kelelahan jadi berhenti lama di jalan untuk istirahat.


Tapi entah kenapa hati ku gelisah. Pikiran ku tidak fokus mondar mandir di kamar tak karuan dengan ponsel di tanganku.


Kalau aku menelponnya, takut dia sudah di kampus lalu aku akan mengganggunya kan. Ah tapi aku tidak tenang, biasanya juga langsung mengabariku seperti biasanya jika sudah sampai dirumah. Tapi kali ini aku sungguh khawatir.


Tuuut.. Tuuut..


Lama panggilan ku tak juga diterima oleh Ammar. Ini membuatku justru semakin tidak tenang hingga tangan rasanya gemetar.


Aku mencobanya sekali lagi.


Tuuuuuuuut...


Ha****lo, ada apa?


Degh !!!


Terdengar suara cewek dari panggilan ku untuk Ammar. Aku tertegun, siapa? siapa suara cewek ini?


Sepertinya aku pernah mendengar.


Iya halo, Ammar dimana? ini siapa?


Jawab ku kikuk.


Oh, kamu. Bayi kecil. Ammar lagi mandi tuh, baru aja bangun tidur. Sepertinya dia kelelahan sampai ngorok tidurnya, hahaha lucu deh. Ada apa? Mau nungguin sampai dia selesai mandi?


Oh Tuhan...


Aku mengenal suara ini, ini suara Abel. Dan kau tau apa yang ku pikirkan detik ini? Tidak terlukiskan.


Dengan gemetar aku kembali menjawab nya.


Oh, ya udah. Aku hanyasedikit khawatir, takut dia belum sampai dirumah dengan selamat.


Oh gitu aja, ku kira ada apa. Ya udah ya, aku tutup teleponnya, sebentar lagi kita akan berangkat ke kampus, udah lumayan telat nih. Bye..


Bip bip bip...


Abel mematikan panggilan telepon ku untuk Ammar.


Aku terduduk lemas di sisi tempat tidur ku, pandangan ku kosong.


Aku terdiam lama, untuk fokus pada pikiran dan hati ku.


Mengingat ucapan Abel, Ammar sedang mandi dia tertidur, dan bla bla bla.


Air mata ku terjatuh, sesak rasanya di dada. Aku kembali merasakan sakit yang teramat di dadaku.

__ADS_1


Tak lama kemudian ponsel ku berdering.


Ammar memanggil. . .


Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku hapus air mata yang mulai menetes terus daritadi.


Ku terima telpon dari Ammar namun tanpa suara.


Halo Fanny, apa kau tadi menelpon? Maaf sayang, tadi aku sedang mandi. Tapi tolong jangan salah faham dulu. Tadi di jalan Abel menelpon ku lagi minta tolong untuk ku belikan obat di Apotek. Dan kebetulan arah rumah ku melewati kost Abel tinggal, jadi aku mampir dulu sekalian numpang istirahat sejenak tapi malah aku ketiduran, karena mungkin sangat lelah hari ini, maafkan aku Fanny membuatmu khawatir.


Dengan panjang lebar Ammar menjelaskan, aku tetap terdiam tanpa suara. Nafasku sesak, hingga tanpa sadar aku terisak tangis meski sekuat tenaga aku menahannya.


Sayang, apa kau menangis? Ada apa? apa kau marah pada ku Fanny? Kau percaya pada ku kan, aku tidak mungkin... Ah, ayo lah Fanny. Aku benar-benar sangat kelelahan tadi.


Ammar, jika suatu hari nanti ketika kau menelpon ku dari jauh dan terdengar suara lelaki yang menerima telepon dari mu untuk ku, kemudian lelaki itu menjawab bahwa aku sedang mandi apa yang akan kau pikirkan Ammar?


Ammar ayo cepat lah sedikit nanti kita makin telat ke kampus, iiih kamu ini.


Terdengar suara Abel dari belakang mendesak Ammar untuk segera pergi ke kampus.


Tanpa basa basi Ammar berpamitan untuk segera pergi ke kampus bersama Abel.


Sayang, nanti aku jelaskan. Aku harus segera ke kampus, ku mohon jangan salah paham. Yang pasti ini tidak seperti yang kau pikirkan, oke. Mmuuach i love you !!!


Bip bip bip...


Panggilan kembali diakhiri oleh Ammar.


Bahkan aku ingin memaki nya, meneriakinya, berkata kasar padanya, aku tidak mampu. Saat ini, aku jauh darinya. Dan Abel tentunya hampir setiap hari di sisinya bukan?


Ini membuatku semakin terisak dalam tangis tanpa henti.


************♡-♡**********


Jam menunjukkan pukul 7 malam, aku baru selesai mandi. Membersihkan diri dan berdiam diri di bawah air yang mengalir deras dari shower membuatku sedikit tenang dan sejenak bisa meluapkan segala amarah ku, berteriak sekencang-kencang nya dalam kamar mandi siapa yang akan mendengarnya.


Aku sudah siap dengan pakaian tidur ku, rasanya aku ingin segera tidur saja. Aku lelah dengan semua amarah ini, saat sedang menyisir rambut ku dengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


Tok tok tok...


" Sayang, ada Rendy di bawah. Turun lah segera, dia menanyakanmu sedaritadi."


Ah kak Rendy? Iiih selalu deh kasih kejutan dadakan gini, bilangnya besok malam. Ehm, pasti udah gak sabar nih ngobrol bareng adik kesayangannya ini.


" Iya bunda, sebentar.. Fanny akan segera turun," Jawab ku dengan gembira.


Sebenarnya malam ini aku benar-benar lelah dan ingin segera lelap dalam tidur saja. Semakin mata ku terbuka dan otak ku terpakai untuk memikirkan Ammar, semakin aku merasakan sakit hati yang amat sakit.


Ah, tapi... Gapapa deh, demi kak Rendy. Semua perasaan sakit ini pasti juga bakal hilang dengan cepat ketika bersamanya.

__ADS_1


Dengan malas dan tetap masih memakai baju tidur, aku keluar dari kamar menuruni tangga tanpa mengganti baju lagi. Ah lagian cuma kak Rendy aja kan? Bukan menyambut Ammar.


Dan ternyata, bukan hanya ada kak Rendy diruang tamu. Melainkan bersama Kevin, temannya yang kemarin di kenalkan nya pada ku di mall.


Ya ampun, apaan sih bunda kok gak bilang jika kak Rendy datang bersama Kevin.


Tau gitu kan aku kan bisa ganti pakaian, iiih kan malu.. pikir ku dalam hati,


Aku mulai berjalan pelan dengan sedikit salah tingkah.


" Yak elah.. Ini anak baru jam segini udah pake baju tidur, emang udah ngantuk? kakak ganggu dong, pulang ah.. " Ucap kak Rendy menyambut ku.


" Iih jangaan.. Kak Rendy mah gitu. Fanny masih kangen tau, udah lama gak ketemu. Tadi emang Fanny niat mau tidur tapi gak jadi deh demi kak Rendy, " Jawab ku manja sembari duduk di sofa ruang tamu.


" Nah baguusss.. Anak pintar, emang harus gitu menyambut kakak mu yang paling cakep ini, hahaha nih oleh-oleh buat kamu. " Jawab kak Rendy sembari menyodorkan sebuah tas kado.


Ku lihat isinya semua cokelat dengan balutan bungkusan indah nan cantik. Aku tau ini pasti cokelat terenak original dari luar negeri, pikir ku.


" Kyyaaaaaaa.. cokelaaat, yeay... Makasiih kakak ku yang paaaaaling cakep se-ja-bo-ta-bek aja, hahaha. " Aku teriak penuh gembira sembari meledek kak Rendy. Sedang Kevin ku lihat dia hanya terdiam kemudian senyum-senyum terus memandang ku. Membuatku jadi salah tingkah seketika.


" Lucu banget sih adik lu ini Ren, gemes gua. " Ucap Kevin tiba-tiba. Aku tersenyum nyengir pada nya.


" Hai.. Kak Kevin bisa aja. Aku kan emang menggemaskan, ya kan kak? ". Jawab ku melempar senyuman pada kak Rendy.


" Menggemaskan tapi nyebelin, elu tau Vin kalau udah ngambek, woooh... Hancur ini rumah sampai rata ke bumi, " Jawab kak rendy meledekku yang kemudian di susul tertawa oleh Kevin.


Aku cemberut di buat nya.


Tak lama kemudian Ibu datang membawa beberapa cemilan dan beberapa gelas syrup hangat.


" Aduh.. Seru sekali kalian ini." Ucap ibuku.


"Rendy, siapa yang kau bawa ini? ". Sapa ibu ku kembali sembari melirik pada Kevin.


Kevin langsung berdiri dan mencium tangan ibu ku.


" Halo tante, saya Kevin. Teman Rendy kuliah di Luar Negeri, kebetulan diajakin Rendy liburan di kota tempatnya tinggal ini. Jadi sedikit penasaran ada apa aja tante, hehe. " Sapa Kevin, yang kemudian sesekali melirik ku dengan senyuman ceria.


" Oh.. Wah, selamat datang dikota kami nak Kevin, semoga senang liburannya. " Jawab ibu dengan senyuman hangat.


" Ya sudah ayo di minum, kalian ngobrol-ngobrol aja dulu ya. Tante tinggal, mau nemenin om nonton tv." ucap ibu kemudian lagi.


" Siap tante, makasih ya tan." Jawab kak Rendy bersamaan dengan Kevin.


Cukup lama kami saling berbincang, ngobrol ini itu gak jelas, saling ejek, kemudian saling tertawa lepas. Tanpa sadar aku pun mulai akrab dengan Kevin.


Selain manis Dia juga sangat periang, luwes, selalu tenang, dan humor banget.


Aku mulai berasumsi, yakin deh bakalan betah lama-lama ngobrol bareng dia.

__ADS_1



__ADS_2