BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh dua


__ADS_3

" Ammar. . . maafkan aku, tapi bisakah kau memberiku kesempatan untuk tidak memutuskan Kevin hari ini juga. Kevin sudah akan kembali ke luar negeri Ammar, aku gak mau membuatnya hancur begitu saja disini, di hadapan mu, aku tau aku salah aku sudah mengkhianatimu, tapi Kevin. . . selama ini sudah baik, dia tidak pernah menuntut lebih dariku. Meski aku tetap pada akhirnya akan kembali pada mu " ucap ku membantah kemudian.


Ku pandangi wajah Ammar mulai terlihat kesal, namun ia berusaha menahannya dengan tarikan nafas yang dalam.


" Fanny, jujur padaku. Apa kau sudah jatuh cinta padanya??? " Tanya nya lagi.


Seketika wajahku menunduk lesu mendengar pertanyaan Ammar itu. Aku. . . aku gak tau. Apakah aku sudah jatuh cinta atau hanya. . . pelarian semata.


" Jawab Fanny " Ucap Ammar mulai tegas.


" Aku. . . aku tidak tau, aku hanya. . . merasa jika kebaikannya dan pengorbanan hatinya selama ini, membuatku merasa jaid wanita yang memang paling dicintainya Ammar. Maafkan aku. . . " Jawab ku pelan.


Ponsel ku berdering, aku merogohnya di tas ku. ku lihat di layar ponsel kak Rendy memanggil. . .


****Halo kak Rend, apa sudah di bandara???


iya kau dimana?


Fanny sudah di bandara, kita ketemuan di depan waithing room.


Baik lah. Kita segera menuju kesana****. . .


Aku menatap wajah Ammar kembali, dia mengerutkan kedua alisnya. Aku tau. . . dia pasti masih menunggu jawab ku atas pertanyaannya tadi.


" Ammar, ayo. . . kak Rendy sudah tiba di bandara "


Ammar terdiam, menahan tangan ku ketika aku hendak melewatinya.


" Fanny, putuskan Kevin hari ini juga " Pintanya sekali lagi.


Aku hempaskan perlahan tangan nya dari genggaman ku.


" Ammar, aku tidak bisa sejahat itu padanya. Kau tau. . . banyak pengorbanan Kevin yang mungkin tidak semua cowok di dunia ini bisa melakukannya, termasuk kau "


Ammar terlihat kesal mendengar ucapan ku ini.


" Apa kau terus berniat menduakan ku hah??? "


" Ammar, sebenarnya aku marah. Kau lancang membuka ponsel ku tanpa seijin ku "


" Ok ok aku yang salah. Aku yang membuka pesan Kevin semalam. Ponsel mu terus bergetar, ketika aku lebih dulu selesai mandi. Aku hanya berniat untuk mengambilkan handuk untuk mu, ku pikir siapa yang terus menghubungi ponsel mu " jelas nya.


Aku terdiam tanpa kata. Ini memang salah ku, lagi pula. . . aaarght Kevin ini, apa dia sengaja? padahal dia tau aku sedang bersama Ammar malam tadi.

__ADS_1


" Beri aku waktu sampai Kevin tiba di luar negeri, agar aku bisa leluasa berbicara dengannya baik-baik "


" Hah Fanny. . . . . kaaauuu. . . " Ucap Ammar dengan setengah teriak. Ia memalingkan wajahnya meremas keras bagian rambut di kepalanya.


Aku tau dia sudah mulai tidak tahan dengan amarahnya yang membuatnya kecewa padaku pagi ini. Tapi aku. . . entah kenapa aku tidak bisa melepas Kevin begitu saja pagi ini.


Lalu aku pergi begitu saja melewatinya, mengabaikan Ammar yang sudah terlihat sangat marah. Aku terus melangkah pergi menuju tempat yang sudah di janjikan dengan kak Rendy tadi.


Tiba di depan waithing room kak Rendy sudah melambaikan tangan nya dari jauh ketika aku melihat-lihat sekeliling mencarinya. Aku berlari untuk menghampirinya. . .


" Kak Rend. . . " Mata ku sudah berkaca-kaca. Kak Rendy memelukku. . . begitu juga kak Shishi.


" Terimakasih untuk semua kebaikan dan waktu mu menemani ku selama disini Fanny " Ucap kak Shishi.


Aku mengangguk pelan dalam pelukannya tanpa kata, kemudian mataku tertuju pada Kevin yang berdiri di belakang Shishi. Yang terus menatapku semulai tadi. . .


Ku lepas pelukan kak Shishi perlahan, kemudian ku hampiri Kevin yang berdiri dengan tatapan wajah sendu padaku. . .


" Vin. . . aku. . . " suara ku terhenti sampai disitu.


Aaah dasar. . . air mata ini selalu mendahului ungkapan hati ku yang begitu sesak.


" Jangan bicara lagi, aku mengerti " Ucap nya dengan mengusap air mata di pipi ku.


" Vin, maafin aku " Ucap ku dengan isakan tangis.


" Jangan menangis Fanny, kau tau aku tidak suka itu " Ucap nya dengan terus mengusap air mata ku.


Aku memejamkan mata merasakan sentuhan tangannya di pipi yang begitu hangat dan lembut. Aku sudah tidak peduli yang lain memperhatiakan sikap kami ini, termasuk Ammar.


" Fanny "


Ku dengar Ammar memanggil ku dengan tegas dari belakang. Aku tak bergeming dengan tangisku, aku menundukkan wajahku di hadapan Kevin.


Seketika, Kevin mengangkat wajahku untuk menengadah pada nya.


Mataku sudah basah dengan linangan air mata.


" Pergilah. . . Ammar menunggumu, tak perlu menemaniku lama disini. Melihatmu menepati janji mu aku sudah bahagia Fanny " Ucap nya lagi dengan senyuman.


Oh tuhaaaaaan. . . terbuat dari apa hatinya itu??? Kenapa begitu tulus dan tenang mendapati situasi seperti ini hah???


" Biarkan aku disini melihatmu sampai pergi, ku mohon jangan mengusirku "

__ADS_1


" Fanny. . . heeey. . . ada apa dengan kalian hah??? " Tanya kak Rendy menghampiri ku dan Kevin yang semulai tadi sudah seperti adegan romance sepasang kekasih yang tidak ingin terpisahkan.


" Rend, nanti gue jelasin di rumah " Ucap Kevin pada kak Rendy.


Kak Rendy terdiam sesaat, begitu juga kak Shishi.


Aaaarght. . . kondisi apa ini??? menegangkan sekali. Aku sudah tidak berani memandang wajah Ammar yang masih berdiri di belakangku. Ntah bagaimana raut wajahnya kali ini.


Suara pengumuman keberangkatan sudah terdengar, memecah ketegangan di tengah kami. Hatiku semakin hancur rasanya. . . Kini Kevin akan benar-benar pergi dari sisi ku. . . meski kapanpun aku masih bisa memintanya untuk datang menemuiku, dia pasti akan menurutinya tapi setelah ini. . . aku tidak tau, bagaimana aku akan bertemu lagi dengan Kevin.


Dan kau tau. . . Kevin beranjak dari hadapan ku, dia melewatiku kemudian menghampiri Ammar di belakang ku. Jantungku sudah mau copot, aku terperangah melihat mereka saling menatap serius.


Ku lihat Ammar sudah mengepalkan tangannya, aku langsung menahan menyentuh tangannya agar reda emosinya.


" Ammar, Aku minta maaf dengan semua yang sudah berlalu. . . aku akan kembali ke luar negeri. Bahagiakan Fanny selalu di sampingmu, jaga hati nya, jangan pernah membuatnya merasakan sakit lagi. Dia sangat mencintaimu Ammar, semoga kalian bahagia selalu bersama selamanya " Ucap kevin dengan lantang.


Hancur berantakan ku rasa di hati, tubuhku bergetar hebat. Seakan aku tidak mampu berdiri lagi menyaksikan ini semua. . .


Mendengar ucapan Kevin begitu, apakah ini pertanda bahwa ia tidak akan pernah lagi menemuiku??? apakah dia sudah menyerah begitu saja??? apakah dia sudah mengubur cintanya padaku dalam-dalam???


" Kevin, kau. . . " Aku hendak berbicara. Ammar menggenggam tangan ku dengan erat.


" Aku tau Fanny akan selalu mencintaiku, terimakasih sudah mendoakan kami. Semoga setelah ini kau juga menemukan cinta yang seharusnya kamu miliki dan cintai Kevin " Ucap Ammar membalas ucapan Kevin.


Tidak Kevin, tidak. . . jangan menyerah begitu. . . jangan begini. . . aku belum sempat mengatakan sesuatu padamu. Tolong. . . !!!


Kemudian kak Rendy ikut serta menghampiri di susul kak Shishi,


" Kevin, ayo kita harus segera masuk. Dan kau Ammar, titip adik gue ya. Jangan pernah nyakitin hatinya, elu tau kan jika elu berani nyakitin hatinya. Gue orang pertama yang bakal hajar lu habis-habisan. Saat kalian udah nikah gue pasti bakal datang " ucap kak Rendy dengan wajah serius.


Sementara aku menahan sesak di dada sekuat tenaga aku menahan tangisan ku agar tidak semakin meluap nantinya.


Dan tanpa menunggu sepatah katapun dari ku, Kevin berlalu pergi dari hadapan ku dengan senyuman hangat yang di susul oleh kak Rendy beserta kak shishi.


Aku membatu berdiri menatap mereka yang berlalu pergi dari ku.


Langkahku terasa berat untuk, meski hatiku memaksa untuk berlari mengejar kevin. Sekali lagi, aku ingin memeluk nya Tuhan.


Kevin. . . pliss, liat aku sekali lagi. . . pliss. . .


Teriak ku dalam hati, terus memanggil nama Kevin.


Namun. . . semakin lama semakin menghilang dari pandangan ku.

__ADS_1


Kevin telah benar-benar pergi dari ku. . . !!!


__ADS_2