BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sembilan puluh lima


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Tristan tak banya bicara. Dia melajukan mobilnya dengan sedikit lebih cepat, suasana di dalam mobil jadi sedikit canggung.


Apakah dia marah??? tanya ku dalam hati.


Hingga tiba di depan pintu gerbang rumah ku, Tristan sudah menghentikan mobilnya. Seolah dia sudah terbiasa dan paham dimana dia harus menghentikan mobilnya ketika mengantarku pulang.


Aku masih terdiam, tak bergeming tanpa kata.


" Fanny, sudah sampai. . . kau bisa turun sekarang " ucapnya dengan suara lemah lembut.


Oh tuhan, kau. . . kau sungguh mengingatkan ku pada sosok Kevin, Tristan. . . sikap dan suara lemah lembutmu ini, semakin membuatku terlihat bodoh akan sikap ku pada mu.


" Mana ponsel mu??? " tanya ku dengan cetus.


" Ponsel??? untuk apa??? " Tristan tampak heran.


" Jangan banyak tanya, bawa sini saja "


Kemudian Tristan merogohnya di kantong bagian dada jas nya, dan memberikannya padaku dengan ekspresi penuh tanda tanya.


Tanpa aba-aba lagi ku ketik nomor ponsel ku di layar ponsel nya. lalu memberikannya kembali padanya. . .


" mulai saat ini kau boleh menghubungiku kapan saja, asal kau tau batasan dan waktu " jawab ku cetus.


Hah, pada akhirnya. . . aku mengijinkannya untuk bersungguh-sungguh dalam pertemanan ini, yang hanya sekedar teman sapa biasa. Entah lah setelah ini akan bagaimana, pikiran ku masih kacau. Biar lah ku beri dia kesempatan dulu. . . dan kau tau, mendengar hal itu dari ku. . . membuatnya mematung tanpa ekspresi. Entah dia bahagia, shock, terkejut, atau. . . entah lah.


Karena kemudian aku bergegas turun dari mobil tanpa ucapan terimakasih padanya karena mengantarku pulang.


Aku sudah tiba di kamar, ku hempaskan tubuhku di sisi ranjang. Aku masih memikirkan ucapan Tristan tadi, hatiku sungguh menerima ucapannya dengan suka rela namun egoku tetap meyakinkan. Ammar bukan lah lelaki demikian, dia tidak mungkin se egois itu kan. . . melarangku banyak hal, sedangkan dia. . . dia bisa hidup bebas tanpa satu syarat pun dari ku. apakah ini adil bagi ku???


Jujur, kadang aku lelah dengan sikapnya yang selalu mengingatkan ku untuk menjauhkan diri dari teman lelaki ku, bahkan termasuk saudara lelaki ku. Dari awal pacaran hingga tunangan kini dia selalu melarangku dalam hal itu. Sementara dia. . . dia tidak pernah sekalipun aku kekang. Hanya satu yang pernah ku pinta, tentang Abel. entah bagaimana kini mereka akupun tak pernah tau. . . karena Abel sudah menghilang begitu saja semenjak Ammar memilih lebih percaya padaku ketika dia keracunan nasi goreng seafood buatan ibu ku.


Drrrt. . . drrrtt . . .


Ponsel ku bergetar membangunkan ku dari kekacauan ini, sebuah nomor baru memanggil di layar ponsel ku. Tapi siapa. . .


Ku tekan tombol untuk menerima panggilannya tanpa ku bersuara terlebih dahulu.


Ha. . . halo Fanny.


Terdengar suara lelaki yang masih membuatku ragu.


Tris. . .tan???

__ADS_1


Jawab ku kemudian.


****Ya ini aku, apa kau sudah tidur? apa aku mengganggumu???


Tidak. . . tidak, ku pikir siapa. aku masih belum tidur kok****. . .


jawab ku kemudian dengan santai.


Fanny, aku seneeeeeng banged. Akhirnya bisa mendengar suaramu bukan hanya di dunia nyata yang tidak setiap hari nya ku dengar, namun kali ini. . . kapan pun aku bisa mendengar suara mu. Makasih ya Fan. . .


Mendengar suaranya yang begitu sangat riang, aku jadi tersenyum sendiri. Sikapnya membuatku mengingatkan ku akan sosok Kevin,


**Ya ya ya, gak perlu makasih gitu juga kali. kau ini. . . eh tapi ingat, kau punya batasan. tidak harus menelpon ku setiap saat, mengerti???


Siap boss, tenang aja aku tidak akan mengganggu waktu mu dengan tunangan mu. hehe


Bagus lah, ya udah ya aku ngantuk. Bye**. . .


Klik !!! panggilan telepeon berakhir.


**********♡-♡**********


Hubungan pertemanan ku dengan Tristan semakin akrab, terkadang pun kami selalu makan bersama diluar, di saat jenuh pun aku selalu mengajaknya menemaniku nongkrong di kafe. Sudah tidak ada rasa canggung lagi dari sikap ku terhadap Tristan, ternyata dia orang nya asyik di ajak ngobrol, pintar, humoris dan. . . ah pokoknya aku selalu nyaman di dekatnya.


Sampai akhirnya, aku lupa jika kesibukan Ammar di kegiatan KKN nya sudah berakhir lebih semingguan dari yang dia janjikan. Tapi entah kenapa dia tak kunjung jua memberiku kabar, apa lagi menemuiku. Aku baru menyadarinya hari ini di ruang kantor, hah. . . apakah Ammar masih ada kesibukan lain??? apakah dia tidak merindukan aku hah???


Tristan memanggil. . .


Huhft, ternyata. . .


Hmm. . . ada apa???


Jawab ku lesu ketika menerima panggilannya.


**Siang bu guru, sudah waktunya pulang ngajar kan??? aku antar pulang mau kah??? kebetulan sedang melewati satu arah nih. . .


Cih, apaan sih. . . sok manis deh, ya ya sebentar lagi aku sudah akan pulang. tunggu saja di depan pintu gerbang sekolah.


Siap bu guru, segera meluncur**. . .


bip bip bip. . .


panggilan telepon berakhir.

__ADS_1


Lalu aku beranjak dari duduk ku semulai tadi dan merapikan segala buku-buku yang berserakan di atas meja kerjaku. Dan bergegas untuk segera pulang. . . sementara aku sudah menyelesaikan tugas-tugas ku di kantor sekolah. aku pamit terlebih dahulu. . .


Langkahku perlahan terhenti ketika ku lihat Tristan sudah berdiri di depan pintu gerbang melambaikan tangan nya pada ku dengan senyuman.


Dia sungguh tepat waktu. sudah berdiri saja menungguku di depan situ. . . cowok idaman nih, upz. . . apaan sih Fanny, jangan mulai deh.


Kembali ku percepat langkahku menghampirinya.


" Ku pikir kau belum sampai disini " sapaku.


" Aku sudah menunggumu 10 menit yang lalu disini " jawab nya dengan senyuman.


" Hmm. . . dasar, itu salah mu. bukan pintaku, hehe " ucap ku meledeknya.


" Hahaha. . . kali ini memang mau ku, khusus untuk bu guru cantik seperti mu " ucapnya yang kemudian membukakan pintu mobilnya untuk ku.


Aku hanya tersenyum kecut meliriknya tajam sembari masuk ke dalam mobil.


Lalu Tristan setengah berlari berputar untuk memasuki mobilnya bersamaku kemudian melajukannya dengan cepat.


" Fan, mau makan siang bareng gak??? Aku belum makan nih "


" Aduh maaf Tristan, jangan sekarang deh. Aku sungguh sangat lelah, lagi pula aku ada kuliah sore hari ini. Aku butuh istrahat sejenak, gapapa ya??? " ucap ku menjelaskan.


" yaaah. . . sayang banget, gapapa deh besok-besok aja. Tapi ingat ya tiba dirumah kau harus ingat makan siang dulu " jawab nya dengan lembut.


" Ok siap bos " jawab ku singkat. yang kemudian Tristan melajukan lebih cepat mobilnya.


Seperti biasa, tiba di depan pintu gerbang rumah ku Tristan menghentikan mobilnya dan tersenyum padaku.


" Tristan, makasih sudah mengantarku pulang "


" Enak aja makasih doang, bayar dulu. Seenggaknya satu porsi untuk makan siang " Jawab nya dengan serius.


" Cih, apaan sih. hahaha ya sudah sana aku masuk dulu ya " Jawab ku sembari turun dari mobilnya.


Tristan hanya tertawa lepas menanggapi sikap ku ini. . .


Aku melangkah masuk ke halaman rumah, dengan langkah sedikit lunglai selama di sekolah mengajar anak-anak yang cukup menguras keringat hari ini. Entah kenapa mereka semua lebih bersemangat tadi, hah. . .


Pandangan ku tertuju dengan sebuah mobil yang memang tidak asing lagi di mata ku.


Ku hentikan langkah ku seketika. . . ingin berteriak, ingin segera terbang atau berlari kencang saja???

__ADS_1


Ammar . . . Ammar sudah disini???


Kyaaaaaaaaaaaarght. . . . . . . . .


__ADS_2