
Pada akhirnya. . . Tommy menemaniku nongkrong si Kafe yang ku tuju tadi.
Tak banyak bertanya pada ku, meski aku masih dengan wajah kucel bekas air mata yang terus mengalir deras. Dia tetap stay cool di depan ku. . .
Nyebelin gak sih cowok kayak dia ini, padahal di depannya sedang ada wanita yang sedih. . . hibur kek, tanya kek kenapa, tenangin dikit kek. Uuugh. . .
" Tommy, kau. . . pulang saja. Biarkan aku sendiri disini " ucap ku dengan sedikit cetus.
Mendengar ucapan ku ini, dia hanya tersenyum kecut melihatku.
" Apa kau merasa tidak nyaman ada aku disini??? jika masih ingin menangis kau boleh melanjutkannya "
" Kau meledekku ya??? hah??? Pulang aja sana " jawab ku dengan nada marah.
" Hahaha astaga. . . maafkan aku, dasar kau tidak tau rasa terimakasih malah mengusirku begitu "
" Kau yang memaksaku untuk menemaniku disini bukan??? Dasar cowok, semua sama aja. Termasuk kau " ucap ku meliriknya tajam.
" Siapa yang kau maksud sama saja??? aku??? Tristan atau. . . ega??? "
" Kau. . . "
Aku terbelalak mendengarnya menyebut nama Tristan dan Ega
Aaaaaarght. . . sial !!!
" Kenapa??? kaget??? Santai aja. Aku sudah dengar hubungan mu dengan mereka, dan kau. . . yah. . . maaf sebelumnya, kau sudah jadi perbincangan buruk di kalangan kami teman seperkumpulan Tristan Fan "
Dan pada akhirnya, aku menjerumuskan diriku sendiri pada lubang hitam. Aku merendahkan nama ku sendiri sebagai wanita. . . oh tuhaaaan kenapa kau tidak bunuh aku saja hah???
Ucap ku dalam hati, bibir ku serasa bergetar, pikiran ku kacau. . .
" Fan. . . aku memang baru mengenalmu, aku tidak berhak memberimu nasehat atau mencampuri urusan mu, tapi. . . bisakah mulai sekarang kau jauhi mereka??? "
" Aku. . . "
" Paling tidak sampai kabar ini mereda dengan sendirinya, kau harus tunjukkan pada mereka jika kau bukan piala bergilir atau murahan "
Aaaaaaarght. . . aku ingin sekali teriak dalam hati sekeras-kerasnya. hah, brengsek. . . ini salah ku. . .
__ADS_1
" Tommy, terimakasih sudah mau menasehatiku "
" Tak perlu makasih, aku hanya kasihan dengan mu. Aku tau kau wanita baik-baik Fan, meski mungkin kau punya masa lalu yang pahit dengan Tristan atau siapapun itu. . . kau hanya wanita yang sedang tersakiti. Aku. . . aku turut prihatin dengan berakhirnya hubungan mu bersama Tristan. Tapi aku yakin, setelah ini kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik yang seiman dengan mu "
Perlahan aku mengangguk dengan pandangan mata ku yang mulai sayu dan kosong, aku. . . aku gak tau. . . jika masih ada orang baik yang peduli dengan ku seperti Tommy. Ku pikir dia juga sama karena dia, semulai tadi sangat cuek.
" Tommy, sekali lagi makasih. Kalo gitu. . . aku mau pulang, makasih banyak sudah menemaniku "
" Aku antar ya " Ucapnya seketika saat melihatku berdiri.
" Baik lah jika tidak merepotkan " ucap ku menyetujui.
***********♥♥♥**********
Sejak malam itu, aku jadi sering berkomunikasi dan bertemu dengan Tommy. Aku sering mengajaknya jalan ketika aku jenuh, ketika aku butuh teman curhat, ketika aku butuh banyak solusi atau pendapat.
Tapi kali ini, niat ku sungguh hanya sekedar menganggapnya teman. Begitu juga dengan Tommy, kami secara real berteman dengan tulus. Aku sudah lelah dengan hubungan pacaran, jatuh hati, atau. . . ah. . . aku muak, aku memutuskan untuk fokus pada kuliah dan kegiatan ku dalam mengajar.
Tommy selalu mendukungku dan terus menyemangatiku, bahkan aku sudah tidak lagi menginginkan sentuhan lelaki. Semua itu hanya semakin menghancurkan ku meski yaaah. . . terkadang aku ingin secara tidak sengaja ingin merasakan nikmatnya bercumbu mesra. Tapi aku menepisnya dengan banyak hal, Tommy selalu pintar mengendalikan emosi birahiku ini. Antara aku dan Tommy sudah benar-benar tak ada yang kami rahasiakan termasuk hal intim yang membuatku gila.
Dalam waktu yang singkat, aku sudah berhasil melupakan Tristan dan Ega. Karena kebencian ku yang sangat dalam, hati ini terlalu cepat untuk move on dari kisah cinta yang hanya sesaat itu.
Jujur. . . aku belum siap mental untuk menjadi istri dari lelaki yang hendak meminangku. Dengan semua yang sudah terjadi dan ku lakukan di masa lalu, apakah masih ada lelaki yang benar-benar menerimaku apa adanya??? kalau saja mengetahui masa kelam ku, ku yakin tidak akan mereka yang selalu datang mengejarku akan menerima ku apa adanya.
Ponsel ku bergetar semulai tadi, ku meraihnya dan ku lihat di layar ponsel sebuah pesan singkat dari Tommy.
Hey jelek, nanti malam ada acara gak??? temani aku ke suatu tempat yok. Bosan nih. . .
Aku tersenyum membacanya, kebetulan sekali aku pun sudah lama tidak menikmati udara malam.
Mmh. . . bisa aja sih aku temani, aku traktir ya??? hehe
Tenang aja, tapi aku yakin setelah sampai di tempat yang aku ajak nanti kau pasti tak ingin memakan sesuatu. Hihi
Sungguh??? Tempat apa itu???
Rahasia dulu dong. Nanti pulang kuliah ku jemput, gimana???
ok deh aku tunggu.
__ADS_1
Tommy tak lagi membalas pesan terakhir ku, haha aku tertawa sendiri.
Tiba jam 7 malam, jam kuliah ku sudah berakhir. Aku mengirim pesan singkat pada Tommy untuk segera menjemput ku. Dan tak lupa juga, aku menelpon dahulu kerumah untuk pulang telat malam ini.
Kemudian, tak berapa lama mobil yang di kendarai Tommy sudah mendarat di hadapan ku.
" Yuk langsung aja " Ucap nya di balik kaca mobil yang dia buka untuk menyapa ku.
Aku langsung menurutinya. . .
Aku masih belum tau kemana arah tujuan Tommy hendak mengajakku. Dia pun tetap sama, bersikap cuek dan stay cool selama menyetir dan melajuka mobil. Ini sudah bukan hal yang menyebalkan lagi bagi ku, karena sifatnya memang demikian. Kadang aku masih kesal sih, dia selalu cuek begitu. Tidak banyak omong. . .
Ku perhatikan arah jalanan ini semakin tak tentu arah, hingga Tommy menghentikan mobilnya di suatu tempat yang lumayan lapang. Aku kebingungan, ini pertama kali aku ketempat ini. . . dimana ini???
Lalu ku bergegas turun menyusul Tommy yang sudah keluar lebih dulu, betapa aku terperangah melihat tempat ini. Sebuah tebing yang tak terlalu tinggi. Namun dari sini semua suasana malam di bawah sana, hampir keseluruhan kota ini terlihat di hiasi dengan kelap kelip lampu warna warni. Di tempat ini juga bisa dengan puas menatap keindahan langit malam. Membuat orang-orang yang berada ditempat ini akan semakin betah walau akan terkenang segala masa lalu. Seperti diriku saat ini. . .
" Suka kan. . . hmm. . . " Tanya Tommy.
" Sejak kapan di kota kita ini ads tempat beginian tommy??? kenapa aku baru mengetahuinya??? "
" Karena kau baru mengenal ku, dan terlalu sibuk pacaran hahahaha "
" Kau meledek ku lagi Tommy, uughht. . . " jawab ku kesal.
Tapi sungguh, berada di tempat ini. . . aku merasa banyak sekali pikiran dan bayangan-bayangan buruk di masa lalu ku muncul secara bersamaan. Membuat ku sesak, tapi sedikit lega. Seakan aku sungguh telah meluapkannya di tempat ini.
" Fan, ini tempat biasa aku dan yang lainnya menghabiskan malam bersama. Dengan segala macam kegilaan kami lakukan disini melepas kepenatan dalam hati kami, para lelaki. Dan kau wanita pertama yang menginjak kan kaki di tempat ini "
" Sungguh??? wah. . . aku jadi tersanjung nih "
" cih, kau ini. Mulai lagi songong nya "
" Huh. . . " jawab ku memalingkan wajah.
ku hirup udara malam ini begitu segar, namun menyisakan pilu di hati. Entah kenapa, aku jadi rindu pada Ammar. Dan semua masa lalu kami dahulu kembali terbayang di mata, ku tatap jauh lampu-lampu di bawah sana dengan pikiran yang berkecamuk.
Hah. . . ammar, apa kabar mu saat ini??? apakah kau sudah hidup bahagia dengan wanita lain??? atau. . . kau sama seperti ku saat ini??? merindu yang bukan hak nya lagi.
__ADS_1