
"Belum," balas Tan Jia Li bersemu merah.
"Kenapa kamu nggak bisa tidur? Kamu merindukanku, ya?" goda Gu Shanzheng mendekat ke arah Tan Jia Li yang masih memandang wajah Gu Shanzheng.
"Bukan! Banyak nyamuk di kamarku, kamu percaya diri sekali, sih?" jawab Tan Jia Li sedikit kesal dan malu, berusaha memalingkan wajah menatap hutan lebat di depan mereka di balik tembok perbatasan yang terbuat dari kayu kuat yang sudah diperbaharui sebelum mereka pergi ke Wuling dan Mongol.
Ia merasa malu jika Gu Shanzheng sampai tahu jika ia benar-benar terbayang-bayang oleh wajah Gu Shangzheng.
"Kalau kamu merindukanku juga aku malah senang," ucap Gu Shanzheng seakan mengetahui jika Tan Jia Li merindukan dirinya begitu juga sebaliknya.
"Aku tidak pernah merindukanmu kecuali neraka berubah menjadi nirwana!" balas Tan Jia Li masih dengan keangkuhan yang sama.
Gu Shanzheng mendengus, "Hahaha, wanita selalu saja tidak pernah jujur dengan perasaannya. Padahal jika kamu jujur kamu malah mendapatkan banyak keuntungan," balas Gu Shanzheng tersenyum dengan nakal.
"Cih! Kalau kamu mendapatkanku mungkin kamu akan ketiban bulan, tapi … jika aku yang mendapatkanmu aku mendapatkan kesialan!" umpat Tan Jia Li.
Jauh di relung jiwanya ia mengakui apa yang dikatakan oleh Gu Shanzheng, selain tampan dan dingin pria di sampingnya adalah pria yang sangat luar biasa baik dan dermawan juga setia kawan.
"Sampai kapan kamu akan menutupi hatimu, Jia'er. Jika kamu mencintaiku," balas Gu Shanzheng tersenyum.
Tan Jia Li hanya mendengus dsn melirik sekilas, ia merasa apa yang dikatakan oleh Gu Shanzheng benar adanya. Namun, ia berusaha untuk menutupi semuanya ia tidak ingin jika perasaannya akan mudah terpantul di wajahnya.
"Jia'er, apakah kamu melihat sekelebat cahaya?" tanya Gu Shanzheng menatap ke depan di dalam kegelapan.
Tan Jia Li menatap tajam ke arah hutan di depan mereka, "Sial! Apakah itu kilatan cahaya pedang? Suit!" siulan panjang Tan Jia Li membuat pasukan 21 bayangan naga hitam langsung melesat naik ke benteng pertahanan di mana Tan Jia Li dan Gu Shanzheng berada.
"Lapor Yang Mulia! Apa yang harus kami lakukan!" ujar Lin Tao, berlutut bersama dengan ke-19 sahabatnya.
"Aku ingin kalian memeriksa hutan dengan sisi kanan-kiri jangan sampai terlihat! Laporkan cepat!" ujar Tan Jia Li.
__ADS_1
Gu Shangzheng nelesar turun ke bawah mengumpulkan pasukannya dengan keheningan tanpa suara.
Prajurit bayangan naga hitam langsung berlari dan melesat dengan membagi dua kelompok dan menghilang bersama dengan pekatnya malam.
"Apakah itu pasukan Qin, Changsha, atau Mongol? Mereka benar-benar secepatnya melakukan pergerakan. Sial, aku dan Shanzheng belum memberitahukan pesan kepada Kaisar Liu Min," batin Tan Jia Li melesat ke dalam kamar dan mengambil pedang dan busur juga anak panahnya.
Ia hanya melirik baju zirah miliknya yang tergantung di patung kayu untuk membuat bajunya yang terbuat dari plat besi ringan dan kulit tetap bertengger dengan baik.
"Aku tidak sempat untuk menggunakan baju zirahku! Aku berharap, aku tidak membutuhkan untuk saat ini," batin Tan Jia Li.
Ia melesat secepatnya kembali ke atas benteng pertahanan berdiri dengan gagahnya di sana, menantikan segala apa yang terjadi. Bersiap dengan anak panah di punggung juga busur dan pedang di tangan.
Sementara Zhang Fuk dan pasukannya sudah berbaris di balik benteng pertahanan di bawah Tan Jia Li berdiri bersiap-siap menyambut segala hal yang akan terjadi. Sementara Xiang Lu mencoba untuk mengevakuasi penduduk Xihe ke sebuah rumah yang lebih aman jika terjadi pertempuran.
Tan Jia Li mengawasi apa yang dilakukan oleh Gu Shanzheng yang melesat menembus pelat malam dan pasukan Prajurit bayangan naga hitam miliknya yang bergerak di gelepana.
Tan Jia Li dan pasukannya saja yang bisa melihat gerakan mereka, dari hembusan angin dan bau yang mereka sebarkan, "Lin Tao dan Zhao Wei benar-benar hebat! Andaikan aku menyusul ke sana, aku takut jika musuh menyerang kemari dan merebut benteng," batin Tan Jia Li.
Gu Shanzheng melesat menyusul prajurit bayangan naga hitam akan tetapi ia meluncur di bagian depan, "Aku harus memancing jika musuh sudah berada di depan," batinnya.
Ia bergerak seringan bulu angsa, ia mendengar sebuah siulan panjang yang dilontarkan oleh salah satu prajurit bayangan naga hitam.
"Bersiaplah! Apa pun yang terjadi pertahanan benteng Xihe!" teriak Tan Jia Li menarik pedangnya.
Suara pedang telah bergema di hutan kecil Gu Shanzheng melesat membantu pasukan hitam bercadar yang ditemui di Gunung Kunlun.
Trang! Tring! Pedang terus bergema Lin Tao dan semua sahabat mereka berusaha untuk menyerang pasukan elit dari musuh.
"Hah! Kalian adalah pasukan dari Gunung Kunlun, murid dari Lu Dang!" ujar Gu Shanzheng melesar menyerang Shan Po.
__ADS_1
"Hahaha, aku tidak menyangka jika Pangeran Wuling benar-benar hebat!" balas Shan Po, "sial! Bagaimana bisa mereka mengenali kami begitu mudah?" batin Shan Po bertanya bingung, tetapi ia berusaha untuk menutupinya.
"Kau tak perlu tahu, bagaimana kami bisa mengetahui semua hal mengenai kalian! Kembalilah, jika kalian memang ingin berperang tentukan waktu dan tanggalnya maka kami akan bersiap untuk bertempur bersama kalian.
"Katakan, kepada pengkhianat Qin Chai Xi, untuk menentukan tempatnya! Aku rasa Kaisar Liu Min pun sudah ingin membunuhnya," balas Gu Shanzheng.
"Aku akan menyampaikannya jika aku bisa keluar dari sini hidup-hidup!" teriak Shan Po, melesat mengarahkan pedang ke arah Gu Shanzheng.
Namun, tebasan pedang melesat karena Gu Shanzheng berhasil mengelak dan mendaratkan pukulan tepat ke dada Shan Po, membuat Shan Po terhuyung mundur.
"Bajingan, kau!" teriak Shan Po, menyeka darah yang ke luar dari bibirnya.
"Pulanglah katakan jika kami siap berperang di mana dan kapan? Sebelum kami membunuh kalian! Lihatlah pasukanmu sudah tertawan oleh Prajurit Bayangan Naga Hitam!" ujar Gu Shanzheng.
Shan Po memandang jika sudah banyak anggotanya yang gugur dan tertawan, "Bagaimana bisa?" lirih Shan Po bingung.
"Kamu salah jika kamu berpikir begitu mudah untuk menghancurkan Kekaisaran Donglang, itu salah besar. Sekarang pilihanmu adalah katakan kepada Qin Chai Xi dan sekutunya jika ingin berperang tentukan tempatnya.
"Kami siap sedia untuk melayani kalian! Atau jika kalian ingin melanjutkan pertempuran ini, maka kami juga siap untuk membunuh kalian," ucap Gu Shanzheng mengarahkan pedang ke leher Shan Po.
"Tidak semudah itu!" ujar Shan Po ingjn menggu akan racunnya.
Byar!
Sebuah serbuk mulai berhamburan dari tubuh Shan Po menyerang ke arah Gu Shanzheng dan sekitarnya.
Syut!
Gu Shanzheng melesat mundur menjauh dari kabut beracun yang disebabkan oleh serbuk racun tersebut.
__ADS_1
"Sialan! Bajingan ini selalu menggunakan racun," batin Gu Shanzheng. Racun tersebut mulai masuk ke rongga tenggorokan dan aliran darah Gu Shanzheng membuat tubuhnya kaku dan membeku.