Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Si Gila vs si Waras


__ADS_3

"Liu Min, aku tidak menyangka sama sekali, bisa menikah denganmu lagi, ini sangat aneh." Dara masih memandang bunga persik berguguran dengan lembut, menyentuh tanah menumpuk di rerumputan di halaman, bak selimut beludru putih dan merah jambu yang indah.


"Apalagi, aku Dara. Aku tidak pernah membayangkan akan ada satu wanita gila yang mau dengan pria tak waras sepertiku," balas Liu Min.


"Hahaha, mengapa kamu mengatakan hal itu. Bagiku kamu adalah pria waras yang rada sedikit sableng saja!" ucap Dara.


Membuat Liu Min mengecup pipi Dara berulang kali. Ia sudah ribuan kali mencium pipi, mata, hidung, dan bibir Dara. Liu Min merasa tak ada jemu dan bosannya melakukan hal itu 


"Um, kamu masih lebih beruntung Dara. Kamu masih mengingat banyak hal tentang masa lalu pernikahan dan perjuangan kita. 


"Sementara aku, hanya mendengarkan sebagian dan hanya membayangkannya saja," ucap Liu Min mengecup rambut Dara yang berada di pelukannya.


"Dara, apakah saat malam pertama dulunya, kita berbicara banyak hal seperti sekarang?" tanya Liu Min penasaran.


"Mengapa?" balas Dara.


Dara membayangkan jika dialah yang kebingungan bersama Li Phin, diam-diam Dara tersenyum menanggapi semua itu.


Ia menelengkan kepala menoleh Liu Min yang menyandarkan dagunya di ceruk leher dan bahu Dara, sementara tangan Liu Min berada di pinggangnya melingkar lembut di seluruh pinggang dan perutnya seakan ia mengunci Dara agar tak lagi pergi.


"Jika kita banyak berbicara, kapan kita melakukan hal itu? Hingga kita punya seorang putra?" ucap Liu Min dengan tampang bloon-nya.


Pletak!


Dara menjitak kening Liu Min, "Ya, ampun Liu Min! Mengapa di pikiranmu hanya ada hal jorok sih? Aku lebih beruntung kala bersama Kaisar Liu Min. Dia sama sekali tidak berpikiran jorok!" umpat Dara menggeleng-gelengkan kepala.


"Yee, namanya pergeseran waktu dan zaman. Semua orang juga berubah, jangan salahkan aku berinkarnasi di saat game dan video parno bertebaran di Medsos.


"Ngomong-ngomong, aku sudah lama tidak menonton film haram itu? Um, apakah aku perlu menontonnya dulu?" tanya Liu Min.


"Liu Min …!" geram Dara.


Ia tak lagi bisa berkata apa pun mengenai Liu Min di kehidupan yang ini. Antara Liu Min dan Kaisar Liu Min benar-benar berbanding terbalik.


"Aku bisa gila! Mengapa aku mau aja sih, menikahinya? Sialnya, aku tetap jatuh hati sampai berdarah-darah padanya," umpat batin Dara.


Dara tak mengerti ia pun menyukai dan membenci juga menyayangi sekaligus mendamba Liu Min pada waktu bersamaan.

__ADS_1


Dara membalikkan tubuhnya melihat Liu Min masih bingung memilih antara video parno Jepang, Cina, Korea atau Barat.


"Yang mana yang lebih romantis dan seru ya?" ujar Liu Min sembari menggaruk dagunya mirip dengan Kaisar Liu Min kala sedang berpikir keras.


"Dara, kamu mau yang mana untuk uji coba?" tanya Liu Min seakan ia sedang menawarkan cilok atau dimsum tanpa rasa malu sedikit pun.


"Apa?" Dara mengintip sejenak dari balik telapak tangan Liu Min yang sebesar telapak tangan kingkong.


"Yang ini saja!" ucap Liu Min memilih video haram bule.


Glek!


Dara menelan ludahnya, membayangkan setiap adegan yang aneh di sana, "Woi, Dodol! Nggak perlu nonton segala! Ntar juga tahu dengan sendirinya!" hardik Dara kesal.


"Yee, kamu sih enak ada pengalaman. Nah, aku ini malah zonk. Gimana dong?" ucap Liu Min semakin blo'on.


Dara langsung menyeret Liu Min ke tempat tidur mendorong Liu Min hingga jatuh terlentang.


"Wah, kamu benar-benar sadis!" ucap Liu Min.


Ucapan Liu Min membuat Dara mau pingsan Karena malu dan terlalu over.


"Sudahlah kita tidur saja, kamu membuat hasratku lenyap!" ujar Dara malu.


Dara merasa terlalu marah dan malu, ia merasa bagaikan wanita yang memiliki kelainan hipersekss mengerikan sebagai wanita.


"Aduh, mengapa kesannya jadi aku yang mengerikan ya?" batin Dara tidak habis pikir, "dasar Liu Min sialan!" umpat Dara menggigit selimut.


Ia baru saja membayangkan hal indah bercinta dengan Liu Min harus kandas secepat kilat, "Dara, um … kamu marah ya? Maaf, aku … aku benar-benar tegangan tinggi dan nervous.


"Bayangkan … jika kamu jadi aku, aku tidak pernah dekat dengan gadis mana pun. Kemudian aku jatuh cinta dan menikah untuk pertama kalinya.


"Bagiku, ini adalah pengalaman yang luar biasa. Wajarkan, jika aku takut tidak bisa memuaskan dan menyenangkanmu," ucap Liu Min.


Perkataan Liu Min membuat Dara sedikit bahagia dan tersentuh. Ia membalikkan tubuhnya, "Laogong (suamiku) tidak perlu berpikir terlalu berat, santai saja. Kita akan belajar dan mencarinya bersama. 


"Dulu saat aku menikah denganmu, aku di dalam tubuh Li Phin, inilah pertama kalinya aku berada di tubuhku sendiri dan aku pun merasakan hal yang sama denganmu Laogong," ujar Dara.

__ADS_1


Liu Min dan Dara saling pandang, "Sayang, sebaiknya kamu memanggilku dengan ucapan Sayang saja jangan Laogong, kesannya seperti apa begitu!" goda Liu Min tersenyum bahagia.


"Dasar Kampret! Permintaan kamu banyak banget sih?" ketus Dara semakin sebal.


"Hahaha, baru aja diminta begitu kami sudah senewen. Bagaimana jika aku minta 10 gaya di dalam semalam ya?" ujar Liu Min sambil menghayal.


Pletak!


"Kamu pikir ini tempe apaan sih? Bisa lecet tahu! Makanya jangan kebanyakan nonton video yang tidak bermanfaat. Besok aku akan merazia semua video itu agar pemerintah memblokir semuanya. 


"Video itu membuat yang tua maupun yang muda jadi gila!" ketus Dara mengomel.


"Yee, sungguh terlalu! Tapi, ya boleh juga itu, usul kamu. Aku mendukung! Ayolah, kita lakukan sekarang … kamu tidak kasihan melihatku?" ujar Liu Min memelas.


"Ya, ayo!" Dara menyetujui saja seakan mereka akan balapan liar.


Liu Min benar-benar melakukannya dengan penuh kelembutan kehati-hatian apalagi kala jeritan kecil dan tangisan Dara terdengar membuatnya menghentikan aksinya.


"Dara, sudahlah. Besok saja lagi kita lanjutkan, aku kasihan melihatmu," ucap Liu Min.


Ia kemudian menyeka air mata dan menyelimuti tubuh istrinya menarik Dara  di dalam dekapannya.


"Sayang, maafkan aku. Apakah aku menyakitimu?" tanya Liu Min.


Ia merasa bersalah karena membuat Dara menangis dan menjerit kesakitan, "CK, padahal kala terluka berulang kali. Kamu tidak pernah mengeluh? Tapi, masa pistol yang hanya 20 cm saja kamu kesakitan ya?" keluh Liu Min bingung.


"Liu Min … aku benar-benar butuh psikiater karenamu," geram Dara mengeratkan gerahamnya.


Dara ingin memukul Liu Min akan tetapi karena rasa sakit dan lelah yang dideritanya ia membiarkannya saja.


"Mengapa di dalam mimpi itu, begitu nikmat ya?" Liu Min masih saja berpikir keras.


"Apakah anak ini tidak pernah belajar biologi?" batin Dara, "waktu sekolah kamu ke mana saja?" sindir Dara.


"Um …," Liu Min berpikir sejenak, "main game, bolos, nongkrong di bioskop, um, nyuri mangga di kebun tetangga, balapan sepeda motor," jawab Liu Min tanpa merasa bersalah.


"Pantas saja!" 

__ADS_1


__ADS_2