Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Kenanglah aku!


__ADS_3

"Hm, bisakah kita mulai berkenalan dari awal? Maksudku … mungkin kamu sudah mengenalku, tapi aku tidak mengenalmu. Selain itu, kamu bersembunyi di tubuh Li Phin," balas Jang Min duduk di depan dara yang masih berada di tubuh Li Phin akan tetapi wajah Dara jelas-jelas terlihat di wajah Li Phin.


Jang Min begitu bingung dan kaku harus bagaimana menyingkapi semua ini, ia benar-benar tidak menyangka jika takdir mempermainkan hati, tubuh, dan cintanya, "Kamu bagaikan antara ada dan tiada!" lirihnya masih menatap Dara.


Tatapan Jang Min begitu lekat, ia merasa sudah bertahun-tahun mengenal Dara tetapi ia merasa asing dengan tubuh Li Phin, "Bagaimana kedepannya kelanjutan kisah hidup kami?" batin Jang Min merasa segalanya begitu memilukan.


"Apa yang ingin engkau ketahui Suamiku?" tanya Dara menatap wajah Jang Min, ada luka mulai tergores dan menganga di sana, "beginilah, yang dirasakan oleh Liang Si dan Li Phin, mereka begitu luar biasa!" batin Dara, mengingat setiap detik kepedihan yang dirasakan oleh Li Phin dan Liang Si merana melihat kebahagiaan mereka berdua.


Kedua mata mereka saling bertemu getaran lembut merasuki jiwa dan jantung keduanya, "Berarti aku memang menyukai dan mencintai wanita ini," batin Jang Min sedikit yakin terkadang jantungnya selalu bergetar jika Li Phin dengan suara berbeda memanggilnya dengan sebutan suamiku.


Kini ia menyadari banyak hal, "Jika Li Phin yang mengambil alih berarti dialah yang selalu berbicara formal kepadaku, jika tubuh Li Phin memanggilku dengan mesra maka Daralah yang bersamaku," batin Jang Min berusaha untuk mengetahui banyak hal.


 


"Katakan saja, bagaimana dirimu di duniamu dan apakah kamu sudah menikah?" tanya Jang Min penasaran, "sangat lucu jika takdirku memang harus berbagi istri, seharusnya seorang kaisar selalu berbagi cinta dengan para selir, bukan begini? Ya Dewa, dosa apa yang telah aku tanggung dan aku perbuat? Hingga aku harus membayar karmaku ini," batin Jang Min masih menatap lekat wajah Dara.


"Um, namaku Dara Sasmita, umurku 28 tahun, aku masih gadis dan aku seorang komandan dari kepolisian di zamanku," ujar Dara menatap ke arah Jang Min, yang masih menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


Getar cinta itu semakin berdentang dan berdendang indah di sana, "Mengapa jantung ini tidak sinkron sama sekali, sih?" batin Dara bingung, "apakah ini yang namanya jatuh cinta?" lanjut batinnya mulai resah.


"Oh, jadi kamu seorang komandan dari kepolisian? Wah, kamu memang benar-benar wanita yang sangat hebat! Um, apakah benar jika perang telah usai kamu akan meninggalkanku dan putra kita?" selidik Jang Min pada Dara.


Rasa sakit akan kehilangan Dara mulai menyerang di jiwa Jang Min, ia merasa takut untuk menghadapi hal itu, akan tetapi sebagai lelaki ia berusaha untuk tegar dan menyembunyikannya apalagi dirinya adalah seorang kaisar.


"Ya, maafkan aku! Bukan niatku begitu. Tapi, aku memiliki seorang ibu dan ayahku sudah lama meninggal. Dan hanya akulah putrinya selain itu, aku melihat salah satu anggota di kepolisian adalah seorang pengkhianat sehingga kami tidak pernah berhasil meringkus gembong penjahatnya," ucap Dara.


"Lalu janji kita untuk sehidup semati, apakah itu hanya bualan?" tanya Jang Min mengingat jika Dara pernah meminta kepadanya untuk sehidup semati dan tidak memperbolehkannya mengambil selir.


"Hiduplah dengan bahagia, rawatlah putra kita, aku mohon. Hanya dialah saksi kisah indah kita jika aku pernah berada di sini," balas Dara ia berusaha untuk menahan air mata agar tak tumpah, perih semakin menganga.


"Namun, aku tidak tahu, apakah kita masih bisa bertemu? Aku hanya minta kenanglah aku di sepanjang hidupmu, Suamiku. Wanita dari dunia lain, yang meminjam raga seorang wanita yang berhati lembut dan baik hati yang mencintai kekasihnya Liang Si dan rela berkorban demi cinta asal kita berdua bahagia," balas Dara.


"Begitu mudahnya kamu mengatakan semua itu, Dara. Seakan-akan semua ini adalah persinggahan untukmu kamu bisa pergi dan datang sesuka hatimu.


"Apalah artinya aku untukmu? Apakah semua ini tak ada artinya bagimu?" ucap Jang Min dari jiwanya yang paling dalam, "masih bolehkah aku menyentuhmu?" tanya Jang Min, kerinduannya begitu tertumpah ia ingin dekat dengan istri dan wanita yang akan dicintai seumur hidupnya.

__ADS_1


Dara turun dari bongkahan batu pipih menuju ke arah Jang Min bersimpuh di di depan Jang Min meletakkan kedua belah tangan di pangkuan suaminya yang langsung menariknya mendekat, mengecup bibir, dan setiap jengkal wajah Dara.


"Aku mencintaimu, tak akan pernah lagi ada wanita lain selain dirimu, Dara. Siapa pun dirimu, aku mencintaimu. Jika kelak kita berpisah aku pun berharap bawalah aku! Kenanglah diriku di kehidupanmu. Aku berharap Dewa masih memberikan kesempatan untuk kita bertemu lagi di duniamu. 


"Walaupun mungkin reinkarnasiku ... akan memiliki wajah berbeda, tapi aku harap, kamu masih mengenaliku. Tegurlah aku, jika aku lupa dan angkuh padamu.


"Ingatkan aku, jika aku bagian dari dirimu karena separuh aku adalah dirimu Dara. Dan aku pun tak akan pernah mencari wanita lain selain dirimu, aku akan mengembalikan Li Phin kepada Liang Si. Kelak, jika engkau pun telah pergi. Aku pun tak akan pernah bisa hidup tanpamu.


"Bagaimanapun jika aku melihat Li phin semua kenangan kita akan kembali. Namun, Li Phin tak pernah mencintaiku, kamu sangat tega Dara! Kamu bukan hanya menyiksaku, tapi Li Phin, dan Liang Si juga!" ujar Jang Min menangkup wajah Dara yang berlinang air mata.


"Maafkan aku, suamiku! Aku tidak tahu harus bagaimana? Andaikan bisa aku kembali lagi kemari dengan tubuhku sendiri atau aku bisa membawamu ke duniaku. Alangkah bahagianya!


"Namun, di sini engkau adalah seorang kaisar, Suamiku. Banyak nyawa dan orang yang bergantung kepadamu! Begitu juga dengan putra kita," jawab Dara dengan terbata-bata berulang kali ia membelai wajah suaminya dengan segenap rasa.


Jang Min meletakkan kepalanya di ceruk leher Dara, menikmati rasa yang mungkin tidak akan pernah lama lagi akan menjadi miliknya, "Sayang, bagaimanakah di duniamu?" tanyanya ingin mengetahui banyak hal, "apakah di sana banyak pria hebat dan tampan?" tanya Jang Min merasa begitu kecil dan rasa cemburu mulai mendera, "dari manakah asalmu?" lanjutnya.


Jang Min ingin mereka berdua tidak menyia-nyiakan banyak kesempatan dan banyak hal lagi. Dia ingin menikmati waktu yang terasa sesak dan sempit. Ia semakin takut jika ia bangun esok hari dan Dara sudah kembali ke dunianya tanpa menyisakan apa pun tentangnya selain sebuah kenangan dan patah hati.

__ADS_1


__ADS_2