Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 20~Pujian


__ADS_3

Sore hari, pukul delapan belas. Edwin pulang ke rumah untuk pertama kalinya. Biasanya, ia akan berangkat ke kantor pukul enam pagi dan pulang pukul sepuluh malam. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya ia pulang siang.


Sejak pertemuannya dengan Kamila, hidup Edwin lebih teratur_tak seperti sebelumnya yang terkesan cuek dan berantakan.


Sekarang, ia lebih mengutamakan kesehatan serta penampilan. Walaupun Edwin selalu terlihat bersih dan rapih, namun ia terkesan cuek dalam segi yang lain.


Mungkin, karena Edwin merasa dirinya hidup sendiri tanpa berdampingan dengan yang lain atau lawan jenis.


Bukan karena ia jelek sehingga tak disukai para wanita. Justru karena ketampanan serta kemapanan Edwin, banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hati pria tersebut. Tapi, Edwin selalu mematahkan hati para wanita dengan jawabannya. Belum cocok, alasannya.


Edwin memilih hidup sendiri karena belum menemukan wanita yang dapat menaklukan hatinya. Ia berkeinginan mendapatkan wanita yang baik dan menerima Edwin apa adanya tanpa memandang status atau kekayaan yang dimilikinya.


Banyak wanita yang mengejar Edwin Bagaskara karena statusnya sebagai CEO perusahaan besar di negri ini. Mereka tentu mengincar harta kekayaan Edwin yang jumlahnya tak terhitung itu, dan menguasai semua untuk dipamerkan kepada teman sosialitanya.


Berbagai cara dilakukan para wanita itu untuk menarik perhatian seorang Edwin. Dari yang biasa hingga yang luar biasa, yaitu merayu menggunakan tubuh mereka.


Namun, bukannya suka justru Edwin merasa jijik dengan wanita murahan seperti itu. Ia meminta para sekuriti di kantornya untuk tidak mengizinkan wanita tersebut datang lagi ke sana.


Berbeda dengan Kamila. Wanita lugu yang ditolongnya itu sangat sederhana walaupun dirinya dulu memiliki hidup mewah sebelum menikah dengan Riki.


Edwin sudah mengetahui masalah kehidupan Kamila yang pelik dan berliku itu. Namun, ia berharap jika Kamila mau menerimanya sebagai pelindung, sekaligus suami di masa depan serta ayah bagi putra semata wayangnya.


Edwin berencana menjadikan Kamila istri setelah urusan Kamila dan Riki selesai. Dia menginginkan wanita tersebut untuk menjadi pendamping hidup selamanya.


Ia juga yakin jika Kamila adalah wanita yang tepat, yang dikirimkan Tuhan untuknya.


Edwin membuka pintu bagasi dan mengambil barang yang dibelinya dari pusat perbelanjaan. Dengan hati riang, ia berjalan masuk ke rumah setelah mengucapkan terimakasih kepada sang supir.


Pak Ujang sampai tersenyum senang, sebab majikannya kini berubah secara drastis. Tidak memaksa lembur di kantor sampai pulang malam.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" Edwin mengucapkan salam ketika membuka pintu rumahnya.


Kamila yang sedang duduk di ruang televisi pun segera berdiri menyambut kedatangan Edwin. "Mas udah pulang?" diraihnya tangan Edwin untuk mendaratkan kecupan. Kamila tersenyum sembari mengambil alih tas kerja Edwin.


Mendapat perlakuan manis dari seorang wanita untuk pertama kalinya, membuat Edwin tertegun tak percaya. Ia merasa hidupnya lengkap dengan kehadiran sang pendamping. Tapi, sedetik kemudian Edwin sadar jika wanita di hadapannya itu belum sah menjadi miliknya.


Edwin pun tersenyum canggung sembari mengusap tengkuknya. "Aku ke kamar dulu!" ucapnya lembut.


Jantungnya berdetak tak karuan dengan perasaan yang sulit diartikan. Dalam hati Edwin sangat senang, tapi tindakannya tak sesuai di luar kehendak.


Ia bersikap cuek agar Kamila tak merasa jika dirinya memanfaatkan ketidakberdayaan wanita tersebut. Edwin ingin Kamila mencintainya tanpa tertekan atau paksaan sebab hutang budi.


Langkah kaki jenjang itu mengarah ke lantai atas, menuju kamarnya. Sebelum ia menaiki tangga, Edwin berhenti kembali setelah suara Kamila menginterupsi.


"Selesai mandi kita makan! Aku udah masak untuk makan kita," ujar Kamila.


Edwin menoleh ke belakang dengan perasaan gembira. Dia sungguh senang mendapatkan perlakuan baik dari Kamila. "Inikah rasanya memiliki seseorang yang memperhatikanmu?!" gumamnya dalam hati. Edwin mengangguk sebagai tanggapan.


"Pak Ujang! Jangan pulang dulu, ya. Kita makan malam bareng," ajak Kamila dengan ramah.


"Eh, tidak usah Neng! Saya teh bisa makan di rumah saja," sahut Pak Ujang tak enak.


Pria paruh baya tersebut memang tak tinggal di rumah Edwin. Pak Ujang datang pagi untuk mengantarkan majikannya ke kantor dan pulang setelah kembali ke rumah. Jam berapapun Edwin pulang, Pak Ujang pasti akan pulang setelahnya.


"Jangan gitu, ah! Aku masak banyak tadi. Jadi, Bapak harus makan bareng kami!" Kamila keukeh dengan ajakannya.


Mau tak mau, Pak Ujang pun mengangguk dengan melangkahkan kakinya ke dalam rumah, mengikuti langkah Kamila menuju ruang makan.


Kamila menyiapkan piring untuk makan bertiga, setelah menata hidangan makan malam.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Edwin turun dengan memakai celana pendek dan kaos oblong. Wajahnya terlihat sangat tampan dengan rambut sedikit acak-acakan. Kamila sampai dibuat terpesona seketika.


Tapi, wanita itu buru-buru mengalihkan pandang ke arah lain dan bersikap biasa saja sambil tersenyum kikuk.


"Silahkan duduk, Mas!" ucapnya. Edwin pun duduk di kursi yang Kamila tarik.


Kamila segera melayani Edwin dan Pak Ujang dengan telaten, layaknya suami dan ayahnya. Ia tak bersikap canggung ketika menyiapkan makanan di piring kedua lelaki tersebut.


Edwin dan Pak Ujang pun langsung menyantap hidangan yang dimasak Kamila. Seketika mata keduanya berbinar, setelah merasakan nikmatnya makanan tersebut.


"Waaah, ternyata masakan Neng Mila teh rasanya enak. Kalau seperti ini mah, Pak Ujang bakal minta nambah." puji pria paruh baya tersebut sembari terkekeh.


Edwin pun setuju atas perkataan supir pribadinya itu. Ia pun mengatakan hal yang sama karena masakan Kamila memang sangat enak dan pas di lidah keduanya.


"Ah, perasaan biasa saja, Pak! Aku baru belajar masak," sahut Kamila sungkan.


"Yang dikatakan Pak Ujang bener lho! Masakan kamu itu beneran enak. Andaikan kamu membuka warung nasi, pasti sangat laku. Iya kan, Pak?!" timpal Edwin.


Kamila tersenyum canggung, sedangkan Pak Ujang menyetujui ucapan Edwin. Kedua lelaki tersebut setuju jika masakan Kamila pasti disukai banyak orang.


"Aku tidak berniat membuka warung nasi, Mas. Sebab, masakanku ini khusus buat orang rumah saja." pernyataan Kamila sukses membuat hati Edwin kembali berbunga-bunga.


Edwin sungguh senang mendapat jawaban dari Kamila yang secara tidak langsung mengistimewakan dirinya sebagai penikmat nomor satu di rumah. Tapi, apakah maksud Kamila rumah ini? Bukan! Pasti sebelumnya ia memasak untuk suami dan kedua mertuanya di rumah Riki. Ah, hati Edwin kembali menciut mengingat fakta tersebut.


Dengan ragu, Edwin berkata. "Pasti suami dan kedua mertuamu sangat menyukai masakan mu,"


Kamila berhenti menyendok makanan seiring terhentinya gerakan mengunyah. Ia menunduk sedih, kemudian segera mendongak dengan senyum hambar. "Ini baru pertama kalinya aku masak dan kalian memuji masakan ku. Sebelumnya, tak ada yang pernah memuji masakan yang aku buat."


Edwin dan Pak Ujang saling menatap, kemudian menunduk kembali. Tanpa berkata lagi, keduanya makan dalam diam, dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mila! Hidupmu sebelumnya pasti sangat sulit, karena mereka memperlakukanmu dengan buruk. Aku janji, kamu tidak akan mengeluarkan air mata lagi setelah kita bersama." batin Edwin.


...Bersambung ......


__ADS_2