Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Curiga


__ADS_3

"Ah, Laogong! Kamu bisa saja," ucap Dara tersenyum sambil mencubit pipi suaminya.


"Kamu benar-benar membuatku tersandung dengan pujianmu!" ucap Dara senang.


"Kok tersandung sih? Seharusnya 'kan tersanjung, Sayang?" sela Liu Min cemberut.


"Hahaha, ya, maksudku ya itu. Hanya saja sedikit dipelesetkan begitu lho," balas Dara tersenyum.


"Kamu ini ada-ada saja! Tapi, aku begitu senang jika bisa membuatmu merona merah. Aku tidak tahu apakah itu karena malu atau karena dinginnya salju?" ujar Liu Min tersenyum membelai wajah cantik istrinya.


"Ah, Laogong, kamu bisa saja!" balas Dara kembali memeluk tubuh suaminya.


"Kan itu memang fakta Sayang. Jadi, aku rasa kita akan berbulan madu sekarang, sambil mengikuti perkembangan apa yang akan dilakukan para musuh kita," balas Liu Min tersenyum.


"Ingat masih luka tuh!" ucap Dara.


Ia senang dengan sentuhan suaminya, dimana tangan Liu Min sudah mulai bergerak ke sana kemari di balik baju Dara.


"Yang terluka 'kan bahu dan punggung. Ini 'kan tidak Sayang!" tukas Liu Min tanpa rasa malu sedikit pun.


Liu Min dengan santainya meraih tangan Dara dan meletakkan di bagian tubuh paling sensitif miliknya.


Dara hanya menggelengkan kepada, ia benar-benar tak habis pikir dan mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Liu Min, "Masih ada hari esok Sayang …," ujar Dara.


Ia takut jika luka Liu Min akan terbuka lagi, ia takut jika hanya karena hal-hal yang tidak begitu mendesak suaminya harus terluka lagi.


"Ya, ampun! Kamu ini, Laogong!" pekik Dara kala Liu Min sudah memeluknya dan mencium seluruh wajahnya.


"Laogong … um, kemarin yang menculikku adalah Direktur utama Wanchai-" 


"Apa? Jadi, benar apa yang dikatakan oleh Paulin. Jika Wanchai pun ada di balik semua masalah ini? Termasuk admiralku, Tan Yuan." Liu Min terdiam, ia melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


Liu Min hanya memangku Dara laksana anak kecil ia masih berpikir banyak hal mengenai masalah yang sedang mereka hadapi.


"Apakah kamu pernah bertemu dengan Wanchai selama ini?" tanya Dara penasaran.


"Ya, aku pernah menjadi pengawalnya saat kerusuhan dan bodohnya aku malah membunuh orang yang tak bersalah. Namun, setelah aku dipenjara malah mereka berusaha untuk mengirimkan pembunuh bayaran untuk membunuhku.


"Selain itu, Admiral Tan Yuan pula yang merekomendasikan diriku untuk masuk ke dalam misi ini. Ya, jika aku mati maka usai semua masalah bukankah begitu? Dan namaku juga menjadi lebih bagi bak seorang pahlawan walau sebagai anumerta.


"Dan kejahatan mereka pun lenyap dengan kematianku. Skenario yang sangat baik dan rapi sekali," ucap Liu Min.


Dara memandang suaminya dengan rasa prihatin, tetapi ia sendiri pun tidak tahu harus berkata apalagi. Kenyataan yang mereka hadapi benar-benar sangat tragis dan memprihatinkan.


Dimana mereka berharap dan bergantung kepada atasan yang mereka anggap adalah orang yang sangat baik hati ternyata tidak sesuai dengan bayangan mereka.


"Sayang, bagaimana jika kita ke luar besok malam. Tapi, aku rasa sekarang musim salju. Lihatlah, serpihan salju sudah memenuhi permukaan sumur," balas Dara.


Ia menunjuk ke arah gundaukan salju yang sudah menggunung. Liu Min memperhatikan ke arah tumpukan salju tersebut.


"Aku hanya tahu jalan itu, aku tidak tahu dengan jalan lain lagi Laogong." Dara berdiri menatap ke arah langit ia mencari sela untuk jalan mereka ke luar dari dalam sumur yang sudah tertimbun oleh salju.


"Apakah permaisuri Zhedong dulunya tidak mengatakan ada jalan lain?" tanya Liu Min bingung.


"Tidak aku tidak sering kemari Laogong, tugasku sebagai permaisuri kekaisaran lebih banyak daripada sekedar bermain-main. Pada masa itu kita selaku saja menghadapi perang," balas Dara.


Keduanya saling diam, berusaha untuk berpikir banyak hal. Liu Min mendengar gemercik air dari dalam kolam di mana mereka biasa mandi. Ia tersenyum, ia mendapatkan sebuah ide.


"Laopo, apakah kamu pernah tahu ke mana aliran air itu mengalir?" tanya Liu Min pada Dara yang menatapnya.


"Um, aku tidak tahu. Sebaiknya kita mencari tahu bukankah begitu, Laogong?" balas Dara.


"Ya, kamu benar kita akan mencari tahu nantinya, aku rasa kita akan mencari jalan untuk itu Laopo," ucap Liu Min.

__ADS_1


"Baiklah, untuk sementara kita pulihkan saja dulu lukamu, Laogong. Nanti jika sudah pulih kita akan mencari tahu. Aku tidak ingin lukamu akan kembali kambuh dan tidak sembuh benar. 


"Aku akan sedikit kesulitan untuk mencari obat sementara kita tidak tahu ke mana jalan keluarnya untuk mencari obat lagi. Salju sudah menutup semua permukaan tumbuhan obat-obatan," papar Dara.


Keduanya kembali saling diam, yang terdengar hanyalah suara gemercik air. Sementara tumpukan salju semakin banyak di permukaan sumur di depan mereka.


Laopo, kemarilah sebaiknya mendekatkan di sisiku. Aku tidak ingin kita saling berjauhan dan terpisah lagi, itu sangat mengerikan." Liu Min mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Dara.


Dara mengambil selimut tebal dari dalam lemari dan menyelimuti tubuh mereka berdua. 


Keduanya saling pandang kemudian menatap langit-langit gua. Keduanya saling diam dan berpikir dengan pikiran masing-masing, yang terdengar hanyalah musik dari suara gemericik air dari pancuran di kolam di samping lorong gua mereka.


"Laopo, apakah kamu tidak menyesal menikah denganku?" lirih Liu Min.


Suara bisikan Liu Min bergema di dalam ruangan tersebut memantul bak sebuah suara merdu.


"Tentu saja, tidak! Aku malah menikah denganmu Laogong. Aku mohon jangan pernah mengungkit atau pun berpikir mengenai masa lalu, itu tidak ada baiknya.


"Kebahagiaanku adalah saat bersamamu. Percayalah, aku sangat bahagia di sisimu dulu dan sekarang. Tiada yang lebih indah lagi di kehidupanku selain bersama denganmu, Laogong." Dara memutar tubuh menghadap pada suaminya.


"Terima kasih, Laogong. Jika semua ini usai kita memulai kebahagiaan dan hidup normal seperti kebanyakan orang.


"Apakah kamu mau tinggal di Indonesia maupun di sini, itu tak masalah bagiku. Aku hanya berharap kita berdua selalu saja bahagia di dalam menjalani kehidupan ini," balas Liu Min.


Liu Min membelai wajah cantik istrinya yang melingkarkan sebelah tangan ke pinggang Liu Min. Keduanya saling tatap dan tersenyum, keduanya benar-benar merasakan kebahagiaan.


"Laogong, aku masih tak mengerti. Apakah Wanchai dan Guangzhou memiliki kerja sama begitu? Lalu, Paulin juga … bukan orang Tiongkok asli. Aku rasa jaringan ini semakin meluas.


"Apalagi Wanchai ingin menculikku hanya karena ia ingin aku mengambil pedang naga hijau. Apakah itu tidak aneh?" tanya Dara.


"Apa?! Jadi …tujuannya untuk menculikmu adalah pedang itu begitu?" tanya Liu Min tidak percaya.

__ADS_1


"Ya, itulah yang dikatakan oleh Axiang, selain itu, Axiang sangat mirip dengan perdana menteri Qin Chai Xie. Benar-benar suatu kebetulan yang sangat luar biasa dan mencurigakan," balas Dara.


__ADS_2