Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Khawatir


__ADS_3

Dara hanya mampu menatap Liu Aching, ia tak tahu harus berkata apalagi, "Ooo, begitu. Lalu, apakah kalian tahu mengenai, mengapa Liu Min sampai dipenjara?" tanya Dara penasaran.


Liu Aching menatap ke arah Dara dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, "Aku tidak tahu banyak soal hal itu, Dara. Aku hanya tahu, jika Amin terlalu mengedepankan emosi dan dia melanggar HAM," ujar Liu Aching.


Aching membalik bebek Peking dengan sumpit besar dengan begitu mudah dan sangat luar biasa cekatan, ia menatap ke arah Dara dan tersenyum.


"Tapi, aku rasa jika Amin melakukan hal itu karena dia memiliki alasan lain. Namun, hukum adalah hukum. Ya, begitulah. 


"Percayalah, tak akan mungkin Liu Min akan melakukan kejahatan dan pembunuhan jika ia merasa musuhnya adalah orang yang pantas untuk mati.


"Liu Min adalah orang yang lembut di balik tampang keras kepala dan dinginnya. Aku terkejut, dia bisa menyayangimu melebihi keluarganya sendiri." Liu Aching memotong bebek Peking secepat kilat membaginya ke mangkuk-mangkuk, menyusunnya di meja makan.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti!"


"Maksudku, selama ini ia paling anti dengan yang namanya wanita. Bahkan, kami tidak pernah mengetahui jika Amin pernah berkencan dengan salah satu wanita.


"Kamu adalah wanita pertama yang dibawanya ke rumah, Dara. Aku senang Amin menemukan wanita yang tepat, yang bisa menyayangi dan mengasihi juga menerima segala kekurangannya," ujar Liu Aching.


Liu Aching menepuk pipi Dara sekilas bak seorang kakak terhadap adiknya, "Jika dulu akulah yang selalu menyemangatinya tapi, sekarang dialah yang selalu menyemangatiku," batin Dara tersenyum bahagia.


Dara merasakan kebahagiaan kala bersama Liu Aching. Ia sangat ingin bertemu dengan Liu Amei, ia penasaran bagaimana lagi rupa Liu Amei.


Dara terdiam, "Lihat, masakan kita benar-benar sangat lezat dan luar biasa enak!" ucap Liu Aching ingin mengalihkan pembicaraan.


Liu Aching memanggil semua orang untuk makan malam, semua makan dengan kebahagiaan dan tawa juga canda. Malam hari di bawah sinar bulan purnama, Dara duduk di bawah rembulan.


"Apakah Aching masih bisa bermain suling?" batin Dara penasaran.


Ia mengingat lagi indah yang dinyanyikan oleh Li Phin, "Aku terlalu berpatokan pada masa lalu," keluhnya.


"Hei, Cantik! Apa yang kamu pikirkan?" tanya Liu Min duduk di sisi Dara membawa minuman kaleng. Ia sengaja merebahkan kepala di pangkuan Dara menikmati malam purnama.


"Dara, apakah kamu menyadari jika saat di gurun Jinjing kita berdua pingsan, kamu tahu. Aku merasa berada di tengah pertempuran dan membunuh banyak orang. 


"Itu sangat mengerikan sekali! Apakah itu artinya aku pun telah banyak membunuh dulunya Dara?" tanya Liu Min sedikit cemas.

__ADS_1


"Amin, kamu hanya membunuh musuhmu. Bukan orang yang tidak layak dibunuh. Kamu sangat baik sebagai seorang kaisar dan suami juga sebagai seorang sahabat kamu sangat luar biasa baik Amin," balas Dara membelai rambut Liu Min.


"Benarkah? Apakah kamu dulu sangat mencintaiku? Atau … aku bagaimana bisa aku mencintai Li Phin sementara ada jiwa lain di tubuh Li Phin," ujarnya sedikit bingung.


"Awalnya kamu memang mencintai Li Phin mungkin tapi lambat lain rasa cintamu hanya terpatri padaku," balas Dara.


"Aku sangat beruntung jika begitu, bukan?" balas Liu Min tersenyum, "Sekarang pun aku sangat mencintaimu, Dara. Aku rasa kita akan segera menikah saja, lagian aku sudah berjanji pada Ibu Ningrum untuk selalu menjagamu," lanjutnya.


"Sayang, aku terserah kepadamu saja bagaimana baiknya," balas Dara tersenyum.


"Terima kasih Sayang, kita tinggal menunggu Cece Amei dan Ko Ahim, saja. Aku rasa mereka pun akan sangat bahagia dengan melihat kamu," ujar Liu Min.


Liu Min merasa Dara adalah kandidat yang sangat luar biasa. Ia sangat yakin jika Liu Amei akan menyukai Dara.


" Mengapa kamu begitu yakin jika Cece Amei akan menyukaiku, Amin?" tanya Dara bingung.


"Karena sifat kalian yang hampir mirip. Terkadang sifat kalian itu membuat aku semakin kacau," ujar Liu Min jujur.


"Maksud kamu?!"


"Cece Amei sangat mengasihiku dan menyayangiku tapi karena sifatnya yang keras ia selalu saja seperti dirimulah bagaimana … kamu tahu sendiri," ujarnya.


Membuat Liu Min memencet hidung Dara dengan penuh kasih sayang.


Helaian bunga persik masih bergurhuran tertiup angin musim gugur. Liu Min dan Dara saling diam mereka berdua merasakan sesuatu hal yang berbeda, namun keduanya hanya diam saja. 


Kini mereka berdua selalu merasakan sesuatu yang selalu memanggil mereka untuk datang ke arah Barat.


"Liu Min, Barat adalah Hunan atau Chang An bukan?" tanya Dara penasaran.


"Ya, ada apa?" tanya Liu Min penasaran.


"Bukankah Pedang Naga Hijau berada di sana?" tanya Dara penasaran.


"Apakah itu artinya arwah pedang itu masih hidup hingga zaman ini? Hahaha kamu lucu sekali Dara. Ini zaman modern, bagaimana mungkin?" sanggah Liu Min.

__ADS_1


Namun, melihat keseriusan yang diperlihatkan oleh Dara membuat Liu Min terdiam, "Jadi, kamu merasa semua itu adalah benar adanya begitu?" tanya Liu Min pada akhirnya.


"Ya, aku rasa itu adalah benar adanya. Liu Min menurutmu, apakah tidak sebaiknya kita ke sana?" tanya Dara.


"Aku ingin tapi sebaiknya kita menantikan Cece Amei untuk mengetahui kelanjutan dari Guangzhou, aku tidak ingin mereka akan sangat mudah mengenali kita Dara," ucap Liu Min. 


"Sayang, aku ingin … melihat segalanya. Kamu tahu Liu Aching malah mirip dengan Permaisuri Li Phin. Apakah kamu tidak menyadarinya? Dan Liang Bo sangat mirip dengan Liang Si," ujar Dara.


"Benarkah?!" 


"Ya, aku aku semakin penasaran apakah arwah dari pedang naga hijau benar-benar nyata begitu?" ujar Dara.


Liu Min bangun dari tidurnya dan duduk menatap langit, "Dara, aku semakin takut. Apakah mungkin kita akan tewas juga nantinya?" ucap Liu Min.


"Aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi suatu saat nanti, semoga saja kita bisa menghancurkan Guangzhou. Walaupun mungkin nyawa kita taruhannya," balas Dara.


Liu Min terdiam, "Karena kamu bilang demikian maka aku rasa, aku jadi pengen cepat nikah! Aku tidak mau jika kelak meninggal perjakaku sia-sia dimakan oleh cacing tanah," ujar Liu Min.


"Ish, kamu genit banget!" balas Dara mencubit lembut pinggang Liu Min. 


Cubitan Dara membuat keduanya berlarian mengitari taman persik yang sedang menggugurkan bunganya dengan indah.


"Ah, Dara. Ampun! Apa yang aku bilang 'kan benar adanya? Jika kamu masih sempat mengingat dan merasakannya. Lha, diriku? Jangankan merasakannya hanya membayangkan saja. Ampun!" ucap Liu Min menepuk jidatnya 


"Dasar Liu Min genit!" umpat Dara gemas.


Keduanya tertegun kala melihat sepasang suami istri sedang melihat keduanya berkejaran dan tertawa di taman samping rumah.


"Cece!" teriak Liu Min menghampiri seorang wanita yang mirip sekali dengan Tan Jia Li dengan rambut pendeknya mirip lelaki.


"Titi (adik)!" teriak Liu Amei berlari melemparkan tubuhnya ke pelukan Liu Min. Ahim dan Dara hanya mengawasi kedua adik kakak yang saling mengusap lembut rambut masing-masing.


"Aku kira kejutan yang akan diberikan oleh Liang Bo dan Aching apa? Ternyata dirimu, dasar!" umpat Amei tersenyum.


"Cece aku baik-baik saja!" balas Liu Min.

__ADS_1


"Wah, aku kira selama ini kamu gay, ternyata kamu pria sejati," 


"What?!"


__ADS_2