
Namun, Liu Min tidak mendapatkan kelemahan itu, Liu Min tersenyum lega,
"Syukurlah, aku mengira jika Admiral Tan Juan benar-benar menjadi pengkhianat!" batin Liu Min, "lalu siapa pria ini?" batin Liu Min penasaran.
"Jika benar Tuan Tan Juan seorang pengkhianat, itu akan mematahkan semua perasaan anak buah yang mencintainya. Selama ini kami begitu menghormati jiwa patriot dan keadilan yang selalu ditanamkan oleh Admiral," batin Liu Min.
Liu Min masih memandang ke arah Tan Juan di depannya, ia penasaran. Ia berusaha untuk melihat kejanggalan di wajah admiral palsu tersebut. Namun, ia tak melihat kejanggalan itu.
"Ilmu teknologi benar-benar merepotkan jika dibuat untuk kejahatan," batin Liu Min.
Ia langsung secepatnya menarik wajah pria tersebut, ia segera meremas, mencubit, dan menarik wajah pria itu, tetapi ia tak menemukan ada topeng atau sejenisnya di sana.
"Mengapa tidak lepas? Apa yang mereka gunakan? Apakah mereka menggunakan operasi wajah? Tapi,mengapa bisa begitu pas," batin Liu Min, ia tak mempercayai semua itu.
"Hahaha, apakah kamu mengira jika aku memakai topeng, begitu? Apakah kamu tidak yakin jika aku adalah Tan Juan?" tanya Admiral tersebut dengan tersenyum bahagia.
"Siapa kau?"
"Aku adalah Admiral Tan Juan! Apakah kau tidak mengenali atasanmu sendiri? Dasar pengkhianat!" hina pria tersebut, Tan Juan tersenyum menyeka darah yang menetes di bibirnya.
"Apakah kamu tidak salah melontarkan kata-kata itu padaku? Bukankah seharusnya aku yang pantas mengucapkan kata-kata itu padamu," ketus Liu Min.
"Hahaha, aku hanya mencoba untuk membuat keadilan, kau tahu … semua ini sangat mengerikan
"Jika kamu memang benar Tan Juan yang asli, aku ingin bertanya. Siapakah wanita yang paling kau cintai?" tanya Liu Min.
"Hahaha, aku lupa siapa wanita yang aku cintai! Itu tak perlu bagiku," ucapnya tersenyum, "bagiku yang penting adalah aku bisa membawa perubahan pada negara dengan mendukung Wanchai," ujarnya.
"Apakah kau tahu jika Wanchai adalah Guangzhou?" tanya Liu Min.
"Hahaha, tak penting bagiku. Sekarang, jika kau masih ingat sumpahmu maka kembalilah kepada kesatuanmu. Dukunglah kami," ujar Tan Juan.
"Tak akan pernah, itu sama saja aku menjadi pengkhianat!" balas Liu Min,
__ADS_1
"baiklah, jika benar demikian berarti kamu bukanlah Tan Juan yang asli. Aku tak akan pernah menyesal jika aku harus membunuhmu," balas Liu Min.
Ia langsung melesat secepatnya menerjang Tan Juan dengan kecepatan dan kekuatan penuh memukul wajah dan menendang kaki.
Tan Juan kewalahan dan menarik sangkur ingin menikam dada Liu Min tetapi Liu Min langsung menghindar dan langsung menangkap tangan Tan Juan mematahkan, secepatnya mengambil sangkur yang jatuh ke tanah, kras! Sangkur langsung mendarat di dada Tan Juan.
Liu Min menarik dengan cepat sangkur hingga darah merembes dari luka. Liu Min menarik baju dan tangan kiri Tan Juan ia melihat jika ia bukanlah atasannya.
"Siapa kau?" tanya Liu Min, "jika kau mengatakannya aku tak akan membunuhmu!" ujar Liu Min.
"Aku … adalah …," si pria yang menyamar menjadi Tan Juan langsung menghembuskan napas.
Liu Min melihat tato naga merah di dada si pria tersebut, ia menarik sangkur dang menyelipkan ke balik baju.
Liu Min berlari secepatnya menuju mobil patroli yang masih utuh dari ledakan, ia langsung mengemudikan menuju ke Museum Hunan.
***
"Sialan! Jika aku memiliki sebuah granat saja," keluh Liu Amei.
Ia melihat Liu Min terlah meninggalkan medan tempur menuju ke Museum Hunan. Ia sedikit bernapas lega.
"Ako, apakah kalian baik-baik, saja?" tanya Liu Amei, ia melihat suami dan adik ipar juga dokter terbaik di Hunan masih saja menembak musuh.
"Kami baik-baik, saja! Tapi kami tidak bisa terlalu lama menahan mereka Amei!" ujar Ahim, ia masih terus memberondongkan senjata ke arah musuh.
"Baik, cobalah untuk bertahan. Aku akan memikir cara untuk menghancurkan musuh," balas Liu Amei.
Liu Amei melihat deretan mobil di belakang musuh di antara persembunyian musuh, ia mengukur kecepatan dan jarak tembak dari pistolnya yang terbatas.
"Sial! Andaikan aku memiliki senjata M-60 ini sangat luar biasa," batinnya, ia memeriksa jumlah peluru yang hanya tinggal dua butir lagi.
Ia melihat jika persediaan amunisinya telah habis, ia ingin meminta pada suami dan iparnya tetapi jarak mereka sangat jauh dan rawan dengan serangan.
__ADS_1
"Aku tidak yakin jika mereka bisa melindungiku, andaikan Liu Min dan Dara ada, aku tak akan terlalu kesulitan," batin Liu Amei.
Ia melihat jalan keluar dari kesulitannya, "aku berharap dengan jalan ini aku bisa menghancurkan basis kekuatan musuh," batin Liu Amei cepat.
Ia berlari dengan mengendap-endap dari satu mobil ke mobil yang lain diantara ledakan dan api yang terus menganga.
Liu Amei melihat celah, ia langsung menembak tangki bahan bakar salah satu mobil di belakang para musuh yang terus menembak ke arah suami dan iparnya.
Dor! Duar! Duar! Duar!
Tembakan yang diluncurkan oleh Liu Amei, langsung membuat ledakan beruntun pada mobil yang berjejer di belakang musuh membuat musuh harus keluar dari persembunyian untuk menyelamatkan diri. Liu Amei melesat memukul salah satu anak buah naga merah dan merebut senjata apinya.
Liu Amei langsung menembak musuh membuat sedikit jalan untuk mereka kabur, hingga bala bantuan dari kepolosan dan bantuan dari intelijen negara datang.
"Kalian bereskan semua kekacauan, kami akan ke Kota Jinjing. Jika sudah selesai kalian menyusul, aku akan menghubungi bagian kepolisian Kota Jinjing!" perintah Liu Amei.
"Baik, Bu!" balas semua bawahannya.
"Ayo!" teriak Liu Amei memutar mobil ke arah suami, Liang Bo, dan Luo Kang.
Ketiganya langsung masuk ke dalam mobil mewah milik salah satu polisi, Liu Amei memasang sirine di atas kap mobil. Deru sirene membahana membelah pagi hari yang penuh dengan darah dan asap dari ledakan juga api yang menyala.
Liu Amei langsung melesat ke kota Jinping. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu menelepon ke sana kemari untuk bersiaga di kota Jinping.
***
Sementara Dara telah berada di depan museum, bersama dengan Quino dan anak buahnya. Quino menggiring Dara untuk masuk dengan kartu VIP dari museum.
"Sial, ternyata mereka memang sengaja membuat museum ini untuk menjaga pedang naga hijau. Jangan-jangan semua kekayaan dari Kekaisaran Donglang, dimanfaatkan dan digunakan oleh Guangzhou untuk kepentingannya," batin Dara.
Dara terus digiring ke lorong menuju ke ruangan yang kedap suara dan ruangan yang penuh dengan laser. Quino mematikan laser tersebut untuk memudahkan Dara menuju ke arah pedang naga hijau di tengah ruangan.
Rasa kerinduan Dara menue tuh pedang itu begitu besar, "Apa kabarmu Naga Hijau! Aku merindukanmu! Sayangnya, Li Phin tak lagi bersama kita," ujarnya, "apakah kau tahu jika Li Phin terlahir sebagai Liu Aching?" lirih Dara di dalam telepati mencoba untuk berbicara pada arwah pedang naga hijau.
__ADS_1