Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Kekuatan Sebuah Ciuman


__ADS_3

"Sial!" umpat Dara dan Liu Min, "mereka dengan mudah mengetahui keberadaan kita!" lanjut Dara menahan geram.


"Hanya orang bodoh yang tidak tahu, jika ledakan di dermaga terjadi maka pasti ada yang menyusup kemari," ujar Liu Min santai.


"Kau! Apakah kau sengaja melakukan semua trik ini?" tanya Dara curiga.


"Jangan curiga dulu, kamu tahu … jaringan sindikat narkoba tidak akan pernah meninggalkan anak buah mereka di dalam keadaan hidup.


"Jika sudah memasuki sindikat jaringan  narkoba, hanya kematianlah yang bisa melepaskan kontrak darah dengan mereka, walaupun itu tidak tertulis," balas Liu Min santai.


"Jadi kau benar-benar memancing mereka agar mengetahui semua ini?" tanya Dara.


"Tentu saja! Aku tidak mau selalu menjadi kambing hitam, aku sudah meminta temanku seorang cyber di Hongkong untuk menyiarkan semua ini, secara langsung ke belahan mana pun." Liu Min masih menatap arah kabin demi kabin di depannya dan bersiap menembak siapa saja yang berusaha untuk membunuh mereka berdua.


Mereka mendengar derap langkah kaki dari arah dua koridor yang mengarah ke arah mereka di koridor sempit membuat mereka berdua terjebak di sana.


Liu Min melemparkan bom asap hingga asap memenuhi ruangan. Dor! Dor!


Dara dan Liu Min menembak mereka hingga musuh berjatuhan. Keduanya melesat secepatnya menuju ke arah ruangan kapal yang agak besar, kembali  menembak semua musuh di sana.


"Liu Min aku akan ke arah sana dan kamu ke sana!" ucap Dara.


"Baik berhati-hatilah, Sayang!" balas Liu Min.


Ia menarik tangan dan tubuh Dara di koridor sempit. Mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Dara, "jika kau mau marah, marahlah nanti. Aku ingin mengambil kekuatanku!" tukas Liu Min.


"Apa? Ada-ada saja, alasanmu Liu Min. Aku baru mendengar jika ada sebuah ciuman sebagai simbol kekuatan," umpat Dara kesal.


"Tentu saja, pergilah Sayang. Jangan lupa ingat aku," balas Liu Min tidak peduli dengan mengedipkan sebelah matanya.


Dara terkesiap dan tersenyum dengan manis, "Kamu juga!" ujar Dara melesat berlari ke arah kanan.

__ADS_1


Dara hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tak ingin bertengkar lagi, "Menyelamatkan Jenny dan Jovich lebih utama daripada ribut hanya karena sebuah ciuman!" umpat Dara ngomel sambil melesat pergi.


Liu Min hanya tersenyum melihat pemilik hatinya mengomel, "Andaikan kamu tersenyum setiap hari betapa bahagianya aku!" batin Liu Min, ia pun berlari ke geladak sebelah kiri.


Liu Min memasuki sebuah ruangan, "Heh! Aku tak menduga kita bertemu di sini Liu Min," sapa Solano yang duduk di kursi dengan menyilangkan kaki seakan ia menunggu Liu Min.


Liu Min melihat sekilas ruangan dengan cepat nalurinya yang menuntunnya untuk melakukan hal itu, "Jovich …." lirihnya.


Sementara Jovich sudah tidak memakai apa pun di tubuhnya selain segitiga pengaman yang melindungi harta pusakanya.


Sekujur tubuhnya penuh dengan luka dengan kedua tangan terikat ke atas langit-langit geladak kapal lantai atas. 


Bercak darah di mana-mana, "Liu Min, kaukah itu? Hahaha, akhirnya apa yang aku katakan Solano! Kau akan mampus sialan!" teriak Jovich puas.


Dor!


Secepat tangannya bergerak ia langsung nembak tali yang mengikat tangan Jovich hingga Jovich jatuh terkulai ke lantai.


"Hai, Bro! Maaf aku telat!" sapa Liu Min.


"Hahaha, kau pikir aku segila itu Jovich. Tak kusangka begitu mudahnya, menjebak dirimu. Ckckck," balas Solano senang, "dan kini, aku berhasil menangkapmu juga Liu Min.


"Betapa beruntung dan bahagianya Pablo dan Guangzhou," ujar Solano.


"Ya, aku sangat beruntung mengambil misi ini. Aku ingin sekali memecahkan isi kepalamu," balas Liu Min marah. 


"Hahaha, aku bukanlah Tiger yang bisa kau bunuh dengan begitu mudah!" tantang Solano.


"Ayo, coba saja!" balas Liu Min.


Dor!

__ADS_1


Sebuah peluru bersarang di kaki Jovich, "Hahaha, bunuh dia untukku Liu Min!" ujar Jovich geram ia berusaha untuk membuka ikatannya.


Kala Solano ingin menembak tubuh Jovich, dor! Liu Min langsung menembak pistol Solano hingga jatuh.


"Bajingan kau! Kau benar-benar ingin membunuhnya? Kau pasti tidak menduga jika Jovich begitu hebat bukan? Tidak secuil pun dia membuka rahasia kami." Liu Min memandang tubuh Jovich yang bergelung dengan darah menetes di kakinya.


Sebersit kemarahan dan kebencian mulai meledak di jiwa Liu Min, "Ayo, tantang aku Liu Min oh, bukan ... Liu Peter. Tidak usah menggunakan senjata.


"Aku dengar kau membunuh Tiger hanya dengan sumpit bukan?" tanya Solano.


"Ayo, siapa takut!" balas Liu Min membuang pistolnya dan langsung menerjang ke arah Solano yang langsung menghindar dan mendaratkan pukulan telak di punggung Liu Min namun Liu Min berusaha untuk kembali berdiri dan menyerang Solano.


Perkelahian sengit terjadi masing-masing berusaha untuk menjatuhkan lawan dengan kekuatan masing masing, "Menyerahlah kau Liu Min!" ujar Solano memukulkan tangan dan kras dari balik tangan Solano tersimpan pisau yang sudah dimodifikasi hingga melukai bagian dada Liu Min.


Solano melihat darah yang menetes dari pisau, "Hehehe, ck. Aku baru tahu kau memang benar-benar iblis seperti yang kudengar!" balas Liu Min membuka Bajunya dan mengikat pada luka yang sedikit menganga.


"Hahaha, sudah aku bilang. Aku bukanlah Tiger bersaudara! Ayo, jika kau masih penasaran denganku!" ujar Solano menggerakan kaki kanannya ke belakang seakan ia menggunakan jurus yang sangat aneh.


"Aku seperti mengenal jurus itu. Tapi di mana?" batin Liu Min.


Ia lupa jika itu salah satu jurus Lu Dang racun perontok sukma. "Hyat!" Solano berteriak dan kembali menyerang Liu Min yang langsung melompat ke udara dan memukulkan tendangan, tepat di kepala Solano dan kembali mendarat di lantai kapal dan berjongkok dengan menyabetkan kaki memukul kaki Solano hingga ia terjerembab.


"Bajingan! Ternyata kau sangat hebat!" ujar Solano melompat bangkit dan kembali menyerang Liu Min yang langsung bergerak secepatnya ingin menggunakan pisau rahasia yang tersembunyi di selipan tangan dan sepatu PDL miliknya.


Trang! 


Liu Min menangkis dengan salah satu kursi, "Sudah kuduga Solano. Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya." Liu Min tersenyum kala pisau di kaki Solano mendarat di meja yang digunakan tameng oleh Liu Min.


Dor! 


"Sorry, aku malas buang-buang waktu!" balas Liu Min mendaratkan beberapa kali tembakan ke dada Solano, "itu untuk Jovich!" lanjutnya.

__ADS_1


Liu Min berlari ke arah tubuh Jovich yang sudah terkulai tak bernyawa, "Maaf, Jovich! Aku terlambat!" balas Liu Min, ia mengikat luka dan memapah tubuh Jovich ke luar kabin.


Sementara Dara mencari Jenny dan bertemu dengan Paulin, "Oh, Jenny!" ujar Dara mendekati Jenny yang berada di sebuah kurungan di sebuah kabin.


__ADS_2