
Kamila termenung di teras rumah sambil menggendong putranya. Dia sesekali melongokan kepala untuk melihat kedatangan seseorang.
Saat orang yang ditunggu sudah terlihat, Kamila pun langsung keluar untuk menemuinya.
"Bang. Sayur!" panggil Kamila kepadanya sambil melambaikan tangan.
Dengan cepat, kang sayur menghampiri. "Saya orang mbak, bukan sayur!"
Kamila meringis sambil terkekeh. "Maksud saya, beli sayur." Ia cengengesan menanggapinya.
"Hehehe, kagak ape, Mbak! Orang saya bercande, kok! Memang kebanyakan gitu, salah sebut. Saya mah udah biase," sahutnya ramah.
Baru berhenti di depan rumah Edwin, ibu-ibu langsung berkerumun.
"Bang Juki, dipanggil dari tadi kagak nyahut. Tahunya malah berhenti di mari." kata salah satu ibu.
"Iya ih, si Abang mah gitu! Giliran yang cantik manggil, langsung disamperin." para ibu-ibu itu melirik Kamila yang sedang ikut memilih sayur.
Mereka saling pandang, kemudian menunjuk Kamila menggunakan dagu.
Salah satu dari mereka mendekat sambil tersenyum. "Mbak istrinya pemilik rumah ini ya!" serunya kepada Kamila.
Kamila hanya tersenyum bermaksud menggelengkan kepala, namun mereka menyela.
"Walaupun kita satu komplek, tapi kita jarang liat si Mas nya, karena setiap hari dia berangkat pagi pulang malam. Gak ada kesempatan untuk bertemu. Kira-kira, wajahnya seperti apa ya?" Mereka saling melempar pandangan.
"Pasti tampan lah. Lihat, putranya saja tampan dan lucu seperti ini!" ujar si ibu yang bernama Neli.
"Iya. Ibunya cantik dan ayahnya tampan, tentu putranya juga tampan." mencolek pipi si kecil dengan gemas. "Lucunya ya!" serunya antusias.
Kamila hanya tersenyum kikuk tak tahu harus berkata apa. Mereka terus tersenyum saling menyenggol, dan sesekali mencolek bayi yang digendong Kamila.
"Mm ... Bang. Saya mau ambil ayam sekilo, kangkung satu ikat, tempe sepotong, sama bahan buat sambal komplit!" kata Kamila kepada bang Juki.
"Baiklah, Mbak! Abang bungkusin ye," Bang Juki langsung memasukan barang yang di minta Kamila kedalam kantong kresek sambil menghitungnya. "Semuanya jadi lima puluh enam ribu lima ratus, Mbak!" kata si Abang sambil menyerahkan barang belanjaan Kamila.
Kamila menerima barang tersebut dan menyerahkan uang sejumlah enam puluh lima ribu. "Sisanya minta garam sama penyedap ya, bang!" kata Kamila
"Ini, Mbak. Terima kasih, ya!" ucap Bang Juki tersenyum.
"Sama-sama! Mari semuanya," ucapnya ramah.
__ADS_1
Setelah selesai belanja, Kamila kemudian melangkah masuk ke dalam rumah lagi, dan tak lupa menutup pintu pagar.
Ia tersenyum sambil sedikit mengangguk kearah para ibu-ibu yang berjejer mengerumuni gerobak Bang Juki si tukang sayur, sebelum benar-benar menutup pintu pagar.
Selepas kepergian Kamila, para ibu-ibu itu langsung berceloteh ria. "Saya baru liat dia sekarang. Apa dia baru dateng kesini?" celetuknya kepada yang lain.
"Mungkin! Saya juga baru liat," timpal yang lain.
"Cantik ya, glowing. Walaupun sederhana, tapi keliatan elegan banget dari cara berpenampilan nya." salah satu lagi berkomentar.
"Iya. Eh tapi, ada yang pernah lihat si Mas pemilik rumah ini gak? Wajahnya seperti apa sih?" Yang lain bertanya dengan penasaran.
"Enggak. Tapi denger-denger ya, dia katanya ganteng banget!" perkataan salah satu ibu itu membuat ibu-ibu yang lain antusias.
"Waaahh, seganteng apa ya dia?" mata mereka berbinar membayangkan ketampanan si pemilik rumah yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Pasti sekelas Joe Taslim. Gagah ... macho ... dewasa banget ... huaaa!" pekik si ibu muda.
"Ku pikir seperti Rezky Aditya. Ganteng dan imut. Lihat saja anaknya tadi, imut kan!" timpal yang lain lagi.
"Ah, pasti seperti Baim Wong. Tadi matanya agak sipit kan!"
"Kenape malah pade mengkhayal sih, Bu-Ibuuu. Kagak liat ape, di depan kalean ade nyang lebih ganteng dan macho ketimbang mereka pade!" Bang Juki memasang mode narsisnya.
Dia bergaya ala Cover Boy dengan mengangkat satu tangan kiri seperti memperlihatkan otot lengan yang padahal gak ada ototnya, alias datar. Satu tangan lagi dia pajang di wajah dengan jempol di pipi dan telunjuk di bawah dagu sambil mendongakkan wajahnya.
Sontak ibu-ibu mendelik sambil mulutnya mencong mencibir Bang Juki. "Iiiyyyy, pede abis nih Bang Juki." si ibu melemparkan kacang panjang yang dipegangnya tadi ke dasaran gerobak.
"Lah emang aye ganteng kok, Bu! Buktinye, bini aye kesemsem ame ketampanan dan ke setia'an aye!" ucapnya bangga.
"Lah itu bininya Bang Juki. Kalo yang lain ya belum tentu," kata Bu Nisa. "Udah ah, saya mau beli ikan mas aja sekilo. Nih uangnya!" menyerahkan uang pas kepada Bang Juki, kemudian pergi. "Duluan ya, Ibu-Ibu!" Dia pun melangkah pergi.
Sepeninggalan Bu Nisa, ibu-ibu itu masih saja ngerumpi di gerobak si Abang Juki.
"Saya gak tahu mereka nikahnya kapan. Gak denger ada rame-rame di rumah ini. Padahal rumah saya pas di sampingnya," tutur Bu Ambar.
"Mungkin nikahnya di tempat pihak cewek, Bu. Kan biasanya gitu,"
"Kalau cowok emang gitu, Bu. Gak ketahuan kapan nikahnya, tahu-tahu udah bawa istri sama anak saja. Jangan heran!"
"Mending kalau mereka punya anak sah. Kalau istrinya hamil duluan, apa jadinya coba?"
__ADS_1
"Iiihhh, saya mah amit-amit deh!" Bu Ambar mengetuk-ngetuk kepalanya sedikit.
Mereka terus mengobrol sambil memilih sayur. Sesekali mulutnya pada menceng-mencong kalau sedang mencibir orang.
Menggunjing orang di pagi hari memang bikin nagih dan sudah biasa dikalangan ibu komplek yang rempongnya luar biasa seperti mereka.
Karena mereka hanya mengobrol sambil ngacak-ngacak barang dagangan tanpa membeli, Bang Juki pun jadi marah sekaligus kesal.
Brakk
Meja gerobak dipukul keras sampai mereka terlonjak kaget.
"Whoaaa!" mereka berteriak sambil menjauh sedikit dari gerobak Bang Juki.
"Apaan sih Bang, bikin kaget aja!" seru mereka.
"Kalian ini mau belanja atau mau ngegosip? Aye harus ngider lagi ke komplek sane. Pelanggan banyak yang nungguin!" kata bang Juki kesal.
"Ish si Abang, telat dikit kagak ape lah bang!" elak mereka.
"Kagak ape pegimane, Bu? Entar kalo orang-orangnye keburu ke pasar pegimane? Aye yang rugi. Buruan, mau beli ape. Biar di hitung semuanye!" sentak Bang Juki.
Karena bang Juki terlihat marah, mereka pun langsung mengambil barang yang diinginkan.
Bang Juki membelalakan mata melihat mereka yang hanya mengambil satu barang saja dan itupun sama. Tahu satu bungkus.
"Itu aja! Kalian dari tadi milih ini milih itu cuma ngambil itu doang?!" Ia menggelengkan kepala tak percaya. "Kalian emang kompak!" Puji Bang Juki.
"Iya dong. Kami kan sahabat sejati," sahut mereka bangga sambil menyerahkan uang sejumlah harga tahu, yaitu lima ribu rupiah.
Bang Juki menganggukkan kepala. "Oh, benar sekali. Kalian memang sahabat sejati sekaligus sahabat kepompong!" Mereka semakin tersenyum mendengar perkataan Bang Juki. Namun setelah mendengar kata selanjutnya, mereka memberengut kesal. "Sahabat kepompong ... ya kepo ... ya rempong!"
Setelah berkata, kemudian Bang Juki mendorong gerobaknya lagi meninggalkan mereka yang terlihat kesal sambil berteriak. "Yuuuuurrrr ... sayuuuuurrr!"
Wajah mereka menatap datar kang sayur yang sengaja pergi meninggalkan mereka. "Huuuuhh ... Dasar Bang Juki!" umpat mereka kesal.
Namun, si kang sayur tak menghiraukan cibiran mulut para penjaga komplek berseragam motif kembang dengan rol rambut di kepala mereka.
Bang Juki semakin berteriak dengan nyaring. "Sayuuuuurrr!"
...Bersambung ......
__ADS_1