
Dara dan Li Phin berusaha untuk menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh Chien Ti'er. Ia berjumpalitan dan berusaha untuk menebaskan pedang naga hijau miliknya. Pendar mulai bergelegar di sekeliling mereka membuat cahaya menjadi terang benderang.
Cahaya fajar di ufuk Timur sudah mulai terlihat, perang sudah berjalan hampir semalaman. Korban sudah banyak yang tewas di kedua belah pihak. Namun, tanda-tanda untuk menghentikan peperangan belum juga terlihat.
Wong Fei dan semua tabib magang berusaha melesar secepatnya untuk menolong yang terluka bersama para penduduk yang masih selamat. Liang Si dan Jenderal Tan Yuan Ji sudah menyerang semua musuh yang sudah masuk dari benteng Barat Xihe, mereka yang berusaha untuk menerobos untuk menguasai benteng.
Akan tetapi, mereka tidak menyangka jika bala bantuan akan secepat itu datang, "Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak menyangka jika keadaan langsung berbalik. Apakah kita harus mundur secepatnya?" tanya salah satu Jenderal Qin pada jenderal Changsha.
"Sebaiknya kita berusaha untuk mundur dan menyusun strategi lagi, jika begini terus menerus sama saja kita menyerahkan nyawa dengan sia-sia," balas jendral Changsha.
"Baiklah, usahakan untuk mundur!" balas Jenderal kerajaan Qin menyetujui usul dari jenderal Changsha.
"Mundur!" teriak Jenderal Qin menyuruh semua pasukannya untuk mundur. Akan tetapi, Liang Si dan pasukan dari Limen Utara langsung menghadang mereka.
"Tidak semudah itu kalian kabur! Jika kalian sudah masuk ke benteng Xihe sulit untuk keluar lagi!" hardik Liang Si menghadang jenderal Qin yang ingin menarik pasukannya.
"Sialan! Aku hanya ingin menarik sesaat pasukan untuk menyusun siasat lagi!" balas jenderal Qin, "kami belum menyerah kalah! Lihat saja, kami akan datang dengan bala bantuan yang luar biasa nantinya," balas Jenderal Qin pongah.
"Mengapa tidak selesaikan saja sekarang? Agar kalian merasa puas dengan apa yang kalian usahakan untuk menyerang kemari.
"Apa pun hasilnya nikmatilah!" balas Liang Si langsung menyerang jenderal Qin yang melesat menangkis pedang Liang Si, pertempuran kembali terjadi.
"Sial! Jika terus-terusan begini kami bisa mati dengan cepat," ujar jenderal Qin. Ia sudah melihat jika pasukan mereka sudah banyak yang tewas.
Jenderal Changsha yang berusaha menarik pasukan yang sebagian sudah ingin kabur. Akan tetapi, pasukan pemanah dari Donglang langsung menyerang mereka membuat tak ada yang selamat dari mereka.
"Bajingan! Kalian benar-benar tidak memberi kesempatan kepada kami untuk beristirahat!" ujar jenderal Changsha.
"Apakah kalian pun memiliki rasa kemanusiaan kepada pasukan penjaga perbatasan benteng Xihe? Tidak bukan? Kalian malah mengeroyok mereka yang sudah terluka!
__ADS_1
"Sekarang kalian mengatakan, jika kami tidak memiliki prikemanusiaan semua itu belajar dari kalian," balas Jenderal Tan Yuan Ji yang mulai cemas kala melihat putrinya sudah terluka dan anak didiknya jenderal Gu Shanzheng pun sudah babak belur.
Pertempuran antara Jenderal Tan Yuan Ji melawan Jenderal Changsha dan Liang Si melawan Jenderal Qin semakin sengit masing-masing menggunakan kekuatan mereka.
Tan Yuan Ji melihat jika Gu Shanfeng sudah berhasil menghabisi musuh di benteng Xihe bagian Timur.
Gu Shanfeng sudah menolong adiknya Gu shanzheng.
***
Sementara Gu Shanfeng dengan baju putih bersih dan rambut yang tergerai berjalan dengan penuh kewibawaan, menghampiri adiknya, ia bak seorang aktor daripada seorang putra mahkota.
"Apakah aku terlambat datang Adikku?" tanya Gu Shanfeng lembut mengulurkan tangan kepada Gu Shanzheng yang langsung diraih Gu Shanzheng yang penuh darah dan luka.
"Tidak, Kakak! Terima kasih, aku kira aku sudah tidak bisa mengamalkan buku pemberianmu itu!" ujar Gu Shenzheng tersenyum dengan darah di sudut bibirnya, "cuih!" ia meludahkan darah segar.
"Apakah sudah kelihatan hilal dari bukti buku itu?" tanya Gu Shanzheng tidak peduli jika para musuh sudah mulai menyerang ke arahnya. Ia dengan santai menebaskan pedang ke belakang tubuh seakan ia memiliki banyak mata di sekujur tubuhnya.
"Perjuangan bertahun-tahun di Gunung Wuling, dulu rasanya aku mengutuk diriku harus terlahir sebagai putra mahkota. Namun, sekarang aku bersyukur … bisa menggunakan semua kemampuanku untuk menolong yang lemah," balas Gu Shanfeng.
Ia mengulurkan tangan dan memberikan sebuah ramuan, "Makan dan balurkan ke lukamu! Semoga itu menolong. Tapi, rasanya tidak enak sama sekali!" ujar Gu Shanfeng masih membunuh semua musuh dari belakang dan samping tubuhnya tanpa bersusah payah ia harus melihat maupun bergerak.
"Hah, seharusnya aku memakai baju berwarna merah! Lihatlah, darah telah mengotorinya," umpatnya.
"Hahaha, kau selalu saja mempedulikan penampilanmu! Jangan khawatir tidak ada wanita di sini selain Permaisuri Li Phin, Jia'er, dan Nyonya Qin. Kamu tidak perlu menjaga penampilan, mereka semua sudah ada yang punya," dengus Gu Shanzheng
"Hahaha, jika aku tidak menjaganya, bagaimana jika pamorku sebagai playboy akan bertahan?" balas Gu Shanfeng dengan bangga.
"Itu bukan sesuatu hal yang patut dibanggakan Kakak!" lirih Gu Shanzheng memakan dan membalurkan semua ramuan di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Sementara Gu Shanfeng melindungi dengan membunuh musuh yang berusaha untuk membunuhnya dan adik ketiga.
"Rasanya … mengerikan sekali!" ujar Gu Shanzheng menahan panas di sekujur tubuhnya, ia merasa limbung dan jatuh, bergulingan di tanah keras. Sementara luka yang menganga mulai tertutup oleh tanah dan rumput.
"Tahanlah, itu hanya beberapa menit saja! Apakah kamu tidak malu jika Nona Tan melihatmu?" ejek Gu Shanfeng.
"Aku juga masih manusia biasa, bukan Dewa!" ketus Gu Shanzheng bergulingan tak peduli lagi jika Tan Jia Li menertawakannya, menahan bara api yang membakar sekujur tubuh, "air! Air!" keluhnya.
Namun, Gu Shanfeng hanya diam saja melihat kesakitan dan penderitaan adiknya seakan itu adalah hal lumrah dan wajar.
"Kamu manja, sekali!" sindir Gu Shanfeng yang masih menebas musuh di belakangnya. Tiada seorang musuh pun yang berhasil menyentuhnya dan Gu Shanzheng.
Wong Fei memandangnya dengan takjub, semenit kemudian Gu Shanzheng merasakan sekujur tubuhnya menggigil dan asap memenuhi tubuhnya. Ia merasa seluruh kulitnya seakan bergerak dan berjalan dengan cepat menyatu dan meninggalkan bekas luka putih.
"Terima kasih, Kak!" balas Gu Shanzheng.
"Jangan berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada leluhur Wuling yang telah menciptakannya hanya kepada keturunannya saja yang bisa memakai obat itu," balas Gu Shanfeng.
"Baiklah, nanti aku akan membakar hio untuk mereka! Ayo, kita sudahi perang ini. Aku sudah lapar," ucap Gu Shanzheng menirukan Tan Jia Li.
"Ayo!" balas Gu Shanfeng melesat berdua bersama adiknya.
***
Sementara Dara di dalam tubuh Li Phin masih bertempur bersama Chien Ti'er sedangkan Tan Jia Li masih bertempur dengan jenderal Mongol.
"Menyerahlah Nyonya Qin, pergilah pulang! Kelak kita akan melanjutkan pertempuran ini, obatilah putramu bawalah semua pasukan sekutu kalian!" perintah Dara.
"Hahaha, apakah kau mulai melihat kekuatan kami? Kau sudah menyerah kalah, Permaisuri sombong!" teriak Chien Ti'er.
__ADS_1
"Tidak ada di dalam kamusku, kata menyerah Nyonya Qin! Aku menawarkan kesempatan kepada pasukanmu untuk mundur karena sudah banyak yang terluka dan tewas!" ujar Dara.