
"Bajingan, ternyata semua ini adalah permainan kalian," batin Tan Jia Li, yang berusaha untuk menahan amarahnya.
"Bagaimana apakah kau mau menukarkan istrimu dengan dua gadis di dalam pedati itu?" tanya pria tersebut, yang sudah menghunuskan pedang ke leher Gu Shanzheng.
"Baiklah, aku akan menukarnya!" jawab Gu Shanzheng sedikit ketakutan.
"Sialan, kau Shanzheng! Hadeh, sandiwaramu menyebalkan," batin Tan Jia Li, "kau harus membayarnya nanti!" batin Tan Jia Li marah, "Sayang, mengapa kau begitu tega padaku?" ujar Tan Jia Li mengikuti alur dari sandiwara yang dimainkan oleh Gu Shanzheng.
"Ya, kamu lihatlah, Istriku! Aku tidak mungkin kehilangan kepalaku hanya karena wanita. Tuan itu benar, aku rasa tidak masalah kamu bersenang-senang dengan pria itu dan aku bersenang-senang dengan kedua gadis lain," balas Gu Shanzheng dengan kurang ajar.
"Dasar, sialan! Jika ini beneran aku sudah mencincangmu dan memberikan mayatmu pada seekor anjing," umpat batin Tan Jia Li, "kau tega sekali!" teriak Tan Jia Li dengan berlinang air mata.
"Hah! Tan Jia Lia benar-benar bisa menangis?" batin Gu Shanzheng sedikit menyesal, "apakah dia tidak tahu jika ini hanyalah sandiwara? Siapa yang mau menukar kamu dengan wanita mana pun? Aneh, aku tidak akan pernah melakukan hal itu!" batin Gu Shanzheng teriris sedih.
Ia tidak menyangka jika sandiwaranya benar-benar membuat wanita bak harimau di depannya menangis, "Hahaha, tenanglah Cantik. Kami tidak akan menyakitimu! Percayalah, kepada kami," balas pria tersebut dengan tersenyum.
"Kapan kita akan menukarnya? Aku ingin melihat para wanita itu!" ujar Gu Shanzheng.
"Tenanglah di depan ada penginapan, aku akan mencarinya di sana. Sebelum kita memasuki Kota Zuhe dan menjual para gadis itu, kita akan bersenang-senang!" balas pria yang membawa kapak.
Pria tersebut mengulurkan tangan membelai dagu Tan Jia Li membuat Jia Li langsung mengelak sedikit seakan dia adalah wanita yang lemah, akan tetapi, Gu Shanfeng menjadi sedikit kesal.
"Hentikan Tangan kalian! Jangan sentuh Istriku!" teriak Gu Shanzheng marah.
"Hei, jangan berteriak padaku!" teriak si pria langsung menebaskan pedang kepada Gu Shanzheng, akan tetapi Gu Shanzheng langsung melesat menarik pedang dari balik baju dan menebas leher si pria membuat semua gerombolan tersebut langsung menarik senjata berusaha menebas Gu Shanzeng.
Pertempuran tidak terelakkan lagi, Tan Jia Li melesat melompat dari atas kuda berlari dengan ilmu peringan tubuh secepatnya membuka isi pedati yang terdiri dari para gadis dan anak-anak.
"Bajingan! Mereka mengatasnamakan Kekaisaran Donglang yang melakukannya padahal para begundal yang tak punya hati nurani ini," umpatnya kesal.
Tan Jia Li membuka sumpalan mulut para gadis dan memutuskan tali yang mengikat mereka.
__ADS_1
"Awas, belakangmu Nona!" teriak seorang wanita muda.
Trang!
Tan Jia Li membalikkan tubuh melambung ke kiri dan menebas musuhnya hingga kehilangan tangan.
"Ayo, keluarlah dari pedati ini bersembunyilah!" teriak Tan Jia Li membuat semua gadis dan anak-anak berhamburan melompat dari pedati.
"Kalian akan merasakan akibatnya! Aku akan melapor pada Jenderal Qin Chai Jian!" teriak si pria ingin kabur akan tetapi Gu Shanzheng tidak membiarkan musuhnya kabur.
Ia langsung menarik pedang musuh yang tertancap di tanah dan melemparkan ke pria yang ingin menunggangi kuda hingga terjatuh dan meninggal.
Semua gerombolan begundal dari Qin Chai Jian tewas tak tersisa, "Burung merpati …," lirih Gu Shanzhwng mengambil burung yang hinggap di tubuh si pria mengambil tabung kecil di kaki si burung dan membacanya.
[Bawa semua anak-anak dan para gadis untuk diberikan kepada Shan Ti'er] sebuah pesan tertulis di sana.
"Bajingan mereka mati semua!" umpat Gu Shanzhwng kesal.
"Aku tidak suka dia mengganggu dan menyentuhmu!" tukas Gu Shanzheng dengan kesal.
"Wow, padahal kau ingin menukarku dengan dua orang gadis!" sindir Tan Jia Li.
"Itu hanya sandiwara, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menukar kamu dengan apa pun!" balas Gu Shanzheng.
"Wah, Aku tersentuh Tuan Gu! Huek, muntah aku mendengarnya," ejek Tan Jia Li menyarungkan pedangnya dan menghampiri para gadis dan anak- anak.
"Apakah kalian tahu jalan pulang? Ikutilah jalan ini kembali ke belakang dengan pedati ini. Pulanglah, kalian ke rumah masing-masing dan katakan yang sebenarnya jika bukan prajurit Donglang yang melakukan semua kejahatan ini," ujar Gu Shanzheng.
"Baik Tu-tuan! Lalu siapakah Tuan dan Nona ini?" tanya seorang wanita yang sedikit lebih tua dari gadis lain.
"Aku Jenderal Gu Shanzheng dan ini Jenderal Tan Jia Li putri dari Jenderal Yuan Ji. Selama ini rumor yang kalian dengar tidak ada benarnya. Kaisar Liu Min tidak pernah melakukan ekspansi maupun penjarahan. Cepatlah, kalian pulang!" perintah Gu Shanzheng.
__ADS_1
"Terima kasih Yang Mulia Jenderal berdua!" balas Semua orang sedikit membungkukkan diri dan memutar pedati dan kuda mereka pulang.
"Lalu apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Tan Jia Li.
"Kita akan terus ke Zuhe. Aku masih penasaran penginapan di depan," balas Gu Shanzheng.
"Penasaran dengan para wanita atau dengan biang keroknya?" sindir Tan Jia Li.
"Keduanya!" balas Gu Shanzheng dingin.
Baiklah Suamiku!" ejek Tan Jia melesat naik ke kuda memacu secepatnya.
"Dasar, wanita!" umpat Gu Shanzheng mengejar Tan Jia Li.
Mereka memasuki sebuah kota yang mereka pun tidak tahu namanya, "Apakah kamu tahu penginapan yang mana yang dimaksud oleh mereka, Tuan Gu?" tanya Tan Jia Li.
"Itu yang di sudut!" balas Gu Shanzheng.
"Pantas saja, buaya darat sepertimu mengetahuinya. Kamu sering berkunjung ke rumah penjaja cinta bukan?" sindir Tan Jia Li.
"Ya," balas Gu Shanzheng singkat. Ia malas berdebat dengan Tan Jia Li dan berbicara jujur. Jika di memasuki rumah wanita malam pun hanya untuk pertemuan rahasia atau untuk menyelidiki sesuatu.
"Andaikan kamu tahu baru dirimulah wanita yang pernah aku peluk dan cium, apakah kamu percaya?" batin Gu Shanzheng kesal.
Bayangan pria yang menyentuh Tan Jia Li selain dirinya membuat jiwanya semakin kacau dan marah. Namun, ia tak bisa menguasai diri. Keduanya memasuki rumah penginapan dan langsung memesan makanan.
Mereka melihat orang-orang sedang bersuka cita dengan para gadis berdandan menor dan berpakaian tipis menjajakan minuman maupun duduk di pangkuan para pria.
Tan Jia Li sedikit risih melihat semua itu, ia sedikit berjengit kala para wanita tanpa rasa malu melakukan adegan vulgar di sana, "Ini benar-benar mengerikan, apakah mereka sengaja menjual wanita di sini? Ataukah ada tempat lain lagi?" batin Tan Jia lia mengamati banyak hal.
"Hai, Cantik! Maukah kamu minum denganku?" tanya seorang pria dengan tubuh besar dan berpakaian bangsawan.
__ADS_1
"Tidak saya sedang bersama suamiku yang sangat marah," balas Tan Jia Li.