Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Kembali sejenak


__ADS_3

Jang Min langsung memberikan ramuan yang sudah digerus kepada Nona Zhang Mei, yang langsung diminumkan kepada Li Phin.


"Nona Zhang, siapa wanita itu?" tanya Jang Min menara wajah Dara, ia merasakan getar di jiwanya dan ia merasa sangat dekat dengannya, "mengapa aku merasa aku mengenalnya? Tapi dia bukan dari zaman ini? Apakah dia iblis?" batin Jang Min terus memperhatikan wajah Dara di wajah Li Phin.


"Hah! Dewa sedang melakukan permainan dengan kehidupan kalian berempat," balas Nona Zhang Mei.


"Maksudnya?" tanya Jang Min tidak mengerti. 


"Jika Nona itu dan Permaisuri Li Phin sadar, maka kita akan tahu kebenarannya," balas Nona Zhang Mei menatap ke arah bayangan wajah Dara dan Li Phin. 


Namun, seketika pendar cahaya redup bersamaan dengan lenyapnya wajah Dara di tubuh Li Phin. Akan tetapi jiwa Li phin pun tidak merespon seakan ia koma.


"Ada apa ini, Nona Zhang?" teriak Jang Min khawatir, menyentuh tubuh Li Phin, "Istriku! Istriku! Bangunlah, jangan tinggalkan aku dan Sun Min!" teriak Jang Min berulang-ulang, memeluk tubuh Li Phin. Ia tidak rela jika harus berpisah dengan Li Phin sang istri tercintanya.


"Aku tidak bisa memprediksikannya, kita lihat saja dulu! Ayo, bantu aku dengan tenaga dalammu!" ajak Zhang Mei.


Jang Min dan Zhang Mei langsung menyalurkan tenaga dalam mereka ke tubuh Li Phjn berusaha untuk membuatnya sadar.


***


Sementara jiwa Dara melesat memasuki pusaran waktu, "Aaa! Apa yang terjadi? Li Phin! Jang Min!" teriak Dara menembus ruang dan waktu kembali ke sebuah rumah sakit. Jiwanya berjalan dan menembus tembok mencari sesuatu ia berlarian ke setiap ruangan dan sebuah kekuatan menariknya menembus tembok dan ia melihat jasadnya sedang terbaring di sebuah brankar.


Plop!


Dara berdiri di depan beberapa orang yang dikenalnya sebagai anggota dari kepolisiannya, "Danu?! Kalian di sini?" teriak Dara senang untuk pertama kalinya dia bertemu dengan semua anggotanya.

__ADS_1


Biasanya wajah dan sikap dingin selalu mewakili segalanya kini telah berubah menjadi sebuah kebahagiaan, "Apakah kalian sudah menuntaskan pekerjaan kita?" tanya Dara  namun tak seorang pun yang memperhatikannya.


"Bagaimana dengan keadaan Letda Dara Sasmita, Dok?" tanya Bripda Danu berdiri di sisi brankar Dara Sasmita dengan selang oksigen dan selang-selang lain yang terhubung dengan alat-alat medis di sebuah rumah sakit elit di Kota Medan. 


"Dia masih koma, kita hanya berharap kepada keajaiban Tuhan!" balas salah satu dokter. Jiwa Dara melayang ingin masuk ke tubuhnya bunyi bip dari alat mesin yang menyambung ke jantung Dara terus bergema pelan menandakan dirinya masih hidup.


"Apakah aku kembali ke duniaku? Bripka Danu! Apa yang terjadi?" tanya Dara tetapi suaranya tidak terdengar oleh siapa pun lagi, "apakah aku sudah seperti jiwa Li Phin?" lanjut batinnya.


Dokter meninggalkan ruangan, Dara berusaha untuk mengejar dokter tersebut tetapi ia hanya menyentuh sesuatu yang kosong seluruh tubuhnya seringan kapas dan hanya melayang ke sana kemari ia berulang kali menembus tembok.


"Apakah aku sudah menjadi hantu?" batin Dara kebingungan. Ia meraba punggungnya dan masih membawa pedang naga hijau tetapi ia masih berpakaian modern sebagaimana zaman abad 21 pada tahun 2021


Ia kembali ke ruangannya dan melihat Danu masih duduk di sisinya sedangkan di depan pintu dua polisi lain sedang berjaga di sana, "Mama!" lirih Dara melihat ibunya Ningrum sedang menuju ke kamarnya dengan pakaian syar'i. 


Berulang kali Dara mencoba memeluk mamanya tetapi ia pun tak bisa melakukannya ia hanya menembus mereka saja. Dan berulang kali Danu menabrak tubuh Dara tetapi Danu tidak merasakan apa pun.


"Tidak apa-apa, Nak! Sebaiknya kamu pulang saja dulu, kasihan anak istrimu. Biar Ibu yang menjaga Dara malam ini," balas Ningrum membelai lembut rambut putrinya jiwa Dara terenyuh. 


"Mama … maafkan aku! Berarti aku masih hidup? Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?" batin Dara bingung.


Ia mencoba untuk masuk ke tubuhnya tetapi selalu saja tidak bisa, ia terpental berulang-ulang, malah tubuhnya semakin bergetar bergerak dengan cepat di brankar seakan tersengat listrik, melihat hal itu ibu dan Danu panik.


"Dokter! Dokter!" teriak Danu menekan bel untuk memanggil dokter.


Seorang dokter tua yang baru saja meninggalkan ruangan kembali lagi bersama 2 orang perawat. Ia langsung memeriksa tubuh Dara dan mesin di samping Dara, "Sepertinya sedikit ada keajaiban, sepertinya Nona Dara sudah mulai memasuki fase merespon kesadarannya.

__ADS_1


"Teruslah berdoa, agar ia bisa kembali bersama kita!" ujar Dokter tersebut.


"Dengar aku masih di sini! Memang apa yang terjadi?" teriak Dara, tetapi sia-sia. Hingga akhirnya ia hanya berdiri di sudut ruangan bersama ibunya menyentuh tubuh Ningrum walaupun ia hanya menembusnya.


Memperhatikan segala hal, "Jimmy! Dasar sialan kau!" teriak Dara ingin menerjang Jimmy tetapi semuanya juga sia-sia. Dara hanya melihat Jimmy menatap tubuhnya dengan pandangan sedikit mencurigakan, "Bajingan, ini! Aku akan membunuhmu suatu saat kelak!" umpat Dara marah.


"Bagaimana keadaan Bu Dara, Dan?" tanya Danu.


"Masih belum memperlihatkan tanda-tanda, Pak!" ujar Danu berbohong. Semua mata memandang ke arah Danu dan diam.


"Bagus, Danu! Bajingan ini … mengapa Danu memanggil sebutan Bapak? Mereka masih satu leting? Bahkan pangkat mereka sama? Apakah aku sudah melewatkan sesuatu?" batin Dara kesal.


Akan tetapi, ia ingin mencari kebenaran kembali pusaran waktu menariknya kembali, "Aaa!" teriak Dara, "ha! Ha!" Dara kembali ke tubuh Li Phin, "Li Phin! Apakah aku masih berada di tubuhmu?" tanya Dara menatap Li Phin yang juga kembali terbangun dari pingsannya.


"Ya, aku rasa. Entah apa yang terjadi! Aku tidak mengingat sesuatu," balas Li Phin menyentuh kepala dan luka di sekujur tubuh.


Dara membuka mata dan melihat wajah Jang Min dan Nona Zhang Mei berada di sana, "Suamiku! Nona Zhang Mei! Apa yang terjadi? Bagaimana dengan Jenderal Liang?" tanya Dara melihat sekeliling yang bercahaya temaram api unggun di dalam sebuah gua.


"Jenderal Liang dibawa ke perbatasan benteng Xihe, bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Jang Min memeluk tubuh Li Phin.


Wajah Dara masih terpancar di sana bersama dengan wajah Li Phin, Dara menyentuh semua lukanya dan melihat jika luka sudah sedikit mengering dan telah berubah menjadi lebih  baik dengan perban di sekujur tubuhnya.


"Li Phin, bukan siapa kamu sebenarnya? Mengapa ada di tubuh Istriku?" tanya Jang Min menatap ke arah Dara dan Li Phin di dalam tubuh yang sama, dengan curiga.


"Sial! Apakah Jang Min melihat kita?" tanya Dara pada Li Phin.

__ADS_1


"Aku tidak tahu! Apa yang harus kita lakukan?" Li Phin panik.


__ADS_2