Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bala bantuan


__ADS_3

Ucapan Zhang Fuk membuat Gu Shanzheng terenyuh dan terdiam, "Pergilah, Afuk! Apalagi dia tidak teratur makan dan tidur, ia pasti sangat lemah! Lihatlah, musuh kita begitu mengerikan!" ujar Gu Shanzheng, "aku berusaha  untuk mempertahankan benteng bagian timur!  


"Aku rasa benteng bagian Barat sudah hancur dan musuh pun sudah tumpah kemari," lanjut Gu Shanzheng ia melihat jika parajuritnya dan bala bantuan sebelum mereka pulang dari Mongol dan prajurit bayangan 21 naga hitam masih bertahan.


"Mereka benar-benar tangguh! Namun, musuh terlalu banyak! bagaimana bisa mereka memiliki banyak prajurit hebat?" batin Gu Shanzheng bingung.


"Aku berharap akan ada bala bantuan dari Chang An, Wuling, maupun Limen Utara," batin Gu Shanzheng  penuh harap, "jika tidak Xihe adalah pemakaman bagi kami! Ini sangat mengerikan," batin Gu Shanzheng mulai menarik tombak besarnya yang susah berlumur darah segar.


Melihat sekilas ke arah Tan Jia Li, "Maafkan aku Cintaku, aku tidak berhasil mewujudkan kisah cinta kita ini," batin Gu Shanzheng.


Melesat secepatnya menyerang musuh yang sudah berbaris mengelilinginya, "Kau harus mati Jenderal Gu Shanzheng!" teriak salah seorang Jenderal Changsha.


"Heh! Tidak semudah itu! Ayo, majulah! Siapa yang akan mati aku atau kalian?" ujar Gu Shanzheng langsung melesat menyerang musuh dengan cepat.


Gu Shanzheng langsung memutar tombak dengan cepat di atas kepalanya. Membuat semua musuhnya berjumpalitan untuk menghindari tebasan tombak besar Gu Shanzheng 


***


Zhang Fuk sudah melesat ke arah Tan Jia Li, ia melihat jika jenderal wanita hebat tersebut hampir kewalahan karena serangan dua jenderal hebat yang memiliki ilmu sekte Racun Hitam Lu Dang.


"Nona Tan Jenderal Gu berpesan, 'Bertahanlah, Sayang! Aku mencintaimu!' itu katanya, Nona!" teriak Zhang Fuk mengada-ada. 


"Apa?! Benarkah?!" balas Tan Jia Li bersemu merah. Hampir saja tangannya tertebas pedang jendral Mongol.


"Hah! Cinta telah membutakan mata hatimu!" umpat Qin Chai Jian cemburu dan marah.


"Sirik, tanda tak mampu!" balas Zhang Fuk dengan kocak.


"Mati kau, Sialan!" umpat Qin Chai Jian menyerang ke arah Zhang Fuk. Ia langsung menyerang Zhang Fuk dengan cepat, membuat Zhang Fuk melesat untuk menghindari serangan dan Tan Jia Li melawan jendral Mongol. 

__ADS_1


Mereka saling serang dan saling menjatuhkan lawan, akan tetapi pasukan Mongol kembali mengeroyok Zhang Fuk dan Tan Jia Li. 


"Sial! Dasar, manusia laknat!" umpat Zhang Fuk.


"Apa pun diperbolehkan di dalam pertempuran! Jadi nikmati saja kekalahan kalian," ujar Jenderal Mongol dengan liciknya.


Zhang Fuk dan Tan Jia Li berusaha untuk melawan dengan seluruh kekuatan mereka, "Zhang Fuk! Bertahanlah!" teriak Tan Jia Li melihat Zhang Fuk yang susah terdesak.


Beberapa tebasan pedang dari jenderal Mongol dan prajurit telah bersarang di tubuh Zhang Fuk. Membuat darah telah mengalir deras di sana.


"Bertahanlah, Zhang Fuk! Jangan mati! Rawarkah Shanzheng," lirih Tan Jia Li.


Tan Jia Li melihat Gu shanzheng pun mengalami nasib yang sama, "Apakah di sinilah kematian kami?" batin Tan Jia Li, "andaikan kami tidak menyia-nyiakan waktu dan cinta mungkin kami sudah berbahagia dan memiliki anak. Cinta … mengapa kamu datang terlambat?" batin Tan Jia Li menyesali banyak hal.


Rasa cintanya kepada Gu Shanzheng begitu pun sebaliknya membuat keduanya saling tatap penuh arti di sela pertempuran. Tan Jia Li sudah semakin lemah begitu juga Zhang Fuk yang sudah penuh luka di sekujur tubuhnya.


"Bagaimana caraku untuk menolong Zhang Fuk? Dewa berilah bantuanmu!" doa Tan Jia Li.


Kras!


Sebuah pedang berhasil menyobek lengan Tan Jia Li yang tidak memakai baju zirahnya.


"Hahaha, akhirnya di sinilah akhir dari kematian seorang jenderal wanita pertama Dongkang yang hebat!" teriak Qin Chai Jian, "andaikan kamu mencintai dan mau menikah denganku, kamu tidak akan mengalami nasib ini!" cecar Qin Chai Jian mengejek.


"Heh! Cuih!" Tan Jia Li meludah dan tak peduli dengan luka yang mulai merembes di lengannya. Warna hitam mulai merayap di lukanya akibat racun.


"Menyerahlah Jia'er! Aku akan mengampuni dan membuatmu menjadi budak cintaku!" ujar Qin Chai Jian dengan angkuh.


Tan Jia Li tak peduli dengan perkataan Qin Chai Jian, ia melihat jika Gu Shanzheng dan seluruh anggota dan prajurit Donglang benar-benar kacau dan telah banyak yang tewas, "Maafkan aku Gu Shanzheng, maafkan aku Li Phin, dan maafkan aku Jang Min. Aku tak lagi bisa bertahan!

__ADS_1


"Aku harus berkorban! Paling tidak dengan pengorbananku ini Qin Chai Jian dan pasukannya ini akan tewas," batin Tan Jia Li. Ia bermaksud meledakkan dirinya bersama musuh 


"Nona Tan! Jangan lakukan itu!" teriak Zhang Fuk yang sudah terluka parah tetapi mencoba untuk bertahan dan mencegah Tan Jia Li melakukan pengorbanan.


"Ini sudah kewajibanku sebagai pelindung kekaisaran. Aku sebagai ketua 21 prajurit bayangan naga hitam dituntut untuk melakukan semua ini. Sampaikan salamku pada Gu Shanzheng jika aku mencintainya!" balas Tan Jia Li melesat ke udara ingin menghancurkan dirinya.


"Hentikan Kakak!" teriak Dara melesat meraih tubuh Tan Jia Li yang bersiap ingin meledakkan diri bersama dengan tenaga dalamnya.


"Permaisuri Li Phin? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tan Jia Li bingung.


Ia melihat jika Tan Yuan Ji sang ayah datang bersama dengan Lin Tao, pasukan Limen Utara dengan Liang Si, dan Wuling di bawah pimpinan Gu Shangfeng yang menghampiri sang adik yang terluka parah.


"Ceritanya panjang! Ayo, kita selesaikan ini!" ajak Dara dan Li Phin di dalam tubuh yang sama memeluk Tan Jia Li.


Keduanya langsung berjumpalitan melawan musuh, "Pengkhianat itu bagianku!" teriak Tan Jia Li menunjuk Qin Chai Jian murka.


"Baiklah! Bagianku yang mana pun jadilah!" balas Dara dan Li Phin berbarengan.


"Li Phin, aku mencintaimu adikku!" ujar Tan Jia Li, "apakah Jang Min ikut?" tanya Tan Jia Li.


"Dia akan menyusul dia masih memimpin pasukan dari semua kerajaan dan akan melakukan peperangan dengan Changsha, Qin, dan Mongol. 


"Dia sudah bosan bila harus melawan pemberontakan yang sudah 10 tahun ini terjadi. Kaisar dan semua kerajaan tetangga ingin mengakhiri pemberontakan dengan perang!" ujar Dara tersenyum.


"Baiklah! Jika begitu! Selamat datang sepupuku, Permaisuri, dan adik iparku!" balas Tan Jia Li tersenyum riang. Ia membubuhkan serbuk obat di lengannya dan membalut dengan sobekan kain dari lengan baju, menggigit ujungnya.


"Hahaha, akhirnya Permaisuri Li Phin keluar juga! Baguslah, Xihe akan menjadi kuburan bagi kalian!" kutuk Qin Chai Jian.


"Aku sangat berharap melihatmu dan keluargamu digantung!" ujar Dara.

__ADS_1


"Lawanmu adalah aku, Permaisuri Li Phin. Aku ingin tahu apakah benar kata orang jika kamu memiliki kekuatan yang luar biasa?" ujar Jenderal Mongol melesat berdiri tepat di depan Li Phin.


 


__ADS_2