Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Kematian Qin Chai Jian dan Selir Qin


__ADS_3

Pertempuran semakin mengerikan, "Kau harus mati, Kaisar kurang ajar!" teriak Qin Chai Xi. Apalagi, dia melihat jika bala bantuan dari kerajaan di bawah kedaulatan selalu datang menggantikan yang terluka dan yang meninggal.


"Jika aku membunuh Liu Min aku sangat yakin mereka akan menyerah kalah!" batin Qin Chai Xi melesat secepatnya menyerang Jang Min. Akan tetapi ia tidak menyangka jika kekuatan Jang Min melebihi ayahnya Liu Fei bahkan kakeknya Liu Bei.


"Sial! Mengapa Liu Min memiliki tenaga dalam yang begitu luar biasa!" batin Qin Chai Xi.


"Ayolah, Qin Chai Xi, menyerahlah! Kau lihat, pasukanmu akan kalah. Sebelum semakin parah menyerahlah!" teriak Jang Min.


"Lebih baik aku mati, daripada terhina!" teriak Qin Chai Xi murka.


Qin Chai Xi menggunakan tenaga dalamnya dengan cepat ingin membunuh Jang Min untuk mengakhiri pertempuran. Namun, setiap tebasan yang dilakukan Qin Chai Xi tidak pernah berhasil mengenai Jang Min.


Jurus demi jurus telah dikerahkan Qin Chai Xi tapi tak satu punn yang berhasil menyentuh tubuh Jang Min hingga tebasan tipis pedang Jang Min mengenai arteri di leher Qin Chai Xi membuatnya jatuh berdebam di tanah dengan darah muncrat dari lehernya hingga kematian menjemput.


"Ayahanda!" teriak Qin Chai Jian murka di seberang pertempuran yang masih beradu pedang dengan Tan Jia Li, "kalian harus membayar apa yang telah kalia lakukan kepada keluargaku!" teriak Qin Chai Jian semakin ganas menyerang ke arah Tan Jia Li.


Semua pasukan musuh terkesiap dan tidak menduga jika Kaisar Liu Min begitu hebat, "Serang Kaisar Liu Min! Teriak Chien Fuk Raja Changsha yang marah melihat adik iparnya meninggal dengan mengenaskan.


Pertempuran kembali terjadi, Jang Min dikeroyok oleh prajurit musuh dan Changsha, yang mulai mengitarinya.


"Kau harus mampus Liu Min! Kesalahanmu adalah kau sendiri yang memimpin pertempuran!" ujar Chien Fu.


Ia langsung menebaskan pedang menyerang ke arah Jang Min beserta seluruh pasukan elitnya, Jang Min melesat ke udara menghindari hunusan setiap pedang. Ia sedikit kewalahan karena setiap ia ingin menyentuh tanah selalu saja ada yang menyerangnya tanpa memberinya waktu untuk bernapas.


Akan tetapi prajurit di bawah Jendela sepuh Chen Lei dan Calon raja Luoyang Tan Zian membantunya, pasukan elit Changsha sedikit terberai.


"Teeima kasih, Paman Chen dan Raja Zian!" teriak Jang Min sedikit lega, ia melesat menghadapi Raja Changsha. Pertempuran kembali membara, jeritan dan ringkik kuda semakin membahana.

__ADS_1


***


Sementara Lu Dang semakin berang, karena racunnya tidak lagi berfungsi dengan baik, "sial mereka benar-benar kuat! Jika terus-terusan begini kami akan kalah! Apalagi Qin Chai Xie sudah tewas!" batin Lu Dang. 


Ia melesat mengitari alur pertempuran, berusaha untuk melihat dan mengawasi semuanya juga menyebarkan racun miliknya, "Aku tidak ingin kehilangan orang-orang lagi," batinnya.


Tan Jia Li masih menghadapi Qin Chai Jian, kali ini Tan Jia Li tidak melepaskan Qin Chai Jian ia melesat secepatnya menyerang Qin Chai Jian yang sudah terluka.


"Matilah kau Pengkhianat!" teriak Tan Jia Li dengan membahana, kedua pedangnya berputar dengan cepat menyerang Qin Chai Jian darah sudah merembes di tubuh Qin Chai Jian. 


Kala tebasan pedang berhasil melukai tangan dan pinggang Qin Chai Jian, "Lebih baik aku mati daripada aku hidup seorang diri tanpa keluargaku," batinnya.


Qin Chai Jian mundur ke belakang dengan cepat berusaha menghindari setiap amukan dari pedang Tan Jia Li, Qin Chai Jian menarik prajurit di sisi kanan-kirinya untuk dijadikan tameng.


"Dasar kau, pecundang! Lawan aku Bajingan!" terjak Tan Jia Li terus saja melesat dan menyerangnya. Hingga tebasan pedang langsung mengenai jantung Qin Chai Jian hingga tewas.


Lu Dang menyerang dan menghantam tubuh Tan Jia Li hingga ia muntah darah. 


"Kau telah membunuh cucuku! Kau harus mati!" teriak Lu Dang marah melesat menyerang Tan Jia Li yang terkapar di tanah tak lagi bisa bergerak. 


Gu Shanzheng melihat keadaan istrinya sangat genting ia ingin melesat menolong istrinya, "Jia'er!" teriaknya ingin bangkit tetapi ia dihadang oleh prajurit musuh dan Shan Shi'er membuatnya tak lagi mampu bergerak ia terus melesat menyerang Shan Shi'er. 


Namun, Shan Shi'er lebih kuat dari dugaannya berulang kali serangannya tidak berpengaruh sama sekali. Gu Shanzheng melihat jika Lu Dang terus bergerak ke arah Tan Jia Li.


"Dewa, lindungi istriku! Lebih baik ganti dengan nyawaku!" batin Gu Shanzheng diantara tebasan pedang ia mulai tak konsentrasi.


Ia melesat dan bersalto menghindari serangan yang dilakukan oleh Shan Shi'er.

__ADS_1


Trang! 


Cakar Lu Dang ditangkis oleh Liang Si yang mencoba menahan serangan Lu Dang membuat dirinya terpental muntah darah, "Hahaha kau lagi? Kau bukanlah tandinganku!" teriak Lu Dang. 


Ia kembali ingin menyerang dan membunuh Tan Jia Li yang mencoba bangun dari tanah, "Liang Si! Apakah kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan lukamu?" teriak Tan Jia Li melihat Liang Si jatuh di sampingnya. 


"Aku tidak bisa bergerak, ntah ilmu apa yang digunakannya," balas Liang Si berusaha untuk menherahkan tenaga dalam untuk menyalurkan kekuatan dan membuaka totokan mengerikan di tubuhnya.


Dara dan Li Phin melesat menebaskan pedang ke arah Selir Qin hingga selendangnya terberai menjadi serpihan dan langsung menghujamkan mata pedang ke arah Selir Qin. 


Namun, Selir Qin menghindari dan berusaha menarik pedang di pinggang dan menangkis serangan Li Phin, "Kau telah membuat semua pertempuran ini, kaulah pemicu segalanya Selir Qin. Ketamakan keluargamulah yang membuat banyak nyawa melayang!" gertakan Li Phin mengingat kepahitan yang pernah dirasakannya bersama Liang Si.


"Aaa!" kematian menjemput Selir Qin kala pedang di tangannya patah dan patahannya melesat menghujam jantungnya sendiri, membuat Lu Dang marah dan melesat ke arah Dara. 


Keduanya saling serang di udara dentingan pedang dan cakar bergema meluluh lantakkan sekitarnya membuat semua prajurit melompat menjauh.


Malang bagi prajurit musuh yang terlambat menyingkir harus terbakar dan sirna oleh kekuatan dua pendekar hebat tersebut.


Li Sun hanya menatap kematian mantan selir yang pernah disayanginya terbunuh di tangan putrinya yang telah lama disakiti oleh Selir Qin, "Dewa, kesalahankulah yang membuat putri dan istriku saling bunuh," batinnya sedih.


***


Sementara Gu Shanzheng dibantu Gu Shanfeng sang kakak menyerang Shan Si'er, "Akulah lawanmu!" ujar Gu Shanfeng, menghunuskan pedang dengan gerakan yang gesit langsung menyerang Shan Si'er.


"Terima kasih, Kakak!" ujar Gu Shanzheng.


"Gunakan tenaga dalam milikmu untuk menguasai pedang dan sekitarmu maka alam akan mengikutimu, Shanzheng!" ujar Gu Shanzfeng.

__ADS_1


"Cuih! Nama hebat Putra Mahkota Wuling benar-benar luar biasa! Tidak percuma kamu dijuluki seribu bayangan!" teriak Shan Si'er melesat dengan pedang dan menyerang Gu Shanfeng. 


__ADS_2