
Liang Si menjauh dari istana kekaisaran, "Aku akan mencari Selir Qin dan membuat perhitungan dengannya. Sebaiknya aku akan menjadi salah satu kekuatan dari Limen Utara. Aku akan mengajukan diri sebagai jenderal yang akan melindungi Phin'er.
"Aku akan meminta kepada Kaisar Jang Min untuk mengangkatku sebagai salah satu jenderal saja," batin Liang Si, agar ia bisa terus berada di sisi Li Phin.
Malam semakin turun dengan bias rembulan, "Lapor Yang Mulia Kaisar Pangeran Limen Utara ingin menghadap Yang Mulia," lapor salah satu pengawal.
"Silakan masuk!" balas Jang Min.
"Maaf, Yang Mulia Kaisar, saya ingin mengatakan satu hal jika diizinkan," ucap Liang Si.
"Apakah lukamu sudah sembuh Pangeran Limen?" tanya Jang Min dari balik meja.
"Sudah membaik Yang Mulia," balas Liang Si.
Jang Min melihat jika Liang Si sudah mulai membaik dan sedikit hidup tak seperti kemarin, "Apakah yang ingin kamu ajukan Pangeran?" tanya Jang Min menatap rival cintanya.
"Saya ingin mengajukan diri saya menjadi satu satu jenderal untuk mengawasi kekaisaran Donglang! Saya berjanji dan bersumpah setia akan selalu menjunjung kesetiaan saya kepada Kekaisaran Donglang," pinta Liang Si dengan sebuah keyakinan.
"Apakah itu tidak terlalu berlebihan Pangeran?" tanya Jang Min sedikit curiga, "apakah Liang Si memiliki suatu rencana?" batin Jang Min penasaran.
"Saya hanya ingin melindungi kekaisaran dan permaisuri," balasnya jujur.
Deg!
Jantung Jang Min bergetar ia ingin marah akan tetapi, ia juga tidak ingin jika rasa cinta Liang Si terhadap istrinya dipatahkan maka segalanya menjadi kacau.
"Jika aku melarangnya maka bisa saja dia berpihak kepada musuh untuk menghancurkan kekaisaran. Jika aku membiarkannya di sini …." Jang Min berpikir dan memandang ke arah Liang Si.
"Saya tahu, jika Kaisar curiga kepada saya. Tapi percayalah hidup dan mati saya hanya untuk kekaisaran Donglang dan melindungi permaisuri," ucapnya.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan Pangeran. Besok adalah penobatan jika dirimu menjadi salah satu jenderal muda di Kekaisaran untuk melindungi kekaisaran dan permaisuri. Aku hanya meminta padamu, lakukan tugasmu dengan penuh tanggung jawab," balas Jang Min menatap ke arah Liang Si.
"Baik, Yang Mulia! Terima kasih," balas Liang Si memberi penghormatan dan undur diri.
"Ya, Dewa! Apalagi yang engkau rencanakan untuk semua ini," batin Jang Min menatap rembulan.
Suara seruling kesedihan Li Phin bergema, "Apakah mereka masih saling mencintai?" batin Jang Min merasakan rasa cemburu.
__ADS_1
Ia menyelesaikan semua tugas kekaisaran dan melangkah masuk ke kamarnya. Ia melihat Li Phin meniup seruling di kamar, Jang Min menatap wajah cantik Li Phin dengan rambut tergerai dan sarat kesedihan.
Plok! Plok!
"Suamiku!" ujar Dara.
"Sangat menyentuh sekali!" ujar Jang Min memeluk pinggang istrinya menatap rembulan.
"Apakah kamu merindukan sesuatu, Sayang?" tanya Jang Min.
"Tidak, tapi entah mengapa aku ingin meniup seruling ini." Dara berkata jujur apa adanya, walaupun dia tahu jika semua itu adalah ungkapan kesedihan Li Phin.
"Phin'er … besok pengobatan Liang Si menjadi seorang jendral. Ia mengajukan diri untuk menjadi jenderal yang mengawasi keamanan kekaisaran.
"Aku tidak tahu, mengapa dia mengajukan diri? Ia beralasan ingin melindungi kekaisaran dan dirimu, Sayang!" ujar Jang Min.
"Apa? Dasar Liang Si gila! Aku akan berbicara kepadanya!" ujar Dara dan Li Phin sedikit marah.
"Sayang … biarlah! Mungkin, dia benar-benar ingin menjadi seorang jenderal yang baik. Kita tidak boleh berburuk sangka," balas Jang Min.
"Tapi …."
***
Penobatan Liang Si berjalan mulus, hari berganti ia benar-benar melindungi kekaisaran dan Li Phin dengan diam-diam. Bahkan, semua operasi keamanan yang dilakukannya selalu berhasil dan sangat luar biasa.
Kehamilan Li Phin pun sudah semakin besar, setiap Liang Si bertemu dengan Li Phin, keduanya hanya diam tanpa bicara akan tetapi Liang Si benar-benar masih merindukan Li Phin.
Setiap malam dia selalu mengawasi kamar kekaisaran dan permaisuri hanya menjaga keamanan. Terkadang Liang Si berlari menjauh kala mendengar kebahagiaan dan rintihan kenikmatan malam-malam yang dilalui Dara dan Jang Min.
"Sebaiknya, aku menjauh saja! Aku bisa gila, tapi cinta ini tak pernah hilang," batin Liang Si. Ia terus menekan rasa sedih dan cintanya, terkadang jiwa Li Phin terbang mendekat ke tubuh Liang Si membelai di dalam angan dan bayangan.
"Phin'er …!" lirih Liang Si terjaga mencari bayangan Li Phin yang hanya mampu menangis di dalam gelap malam melesat ke sana kemari tak tentu arah, " apakah aku bermimpi?" keluh Liang Si memegang pipinya seakan Li Phin menciumnya.
Liang Si tidak tahu jika jiwa Li Phin berada di kamar bersamanya dan memeluk tubuhnya,
"*Aku tidak tahu harus bagaimana? Dara mencintai Jang Min, tapi aku tidak mencintainya.
__ADS_1
"Jika aku bersikeras mendapatkan Liang Si aku tidak ingin tubuhku akan dihukum oleh Jang Min dan Dara akan menderita begitu pun anak kami*.
" Liang Si, maafkan aku!" lirih batin Li Phin menangis perih. Li Phin selalu menghilang dan membiarkan kebahagiaan Dara dan Jang Min. Ia hanya menemani Liang Si ke mana pun bak hantu yang bergentayangan.
***
"Jenderal Liang! Maukah kamu mengawal Permaisuri untuk melakukan cheng beng (ziarah kubur) ke Gunung Sun? Aku tidak bisa karena harus melihat keadaan penduduk yang terkontaminasi racun bersama Perdana menteri Zhu Chang.
"Pemberontakan semakin merajalela di daerah Xuchang," ujar Jang Min.
"Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia ikut ke Gunung Sun. Biar saya yang ke Xuchang," balas Liang Si.
"Tidak! Aku ingin turun langsung melihat keadaan penduduk Desa Luo. Aku akan membuat pertahanan di sana, setelah dari Xuchang aku akan menyusul kalian di Gunung Sun," ucap Jang Min.
"Ba-baik Yang Mulia! Kapan kami akan berangkat?" tanya Liang Si.
"Aku rasa besok aku sudah menyiapkan Kasim Tang Ta, untuk ikut dan menyiapkan segalanya. Aku rasa kalian berangkat besok dan aku malam dengan penyamaran bersama Jenderal Tan Ji.
"Jenderal Liang, aku harap kamu menjaga permaisuri dengan nyawamu!" ucap Jang Min.
"Baik Yang Mulia!" balas Liang Si sebagian hatinya bahagia tapi sebagian lagi ia merasa sedih.
***
Keesokan paginya Liang Si dan Kasim Tang Ta juga para prajurit mengawal kereta kuda Permaisuri Li Phin dengan perut besarnya.
Ia membawa pedang naga hijau miliknya, "Li Phin, apakah Liang Si yang mengawal kita?" tanya Dara.
"Ya, dialah yang ditunjuk oleh Jang Min," balas Li Phin.
"Li Phin, apakah kamu marah padaku? Aku mencintai Jang Min?" tanya Dara.
"Tidak, Dewa lebih tahu apa yang terbaik untuk kita," balas Li Phin membalut lukanya.
Liang Si berkuda di samping kereta kuda di sebelah kanan dan Kasim Tang Ta di sebelah kiri, semua prajurit berkuda di belakang pedati yang membawa semua keperluan sembahyang dan keperluan Kaisar Liu Fei juga Ibu Ratu Li Hun menjalani pertapaan mereka di gunung Sun.
Dara dan Li Phin Berusaha tidak melihat ke arah samping kereta kuda mereka. Dara menggenggam erat pedangnya, "Ada apa, Dara?" tanya Li Phin.
__ADS_1
"Entahlah, rasanya terlalu sepi dan aku semangkin takut, jika ada yang berniat jahat kepada kita!" balas Dara.