
"Memang ada apa Dara?" tanya Liu Min memiringkan tubuhnya dan menyangga kepala dengan tangan kanannya.
Sebelah tangannya yang bebas masih membelai lengan Dara, Liu Min ingin membelai gundukan indah milik Dara tetapi ia malu untuk melakukannya hingga ia hanya berani membelai lengan hingga bahu Dara.
Liu Min merasa jika masa sekolahnya sangat indah walaupun penuh dengan main-main tapi dia berhasil melaluinya lebih dari kata sukses dan berhasil, keberuntungan selalu menaunginya.
"Liu Min, aku tidak mengerti … mengapa kamu bisa memiliki nilai begitu luar biasa? Kamu bisa memiliki gelar seorang Kolonel dan bintang juga piala yang banyak dari divisi kamu?" tanya Dara bingung.
"Um, aku tidak tahu. Hanya faktor keberuntungan aku kira, aku jago menembak, karena aku merasa itu terbiasa, aku jago bertarung pun karena aku terbiasa, aku jago berenang aku pun merasa aku terbiasa, aku merasa semuanya itu aku terbiasa melakukannya.
"Mungkin karena dulunya aku seorang kaisar Kali atau keberuntungan seperti orang-orang bilang." Liu Min sendiri tidak tahu harus menjawab apa kala deretan piala di rumah Liu Aching bertebaran.
Ia selalu menaruh pialanya dan semua gelarnya di rumah Liu Aching karena ia merasa lebih nyaman bersama kakak keduanya ketimbang Liu Amei yang tegas dan lebih banyak memiliki deretan piala dan pangkat lebih di atasnya.
Dara hanya terdiam, menanggapi semuanya, ia mengingat masa kekaisaran jika Liu Min memang terkenal mahir dan pintar.
"Ya, mungkin juga. Lalu kapankah kedua orang tua kalian meninggal?" tanya Dara penasaran.
Dara hanya melihat plakat nama dan foto kedua orang tua dan juga foto keluarga Liu Min dan kedua kakak dan kedua orang tua mereka.
"Ayahku meninggal karena serangan jantung, dia dokter hebat di Beijing sedangkan ibuku meninggal setelah 100 hari kematian ayahku, tanpa sakit. Um, berhubung kami tidak mengikuti kepercayaan lama dan aku juga jarang melakukannya sehingga kami sepakat untuk meletakkan plakat dan abunya di Vihara di Gunung Sun.
"Karena ayah dan Mama berpesan jika mereka meninggal mereka meminta untuk di makamkan di sana," ujar Liu Min.
"Ooo," ujar Dara, "karena kalian tidak tahu, jika dia masih keturunan kaisar bukan?" tanya Dara.
"Entahlah, kami tidak terlalu mempedulikan hal itu," bala Liu Min jujur.
Liu Min memang pernah mendengar kisah itu dari ayahnya, tetapi dia dan kedua kakaknya hanya menyangka jika itu hanyalah legenda semata.
"Dara, apakah masih sakit? Apakah kamu butuh sesuatu? Agar aku bisa meminta obat pada Cece Aching?" tanya Liu Min khawatir.
"Tidak perlu, nanti juga sembuh dengan sendirinya," ucap Dara tersentuh akan perhatian dan kasih sayang dari Liu Min suaminya yang rada tidak waras.
"Dara, menurut kamu, jika kita dimasukkan ke divisi untuk menyelidiki semua kejahatan Guangzhou. Apakah kamu bersedia?" tanya Liu Min.
__ADS_1
Ia merasa mendadak takut jika terjadi sesuatu pada istrinya, ia beranggapan jika Dara akan hamil dan bagaimana kedepannya.
"Aku bersedia, aku sudah lelah melihat kekakuan Guangzhou. Memang kenapa?"
"Um, ntahlah. Aku tiba-tiba takut, bagaimana jika kamu hamil dan ya, Tuhanku ini mengerikan Dara. Bukan main-main?" ketus Liu Min.
"Laogong, dulu pun saat mengandung Liu Sun Ming aku dan Li Phin melahirkan di tengah pertempuran dan kami baik-baik saja!" balas Dara.
"Apa?! Ya, Tuhan. Suami macam apa aku dulunya? Mengapa aku membiarkan istriku begitu menderitanya?" ujar Liu Min. Tidak mempercayai hal itu.
"Laogong, kamu suami, kaisar, dan sahabat juga anak yang baik. Jangan ragukan hal itu, keadaanlah yang memaksa kita untuk melakukan hal itu," ucap Dara.
Dara tahu jika dibalik tampang kerasnya Liu Min, ia memiliki hati selembut sutra. Dara mengahadap suaminya mengganti posisinya menjadi miring.
"Apakah dulunya kamu menyesal menikah denganku, Dara?" selidik Liu Min.
"Tentu saja tidak. Jika menyesal aku tidak akan mau menikah denganmu pada saat sekarang," ujar Dara.
"Syukurlah kalau begitu!" ucap Liu Min, "aku merasa hanya kitalah yang menghabiskan malam pertama dengan berbicara banyak hal," ucap Liu Min tersenyum.
"Entahlah, aku sendiri bingung harus bagaimana?" ucap Liu Min tulus.
"Laogong, apakah kamu mau lagi?" ulang Dara menawarkan hal itu tanpa sadar.
Ia mengingat kala bersama Kaisar Liu Min dulu malam pertamanya berulang kali mereka melakukan hal itu. Namun, Dara malu untuk jujur mengenai itu. Apalagi melihat Liu Min begitu ngeri melihatnya menangis pilu.
"Besok saja jika itu sudah tidak sakit lagi. Aku rasa kita akan punya banyak waktu," ucap Liu Min.
Jauh di relung hatinya ia tidak munafik untuk lagi dan lagi, tetapi bayangan Dara kesakitan dan menangis dan berulang kali menjambak rambutnya, ia mengurungkan hal itu.
"Apakah kamu tidak menyesal?" goda Dara.
"Um," Liu Min mulai dilema, antara iya dan tidak, ia kembali tersenyum mengecup sekilas bibir Dara yang selalu merona merah tanpa lipstik.
"Sudahlah Sayang. Jangan aneh, ntar kamu nggak bisa jalan nantinya. Waduh, bisa-bisa dibunuh dua siluman dari kamar sebelah," ujar Liu Min memuji kedua kakak cantiknya.
__ADS_1
"Apa? Kamu ngatain Cece kamu siluman? Laogong, aku akan mengadu pada mereka …!" ucap Dara mengancam.
"Aduh, ternyata aku menikahi adiknya siluman?" ucap Liu Min.
"Laogong!" jerit manja Dara membuat Liu Min tertawa dan berulang kali mendaratkan kecupan di bibir Dara.
Keduanya tanpa sadar mulai membuang selimut yang menghalangi keduanya hingga kembali pelabuhan cinta berulang di sana.
"Dara …," lirih Liu Min, kala melihat Dara kesakitan.
"Tidak apa-apa, teruskan saja," ujar Dara.
Dara tidak ingin selalu di tengah jalan Liu Min akan menghentikan kayuhan cinta mereka dan membuat Liu Min akan mengajaknya mengobrol sepanjang malam.
Dara mengetahui jika hasrat Liu Min belum tuntas maka segalanya tetap berulang lagi. Ia sudah mengetahui hal itu, sejak bersama dengan kaisar Liu Min. Sehingga sedikit banyaknya ia memahami hasrat suaminya. Walaupun Liu Min tidak menyadari hal itu.
Glek!
Liu Min sedikit cemas, melihat semua itu. Namun, Dara meyakinkannya hingga perlahan dan pasti segalanya menjadi indah, tangisan dan jeritan kecil Dara berubah menjadi lenguhan indah bergema.
Keduanya terkulai lemas dan bahagia, "Sayang, terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Liu Min.
"Aku tahu! Dan aku pun mencintaimu," balas Dara tersenyum.
"Tidurlah Sayang. Esok kita akan pergi ke Hunan," ucap Liu Min menyelimuti dan memeluk istrinya.
Malam berputar mengantarkan mimpi yang indah, Dara dan Liu Min bermimpi mereka berada di tengah pertempuran bersama Lu Dang dan semua orang membuat Liu Min terjaga.
"Apa ini?" batin Liu Min, ia melihat istrinya juga berkeringat.
"Sayang, bangunlah!" ujar Liu Min menyentuh lembut istrinya
"Sayang, Lu Dang kembali lagi," jawab Dara.
__ADS_1