Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 26~Sakit


__ADS_3

Sekitar pukul sembilan malam Edwin baru pulang ke rumah. Wajahnya terlihat lesu. Rasa lelah, penat bercampur jadi satu. Capek pastinya, sebab dirinya harus bekerja ekstra ketika sang asisten pribadi harus mengurus segala macam keperluan untuk acara pernikahan yang akan digelar minggu depan.


Dalam hati Edwin merutuk, tapi mau bagaimana lagi dirinya harus pergi ke luar kota untuk mengikuti seminar dengan perusahaan lain.


Dengan langkah gontai ia berjalan memasuki halaman rumah. Semenjak ada Kamila di rumahnya, Edwin mempekerjakan seorang satpam untuk menjaga keamanan Kamila dan putranya. Yang ada dipikiran Edwin adalah takut terjadi sesuatu kepada Kamila dan Ray, bukan mengkhawatirkan rumahnya yang padahal isinya tentu barang berharga semua.


Ketika sampai di depan pintu, Pak Ujang yang menekan bel berulang kali sebab Edwin duduk di kursi teras.


Kamila bergegas membukakan pintu untuk tamunya. Sebelum dibuka, ia mengintip dari lubang kaca kecil yang ada di pintu. Ketika mengetahui tamunya adalah Pak Ujang, bergegas Kamila membukakan pintu.


"Pak Ujang. Mas Edwin nya ma ... Eh, Mas! Kamu kenapa?" pertanyaan yang akan terlontar kepada Pak Ujang teralihkan ketika pandangannya menangkap sosok Edwin tengah terduduk lesu di kursi teras.


Edwin beranjak dari duduknya sembari tersenyum. "Ah, tidak apa-apa! Aku hanya kelelahan saja," jawabnya sembari melangkah masuk.


Pak Ujang masuk setelah tuannya masuk terlebih dulu, kemudian keluar lagi dan berpamitan kepada Kamila untuk pulang setelah menaruh barang bawaan Edwin.


Ada rasa khawatir pada diri Kamila ketika melihat Edwin berjalan gontai masuk ke rumah. Ia mengikutinya dari belakang untuk memastikan. "Yakin kalau kamu baik-baik aja?!"


Edwin menoleh sekilas sembari mengangguk. Belum sempat ia melangkah jauh, tubuhnya ambruk seketika.


"Mas!" pekik Kamila. Beruntung ia bisa menangkap tubuh Edwin sebelum jatuh ke lantai. "Kamu kenapa?" ia terlihat khawatir dan panik. "Pak Ujang ... Pak Heru! Pak, tolong saya!" panggilnya kepada supir dan satpam.


Kedua pria paruh baya itu berlari tergopoh dari luar setelah mendengar teriakan Kamila. Bukan hanya kedua pria paruh baya tersebut, kedua paruh baya lainnya juga keluar saat Kamila berteriak.


"Neng. Tuan kenapa?" tanya Pak Ujang dan Pak Heru.


"Enggak tahu, Pak! Dia tiba-tiba pingsan," sahut Kamila dengan wajah paniknya.


"Edwin. Kamu kenapa, Nak?" Nyonya Herni dan Tuan Huda terlihat cemas. "Dia demam," desis Nyonya Herni ketika menyentuh dahi putranya.


Tubuh Edwin segera dibopong ke sofa oleh ketiga pria paruh baya itu, lalu Kamila melepaskan jas, sepatu dan kaos kakinya.

__ADS_1


Ibunya Edwin segera menggosok telapak tangan dan kaki putranya menggunakan minyak gosok, sambil sesekali menyentuh dahi dan pipi Edwin yang terasa agak panas. Sedangkan Kamila berlari ke dapur untuk mengambil air hangat yang akan digunakannya untuk mengompres.


Suhu tubuh Edwin semakin panas, diiringi guncangan karena dingin menggigil. Edwin meringkuk menekuk tubuhnya sambil bergumam tak jelas.


"Cepat telpon Dokter!" perintah Tuan Huda yang langsung dituruti Pak Ujang.


Nyonya Herni terus mengusap-usap kepala putranya. "Win. Kamu denger Mami, Nak? Edwin ... Edwin!" lirihnya.


Kamila pun terlihat cemas dan panik. "Mas. Jangan buat aku takut!" tanpa terasa air matanya turun membasahi pipi.


Kamila menangis di hadapan ayah dan ibunya Edwin. Ia tidak sadar akan hal tersebut dan dilihat oleh kedua orang tua Edwin yang terus memperhatikannya sampai keduanya tersenyum penuh arti.


Tak lama kemudian Dokter Frans tiba di rumah Edwin. Dengan segera Dokter muda itu memeriksa kondisi Edwin yang terlihat mengkhawatirkan.


Tubuh Edwin digotong kembali ke kamar tamu agar ia bisa beristirahat di sana tanpa terganggu.


"Gimana Dok? Apa putraku baik-baik saja?" tanya Tuan Huda.


"Tidak perlu khawatir, Tuan Huda. Edwin hanya demam dan kelelahan saja," sahut Dokter Frans menenangkan. "Dia akan cepat sembuh asalkan ada yang merawatnya setiap saat," cetusnya meledek Kamila yang duduk di samping ranjang.


Kedua orang tua Edwin dan Dokter Frans tersenyum menanggapi pernyataan Kamila, namun ketiganya tidak memperlihatkan senyuman tersebut di hadapan Kamila. Sungguh itu yang mereka inginkan_kedekatan Kamila dan Edwin semakin erat.


"Oh, terima kasih Nyonya Muda Bagaskara. Edwin memang beruntung mempunyai istri yang cantik dan perhatian seperti Anda," puji Dokter Frans.


"Ma-maaf, Dok! Saya bu-buk_" Kamila ingin meluruskan kesalahpahaman tersebut, namun Nyonya Herni menyela.


"Tentu Dokter! Istri Edwin memang wanita yang paling perhatian," pungkasnya.


"Baiklah! Kalau begitu saya tidak perlu mengkhawatirkannya lagi, karena ada istrinya yang menjaga. Begitupun dengan Anda, Tuan dan Nyonya Bagaskara. Kalian tidak perlu mencemaskan putra Anda, sebab sudah ada yang berhak menjaganya!" tutur Dokter Frans terkekeh.


Tuan Huda dan Nyonya Herni mengulas senyum penuh arti. Keduanya pun mengantarkan Dokter Frans keluar, setelah berkata pada Kamila. "Titip Edwin ya, Mila!"

__ADS_1


"Ah, i-iya, Bu!" sahut Kamila gugup.


Sepeninggalan ketiganya, Kamila terus menjaga dan merawat Edwin. Raut wajah cemas tadi, kini menghilang sedikit demi sedikit seiring kondisi Edwin yang berangsur membaik.


Panasnya sudah turun, wajah pucat tadi sudah kembali normal, serta tubuhnya tak menggigil lagi. Kamila benar-benar merawat Edwin dengan baik sampai ia melupakan anaknya yang tidur sendirian karena mencemaskan kondisi Edwin.


Jarum jam tepat menunjukan angka tiga dini hari. Edwin terbangun dari tidurnya setelah kondisinya sudah membaik. Diliriknya Kamila yang tertidur dengan posisi duduk bersimpuh di samping ranjang, tangannya menggenggam tangan Edwin dan tangan satunya lagi memegang kain bekas kompres.


Edwin tersenyum melihat Kamila menjaga dan merawatnya semalaman. Rasanya hati Edwin berbunga-bunga karena mendapat perhatian dari wanita yang dicintainya tersebut.


Dengan perlahan, Edwin turun dari ranjang dan menggendong tubuh Kamila untuk dibaringkan di ranjang. Dia tahu jika tertidur di posisi seperti itu rasanya tidak nyaman dan bisa membuat pinggang terasa sakit, sebab ia sudah pernah mengalaminya ketika menunggui Kamila di rumah sakit.


Setelah membaringkan tubuh Kamila di ranjang, Edwin melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.


Tak berapa lama ia pun keluar menuju kamar Kamila untuk melihat Ray, karena Edwin yakin Kamila pasti melupakan putra kecilnya itu gara-gara mencemaskan dirinya.


Namun, ketika sampai di kamar Kamila, ternyata ibu dan ayahnya sudah berada di sana menemani Ray.


Nyonya Herni yang mendengar suara pintu terbuka langsung terbangun. "Edwin. Sudah membaik, Nak?"


Edwin mengangguk kecil, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar menghampiri ibunya. "Kapan Papi dan Mami sampai di sini? Kenapa gak bilang kalau mau pulang hari ini?!"


"Sengaja ingin memberikan kejutan. Tapi sepertinya kita yang terkejut," ledek Ibunya.


Edwin terkekeh sembari menaruh kepalanya di pangkuan ibunya. "Gimana menurut Mami? Dia baik, bukan?!"


"Sangat baik. Mami dan Papi setuju jika dia menjadi menantu kami,"


"Benarkah!" wajahnya mendongak.


"Tentu, Nak!"

__ADS_1


Senyum Edwin mengembang seiring pelukan hangatnya. "Terima kasih, Mami!"


...Bersambung ......


__ADS_2