
Liang Si masih berdiri di luar teduhan batu cadas dengan merasa menyesali segala perbuatannya, "Phin'er bukanlah anak-anak dan gadis lemah seperti dulu, yang selalu takut petir dan membenci darah.
"Dia sudah banyak berubah, dia malah sudah menjadi pendekar nomor satu di Tiongkok. Mengapa aku begitu bodoh? Selalu ingin melindunginya?" batin Liang Si menyesali semua perbuatannya.
Ia menengadahkan wajahnya ke langit menatap cahaya petir yang membelah angkasa dengan angkuh, air hujan terus membasahi tubuh dan wajahnya, "Aaa! Dewa! Aku ingin keadilan untukku! Jangan biarkan aku begini!" teriak Liang Si jatuh terduduk ia ingin marah tapi ia sendiri tak tahu harus marah dengan siapa.
Ia membenci rasa cinta dan kasih sayang yang tidak pernah pupus kepada istri orang lain. Petir terus menyambar, Dara dan Li Phin hanya mampu menatap dan berlinang air mata, keduanya tak tahu harus berbuat apa lagi.
"Maafkan aku, Liang Si! Maafkan aku Li Phin! Seharusnya aku tidak ada di sini," balas Dara, ia sendiri pun menangis untuk pertama kalinya sejak ia berada dunia anta berantah tersebut.
Li Phin hanya mampu menangis ia sendiri tidak tahu harus berkata apalagi. Segalanya benar-benar menyudutkan dua jiwa yang berbeda di satu tubuh.
Dara di dalam tubuh Li Phin hanya mampu menatap Liang Si dengan menggigit bibir, "Apa yang harus aku lakukan Phin'er? Apakah kamu marah?" tanya Dara bingung di antara derai air mata.
"Aku tidak tahu, aku rasa sudah benar apa yang telah kamu lakukan Dara. Jangan menyesalinya, Liang Si harus tahu keadaan sudah berubah sekarang," balas Li Phin jauh di dalam jiwanya sebagian hatinya tercabik menangis atas penderitaan yang mereka derita.
Li Phin bahagia kala lengan kekar Liang Si kembali ingin merangkul dan melindunginya dari kejam dunia dan perjalanan hidupnya yang berbeda. Namun, ia tahu itu sudah tak pantas lagi bagi tubuh yang sudah menikah dengan Jang Min.
Petir terus menyambar, Dara dan Li Phin hanya duduk dengan memeluk lutut mereka pedang naga hijau berpendar, membuat Dara terkesiap.
"Apa yang terjadi?" tanya Dara dan Li Phin bersamaan, pedang terus bergetar karena dua hati mereka bersedih sementara selama ini, jika Li Phin bersedih Dara selalu bahagia membuat mereka bertolak belakang.
Sehingga koneksi pedang tidak begitu berpengaruh kepada mereka berdua. Akan tetapi, kali ini mereka berdua merasa bersedih dan sama-sama terluka.
__ADS_1
Liang Si menatap ke arah Li Phin, ia ingin bertanya tetapi ia tak memiliki kuasa untuk melakukannya. Liang Si hanya memandang fenomena tersebut dan menanti kelanjutannya.
Seberkas bola api kembali datang menyerang ke arah mereka, Dara melesat dengan menarik pedang secepatnya begitu dengan Liang Si.
Lu Dang muncul dengan beberapa orang muridnya menyerang keduanya yang berusaha untuk melawan secepat mungkin. Hujan terus mengguyur pinggiran tebing dan hutan.
Lu Dang menyerang ke arah Li Phin yang langsung bergerak berusaha untuk menangkis dan menyelamatkan diri dari serangan bola api dan racun dari cakar Lu Dang.
"Kau telah membunuh sebagian anak keturunanku kau juga sudah membunuh keponakanku, Chien Ti'er!" teriak Lu Dang marah ia ingin membalas dendam.
"Bajingan! Dasar kau tua bangka! Kau hanya berani bermain curang!" teriak Dara marah melesat menebaskan pedang ke arah Lu Dang yang menangkisnya dengan cakar.
Dentingan pedang dan cakar membuat gema suara yang mengerikan dan menggelegar mengalahkan petir yang terus menyambar di angkasa.
Akan tetapi, ia merasa kesakitan dan kesulitan hingga ia berulang kali melesat terlempar dari tubuhnya sendiri. Lu Dang melihat seberkas cahaya putih yang keluar masuk dari tubuh Li Phin, "Apakah itu?" batin Lu Dang penasaran.
"Phin'er! Apa yang terjadi denganmu?" teriak Dara bingung ia berulang kali melihat Li Phin ke luar masuk dari tubuhnya sendiri dan memuntahkan darah segar.
"Aku tidak tahu Dara! Aku tidak bisa menyatu denganmu?" teriak Li Phin berusaha untuk bangkit dan menyatu kembali.
"istirahatlah, dulu! Aku tidak ingin Lu Dang melihatmu dan mengambilmu!" ujar Dara mengingatkan. Li Phin duduk di dalam benak tubuhnya sendiri hanya bisa mengawasi dan menuntun Dara jika serangan datang.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa di dalam tubuhmu memiliki dua jiwa?" tanya Lu Dang penasaran, "Hahaha, hutan kebenaran ini, benar-benar membuka rahasia seseorang!" ujar Lu Dang bahagia.
__ADS_1
Ucapan Lu Dang membuat Liang Si dan semua orang yang berada di sisi tubuh Li Phin dan Lu Dang terhenyak. Liang Si menatap ke arah Li Phin, ia melihat kilatan amarah dan bukan wajah Li Phin cahaya pendar hijau memantulkan seorang gadis cantik dengan rambut pendek seleher dengan gaya rambut berbeda yang bukan berasal dari zaman tersebut dan baju jaket kulit hitam dan celana jeans hitam, di antara batas tipis tubuh Li Phin dan tubuh Dara yang sebenarnya.
Tubuh asli Li Phin dan tubuh bayangan jiwa Dara yang menyatu di sana, bersama dengan jiwa Li Phin, semua orang terkesiap melihat fenomena tersebut.
"Siapa wanita itu?" batin Liang Si bingung.
"Sial! Apa yang terjadi? Phin'er apakah mereka bisa melihatku?" tanya Dara bingung.
"Iya, aku sendiri pun tidak tahu mengapa jiwamu bisa muncul dan keluar dari tubuhku?" balas Li Phin bingung.
"Phin'er apakah kamu tidak bisa bersatu denganku?" tanya Dara, ia tidak ingin rahasia mereka terbongkar.
"Maafkan aku, Dara! Aku sudah berulang kali mencoba untuk menyatukan jiwa kita tapi aku tidak bisa!" balas Li Phin.
"Sial! Bagaimana ini?" batin Dara.
"Kau adalah iblis! Pantas saja wanita lemah itu bisa sekuat itu!" teriak Lu Dang kembali menyerang tubuh Li Phin yang sudah berubah menjadi Dara Sasmita.
"Bajingan! Kaulah yang iblis! Aku tidak akan membiarkan kau membunuh Li Phin!" teriak Dara marah. Ia menangkis dan melesat menangkis setiap serangan yang dilakukan Lu Dang.
Liang Si masih bingung dengan semua hal yang dilihatnya, tetapi ia pun kembali menyerang murid Lu Dang berusaha untuk mengakhiri perang dan menolong Li Phin dan wanita tersebut.
Pertempuran kembali terjadi, Jiwa Dara berusaha untuk terus menguasai tubuh Li Phin agar tidak lepas kendali dan lenyap, "Aku tidak tahu jika aku terpisah apakah Li Phin bisa kembali ke tubuh ini? Ataukah aku akan mati!" batin Dara. Ia kembali menyerang Lu Dang dengan cepat, pendar cahaya hijau menguatkan jiwa Dara dan Li Phin.
__ADS_1
Pukulan demi pukulan yang dilontarkan oleh Lu Dang berbeda dari biasanya membuat Dara dan Li Phin kewalahan. Liang Si sudah berhasil membunuh 2 orang murid Lu Dang membuat Lu Dang semakin murka menyerang Liang Si.