
Semua kaki tangannya hanya diam, tak ada yang berani berkutik. Wanchai menatap semua orang dengan marah tak satu pun berani mengangkat wajah untuk menatap Wanchai.
Ia ingin marah dan membunuh semua kaki tangannya, tetapi ia pun tak ingin mengambil resiko dengan mengurangi kekuatannya jika ia membunuh beberapa pionnya.
"Apakah kalian tuli? Mengapa tak satu pun dari kalian yang bicara?" teriak Wanchai marah.
Wanchai ingin jika salah satu dari kaki tangannya akan berbicara hanya sekedar menghiburnya. Namun, ia tahu semuanya ketakutan, ia hanya menarik napas.
Semua orang gemetar, "Ma-maaf, Tuan! Kami tidak berani mengatakan apa pun. Namun, satu hal kita tidak mengerti mengapa wanita dan pria itu memiliki kekuatan yang sangat hebat?
"Kami sudah melakukan banyak hal. Tapi kami masih saja berada di bawah kekuatannya. Maaf Tuan, Jika Tuan kecewa," ujar salah satu kaki tangan Wanchai dengan takut.
"Hm …," Wanchai mendengus.
Akan tetapi, ia tak berkata apa pun lagi, Wanchai hanya duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap malam dari balik kaca dinding perusahaan raksasa miliknya.
"Apakah Dewa tidak akan pernah memberkati keinginanku untuk menguasai dunia ini? Bajingan!" umpat Wanchai murka.
Ia merasa marah akan kebesaran Tuhan yang tak pernah mendukungnya untuk memiliki segala kekuatan dan menguasai dunia di genggaman tangannya. Ia selalu merasa gagal sejak dulu hingga sekarang.
Wanchai tak pernah bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya, kekayaan, dan kekuatan juga kaki tangan yang banyak. Walaupun ia menggunakan cara kotor untuk meraih semua itu.
Semua orang semakin takut, "Hubungi Pablo, aku ingin mengadakan rapat segera!" ucapnya.
Seorang pria langsung bergerak pergi menelepon Pablo. Wanchai hanya diam, ia masih memikirkan apa yang akan dikatakannya pada Mitsuki.
"Hah! Aku harus menelepon Mitsuki secepatnya," batin Wanchai.
Ia tak ingin jika antara kubunya dan kubu Mitzuki akan terjadi pertikaian, ia tak ingin kubunya dari Jepang tersebut akan menarik kekuatannya membuat dirinya semakin kacau.
"Aku akan m nyatakan segalanya kepada Mitsuki. Bukankah semua ini juga berasal dari dirinya? Dialah yang memiliki ide ini," batin Wanchai.
Ia merasa sedikit lega dan memiliki ide lain untuk tetap menggandeng Mitsuki bersamanya untuk menguasai pedang naga hijau dan menyatukan dengan kekuatan sindikat naga merah.
__ADS_1
***
Sementara Dara dan Liu Min masih berada di dalam sumur tua, salju sudah bertumpuk menjadi gunung kecil di permukaan dasar sumur. Hujan salju masih saja datang, tetapi suhu di dalam gua sedikit menghangat karena Dara membuat perapian ala zaman kuno.
"Laopo …," lirih Liu Min.
Ia menatap istrinya yang berada di atas tubuhnya, membelai punggung istri dengan lembut merasakan cinta yang sangat luar biasa.
Liu Min tak ingin lagi hal lain selain bersama istrinya, berulang kali ia mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan, ia merasa tak ada lagi yang lebih indah dan sempurna selain istri yang luar biasa yang masih terus berada di sisinya di kala suka dan duka menerpa.
"Mimpi yang aku alami adalah kisah nyata hidupku bersama dengan Dara di masa lalu." Liu Min membelai dan mengecup puncak kepala istrinya.
Ia merasa menjadi pria yang paling beruntung memiliki istri yang luas biasa. Liu Min berpikir cepat, mencari solusi masalah mereka.
"Lu Dang, dia memang mirip dengan Guangzhou … apakah jika kami menghancurkan Guangzhou maka … kehidupan kami akan menjadi lebih baik kedepannya?" batin Liu Min penasaran.
Ia masih membayangkan pertempuran terakhir di perbatasan Xihe. Ia merasakan jika mereka semua mati dengan rasa penasaran yang sangat besar.
"Mungkin rasa penasaran itulah yang membawa kami kembali ke dunia ini, um … mustahil tetapi ini adalah kenyataan!" batin Liu Min.
Ia merasa geli jika ia mengingat wajah kakak perempuannya Liu Aching, ia tak menyangka di kehidupan lain ia pernah menjadi suami dari kakaknya sendiri.
"Untung saja, di kehidupan ini pun aku hanyalah saudara angkatnya dan Liu Amei dia tetap menjadi kakak angkat ku yang hebat. Aku akan berterima kasih kepada keduanya nanti …," batinnya.
"Sayang … kamu sudah bangun?" tanya Dara menyentuh kening Liu Min.
Ia bernapas lega demam Liu Min telah hilang dan kini ia melihat jika suaminya sudah pulih. Walaupun masih terlihat pucat pasi.
"Semua ini karena istri hebatku! Jika kamu tidak segera datang dan menyelamatkanku. Mungkin aku sudah berada di dunia lain," balas Liu Min tersenyum membelai wajah indah Dara yang tersenyum.
Cup!
Dara mengecup bibir suaminya, "Baiklah, Sayang. Aku rasa kita akan makan!" ujar Dara.
__ADS_1
Ia tak ingin mengenang kesedihan lagi, "Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Kita tidak tahu kapan ajal akan datang, kita berusaha mengukir cerita indah kita yang penuh luka dan darah.
"Tapi, aku yakin jika suatu saat kebahagiaan kita akan selalu datang. Walaupun dengan seribu luka yang akan kita lalui, Laogong." Dara tersenyum dan mengecup kembali bibir indah yang selalu dirindukannya.
Ia beranjak dari tubuh suaminya mencoba pergi ke ruangan lain untuk menggoreng sesuatu ia berhasil membeli tabung gas kecil dan peralatan dapur seadanya.
"Sayang?! Dari mana kamu mendapatkan semua ini?" Liu Min merasa takjub dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Aku membelinya, selama seminggu dirimu sakit, aku pikir … tidak mungkin aku keluar masuk dengan mudah. Aku takut jika ada yang curiga, makanya aku membeli semua ini," balas Dara tersenyum.
"Usul yang sangat bagus!" ucap Liu Min.
"Duduklah, aku akan memasak sejenak dan kota sarapan, setelahnya Laogong kamu harus minum obat dan istirahat.
"Aku rasa kita akan menghilang seminggu lebih dulu mempelajari semua pergerakan mereka, aku tidak berani mengirim kabar kepada Ce Amei atau Aching. Aku takut, ada yang menyadapnya …," ujar Dara.
Ia mulai memasak dengan cekatan, membuat Liu Min takjub. Ia melihat segelas susu nasi, ikan, dan tumisan pakcoy sudah terhidang sederhana tetapi sangat menggugah selera.
Mereka makan dengan tenang dan tersenyum, "Minumlah, Sayang. Bukan hanya aku yang butuh protein dan gizi berlebih. Kamu juga sangat butuh … lagian aku sudah sering minum susu." Liu Min memberikan setengah sisa susunya pada Dara.
"Kamu minum susu apa Laogong?" tanya Dara bingung.
Dara mengingat sejak mereka keluar dari rumah Liu Aching mereka sama sekali tak pernah menyentuh susu.
"Susu gantung kamu, Yang!" balas Liu Min.
"Dasar!" teriak Dara menggeleng-gelengkan kepala menanggapi ucapan suaminya yang mulai ngeres.
"Berarti kamu sudah sembuh benar Laogong!" balas Dara.
"Mengapa kamu bilang begitu Laopo?"
"Karena pikiranmu sudah mesum, itu artinya kamu benar-benar sudah sembuh!" cerocos Dara.
__ADS_1
"Hahaha, siapa yang tidak akan sembuh bila dipeluk dengan kehangatan alami dari tubuh wanita yang dicintai, Sayangku!" ujar Liu Min menatap Dara dengan penuh haru dan kasih sayang.