Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Kelinci imut


__ADS_3

"Habis kamu tidak pernah membawa pasangan kamu!" ucap Liu Amei cuek melangkah ke arah Dara dan tersenyum manis.


"Halo, selamat datang! Saya Amei Cece-nya si Biang Kerok ini," sapa Liu Amei dengan mengulurkan tangan.


"Halo, saya Dara!" sambut Dara tersenyum bahagia.


Ia merasa antara Liu Min dan Liu Amei sedikit lebih blak-blakan berbeda dengan Liu Aching yang menyayangi Liu Min dengan sebuah kelembutan.


"Um, bukankah ini wanita … yang sama yang dikabarkan menjadi pembangkang juga bersama denganmu Amin? Jangan-jangan kamu meracuninya sehingga dia menjadi mengerikan!


"Kamu memang virus yang sangat berbahaya," ujar Liu Amei menatap ke arah Liu Min kesal.


"Apa? Yang benar saja! Andaikan kamu tahu akulah yang selalu dihajarnya, kamu tak akan pernah mengatakan hal itu." Liu Min mulai berpikir jika Liu Amei selalu saja menyalahkan dirinya akan sesuatu yang tak seharusnya dirasakannya.


"Oo, apakah kamu benar-benar menghajar anak nakal ini?" tanya Liu Amei pada Dara.


"Ya, karena dia …," Dara menoleh ke arah Liu Min yang menggoyangkan telapak tangannya melarang Dara untuk berkata jujur.


"Ayo, katakan saja! Jangan takut, aku akan selalu mendukungmu! Jangan. Dengarkan dia," ucap Liu Amei.


"Hehehe, karena dia mata keranjang dan selalu mencari kesempatan dalam kesempatanku," ketus Dara.


"Hah! Yang benar saja! Apa saja yang dilakukan si Kurang Ajar itu?" tanya Liu Amei.


"Di-dia telah mencuri ciuman pertamaku …," ujar Dara dengan rasa malu membuat wajahnya merona.


Dara merasa ia tidak bisa tidak jujur dengan Liu Amei ia merasa ia sedang berbicara dengan Tan Jia Li.


"Apa! Dasar anak kurang ajar!" teriak Liu Amei melompat dengan cepat ke arah Liu Min dan memukulnya di rerumputan mereka bergumul seperti anak kecil.


Namun, Liu Min tak sedikit pun melawan dan Liu Amei pun tidak benar-benar memukul adiknya. Mereka seakan bermain-main saja.


"Cece, aku … aku …." Liu Min menatap Liu Amei.


"Aku apa?"

__ADS_1


"Aku terpesona padanya! Dia menggemaskan sekali! Dia seperti … kelinci lucu!" ujar Liu Min memberikan gambaran mengenai Dara Sasmita.


Gubrak! Mak glundung!


Dara Sasmita merasa dirinya terjungkir ke jurang dan terlempar entah ke mana perumpamaan Liu Min sangat aneh.


"Dasar, Liu Min!" batin Dara ingin menonjoknya.


"Apa kau bilang?!" teriak Liu Amei.


"Maksudku, dia benar-benar membuatku ingin memilikinya karena dia itu lucu dan menggemaskan hingga aku ingin memeluknya. Cece ingat Siau-siau (kelinci milik Liu Min kecil) 'kan? 


"Nah, aku merasa Dara sangat manis seperti itu!" bela Liu Min. 


Liu Amei menatap Dara dan terdiam, "Ya, kamu benar, dia menggemaskan dan cantik sekali. Tapi, dia seorang gadis bodoh!" teriak Liu Amei 


Tuk!


Liu Amei menyentil jidat Liu Min, "Kau harus bertanggung jawab, nikahi dia. Jangan sembarangan membawa anak gadis orang ke mana-mana tanpa menikahinya itu artinya kamu pria yang tidak bertanggung jawab dan wanita jadi-jadian!


"Iya, aku juga ingin menikahinya!" balas Liu Min dengan tegas 


"Baguslah kalau begitu," ujar Liu Amei menepuk punggung adiknya, "kamu sudah besar Titi, aku senang melihat kamu bahagia.


"Aku kira aku benar-benar akan mengadakan sembahyang untukmu. Itu mengerikan sekali, apakah kamu tahu, jika Guangzhou semakin merajalela di Hunan," ujar Liu Amei.


"Apakah kalian akan berbicara di luar saja? Dan tidak memperkenalkan aku dengan calon ipar kita?" ucap Ahim Yilmaz.


"Oh, Ko Ahim, apa kabar? Aku berharap kamu tidak terlalu menderita akan kelakuan Cece-ku," ucap Liu Min berdiri menyambut uluran tangan dari Ahim Yilmaz dan sebelah tangan lagi menarik tangan istrinya.


"Ah, Sayang … aku tidak menyangka jika Amin kita benar-benar selamat dan pulang membawa kekasih," ucap Liu Amei.


"Ya, kita harus bersyukur untuk itu! Kalian bisa membahas masalah penjahat itu di dalam rumah, aku takut jika ada yang mengawasi rumah Liang Bo." Ahim Yilmaz sedikit bergidik memandang ke arah luar pagar tinggi yang terbuat dari bata merah.


"Um, ada apa sebenarnya Ko?" selidik Liu Min. 

__ADS_1


Ahim Yilmaz seorang pengusaha sukses di bidang perhotelan dan restoran ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai masalah negara, karena ia sendiri masih berkebangsaan Turki. Sehingga ia menghindari hal itu.


"Ceritanya panjang! Aku akan menceritakan di dalam saja," ujar Liu Amei.


"Dara … kenalkan ini suamiku, Ahim Yilmaz. Sayang ini Dara, calon istri Amin," ucap Liu Amei memperkenalkan masing-masing.


"Dara …," sambut Dara menjabat uluran tangan pria yang mirip dengan Gu Shanfeng.


Akan tetapi, Dara melihat Gu Shanfeng pada zaman ini berbeda dengan Gu Shanfeng zaman dulu, "Pria ini lebih hangat dan tidak tahu menahu mengenai beladiri," batin Dara menyelidiki postur tubuh dan kekuatan yang berada di depannya.


Namun, ia merasakan sesuatu hal yang berbeda, Ahim Yilmaz lebih karismatik dan tidak playboy seperti Gu Shanfeng dan sangat luar biasa pintar.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah di mana Liang Bo, Liu Aching, dan Luo Kang sedang berbicara mengenai pengobatan dan kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat Kampung Nelayan.


"Cece! Kalian sudah tiba!" Sapa Liu Aching pada Liu Amei yang langsung berpelukan dan menjabat tangan Ahim Yilmaz.


Begitu juga dengan Liang Bo da Luo Kang saling berpelukan dengan Ahim Yilmaz dan menjabat tangan Liu Amei.


Mereka kembali makan dengan berbicara panjang kali lebar yang ringan dan bertanya mengenai apa yang terjadi dengan Liu Min di Indonesia hingga mereka berdua bisa menjadi anumerta.


"Jadi, sindikat mafia Naga Merah, benar-benar melebarkan sayapnya hingga ke Asia Tenggara? Um, jadi Laksana Tan Juan yang memilihmu begitu?" tanya Liu Amei.


"Ya, begitulah! Apa ada masalah, Ce?" tanya Liu Min.


Ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi, "Laksana Juan sedang di skorsing selama ini dan aku tidak tahu ke mana pemerintah membuangnya," balas Liu Amei 


"Apa! Apakah ada hal yang mencurigakan?" tanya Liu Min tak mengerti.


"Aku. Tidak tahu, masalahnya itu di korps berbeda denganku, Amin. Kalian 'kan AL dan aku dari kepolisian ruang lingkup kita 'kan dibatasi untuk tidak saling menyeberangi.


"Sejak kamu dikabarkan membelot di Indonesia dan menjadi buronan sepertinya dia langsung di skorsing dan dimutasikan entah ke mana? Tak ada seorang pun yang tahu. Aku sudah menanyakan kepada beberapa Admiral di AL.


"Tapi, kalian selalu saja pintar menutup mulut kalian, menyebalkan tahu. Jadi, aku berusaha hanya menyelidiki dari jalurku saja. Aku juga tidak bisa menghubungi Laksamana Tan Juan." Liu Amei menyantap kudapan dengan diam.


"Lalu apa yang terjadi dengan Ko Ahim? Mengapa Acai (putra Ahim dan Amei) tidak ikut?" tanya Liu Min penasaran.

__ADS_1


__ADS_2