
Bruk!
Tubuh Paulin ambruk dengan 3 lubang menembus kepala, dada
dan perutnya, menatap nanar pada Liu Min.
Pluk!
Samurai terlepas dari tangan dan tergeletak di pasir di samping tubuhnya yang bersimbah darah meregang nyawa.
"Heh! Tak semudah itu kau membunuhku!" lirih Liu Min.
Bruk!
Ia pun jatuh terjerembab kembali tertelungkup di pasir yang penuh darah dan rasa luka akan pengkhianatan.
"Laopo, maafkan aku …!" lirih Liu Min.
Bayangan senyuman Dara terbayang di pelupuk mata, di saat Liu Min memejamkan mata, air mata tergenang dan menetes membasahi pasir yang sudah berubah menjadi merah akibat darah.
"Laogong!" teriak Dara di dalam wajah Li Phin berlari di sepanjang koridor kekaisaran Donglang dengan senyuman.
Ia terlihat cantik dengan pakaian permaisuri berwarna kuning, berlari dan tersenyum memegang bunga Magnolia di genggaman berwarna pink.
"Laopo!" teriak Liu Min mengejar permaisurinya dengan memakai baju kekaisaran berwarna senada dengan permaisuri cantiknya.
Seorang bayi mungil digendongan Dayang Ling'er menangis, "Ssshhh, Sayang Ayahanda dan Mama di sini Sun Ming, Jangan menangis, Sayang. Jadilah anak yang luar biasa baik dan bertanggung jawab, penuh cinta kasih kepada sesama.
"Lindungilah rakyat dan kekaisaran, Putraku …," ucap Dara, menimang bayi mungil tersebut.
Dara mengambil Liu Sun Ming dari gendongan dayang dan langsung menyusuinya dengan kasih penuh cinta dan rasa sayang seorang ibu.
"Ah, cilukba!" goda Liu Min pada putranya yang tampan, berulang kali ia melakukan hal itu, membuat putranya tertawa.
Li sun Ming langsung tersenyum bahagia menatap ayahanda dan ibundanya mengulurkan jari mungil yang langsung disambut oleh Liu Min dengan perasaan kasih sayang.
__ADS_1
Liu Min merasakan kebahagiaan, mimpi berputar kala ia dan Dara di dalam tubuh Li Phin berayun di taman dengan penuh kasih sayang, berpelukan kemudian berputar kala ia bersama pasukannya bertempur di berbagai peperangan yang mereka lewati.
Kebahagiaan melewati semua pertempuran dengan luka dan kemenangan, menyeberangi hutan dan gurun juga menikmati malam yang penuh gelora dan hasrat membara.
Senyuman dan tawa, juga celoteh Dara membuat seorang Liu Min tak bisa berpaling lagi. Ia begitu mencintai dengan sepenuh jiwa miliknya, hingga pertempuran terakhir di Benteng Pertahanan Xihe.
Di mana ia berdansa dengan Dara di sepanjang malam dan menghabiskan malam dengan cinta dan berjanji tak akan ada perpisahan walaupun nyawa tak lagi dikandung badan, hingga kematian merenggut segalanya.
"Dara!" lirih Liu Min ia merasakan sebuah tangan telah membelai wajah dan tubuhnya.
"Laopo! Mengapa kau ikut denganku? Kembalilah ke dunia, aku tak ingin kamu pun mengikuti hingga aku mati!" ucap Liu Min menggenggam tangan Dara.
"Laogong! Aku akan ikut denganmu ke mana pun kau pergi! Aku mencintaimu hari ini, esok, dan selamanya!" balas Dara.
Liu Min melihat tetesan air mata membanjiri wajah cantik Dara, hatinya perih dan terluka. Ia merasa tak sempurna menjadi seorang kekasih, teman, saudara, kaisar, dan suami untuk Dara Sasmita.
Liu Min merasa tak sebanding membalas semua pengorbanan yang diberikan istrinya pada dirinya yang tak sempurna. Liu Min merasa ia hanya memberikan duka dan air mata juga luka di sepanjang dua kali pernikahan di dua kisah berbeda, tetapi hasilnya tetap sama.
"Aku selalu memberimu luka dan air mata ini …." Liu Min menyeka air mata yang tertumpah.
"Laogong …." Dara semakin sesenggukan.
Ia merasa jika kematian telah datang dan merampasnya dari kehidupan yang baru berapa hari dijalankan di dalam sebuah pernikahan indah penuh luka dan darah yang diberikan musuh untuk mereka berdua.
Liu Min ikhlas melepaskan Dara Sasmita untuk bahagia di dunianya, walaupun tak bersama dengannya lagi. Ia telah rela jika Dara akan menikah lagi setelah kematiannya.
"Aku tak pernah bisa membuat dan memberikan kedamaian dan kebahagiaan di dua kali kehidupan menikah denganmu.
"Aku hanya memberimu luka, Laopo. Maafkan aku! Berbahagialah, Laopo-ku yang cantik, baik, dan luar biasa hebat!
"Jika tubuhku ini hanyalah selimut jiwa, aku sudah teramat bahagia bersamamu, di kehidupanku penuh luka, karena cintamu Laopo. Aku kuat menjalaninya.
"Kau telah menemaniku dengan begitu banyak cinta dan pengorbanan, Laopo. Cinta telah membuatku bertahan dan pencarianku akan cinta adakah dirimu Laopo.
"Dara Sasmita cahaya di sebuah kegelapan di sepanjang kehidupanku, Laopo …! Jangan menangis …," lirih Liu Min.
__ADS_1
Ia masih membelai wajah cantik Dara berusaha tersenyum ia tak ingin meninggalkan istrinya dengan tangisan, sebelum ia kembali jatuh pingsan
"Sayang, aku harus kemana lagi? Ke dunia mana lagi aku harus pergi dan mencarimu?" tanya Dara bingung.
Ia meraba kening suaminya suhunya sangat panas ia tahu jika suaminya mengigau, Dara menolong suaminya yang terluka parah di pantai Shenzhen Utara.
Ia langsung membawa tubuh Liu Min kembali ke gua mereka di dalam sumur, ia menggunakan kemampuan Li Phin yang pernah diikutinya kala mereka masih di satu tubuh.
Dara telah mengeluarkan peluru dan menjahit bekas luka tembak dan samurai Paulin, ia telah meminumkan ramuan dan banyak hal kepada Liu Min. Ia juga melesat keluar masuk untuk membeli obat dan persediaan darah secara modern.
Tubuh Liu Min mendadak menjadi dingin, bak es menggigil. Musim telah berganti dari musim gugur menjadi musim dingin, salju mulai turun di luar masuk ke dalam sumur menjadi gundukan putih.
"Sayangku, Laogong … jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa … jika ku tanpamu di kehidupan ini. Laogong ….
"Aku tidak peduli jika hidup ini tak adil bagi kita, bagiku kamu adalah segalanya … aku tak akan pernah meninggalkanmu, Laogong!" ujar Dara.
Menanggalkan baju dan memeluk suaminya memberinya kehangatan untuk menurunkan suhu tubuh Liu Min yang menggigil.
Nyanyian burung dan binatang malam juga tetes salju membasahi bumi terdengar bak nanyian malam yang indah mengantarkan tidur mereka.
***
Jauh di Kota Hunan ….
Brak!
Pria bernama Wanchai menggebrak meja, ia tak menyangka jika semua rencana yang sudah disusun dengan rapi harus gagal juga.
Semua anggotanya terlihat diam dengan menundukkan wajah ketakutan. Tiada seorang pun yang berani bersuara, mereka takut akan menjadi lampiaskan dari kemarahan seorang Wanchai yang mengerikan, keheningan mulai menyelimuti suasana.
"Bajingan! Aku telah banyak kehilangan!" teriak Wanchai murka.
Semua anak buahnya semakin ketakutan besiap-siap jika nyawa akan melayang, berdoa di dalam hati agar pedang atau peluru tak menyentuh raga mereka.
"Apakah mayat Paulin sudah diselamatkan? Bagaimana dengan keadaan Chin Kit? Dan Axiang?" lirih Wanchai.
__ADS_1
Ia tak menyangka jika orang sehebat Paulin akan meninggal dengan mengenaskan.
"Apa yang aku katakan pada, Mitzhuki? Jika putrinya meninggal?" lirih Wanchai.