
Dara terkejut melihat wajah Liang Si, "Liang Bo, Amin datang. Lihatlah, dia benar-benar selamat seperti katamu," ujar Liu Aching tersenyum bahagia.
"Oh, syukurlah Amin. Aku merasa tak akan mungkin kamu semudah itu tewas, syukurlah kami tidak jadi mengadakan sembahyang untukmu di Vihara," ujar Liang Bo.
Liang Bo mendekati adik iparnya dan merangkulnya dengan sebuah kehangatan, keduanya saling menepuk punggung.
"Aku bersyukur kamu sehat, Ko (Abang). Aku kira Cece (kakak) tidak bisa membuatmu gemuk," puji Liu Min membiat Liu Aching meninjunya di bahu.
"Kamu sungguh terlalu, terakhir kali aku dengar kamu berada di Penjara Hongkong. Benar begitu?" tanya Liu Aching menatap adiknya dengan perasaan yang sulit dijabarkan.
"Hm, ya aku bersyukur untuk itu," balas Liu Min, "dan aku memang yang mengatakan kepada Cece Amei, agar kalian tidak menjengukku," lanjut Liu Min.
"Oh," balas Liu Aching terdiam sejenak.
"Siapa gadis cantik ini? Apakah kekasihmu?" tanya Liang Bo, ia berusaha untuk mengalihkan ketegangan yang akan terjadi antara adik-kakak tersebut.
Dara hanya tersenyum memandang Liang Bo. Ia masih merasakan dejavu, ia tak menyangka jika Liang Si bereinkarnasi juga. Namun, Dara melihat Liang Si di zaman modern bukan seperti Liang Si masa lalu.
Liang Bo lebih lembut dan sangat kebapakan, "Dara, ini Liang Bo suami kakakku," ucap Liu Min memperkenalkan keduanya.
"Dara!"
"Liang Bo! Senang berkenalan denganmu Nona. Eh, bukankah ini wanita yang dikabarkan tewas bersamamu Amin?" tanya Liang Bo menatap Liu Min.
"Ya, ceritanya panjang," balas Liu Min tidak lagi begitu tertarik untuk menceritakan kisah itu lagi. Ia malah masuk ke dalam bermain dengan si kembar Ayin dan Ahwa.
"Ayo, masuklah!" ajak Liu Aching pada Dara dan Luo Kang.
"Bagaimana tinggal di Kampung Nelayan? Apakah kamu memiliki kendala soal pengobatan Akang?" tanya Liang Bo.
"Tidak, aku senang tinggal di sana! Selain itu, Anda juga sangat baik memberikan semua apa yang kami butuhkan,," balas Luo Kang santai.
"Bukan dariku, tapi dari pemerintahan yang benar-benar mendukung. Aku sedang mengajukan untuk membuat rumah sakit di sana. Aku harap kamu berpartisipasi nantinya Akang," ujar Liang Bo.
__ADS_1
Liang Bo tahu masa lalu Luo Kang, "Percayalah, kamu sangat luar biasa. Guangzhou tidak akan tertarik ke sana," balas Liang Bo.
Keheningan terjadi diantara mereka, "Aku akan berupaya untuk membantu," balas Luo Kang, menepis bayangan kematian akibat Guangzhou kala ia masih di Shenzhen.
"Oh, syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya. Aku baru akan mengirim obat-obatan ke sana Akang. Kamu bilang, sangat sulit untuk mendapatkan obat-obatan yang dibutuhkan penduduk," ujar Liang Bo.
Liang Bo dan Luo Kang berbicara mengenai klinik dan kedokteran juga kebutuhan penduduk akan obat-obatan.
Sedangkan Liu Min dan kedua keponakannya sedang bermain-main di taman di bawah rerimbunan bunga persik.
"Dara, mari minumlah dulu. Biarkan para lelaki bersenang-senang," ujar Liu Aching.
"Terima kasih, Nyonya!" balas Dara.
"Jangan panggil aku nyonya, panggil saja aku Ching Er itu lebih dekat dan akrab," ujar Liu Aching tersenyum.
"Baiklah Ching Er," jawab Dara tersenyum, ia masih memandang wajah Li Phin di dekatnya.
"Um, baru saja. Maksudku, sejak kami ditugaskan bersama untuk memburu para sindikat mafia pengedar narkoba internasional," balas Dara, "apakah Anda seorang dokter?" tanya Dara penasaran.
Ia membayangkan Li Phin yang sedang memakai baju modern, "Ya, aku dan Liang Bo adalah seorang dokter kami kuliah bersama di Cambridge," ujar Liu Aching.
"Ooo," balas Dara, "kalian pasangan serasi," lanjutnya memuji.
Ia merasa jika Liu Aching dan Liang Bo benar-benar saling melengkapi satu sama lain bagaikan sebuah puzzle. Dara mengingat cinta Li Phin dan Liang Si, "Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa?" batin Dara.
Seakan-akan mereka baru saja memerankan sebuah panggung sandiwara di sebuah sekolah, ia masih memandang Liu Min yang memetik bunga persik dari dahan-dahan pohon bunga.
"Hahaha, jika kamu tahu kami selalu saja bertengkar. Mungkin, hal itu jauh dari kata serasi seperti yang kamu maksud," balas Liu Aching.
Dara menyesap minumannya ia merasakan ia begitu dekat dengan semua hal yang berada di sana, "Um, apakah dulunya, ini sebuah kerajaan?" tanya Dara penasaran.
Bayangan masa lalu kembali mengusiknya, "Ya, bekerjalah,"balas Liu Aching.
__ADS_1
Ia mengedarkan pandangan pada sekitarnya, mereka duduk di sebuah teras samping rumah menyesap teh hijau dan memakan cemilan mirip kue mochi dan mendut.
"Dulunya ini kerajaan Limen Utara. Kebetulan Liang Bo adalah generasi terakhir dari kerajaan Limen Utara. Wah, kamu cerdik dan pintar sekali. Kamu mirip dengan Amin.
"Ngomong-ngomong kamu asli orang Indonesiakah? Aku pernah ke sana bersama Liang Bo ke Bali. Sekaligus ada pertukaran dokter dulunya," ujar Liu Aching.
"Indonesia luar biasa indah, mungkin itu adalah negara Atlantis yang hilang," ujar Liu Aching.
"Hahaha, aku tersanjung. Ya, aku asli suku Indonesia," balas Dara.
Ia masih memory hariaka helaian bunga persik berguguran tertiup angin, "Li Phin begitu menyukai bunga persik, begitu juga dengan Aching," batin Dara.
"Hei, kalian pasti belum makan. Aku akan menyediakan makanan dulu, kamu istirahatlah," ucap Liu Aching.
"Aku akan membantu, aku sudah lama sekali tidak berada di dapur ... ," keluh Dara mengingat begitu lama dirinya koma dan menjadi buronan.
"Ayo," ajak Liu Aching gembira.
Liu Aching merasa mendapatkan saru lagi saudara perempuan, ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasa begitu dekat dengan Dara Sasmita?
Dara hanya ingin terus bersama dengan Li Phin masa kini, ia begitu rindu ingin bersamanya. Mengulang semua kejadian masa lalu. Namun, Dara sadar itu tidak mungkin. Ia melihat jika Li Phin masa kini berbeda dengan Li Phin masa lalu yang rapuh dan memiliki penyakit asma.
Keduanya memasak dan menyajikan menu makanan Dara melihat Liu Aching begitu cekatan memasak di dapur, tangannya begitu lihai memotong semua bahan makanan di atas talenan.
"Apakah kamu seorang dokter bedah?" tanya Dara penasaran memperhatikan gerakan tangan Liu Aching menggunakan pisau.
"Hahaha, bagaimana kamu bisa tahu? Kamu luar biasa Dara. Kebetulan sekali malam ini kakak tertua kami Liu Amei akan datang kemari. Aku sudah mengabari seminggu yang lalu, dia bersikeras untuk melakukan sembahyang di Vihara.
"Untuk Liu Min. Um, dia masih menganut kepercayaan leluhur kami." Liu Ching tersenyum menatap Dara.
"Tetapi Liang Bo, bersikeras jika Amin masih hidup dan itu ada benarnya. Hanya saja Cece Amei tidak ingin arwah Amin penasaran hingga kami berinisiatif untuk mengunjungi biksu di Vihara di gunung Sun.
"Untuk melakukan sembahyang karena aku dan Cece Amei susah berbeda kepercayaan," balas Liu Aching, "suaminya orang Turki blasteran dengan Tiongkok, bernama Ahim Yilmaz," papar Liu Aching.
__ADS_1