
Kras!
Pedang Tan Jia Li menebas leher Chung Kit Tak bersamaan dengan pedang hijau Dara menebas leher Cien Lo, mereka benar-benar marah. Jang Min pun berhasil menghalau dan menebas tentara Mongol.
"Musuh sudah dikalahkan!" teriak semua orang senang.
"Ayahanda!" teriak Dara dan Li Phin mengejar Li Sun yang terduduk akibat luka yang telah dilakukan oleh komplotan Man Thien.
"Syukurlah kalian tiba, tepat waktu!" ujar Li Sun, memeluk putrinya.
Jenderal Tan Yuanji pun telah memeluk Tan Jia Li. Liang Si memeluk hormat kepada bawahan ayahnya.
"Titah Ibunda Ratu Li Hun!" teriak Gu Shien. Membuat semua orang langsung bersujud melakukan penghormatan.
"Jika semua sudah ditumpas, pulanglah ke Kaisaran Donglang dengan segera, bawalah kepala semua pengkhianat!" ujar Gu Shien.
"Baiklah, mari kita pulang!" ajak Li Sun pada semua orang.
Dara dan Li Phin memberi obat kepada semua orang yang terluka dibantu oleh Jang Min, "Eh, Jang Min! Akhirnya kamu menjadi menantu Kakak Iparku, heh!" ujar Jenderal Tan Yuanji.
Dulu sebelum Jang Min direkrut di bawah resimen Jenderal Li Sun, Jang Min adalah bawahan Tan Yuanji sehingga antara Jang Min dan Tan Jia Li seperti adik-kakak.
"Wah, siapa sangka kamu benar-benar menjadi keluargaku! Haha, aku akan memberikan apa yang kamu mau nanti sebagai hadiah pernikahan, sesampainya kita di Chang An. Kita akan kembali melamar Li Phin," ujar Tan Yuanji.
"Terima kasih, Ayah Angkat!" ujar Jang Min tersenyum malu-malu, Li Phin pun demikian Liang Si hanya memandang ke arah Li Phin yang merona merah, "Aku tidak menyangka akhirnya Li Phin menemukan jodohnya, dia terlihat cantik! Mengapa hatiku kosong?" batin Liang Si.
Ia merasa kehilangan kala Li Phin tak lagi mengejarnya, ia tak lagi melihat tatapan penuh cinta, kasih sayang, dan kekanak-kanakan Li Phin yang polos yang ada sekarang hanya sikap dingin Li Phin.
Keesokan paginya mereka melangkah pulang ke Chang An dengan gembira dan cepat, tiga hari kemudian mereka telah tiba di Chang An. Semua orang memberikan penghormatan di sepanjang jalan dan memberikan bunga kepada Dara dan Tan Jia Li yang memakai pakaian prajurit dan baju zirah.
__ADS_1
"Nona Li Phin! Nona Tan Jia Li!" teriak semua orang sementara para wanita langsung memberikan bunga kepada Jenderal Jang Min dan Liang Si yang tampan dan masih muda. Jang Min menatap ke arah Li Phin kala ia ingin menerima bunga pemberian para wanita.
"Ambil saja! Asal jangan kau berikan hatimu!" balas Li Phin di sisinya.
Jang Min tersenyum dan mengambil bunga pemberian para gadis, sesampainya di kekaisaran Donglang mereka memasuki istana dan menyerahkan kepala para pengkhianat di hadapan semua orang dan petinggi kekaisaran.
Ibunda Ratu Li Hun duduk di singgasana sementara untuk menggantikan suaminya yang sedang sakit, ia sedikit terbatuk-batuk dan menyeka mulutnya dengan selembar sapu tangan wajahnya sangat pucat.
"Apakah Ibunda Ratu diracuni juga?" tanya Dara bingung.
"Sepertinya, iya! Aneh sekali jika Tabib kerajaan tidak bisa mengobatinya," balas Li Phin.
"Lapor Yang Mulia Ratu! Ini adalah kepala dari para pengkhianat!" lapor Jenderal Li Sun.
"Bangkitlah kalian semua, para pejuang Kekaisaran Donglang!" ujar Li Hun. Semua orang bangkit dari sujud mereka, kembali berdiri tegak barisan paling depan adalah Jenderal Li Sun, Tan YuanJi dan kepala keamanan kerajaan Limen Utara, dan Liang Si.
Di belakang mereka berdiri Jang Min, Tan Jia Li, Li Phin, di belakang mereka prajurit bayangan naga hitam, Gu Akim dan Gu Shien sisanya di luar aula kekaisaran.
Ucapan ibunda ratu Li Hun, membuat Li Phin hampir terjatuh merosot dari berdirinya, "Maaf Yang Mulia! Saya tidak pantas! Tidak bisakah saya menjadi orang biasa saja?" pintanya.
Li sun memukul kepala, Li Phin, "aduh, Ayahanda, sakit tahu!" ujar Li Phin, membuat semua orang tertawa.
"Maafkan, putri saya Yang Mulia! Saya tidak becus mendidik putri saya! Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia! Semoga Yang Mulia Panjang Umur!" balas Li Sun.
Dara dan Li Phin terpaksa mengikuti arahan dan instruksi yang dilakukan oleh Li Sun.
"Hahaha, putrimu baik sekali! Ia begitu polos dan naif. Siapa sangka wanita seperti ini yang berhasil membunuh Cien Fang dan banyak jenderal Changsha," ujar Li Hun.
Semua orang memandang ke arah Li Phin yang bersembunyi di balik bahu Li Sun dengan malu-malu dan takut. Jang Min tersenyum, meraih dan menggenggam tangan Li Phin.
__ADS_1
"Satu hal lagi yang ingin saya katakan. Jenderal Jang Min, kemarilah!" ujar Li Hun.
Jang Min maju ke arah Ratu Li Hun, "Jenderal Jang Min yang kalian kenal adalah Putra Mahkota Liu Min!" ujarnya membuat semua orang tertegun termasuk Dara, Li Phin dan Qin Chai Xi.
"Apa!" batin Dara hampir pingsan begitu juga dengan Li Phin.
"Ja-jadi dia adalah Putra Mahkota?" teriak mereka di dalam benak.
Bisik-bisik mulai terdengar, "Sebelum Kaisar Liu Fei dan aku meninggal aku ingin mengangkat putraku yang selama ini dikabarkan telah meninggal, dia diselamatkan oleh Perguruan Wudang. Selama hampir 20 tahun terpisah dariku, aku mengirim Kasim Sin untuk membawa Putra mahkota ke Perguruan Wudang!" ujar Li Hun.
"Yang Mulia Bagaimana mungkin jika itu adalah Putra Mahkota Liu Min? Bukankah kita telah memakamkan mayatnya?" ujar Qin Chai Xi.
"Yang kita makamkan adalah putra dari Jenderal Tan Janji yang meninggal dunia," ujar Li Hun.
Esok adalah pengangkatan Putra Mahkota Liu Min menjadi Kaisar Donglang," ujar Li Hun.
Semua orang senang mendengar berita tersebut bagi yang mendukung kekaisaran, berbeda dengan Perdana Menteri Qin Chai Xi, "Sial! Mengapa aku begini bodohnya dulu, hingga aku bisa tertipu?" batin Perdana Menteri.
"Ibunda Ratu saya sudah menikah dan istri saya adalah Nona Li Phin!" ujar Jang min.
"Benarkah? Tidak masalah bukankah dari kecil kalian juga dijodohkan?" ujar Ratu Li Hun.
Li Phin dan Dara hanya bengong saja menghadapi semua kenyataan yang ada, "Untuk saat ini karena belum diadakan lamaran terhadap Nona Li Phin. Maka Nona Li Phin akan pulang Ke Istana Persik Selatan besok setelah lamaran, Maka pernikahan dan pengangkatan kekaisaran juga permaisuri akan dilakukan!" ujar Li Hun.
Semua orang memberikan penghormatan, Li Phin dan Jenderal Li Sun kembali ke rumah mereka di Istana Persik sedangkan Tan Jia Li dan ayahnya kembali ke kediamannya di bagian Istana Putih Utara. Liang Si masih tinggal di Kekasiran karena dia adalah pangeran Limen Utara yang merupakan tamu Kekaisaran Donglang.
Setibanua di Istana Persik, "Inikah rumahmu?" tanua Dara mengagumi arsitektur istana tersebut.
"Iya, Dara! Rumah kita," balas Li Phin. Mereka melihat Selir Qin Chai Cu, Selir Jin Thing, dan Min Ling memberikan penghormatan.
__ADS_1
"Selamat datang kembali Yang Mulia Jenderal dan Putri Li Phin!" ujar semua orang bersikap hormat di depan Li Phin dan Li Sun. Namun, Li Phin telah diam di benak Dara menyembunyikan kesedihannya.